ALDO

1745 Kata
Kali ini Clara sedang memilah dan memilih baju yang cocok untuk ia pakai sore nanti. Semua baju bersipah di lantai, di sofa, di meja, bahkan di wajah keempat temannya. "Ini jelek." katanya lalu melempar baju tersebut ke sembarang arah. Hasan yang hendak memprotes terpaksa mengatupkan bibirnya kembali sebab baju yang di lempar Clara menabrak wajahnya. Begitu seterusnya, keempatnya bahkan sudah beberapa kali terhantam oleh baju yang dilempar oleh Clara. Saat mereka bersuara, selalu saja kain tersebut membungkam. Dan baju terakhir di lemarinya terlipat rapi. Clara mengambil baju tersebut dan menempelkannya di tubuhnya. Membalikkan badan dan menatap teman-temannya. Wajah Clara berubah menjadi sendu. "Masa Clara pake baju ini?" lirihnya. Itu baju tidur bergambar spongebob. "Hahahaha. Pake itu aja lo, cocok!" seru Fino sembari menghadiahkan dua ibu jarinya dengan semangat. Dengan kesal Clara melempar wajah Fino dengan sendal rumahan yang ia kenakan "Ish! Jahat banget sih kamu!" Merasa kesal Clara berjalan dengan menghentakkan kakinya menuju ranjang. Tanpa permisi gadis itu langsung telentang di tengah-tengah Gea dan Sela membuat keduanya terpaksa memberi ruang bagi Clara. "Emang mau kemana, sih, lo! Pake segala milih-milih baju!" kali ini bukan Fino melainkan Gea yang membuka suara. Clara menutup matanya dengan lengan kanannya, "Clara diajakin jalan sama kak Aldo. Katanya suruh pake baju yang bagus. Tapi Clara rasa baju Clara jelek semua." Semua langsung mendekat ke Clara. "Kok lo?" Seakan mengerti maksud kebingungan mereka, Clara langsung angkat bicara. "Ini Clara gak ada apa-apa, kok. Clara cuman di traktir. Kan kalian tau motto Clara kan... Pe--" "Perut kenyang hati senang!" seru keempatnya memotong ucapan Clara. "Betul sekali." *** Clara sudah sampai di depan cafe yang menjadi tempat pertemuannya dengan Aldo. Saat melihat dari kejauhan ada orang yang melambaikan tangannya, Clara langsung membalasnya. Itu karena dia Aldo. Clara berlari kecil ke Aldo dan berdiri sejenak untuk mengatur napasnya. Clara lelah jikalau harus berlari. "Pffttt... Ehem.. Kok baju lo kegedean gitu?" tanya Aldo melihat baju Clara yang terlewat besar. Lihat saja lengan sekecil itu dibalut dengan baju besar, membuat ruang tersisa banyak dan tubuh mungilnya seakan tenggelam. "Ini baju papa, tadi baju Clara nggak ada yang bagus jadi pinjem sebentar." Dan Aldo hanya mengangga, baju Clara adalah baju papanya? Wow aneh, benar-benar aneh! Clara duduk dan meneguk kasar salivanya saat melihat milkshake milik Aldo. Aldo tersenyum dan langsung menyondorkan minuman yang ditatap Clara. Clara mendongak menatap Aldo. "Minum aja." Clara menggeleng dan menolak. "Ehhh e-enggak kok kak!" "Udah minum aja." "Engga kak beneran." "Minum aja." "Oke, kalo maksa." Setelah itu Clara meneguk habis milkshake Aldo sampai tandas. Aldo terpengarah melihat cara minum Clara yang hanya sekali tarikan napas dia bisa menghabiskan milkshakenya. Tidak penuh memang, hanya berkurang sedikit saja karena Aldo tadi sempat menyeruput sedikit dengan sedotan. Sedangkan Clara tidak menggunakan sedotan. Clara mengusap ujung bibirnya yang dirasa cemong. Lalu tanpa permisi mulutnya bersendawa. Seakan menyadari sesuatu ia menatap Aldo, sejurus kemudian ia menutup mulutnya. Matanya membulat dan ia kontan meringis malu. "Maaf kak." Dan saat itu pula Aldo terbahak membuat Clara langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan karena ia malu di tertawakan. Lagi pula kenapa mulutnya tidak sopan sekali, sih? Aldo terbahak melihat kelakuan Clara yang absurd. Tapi ia bersyukur bahwa gadis di depannya ini berbeda dengan yang lainnya. Ia tidak jaim, tidak sok cantik dan yang paling penting Clara menjadi dirinya sendiri. Aldo memegang tangan Clara, menurunkan secara perlahan dan meletakkan di meja. Dan saat itu pula mata keduanya beradu. Aldo bersama debaran jantungnya yang tiba-tiba menggila sedangkan Clara dengan tatapan anehnya. Jadi yang normal hanya Aldo bukan? Aldo mengusap lembut punggung tangan Clara membuat Clara merasa geli. "Geli kak," ujarnya seraya terkikik. Aldo langsung menarik tangannya. Wajahnya datar sejenak. "Rusak kan, tadinya gue mau romantis juga. Nih, cewek aneh banget jadi makin suka gue!" batinnya. Aldo kembali menatap Clara, sedikit canggung. Tapi yang namanya Clara, ada saja kelakuannya. Kali ini Clara tidak mempermalukan dirinya. Kali ini ia tengah mengoda balita yang tengah di gendong oleh ibunya. Balita itu menatap Clara datar. Clara sudah mengodanya dengan ciluk baa tanpa suara, menjulingkan mata, bahkan mencebikkan bibirnya sedemikian rupa. Mulai mencebik ke kanan, ke kiri ke atas. Gaya monyet dan lainnya. Aldo memperhatikan Clara dan bayi yang tengah di goda. Sangking fokusnya Clara melupakan keberadaan orang di depannya. Dulu, saat Aldo mengajak perempuan makan bersama pasti mereka menjaga image untuk menarik perhatiannya. Berlaku anggun dan lemah lembut didepannya. Tapi Clara? Boro-boro berlaku anggun dan lemah lembut! Ia malah menjelek-jelekkan wajahnya di depannya. Apa dia tidak malu? Padahal beberapa pasang mata menatapnya sambil menertawakannya. Aldo memutuskan mengambil perhatian Clara yang menghembuskan napas panjang karena tidak berhasil menggoda balita tersebut. "Susah banget! Datar banget! Clara kan lucu begini, kenapa tuh bocah nggak ketawa sih!" gerutu Clara di dalam hati. "Eh kayak Arfa yaa datar. Lohh?! Kok jadi Arfa?" "Clar." panggil Aldo. Clara menatap Aldo, astagaaaa!!! Clara lupa kalo ada kak Aldo!!! "Ehehe... maaf kak." Aldo tersenyum manis membuat beberapa siswi di belakang Clara memekik senang. Clara menoleh ke arah belakang dan entah kenapa senyum ke tiga siswi tersebut luntur dan berganti dengan cebikkan. "Lebay banget! Kayak anak gadis nggak pernah liat orang ganteng aja!" Clara kembali menatap Aldo. "Kak. Nggak pesan makanan?" tanya Clara sambil nyengir. "Pesan aja duluan." Clara mengangguk dan memilih menu. Clara menatap menu tersebut, ia meneguk salivanya kasar. Kalian tau! Harga makanan di restoran tersebut mahal sekali. Clara mengintip Aldo di balik buku menu. Sayangnya aksi tersebut sukses membuat Aldo yang menatapnya menjadi bingung. Untung saja reflek Clara sedikit cepat jadi tidak terlalu tertangkap basah. Baiklah! Clara sudah memutuskan makanan apa yang dia pesan. "Cara pesan apple pie aja, kak." Clara kembali membuka buku menu. "Sama air mineral... kok gak ada?" Aldo tersenyum samar. "Disini nggak ada air mineral. Lo bisa beli apapun kok, kan gue yang traktir. Lo cuman mau makan apple pie doang? Gak mau salad atau spagetti?" Clara langsung menggeleng cepat. "Ohh gak kak gausah! Emm... Clara diet ini makannya cuman pesen apple pie doang." alibinya lalu terkekeh garing. Aldo diam lalu memperhatikan Clara yang terlihat menganalisis harga di menu. "Lo nggak usah ngerasa ga enak. Pesan aja yang mau." Clara langsung menutup buku menu, meletakkannya di meja. "I-itu aja. Apple pie sama coffe aja." selorohnya cepat. Aldo yakin pasti Clara mempermasalahkan harga makanan di restoran ini. "Yakin?" tanyanya. Clara mengangguk pasti. "Yakin! Demi diet!" ucapnya meyakinkan membuat Aldo percaya. Clara sedikit menunduk dan membatin, 'Tadinya Clara pikir harga makanannya gak semahal ini. Apple pie gitu aja harganya seratus lima puluh ribu. Coffe lima puluh rebu. Bisa bangkrut kak Aldo kalo traktir Clara!" jiwa misquen Clara meronta. Aldo mengangkat tangannya dan pelayan restoran menghampiri dirinya. "Saya pesan satu apple pie, satu coffe, satu steak sama milkshake coklat." Pelayan tersebut menuliskan pesanan Aldo setelah selesai ia mengatakan, "Baik silahkan tunggu sebentar." Clara menatap Aldo. Lalu ia mencondongkan badannya mendekat ke Aldo. "Kak. Coba kakak senyum ke tiga cewek di belakang Clara. Yayaya?" bisik Clara. Aldo mengernyit mendengar permintaan Clara, untuk apa dia menyuruhnya tersenyum pada siswi di belakangnya? "Kenapa? Buat apa?" Aldo menjawab dengan ikut berbisik. "Clara mau mengukur tingkat lebay mereka..." Aldo lagi-lagi tersenyum pada Clara karena kelakuannya. "Sekarang?" tanya Aldo dan di jawab anggukan mantap oleh Clara. Aldo menyembulkan badannya ke samping, lalu melambai pada tiga gadis di belakang Clara seraya merekahkan senyuman manis. "Hai." Satu. Du-- "AAAA!!!! MANIS BANGET!" "GANTENG BANGET!" "AAAA!!" Clara langsung menghitung jari tangannya. Teriakan ketiga gadis di belakangnya benar-benar membuat seluruh perhatian di restoran tersebut memperhatikan mereka. Aldo langsung berpura-pura bermain ponsel ketika beberapa orang menatapnya juga. Clara masih sibuk dengan hitungannya. Entah dia menghitung apa Aldo tidak tau. Aldo meruntuki dirinya sendiri karena telah menuruti permintaan konyol Clara. Ia tidak mengira bahwa suasana mendadak menjadi gila seperti ini. Hitungan Clara terhenti saat pekikan ketiga gadis tersebut berhenti. Bukan karena Aldo yang berlagak sibuk bermain ponsel melainkan karena pelayan menegur ketiganya untuk tidak berisik. Suasana kembali normal. Aldo menaruh ponselnya dan menatap Clara. "Lo ngapain sih?" tanya Aldo melihat Clara geleng-geleng kepala. Aldo menatap Clara yang tengah memasang gurat wajah yang terkagum. "Kadar kelebay-an mereka bener-bener luar biasahh! Cuman di say 'hai' sama kak Aldo dan di senyumin gitu aja mereka teriak hampir semenit. Bener-bener hebat pita suaranya." Aldo terkekeh, lucu sekali Clara ini. Aldo mengacak gemas rambut Clara. "Lucu banget sih lo!" Clara memasang wajah angkuh. "Sudah sejak lama aku lucu." Dan kali ini Aldo mencubit gemas pipi Clara. "Gemesss deh." "Ehem.. Permisi, pesanan tuan." Adegan romantis itu terpaksa berhenti karena makanan yang Aldo pesan sudah datang. Aldo mencebik dan mendumel di dalam hati karena pelayan tersebut menganggu momennya dengan Clara. Aldo terpaksa menghentikan cubitannya. Dan berterimakasih pada pelayan tersebut. "Makan Clar." titah Aldo. Clara menatap terkejut porsinya. Apa itu? Makanan apa yang berada di piringnya? Bukankah ia memesan apple pie? Bukankah seharusnya porsinya besar dikarenakan harganya yang mahal? Ini kenapa jadi sekecil donat mini? Disajikan di piring besar pula? Memangnya ia memakan piring? Besar sekali dari pada apple pie nya. "Clar." panggil Aldo karena Clara menatap makanan di piring sajinya tanpa mengubris ucapan Aldo. "Ehhh, iya kak?" "Kenapa? Kurang makanannya?" Clara melambaikan kedua tangannya di depan wajah Aldo seraya menggeleng. "G-gak kok kak. Udahhh cukup." "Tapi--" "Clara kan diet, segini mah udah kenyang." sanggah Clara mengerti maksud ucapan Aldo. "Yaudah, ayo dimakan." Clara mengangguk. Dan mereka berdua memakan pesannannya. Clara memotong apple pie yang ia pesan dengan tatapan sendu. Sayang sekali kalau seratus lima puluh ribu hanya digunakan untuk membeli makanan kecil begitu. Padahal jika makan di warung depan komplek rumahnya, pasti ia bisa menteraktir tujuh orang lengkap dengan minumannya. Clara menusuk apple pie tersebut dan hendak memakannya. Ia menoleh tepat ke samping kanannya, dimana balita tadi kini menatapnya. Clara memasang wajah kecewa campur sendu. Seakan mengungkapkan kekecewaannya terhadap apple pie pesanannya. Dan kurang ajar sekali! Balita itu tertawa! Apakah ia menertawakan kekecewaannya? "Dasar oncom!" maki Clara menggerakkan mulutnya tanpa suara dan balita tersebut semakin terbahak membuat Clara memalingkan wajahnya kembali ke arah piring saji. Clara pulang diantar oleh Aldo hinga depan gerbang rumahnya. Dengan sehat dan selamat sentausa. Clara melambaikan tangan pada Aldo setelah kaca mobil terbuka. "Hati-hati kak. Terimakasih traktirannya." Aldo mengangguk seraya tersenyum dan selanjutnya ia melajukkan mobilnya meninggalkan Clara. Clara masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarnya. Dibantingnya tubuh mungil terbalut baju besar tersebut di ranjang. Clara menghela napas panjang. "Dasar bayi edan! Tertawa di atas penderitaan! Bibit unggul jadi spesies kanebo kering, tuh. Kayak Arfa. Cetakan kepribadiannya..." Clara menarik napas dalam-dalam lalu memekik keras. "Kakuuu!!!!" Terlalu sibuk menyumpah serapahi balita tadi membuat Clara semakin kesal dan akhirnya ia memutuskan untuk tidur saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN