Aku terbangun dari tidurku saat terdengar nada notifikasi masuk ke hp ku, ku cari benda pipih itu dan membuka pesan yang masuk. Rupanya dari Silvi, sahabatku.
[Ren, jangan nonton tivi atau baca berita ya! bentar lagi aku nyampe di apartemenmu, oke. Tunggu aku]
Aku mengernyit saat membaca sms nya, emang ada apa di tivi dan berita? aku penasaran. Aku keluar menuju ruang keluarga untuk menyalakan televisi, tapi kucari remot tak kunjung ketemu. Harum nasi goreng tercium dari dapur, membuat perutku terasa lapar. Tapi rasa penasaran membuat aku terus mencari benda hitam kecil multi fungsi itu, ya... selain buat nyalain tv remot juga berfungsi untuk melempar orang yang sedang iseng hehehe.
"Dek, liat remot kah?"
Aris nongol dari dapur sambil membawa sepiring penuh nasi goreng. Dia mengedikkan bahunya tanda tak tahu. "Sarapan dulu gih kak, pagi pagi sibuk remot. Nih... Aris bikinin nasi goreng special buat kakak" , sepiring nasi goreng pete plus telur ceplok dan lombok rawit di atasnya sungguh menggugah selera, tapi sungguh aku tidak selera makan sekarang.
Kuambil piring yang disodorkan Aris dan meletakkannya di atas meja. "tring...tring...tring.."
Suara hp ku berbunyi. Aku buru buru masuk kamar dan mengambil hp, ternyata Silvi.
"Kamu dimana, Ren?Aku sudah sampe di depan ne" suara cempreng Silvi terdengar begitu aku menggeser tombol hijau di hpku.
"Aku di rumah embok, Sil"
"Share lok, aku kesana, oke"
"hmmm"
Aku menutup telpon, setelah men share lokasi ke Silvi, aku bergegas ke ruang tengah berlanjut mencari remote tv.
Setelah dapat aku menyalakannya, pas di acara siaran langsung pernikahan keluarga konglomerat di statiun tv swasta. Kak Edo tampak gagah dengan setelan jas berwarna gading, disebelahnya Emillia tak kalah cantik dengan gaun kebaya berwarna senada.Suara lantang kak Edo saat mengucapkan ijab qobul sangat jelas dan lantang sehingga membuat seluruh ruangan riuh mengucap kata 'Sah'.
Aku menatap layar kaca tanpa berkedip, entah kenapa hatiku hancur tapi aku tak mengeluarkan air mata setespun. Aris yang baru keluar dari kamar mandi segera menghampiriku, dia merebut remot dan mematikannya. "Lancang!" aku nerteriak marah dan merebut lagi remot itu untuk menyalakan tivi.
"Kak" Aris tampak kaget saat aku berteriak padanya, seumur umur aku belum pernah marah ke Aris.
"Dek, biarkan kakak melihatnya, kakak ga papa. Bener, kakak serius" aku berusaha berkata selembut mungkin, aku merasa bersalah karena sudah berteriak ke Aris.
Aris diam dan duduk disebelahku, menyodorkan piring nasi gorengku tadi "Makan, ini enak loh kak"
Aku mulai memakannya sambil menonton siaran langsung pernikahan suamiku di tivi. "Kok lomboknya ga pedes sih, dek? masih kah rawitnya?"
"Ini cabe rawit merah kak, masa ga pedes sih" Aris membawakan satu kresek lombok rawit ke depanku, aku menyambutnya dengan senang.
"Jangan banyak banyak, kak. Nanti sakit perut"
"Cerewet" aku tak peduli. Pedas di mulutku masih lebih pedas di hatiku. Silvi yang tiba tiba sudah ada di belakangku melongo melihatku memakan rawit seperti memakan permen. "Bener ga pedes, Ren?" tanyanya heran.
"Kamu dari mana aja sih, Sil? dihubungi ga bisa, di kantor ga nongol lama! kamu hutang penjelasan ke aku" Aku meluapkan emosiku pada Silvi. Ya... selama ini memang aku yang memutuskan untuk menikah dengan Kak Edo, tapi Silvi seperti tahu sesuatu dan sengaja mempertemukan aku dengan kak Edo.
"Kita keluar yuk, Aku akan jelasin semua dari awal, oke?"
Aku mengikuti Silvi, sampai di taman dekat komplek kita duduk dikursi panjang.
"Aku sepupu jauh Kak Edo"
"Apa?" aku melongo ga percaya
"Hmmm, aku baru tahu pas sudah bekerja di perusahaan. Pas dia tahu aku bekerja di tempatnya, kak Edo banyak tanya tentang kamu" Silvi memandangku "Kak Edo bilang kalau dia suka sama kamu, pas kamu butuh uang makanya aku berani buat nyaranin pinjam ka kak Edo, tapi kalau masalah kak Edo nikahin kamu itu aku ga tahu, mpok. Bener... Aku juga kaget pas dengernya, maaf aku ga bisa datang waktu itu, aku ditugaskan ikut rombongan ke Singapure" Silvi menggenggam tanganku erat.
Aku membaca keseriusan dari ekspresi Silvi, aku tahu di jujur. Dia ga bakal mencari keuntungan dari kemalangan sahabatnya sendiri.
"Kamu ga sedang jatuh cinta ma kak Edo, kan?"
Dengan berat aku menggeleng.
"Bagus, kamu masih muda, setelah lepas dari Kak Edo kamu bisa memulai dari awal" Silvi memelukku.
"Ho'oh, ngomong ngomong kamu kok ga hadir di acara nikahan Kak Edo? katamu kamu sepupu jauhnya"
Silvi memggeleng, "Lebih baik aku menghibur sahabatku daripada aku datang ke nikahan orang tak berperasaan itu" Silvi mengeram marah.
Aku tertawa melihat ekspresi lucu sahabatku, perlahan wajah Silvi tersenyum, "Begitu dong, jangan manyun terus! kan cantiknya jadi ilang".
***
Sore hari aku memutuskan untuk kembali ke apartemen karena besok aku masuk kerja.
"Ni hadiah pernikahanmu" Silvi menyerahkan paperbag berwarna ungu ke padaku.
"Makasih, ya" walau dengan ragu aku menerimanya.
"Masuk dulu yuk, ada oleh oleh buatmu di dalam" pintaku.
Silvi mengikutiku, ada sedikit kecanggungan antara kami.
"Mpok, maafin aku ya? aku ga tahu kalau karena usulku bisa mebuat kamu di posisi ini" tiba tiba Silvi memelukku begitu aku dan Silvi sudah berada ada di apartemen. Pertahananku untuk tidak menangispun hancur, airmataku mrngalir tiada henti. Kami berdua menangis seperti orang yang kehilangan sesuatu yang berharga.
"Cup..cup.., sudah jangan nangis lagi, Ren" tangan Silvi menghapus air mataku.
"Kamu juga stop nangisnya" kataku sambil menghapus sisa airmata di pipi Silvi.
"Iya bener, kenapa juga kita nangisin kak Edo. Dia loh senang senang sekarang sama Emil, udah yuk. Kamu punya es cream?"
Aku mengangguk, "Kita nonton drakor, hahahaha" kataku bebarengan dengan Silvi. Begitulah kebiasaanku dulu semasa sekolah bareng Silvi, kalau aku sedih atau Silvi sedih kita selalu nangis bareng, makan es cream dan nonton drakor yang menguras air mata, ritual ditutup dengan makan mie super pedas.
"Ren, kedepannya apa yang mau kamu rencanakan?" Silvi menatap langit langit kamar, sambil berbaring di tempat tidur. Malam ini Silvi memutuskan untuk tidur di apartemen kak Edo menemaniku, ada raut kecemasan disana.
"Entahlah... aku belum bisa lepas dari kak Edo, aku tak bisa meninggalkannya sebelum hutangku lunas"
"Apa dia meminta kembali uangnya?" Silvi melotot tak percaya
"Enggak, tapi aku merasa bahwa itu utang, sudahlah ga usah difikirkan, biarlah yang terjadi esok biar terjadi, sekarang kita tidur, besok kita kerja entar malah kesiangan" aku menarik selimut dan mematikan lampu. Dengkur halus terdengar di sebelah. "Sialan... Silvi sudah tidur rupanya, berarti aku tadi ngomong sama angin dong" aku ngedumel.