Airmata kesedihan

1182 Kata
Sepulang dari sungai Siane, Kak Edo lebih banyak diam. Entah apa yang difikirkan, aku tak peduli. Enam belas jam perjalanan kembali ke Indonesia terasa sangat lama berberda saat berangkat yang penuh semangat. Kulihat dia asik dengan laptopnya, mungkin dia sibuk mempersiapkan pernikahannya, bukankah itu besok. huft... kenapa tiba tiba sesak. Siapa yang tak sesak memikirkan lelaki yang sah menjadi suami akan menikah dengan perempuan lain, siapaa? ga ada pasti. Sebisa mungkin aku menahan air mata supaya tak keluar. Resikomu Renata, bukankah dari awal kamu sudah tahu. Hatiku menguatkan. Aku berdiri di jendela kabin, memandang awan yang bergerak bebas diangkasa. Sepasang tangan kekar memelukku dari belakang. "Kamu ga lelah? ga pengen tidur?" Aku menggeleng pelan. "Maaf jika ini menyakitkan untukmu, tapi percayalah wanita yang aku cintai cuma kamu satu satunya, Rena. Ini keputusan yang ga bisa aku hindari, semua demi keselamatan kamu. Aku ga mau kamu terluka kalau aku ga menikahi Emillia" "Sekarang pun aku terluka, kak" "Bukan itu maksudku, aku takut dia bakal berbuat jahat sama kamu. Ada yang perlu aku buktikan tentang Emillia, ah sudahlah... yang penting kamu ada disisiku" jelasnya. "Kak Edo egois" aku mulai sesenggukan. Jika memaksa ingin menikah maka lepaskan, itu yang kumau, tapi semua diluar kemauanku. Dieratkannya pelukan Kak Edo, sesekali diciumnya tengkukku. Itu membuat aku semakin tersedu. Sesampai di apartemen, Kak Edo pergi. Orang tuanya dari tadi menelpon, entah apa yang dibicarakan. Yang jelas setelah telpon yang terakhir Kak Edo buru buru keluar. Dia mencium keningku lama sebelum pamit pergi. Apartemen terasa sepi setelah kepergiannya, Aku menghela nafas berat, 'aku harus terbiasa mulai dari sekarang' aku bergumam sendiri. Aku otak atik benda pipih kesayangan untuk mengusir jenuh. Aku kirim pesan singkat ke adikku, meminta jemput dan sekaligus membawakan oleh oleh yang aku beli untuknya dan si mbok. "Ting Tong" suara bel mengagetkanku. Aku berlari keluar kamar, Kudapati wajah Aris tersenyum melihatku. "Gimana liburannya? seneng?" Aku mengangguk, kutarik Aris untuk masuk. "Kakak tidur di rumah, ya? kangen ngumpul sama kamu dan mbok" "Emang kak Edo ga keberatan kalo kakak tidur dirumah?" tanya nya sedikit sungkan. "Enggak lah, kebetulan Kak Edo ada urusan jadi mungkin beberapa hari ga bakal pulang" "Oke, mau sekarang? ayo kita pulang" Aris semangat. "Bentar ya, kakak punya oleh oleh buatmu dan mbok" aku berlalu ke dalam kamar dan mengambil oleh oleh yang ku belikan saat di Paris. Aris melongo "Itu semua oleh olehnya? banyak betul, kak" "Sekali kali, belum tentu kakak ke sana lagi kan? lagian ini semua Kak Edo yang bayarin" Aris mengambil alih bawaanku dan turun kebawah menuju parkiran dan memasukkannya dalam bagasi mobil. "Ini mobil dari Kak Edo, Aris sudah menolaknya tapi assisten kak Edo memaksa, buat Aris kemana mana katanya karena motor Aris rusak" jelas Aris sebelum aku tanya. Diperjalanan aku lebih banyak diam, memandang pemandangan yang aku lewati untuk mengusir gelisah dihati. "Maafin Aris ya kak? sepertinya Aris bukan adik yang berbakti tapi malah bikin kakak susah, Aris janji setelah motor Aris di baikin Aris bakal ngembalikan ini mobil" "Ya Allah, Ris. Kok mikir gitu sih, ga papa kamu pakai mobil ini, kakak ga papa kok" ku tatap wajah tampan adikku. Aku tahu adikku bukan orang yang hanya mengandalkanku, disamping kuliah Aris juga kerja serabutan bahkan dia ngojek saat masih ada motornya. "Kamu fokus kuliah aja, dek. Ga usah mikir macem macem, kakak bahagia kok sama kak Edo. Percaya sama kakak, hmmm?" Lelaki kedua setelah ayah dalam hidupku itu tersenyum, memperlihatkan lesung di pipinya. "Ya Allah, dek. Kamu kok tambah ganteng sih, pasti banyak cewe yang ngantri pastinya ya, pa lagi sekarang bawaannya mobil " candaku untuk memecah suasana "Dari dulu juga sudah banyak yang ngantri" "Wah... iya kah? kok ga ada yang dikenalin ke kakak" "Aris ga mau mikirin pacaran, Aris mau sukses" "Aduhhhh.... manisnya adek kakak satu ini" aku kacak rambut hitamnya yang ikal. "Kak, Aris lagi nyetir ne, nanti kalo nabrak gimana?" "Abis kakak gemes sama laki laki ganteng satu ini" kataku sambil mengedipkan mata. "Ga usah di goda, kak. Ga bakal tergoda" aku dan Aris tertawa bersama. Aku dan Aris memang saling mengandalkan satu sama lain, dulu saat di sekolah Aris selalu membawaku untuk mengusir cewe cewe yang memgerumuninya dan Aris selalu ku jadikan tameng saat ada laki laki yang menggodaku. Mobil memasuki perkarangan rumah tempat tinggal Aris dan mbok Nah. Rumah itu tampak adem, ini kali ke dua aku datang kemari. Aris menurunkan barang barang dan membawaku masuk ke dalam. Mbok Nah tergopoh keluar dari dapur sambil menata hidangan di meja makan "Mba Ren, makan dulu ya! ini mbok masakin makanan kesukaan embak, semur jengkol" katanya sambil mengambil bawaan Aris dan membawanya ke kamar. Aku duduk dimeja makan diikuti Aris, ga lama mbok Nah keluar dan duduk bergabung. "Mbak gimana kabarnya? embok sampe kangen lama ga ketemu" "Alhamdulillah baik, mbok. Mbok gimana kabarnya? kok kelihatan kurusan, embok sakit?" "Enggak, mbak. Embok baik baik aja" wajah keriput mbok Nah tersenyum. "Sering puasa dia mba, makanya kurusan" Aris menimpali. "Iya, mbok?" "Embok sudah tua, mbak. Dah bau tanah jadi harus lebih dekat sama sang pemilik hidup. Sudah sudah ayo makan, nanti keburu dingin" Mbok Nah menyendokkan nasi dan lauk ke piring ku. "Makan yang banyak, biar ga kurus" katanya lagi. Aku tersenyum melihat wanita pengganti ibuku itu. Sungguh mbok Nah adalah wanita paling berharga buatku, dia selalu menguat kan aku saat aku terpuruk. "Rena langsing begini kok dibilang kurus sih mbok" kami tertawa bersama. Aku membongkar oleh oleh untuk dua orang tercintaku sambil berkumpul di ruang keluarga. Mbok Nah tampak sumringah saat aku beri oleh oleh baju dan tas. "Walah mbak mbak, embok ini sudah tua kok baju sama tasnya bagus betul" "Dicoba dulu, mbok" "Iya dicoba dulu, pasti mbok kayak orang orang sosialita seperti di sinetron, mbok" timpal Aris. "Nanti aja, den. Mbok malu" "Lah kok malu sih" Aris mendekat ingin memaksa mbok Nah. "Aris..." aku melotot. Aris malah tertawa. "Disimpen aja dulu mbok, tapi janji nanti di pake ya? nah ini buat kamu, dek" sebuah jaket kulit baju, tas dan sepatu. "Makasih, mbak" dia memelukku. Sungguh berkumpul bersama keluarga membuat aku sedikit melupakan rasa gundah di hatiku. Hp yang dari tadi selalu aku pandangi tak ada bunyi sama sekali. Aku menarik nafas berat. "Ngelamun, kak" Aris menyodorkan kopi hangat dan duduk di sebelahku di balkon. "Ada yang kakak fikirkan? hmmm?" Aku menghirup aroma kopi yang nikmat dan meneguknya. "Ga ada, emang kakak mau mikir apa? ga ada yang perlu difikirkan, hehehehehe" "Hahahah... Ga usah bohong sama Aris, kak. Aku tahu kakak lagi mikirin kak Edo, kan? apa lagi besok dia akan menikah, ya kan? kakak pasti sudah cinta sama kak Edo" "Apa an sih, ga kok" aku berusaha mengelak. "Kakak ku sayang, ga pa pa kak Rena mikirin kak Edo dan ga berdosa juga kakak jatuh cinta ma kak Edo. Aris pun bakal sedih kok kalo berada di posisi kak Rena, dan semua ini gara gara Aris" Aris memelukku erat dan aku mulai menangis tersedu, melepas sesak yang menghimpit hati. "Jeleknya kakak ku ini kalo nangis, ilernya kemana mana" ejek Aris. Aku cubit pinggangnya. "Aduh, sakit tau" "Abisnya ngatain kakak jelek" Aku cemberut. "Iya iya... kakaku ini selalu cantik" Aku tertawa mendengar pujiannya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN