gembok cinta

1076 Kata
Aku mengerjapkan mata, ah ternyata sudah pagi. Kutarik selimutku dan bergelung lagi di atas kasur. Malasnya... dingin. Kuedarkan pandangan ke se keliling kamar, tak kutemukan sosok Kak Edo. Apa dia keluar?. Kuraih benda pipih kesayangan di nakas, masih pukul delapan pagi. Ada sebuah notif pesan di layar hpku dan aku buka, ternyata dari Aris. 'mba, mbak dimana? tadi aku mampir ke apartemen mbak, tapi kok ga ada' Segera aku tekan tombol dial, hanya perlu dua kali nada panggilan, adikku sudah mengangkatnya. "Assalamualaikum, mba" suara khas orang yang baru bangun tidur terdengar di ujung sana. "Waalaikum salam, masih tengah malem ya disana? sorry embak ganggu, hehehe" "Emang mbak ada dimana sih? tadi Aris ke apartement mba, tapi kosong ga ada orang" "Tebak mbak dimana, yok!" "Mana Aris tahu lah mba, Aris loh belum belajar ilmu dukun" Aku tertawa mendengar perkataan adikku tersayang itu. "Embak lagi di paris, dek. Di tempat menara Eiffel" kataku antusias "Hmm... Apa kak Edo yang membawamu kesana,mbak?" tanya nya dengan suara datar "Kok kamu biasa aja sih dek? dengar embak ada di Paris? ga senang ,ya? pasti gara gara ga diajak, ya kan? ya kan?" kudengar suara Aris yang tertawa di ujung telephone. "Enggak lah, mbak. Aris senang kalau mba Rena bahagia, apa kak Edo memperlakukan mbak Rena dengan baik? Tunggu Aris berhasil, mbak. Nanti Aris akan kembalikan uang dua ratus juta itu dan membawa mba Rena kembali" suara adikku terdengar sedih. Ah melow kan, aku jadi pengen nangis juga. "Ih... kok jadi sedih sih dek, embak bahagia kok, kak Edo memperlakukan mbak dengan sangat sangat baik. Aris jangan khawatir ya? udah ah, embak tutup telponnya. assalamualaikum" "Waalaikum salam" Perutku yang sudah keroncongan membuat aku mandi kilat, dengan jaket tebal aku keluar menuju caffeshop di lantai satu. Aku penasaran saat mendegar suara orang yang sedang bercakap, tapi tak jelas yang dibicarakannya. 'Kak Edo? ngapain disitu sama Rudi? sepertinya ada hal penting yang sedang mereka bahas, mukanya pada serius, nguping ah. Baru juga aku berjalan mengendap untuk mendekat, kak Edo menoleh. Sial, kak Edo pake acara ngelihat pula. Aku cepat berlari ke lorong dan buru buru membuka lift. Tiba tiba taganku ditarik kecang dari belakang. "Aduh... sakit tau" Kak Edo melepaskan genggaman tangannya. "Mau kemana abis nguping?" "Siapa yang nguping?" aku melotot ke arah kak Edo. "Kalau ga nguping ngapain jalan mengendap endap, hah?" ucapnya ketus. "Ciye...su'uzhon ya? aku loh cuma mau ngajak kakak makan di caffeshop bawah, eh kulihat lagi serius. Ya udah aku mau ke sana sendiri" "Ngapain makan dibawah, nanti aku suruh mereka ngantar ke kamar" katanya sambil berlalu menuju kamar. "Kak Edo ga asik, aku kan mau sambil cuci mata" kataku sebal sambil berjalan cepat menyusulnya. "Apa ga cukup kamu cuci mata denganku" Kak Edo berhenti berjalan. Dan aw... hidungku yang kata orang mancung ini menabrak mulus punggung kak Edo. Aku elus hidungku mencoba meredakan rasa sakitnya Kak Edo mendekatkan wajahnya ke mukaku. Reflek aku mundurkan kepalaku, takut. "Apa aku kurang tampan? apa disini ada yang lebih tampan dari aku?" Aku menatpanya tak percaya, Ya Allah pede sekali orang di depanku ini. Tapi memang dia sangat tampan sih, terbukti para pelayan wanita disini suka curi pandang kalau berpapasan dengannya. Reflek aku mengangguk mengiyakan apa yang dia bilang, ya ampun kepalaku aja sampai tak mengikuti otakku untuk menggeleng, Rena kamu gila. "Ya udah sekarang ayo kembali ke kamar, sarapan di kamar aja" Kak Edo memelukku dan menuntun ke dalam kamar, bagai kerbau dicucuk hidungnya aku menurut tanpa memprotes. Ku lihat dia tersenyum senang. "Tunggu... Kak Edo mengerjaiku?" aku curiga. Dia tak menjawab dan terus duduk di kursi, di tariknya aku supaya duduk dipangkuannya. Pelayan datang membawa dua gelas kopi dan sandwich. "Mau aku suapin?" tanyanya karena melihatku nyaman di pangkuannya. "Eh... ga perlu, aku bisa sendiri" kataku dan bangkit dari pangkuan nyamannya. "Apa ada yang ingin kamu kunjungi disini, hmm?" ucapnya lembut. Ya ampun, kenapa ini orang kadang lembut kadang ketus sih. Kalau lembut gini bikin meleleh. "Banyak..." kataku antusias "Aku pengen ke menara Eiffel, Disneyland dan yang paling aku ingin kunjungi sungai Siene" aku antusias. Kak Edo melihat arloji dan seperti menimbang sesuatu. "Yang sangat kamu ingini pergi dari semuanya, kemana?" "Emmm... sungai siene" "Baiklah kita kesana, bersiaplah" Cepat aku selsaikan makanku dan bersiap untuk pergi. Sebuah Mobil rolls royce membawaku ke sungai siene, Kak Edo menyewa sebuah kapal pesiar di sana. Berkeliling sungai siene dengan menaikki kapal adalah impianku sejak SMA. Membayangkan melihat menara Eiffel yang megah dari kapal. Dan sekarang impian itu terwujud. Makan malam romantis diatas kapal pesiar dengan background menara eiffel, sungguh romantis. Ku ambil hp pintarku, dan berfoto sesuka hati. Kak Edo hanya memandangiku dan sesekali menurutiku untuk berfoto berdua. Biarlah dia menilaiku kampungan, toh kalau aku kampunga maka para selebgram itu juga kampungan, soalnya dikit dikit 'cekrek' juga hehehehe. "Apa kamu ga lelah?" tanya kak Edo saat kutarik untuk memasang gembok cinta di jembatan pont des arts, di atas sungai siene. "Mumpung disini" kataku cuek, Dia mengikutiku tanpa menggerutu. "Berarti kamu sangat mencintaiku, ya? baiklah ayo!" sekarang dia lebih bersemangat dari pada aku hahaha.. Dia memaasang gembok dan melemparkan kuncinya ke sungai. Di tarikya tubuhku dan diciumnya keningku dengan lembut. "Aku mencintaimu Renata, sangat mencintaimu. Dari aku pertama melihatmu sampai nanti tak terbatas waktu" bisiknya lembut. "Apa yang kak Edo suka dari aku?" Dia mencium kedua mataku, "Matamu" Lalu hidungnya dengan gemas menggesek hidungku, "Hidungmu", Setelahnya dia mencium bibirku lembut, dia usapkan tangannya ke bibirku yang habis dia cium, "Bibirmu". Ditariknya tubuhku dan dipeluk erat seakan tak mau melepasnya " Dan semua yang ada sama kamu aku suka, Rena". Aku menatapnya. Apakah benar dia sangat menyukaiku, lalu kenapa dia harus menikah dengan Emillia. Aku melepas pelukannya, berbalik meninggalkan kak Edo sendiri. Aku berlari, air mataku berdesakan ingin keluar. Banyak orang memandangku aku tak peduli. Entah... mendengar pengakuan cintanya membuat dadaku sesak. Sebuah tangan mencengkram tanganku dan mebalik badanku. "Ungkapan cinta yang bulshit.." aku emosi. Kuhempas tangan itu. "Kalau kak Edo benar benar mencintaiku, Kak Edo ga bakal akan menikah denga Emillia" "Itu Aku... itu bukan aku yang memutuskan dan aku tak bisa menolak keputusan itu" "Jangan memberi harapan, kak" potongku cepat. "Pernikahan kita pun akan segera berakhir, setidaknya sampai kamu bosan padaku atau sampai aku melunasi hutangku" kataku lagi. Lelaki yang akhir akhir ini mengisi penuh ruang hatiku itu hanya diam memandangiku. Aku sudah ga mood jalan jalan. Aku cuma mau pulang dan tidur. Lusa adalah hari pernikahannya, memikirkannya membuat dadaku sakit. "Aku mau pulang, Aku lekah" Aku menghampirinya yang masih terpaku di tempat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN