Pesawat mendarat di depan resort pinggir pantai. Dua orang pelayan datang untuk membawa barang barang. Kak Edo menggenggam tanganku, mengajakku turun bersama sama. Aku tak menolak, ku ikuti langkahnya menuju resort.
Kami menempati sebuah kamar yang sangat mewah di lantai dua, aku memandang keluar jendela. Sepi.
"Kak, kenapa tak ada satupun pengunjung disini ya? apa kurang laku? padahal desainnya bagus dan mewah, dipinggir pantai pula" kataku heran.
"Aku membooking semua"
"Hah?" aku berbalik dan memandang wajah polosnya yang tak berdosa itu.
"Jangan menganga, nanti liurmu berjatuhan"
Aku menutup mulutku yang tadi terbuka dan memandang ke luar jendela lagi.
"Jadi..., apa boleh aku berenang?" ku pandangi kolam renang yang letaknya tepat di garis pantai itu, hari sudah menjelang sore. Lama aku tak pernah berenang, seingatku terakhir aku berenang saat liburan bersama mama dan papa saat aku kuliah di semester satu.
Kak Edo memelukku dari belakang, dagunya disandarkannya di pundakku, "Ayo kita berenang sama sama"
"Kak Edo mau berenang juga?"
"Iya... untuk menemanimu, mau sekarang?"
Aku mengangguk.
Ku bongkar koper yang di bawakan pelayan tadi. Kata Kak Edo, Rudi sudah menyiapkan baju renang untuk ku. Saat aku menemukannya, mataku membeliak tak percaya. 'Baju apa an, ini?' kurentangkan baju renang itu. Baju renang sexi berwana hitam, bagian belakangnya bolong memperlihatkan tubuh bagian belakang. 'MasyaAllah, ga ada kah yang lebih sexi dari ini?' aku geram "Rudiiii!!"
"Dia ga bakal dengar, ayo turun!"
"Aku ga jadi renang" jawabku lesu
"Sudah pakai aja, ga bakal ada yang lihat kecuali aku"
"Apa ini pilihanmu?"
Kak Edo tersenyum penuh arti.
Dengan kesal aku berjalan turun ke bawah, mengikuti kak Edo dengan baju renang itu. Aku menuju ruang ganti di dekat kolam. Setengah jam sudah aku mematut diri di depan cermin, memandang pantulan diriku.
Oh god... Aku benar benar ga pede mau berjalan keluar, baju renang ini begitu sexi di tubuhku. belahan dadanya yang rendah plus belakang tubuhku yang terekspose, membuat aku benar benar malu. Aku mengambil kain bali yang kubawa tadi, untuk menutupi tubuhku dan keluar.
Kak Edo yang asik berenang, tersenyum melihatku. Dia melambaikan tangannya, mengajaknya bergabung dengannya.
Aku hanya duduk di pinggiran kolam sambil kakiku bermain dengan air. Dia datang mendekatiku.
"Kamu ga mau berenang?"
Aku menggeleng lemah. Siapa yang mau berenang dengan pakaian seperti ini, untung Aris ga ada disini, kalau ada, aku yakin dia bakal baku hantam dengan kak Edo. Anak itu paling ga suka liat aku memakai pakaian terbuka, walau sedikit.
"Kamu yakin?"
Aku mengangguk. Sepertinya dia tak memaksa karena Kak Edo berenang menjauh, dia berenang ketengah dan menyelam entah kemana. Tiba tiba kakiku ada yang menarik dari dalam air, aku yang tak waspada langsung terpeleset dan jatuh kedalamnya. Kak Edo menangkapku dan memelukku di dalam air. Aku tersedak dan langsung menyembulkan kepala. Dia menepuk nepuk punggungku.
"Kamu ga pa pa, Rena? maaf aku menarikmu" Wajah laki laki tampan itu penuh penyesalan.
"Apa perlu aku panggil dokter kesini?"
Aku terbatuk mendengarnya "Ga perlu,kak. Aku ga pa pa kok, hanya kaget aja tadi", dia terlihat lega. Dipeluknya tubuhku erat erat.
"Kamu ga mau berenang? ayo kita naik"
""Enggak... aku mau berenang" potongku cepat.
Enak aja, aku sudah basah kuyub begini malah mau di ajak naik, ogah. Aku lempar kain penutup tubuhku yang kupakai tadi ke pinggir kolam, memperlihatkan kesexianku. Sexi sexi situ, suruh siapa membelikan baju seperti ini, Gerutuku.
Kak Edo terbatuk melihatku. "Kenapa?" tanyaku acuh.
"Kenapa pakaianmu terbuka betul?"
"Kan aku sudah bilang tadi sama kakak, kak Edo yang ga mau dengar. Katanya dipakai aja"
"Naik" katanya sambil menepi
"Ogah... aku mau berenang" jawabku sambil berenang menjauh.
Dia mengeram marah, kemudian dia mengambil hp dan menelpon seseorang "Bawakan kain yang lebar dan panjang" perintahnya pada seseorang. Aku tak pedui.
Tak lama Rudi datang dengan paper bag di tangannya.
"Rena... naik!" perintahnya lagi. Aku tak menggubris dan asik berenang.
"Naik... atau, aku turun dan mencumbumu di dalam air" katanya lagi dengan tatapan tajam.
Apa an sih. Siapa yang salah, siapa yang menjadi terdakwa.
"Baiklah aku naik" ucapku sebal, ku pasang wajah sejutek mungkin. Ku ikuti maunya untuk menepi, dari pada terjadi sesuatu yang sangat diinginkan. Bisa bisa jadi tontonan para pelayan resort.
"Tutup tubuhmu dengan ini" perintahnya sambil menyerahkan kain kepadaku. Aku naik dan menutup badanku dengan kain pemberiannya. Tak semua tertutup, tapi lebih baik dari pada tadi. Kulihat Rudi ingin tertawa dan berusaha menahannya. Aku melotot padanya. Ini semua salahmu, Rud.
"Tutup matamu, Rudi. Kalau kamu masih ingin melihat matahari"
"Baik" Jawabnya lugas, lalu dia menutup mata.
Kak Edo menarikku kembali kekamar. Aku sampai terseok karena mengikutinya. Begitu sampai, Dia menutup pintu kasar lalu menguncinya. Ditekannya tubuhku ke dinding dan diciumnya bibirku dengan kasar. Aku berusaha meronta, tapi saat berfikir usahaku akan sia sia. Aku lebih baik menikmatinya. Kubalas lumatan liarnya. Dia berhenti menciumku setelah melihat aku kehabisan oksigen . Bengek.
"Aku mau mandi, badanku lengket" kataku sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Ayo kita mandi sama sama" Kata kak Edo sambil mengikutiku.
"Apaa?"
"Kenapa? toh ini bukan yang pertama kali, bukan?"
"Tersserah kakak, lah" bodo amat, aku melesat ke kamar mandi. Badanku benar benar lengket dan ga enak. Lengket karena air kolam dan juga keringat saat berciuman panas barusan.
****
Setelah kejadian heboh tadi, disinilah aku berada. Duduk manis dipesisir pantai, lampu warna warni yang indah tertata cantik denga bentuk hati dan dihiasi bintang bintang malam. Kak Edo mengajakku dinner romantis di pinggir pantai. Aku sampai mau ingusan gara gara terharu. Dia memakaikan kalung berlian di leherku, entah berapa karat. Yang jelas aku hampir sekarat karena menerimanya.
"Kak, jangan terlalu baik padaku" aku menatapnya sedih.
"Ada yang salah kalau aku baik ke kamu?" ucapnya bingung yang melihatku tetiba menangis sesenggukan.
Yang aku takutkan satu, aku ga bisa melupakanmu kelak saat kita berpisah. Aku ga tahu, berapa lama waktuku bersamanya. Aku tergugu.
Kak Edo menepuk punggungku pelan. Untung pelan ga kenceng, jadi steak yang ku makan dengan mulus lolos kalambung ga jadi keluar. Dia menarikku untuk berdansa berdua, diiringi alunan musik romantis yang dimainkan band kecil sewaannya.
"Kak, ini aku pakai heels loh, kalau keinjak sakit" kataku berbisik di telinganya, saat berada dalam pelukannya. Malu kan ya kalau kemampuan menariku yang standar ini nanti dilihat sama orang, entar dibilangnya 'cantik cantik oon' kan tengsin. Bule lagi yang liat.
"Aku sudah terbiasa dengan injakanmu, sudah kebal" Jawabnya dengan senyum termanis yang aku lihat. Dia tetap menggengam tanganku serta tangan sebelahnya memeluk pinggangku erat, berdansa mengikuti alunan musik.
Dipagutnya bibirku lembut, aku memejamkan mata. Berharap moment ini berlangsung lama.