Paris... I'm cooming

1130 Kata
Aku mengeliat manja, ku buka mataku , aku terperanjat. Ini bukan dikamarku?, Aku duduk dan panik. "Dimana aku? apa aku diculik? tolooong!!!" teriak ku nyaring "Ga usah heboh, ga ada yang mau menculikmu. Kita sedang dalam perjalanan sekarang" kata Kak Edo. Kulihat dia sedang duduk santai sambil membaca koran. Ah... lega rasanya, ku elus dadaku. Ternyata aku tak diculik. Tapi memang benar, siapa yang mau menculikku. Tak ada manfaatnya cuma bikin repot. Oh ya, aku dalam perjalanan? "Perjalanan? perjalanan kemana?" Aku melihat ke sekeliling. Diluar jendela yang tampak hanya gumpalan Awan. "Kita sedang dalam perjalanan ke Paris" Kak Edo meletakkan korannya di atas meja dan datang menghampiriku. Dia duduk ditepi ranjang yang kutempati. Dia elus pipiku. "Kita benar benar ke paris?" "He'em... aku sudah berjanji, bukan?" katanya sambil kedua tangannya menangkup wajahku dan mengecup bibirku sebentar. "Kita sedang berada didalam pesawat sekarang" lanjutnya. Oh... aku lupa kalau kak Edo orang kaya, kalau mau kemana saja tinggal jalan tanpa memikirkan biaya. Tinggal telpon asisten, maka asisten akan menyediakan jet pribadi untuknya bepergian. Aku menyingkirkan tangannya dan beranjak dari tempat tidur, tapi Kak Edo menarik tubuhku dari belakang sehingga aku jatuh terduduk di pangkuannya. "Kak Edo! malu ah... nanti ada yang lihat" aku mengeliat hendak berdiri. "Ga ada yang bakal lihat, Rudi duduk didepan disamping pengemudi. Jadi cuma kita berdua disini" "Tapi tetep aja, aku tuh masih bau, baru bangun tidur" cicitku sambil berusaha melepaskan pelukannya. "Sini ku cium! bau apa enggak?" katanya sambil berusaha menciumku. "Kak..." aku mencebik, "Ga lucu, tau" "Aku cuma ingin bermesraan denganmu, saat kita berdua" Kak Edo mengeratkan tangannya di perutku. Dagunya dia sandarkan di bahuku. Saat ini aku bahagia, entah nanti setelah dia menjadi suami Emilla. Apa aku masih bisa merasakan seperti sekarang? sementara aku hanya istri simpanan. Ku hembuskan nafasku kasar dan aku berhenti meronta. Renata... nikmati apa yang bisa kamu nikmati, masalah kedepan itu difikirkan nanti, semangatku. Aku menoleh dan menatap laki laki tampan itu dan merangkulkan kedua tanganku di lehernya, manja. "Aku menyukai, kakak" kataku lirih. "Oh, ya? jadi kemaren kemaren kamu tak menyukaiku?" "Hahaha... entah lah, yang jelas saat ini aku menyukai kakak, sangat menyukai" kulumat bibirnya yang tipis itu. Bau bau situ, suruh siapa dari tadi aku mau membersihkan diri malah di tahan. Kak Edo terkekeh lalu membalas lumatanku. "Kruk.. Kruk..." seketika akitifitas kami terhenti. Kita saling berpandangan. "Kamu lapar?" Tanya Kak Edo sambil memandang ke perutku. Aku menggeleng cepat. Aku masih ingin sarapan bibir manisnya. "Makan dulu kalau lapar" Kak Edo beranjak dari tempat tidur, dia berjalan menuju nakas, meraih ganggang telephone dan menelepon seseorang. Aku melongo, ya Allah... kenapa rasa lapar itu muncul harus di saat seperti ini? ga bisakah nunggu nanti pas sudah selsai bermanja manja. Tak lama pintu kabin terbuka dan masuk seorang koki laki laki paruh baya, di tangannya membawa nampan berisi makanan. diletak kannya dua piring nasi goreng diatas meja dan dua gelas air putih. "Silahkan, tuan" Kak Edo mengagguk dan mempersilahkan dia pergi. Koki itu membungkuk hormat dan berbalik pergi. "Ayo sini makan! ini nasi goreng kesukaan mu" Dengan malas aku beranjak dan duduk di depan Kak Edo. Nasi goreng sosis plus telur ceplok diatasnya, timun diiris tipis dan lombok biji, Benar benar nasi goreng favoritku. Tanpa tunggu perintah, langsung ku sendok penuh nasi goreng itu dan memasuk kannya ke dalam mulutku, emm... benar benar enak. "Pelan pelan, sebelum makan bismillah dulu! aku tahu kamu lapar" Kak Edo mengingat kan ku. Aku menepok jidatku, ku angkat kedua tangan dan berdoa ""Bismillah... ya Allah semoga nasi gorengku enak dan nasi goreng kak Edo tak enak, aamiin.." kututup doaku dengan mengusap wajah. Kak Edo memandangku geli "Kamu kira nasi goreng kita berbeda?" "He'eh, siapa tahu nasiku enak dan nasimu tak enak! karena koki itu menambahkan banyak garam atau lada ke nasimu" ucapku sambil mengunyah. "Kamu kira dia memasak nasi gorengmu terpisah dari nasi goreng milikku?" Aku mengangguk. "Hahaha.... apa kamu gila? kamu ga lihat? nasi di piringku sama persis sama nasi dipiringmu, bahkan apa ini? sudah tahu aku ga suka pedas malah di letakkan cabai disini" katanya sambil menyingkir kan cabai dari piringnya. "Sepertinya aku memang harus menggantinya, mungkin dia sudah lelah bekerja dengan ku" Aku melongo.... ya Allah, horang kaya... cuma masalah cabe dipiring aja sampe mau dipecat. Ampun dah. Aku tepok jidatku. Sepertinya aku salah ngomong tadi, cepat aku sudahi makanku dan meminum habis air di dalam gelas. "Ga usah lebay deh, kak. masa cuma gara gara cabe, orang jadi kehilangan pekerjaan" Kak Edo memandangku tak setuju. "Dia tak kompeten, seharusnya dia mengetahui mana yang di sukai dan mana yang tak disukai tuannya" Potongnya cepat. "Masakannya enak... belum tentu kalau dia dipecat bakal dapat pengganti yang lebih baik" kilahku, aku tak mau jika gara gara aku, koki yang tak tau apa apa itu akan ke hilangan pekerjaannya. "Di luar sana banyak yang mau bekerja untuk ku" kata kak Edo sambil meraih hp nya. Cepat aku berdiri dan menyambar hp yang di pegangnya. "Pliese... jangan di pecat" kataku sambil menunjuk kan muka melas. "Apa untungnya buatku? apa jika aku tak memecatnya, kamu akan memberikan hadiah untuk ku?" Aku diam tak mengerti, kenapa aku harus memberinya hadiah. "What? hadiah?Jangan konyol". "Hmm... aku akan mempertahankan koki tua itu atas permintaanmu, asal kamu memberiku hadiah" Otakku yang tak terlalu pintar ini susah mecerna apa yang dia maksud. Aku telan ludahku sendiri dengan susah payah. "Apa perlu seperti itu?" "Bagiku sangat perlu" Kata kak Edo sambil meraih hpnya dari tanganku. "Oke... oke...! aku akan memberi hadiah untukmu nanti" Yah... soal hadiah fikirkan nanti Rena, yang penting koki itu tak di pecat hanya gara gara ocehan tak bergunamu. Kamu tahu sendiri, Mencari pekerjaan zaman sekarang itu sangat susah. Kamu sudah merasakannya, bukan. "Apa? cepat" Kak Edo mulai tak sabar. "Emmm....." aku berfikir cepat. Ide..! mana ide... ayo. Kak Edo mulai mencari nomor di hp nya dan memencet tombol panggil. "Aku akan mengabulkan satu permintaan Kak Edo, apapun itu" kataku cepat. Kak Edo tersenyum culas. Entah mengapa aku merasa di bodohi sekarang. Panggilan telepon tersambung "Hallo tuan, anda membutuhkan sesuatu lagi?" "Masakanmu enak" kak Edo mematikan hpnya. Dia duduk dengan manis dan mulai melahap lagi nasi gorengnya, santai. Aku menatapnya geram dan kesal. Aku berbalik, ku hentak kan kakiku menuju kamar mandi. "Brak" ku tutup pintu kamar mandi dengan kasar. Uh sebel. Kupandangi wajahku yang kusut di kamar mandi. Kuraih sikat gigi yang masih terbungkus rapi dan menyikat gigi sambil memandang sekeliling ruangan kamar mandi. Waow.. ini kamar mandi di pesawat apa di hotel? mewah sekali. Interiornya sangat menakjubkan. Aku beranjak untuk mengisi bath up, setelah penuh aku menuangkan sabun aroma therapy. Aku berendam sambil mendengarkan alunan musik yang sedang ku putar. Fikiranku melayang, membayangkan menara eiffel di Paris. Aku bersemu saat membayangkan adegan romantis di depan menara eiffel, seperti di film film yang aku tonton. "Paris....! I'm cooming" teriakku senang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN