"Oh jadi kamu lacurnya, Edo?" Kata gadis itu.
Aku kaget dengan ucapannya.
"Siapa kamu?" Tanyaku geram, bisanya orang tak dikenal ngatai aku p*****r.
"Hahahaha..." dia terbahak.
"Nanti aja perkenalannya" katanya lagi sambil masuk dan duduk tanpa dipersilahkan.
Dia menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki, sementara aku menatapnya dari tempat aku berdiri tadi tanpa bergeming.
"Kamu masih sama seperti lima tahun yang lalu, seharusnya bukan orang tuamu tapi kamu yang mati" dia menatapku tajam.
Aku tak menegrti apa yang diucakannya, apa dia orang gila kaya yang keluar dari RSJ dan nyasar kemari, ih serem kalo iya.
Segera kubuka pintu lebar-lebar.
"Keluar... Aku tidak menerima tamu orang gila" kataku, bisa berabe kan kalo dia orgil beneran.
"Hahahaha....Aku datang bukan mau buat keributan" ucapnya sambil berdiri dan memandang sekitar, lalu berjalan mengilingi tiap ruangan apartemen Edo
"Oh....jadi ini tempat tinggal Edo" dia tersenyum sambil manggut-manggut.
"Seharusnya aku berterimakasih padamu, selama ini Edo tak mengijinkan aku menginjakkan kaki di apartemennya dan berkat kamu aku bisa masuk sekarang" dia berbicara sambil tersenyum culas.
"Siapa kamu, apa hubunganmu dengan kak Edo?" Kataku geram sambil ngekor dibelakangnya, takut kalo dia ngutil hahaha. Zaman sekarang pengutil itu cantik dan modis loh.
Dia berjalan lagi ke kursi dan duduk kembali dengan anggun. Aku hanya mandangnya.
"Duduklah, mari kita bicara"
Aku menurutinya dan duduk didepannya.
"Aku Emillia, calon istri Edo" katanya dengan santai.
Ternyata bukan orgil toh, sebenarnya ada rasa cemas menyelusup di hati dari tadi, tapi aku mengusirnya. kuremas tanganku untuk menetralisir keguguppanku.
Jadi ini calon istri Edo, cantik dan anggun. Sepetinya dia seorang yang terpelajar. Ada rasa minder dihatiku. Apa sebentar lagi ada adegan jambak- jambakan seperti yang difilm. Aku takut- benar-benar takut untuk saat ini. Karna sekarang aku berada dipihak yang salah
"Jangan cemas begitu, kita bicara santai aja" katanya dengan senyum menawannya.
"Bisa kau buatkan aku kopi, aku tidak suka terlalu manis tapi tidak suka terlalu pahit" intruksinya lagi.
What, dia meminta kopi. Wah jangan-jangan buat nyiram aku nih. Aku harus waspada.
"B..baik, tunggu sebentar" aku berjalan ke belakang menuju meja bar dan membuat kopi, rupanya dia mengikutiku dan duduk didepan meja.
Kusuguhkan kopi yang dimintanya, dia raih dan diminumnya seteguk dan meletakkannya kembali, alhamdulillah dia tidak menyiramku, maka aku sudah bersiaga untuk menangkisnya.
Diraihnya hp di dalam tasnya. Dia sepertinya sedang mengirim sms pada seseorang.
"Sudah berapa lama kamu jadi pelacurnya Edo?" Dia bertanya tanpa menatapku, tangannya masih sibuk dengan hp nya.
Sakit aku mendengar kata-katanya. Ternyata cara bicaranya tak secantik wajahnya.
"Aku bukan p*****r, walau tidak secara resmi aku sah istri kak Edo" jawabku menekankan.
"Hahaha" tertawanya nyaring memenuhi ruangan.
"Aku hanya ingin memperingatkanmu, jauhi Edo atau hal buruk akan menimpamu" gadis itu menatapku tajam.
"Aku orangnya baik tapi aku bisa sangat kejam pada orang yang mengambil milikku" lanjutnya dengan mimik yang sama
Entah perasaanku atau apa, kenapa wajah gadis itu bisa berubah semenyeramkan begitu.
"Percayalah aku hanya sebentar bersama kak Edo, setelah bosan dia akan membuangku" kataku berusaha meyakinkan
Kau tau, rasa sakit hatinya saat ada yang mengatakan dirimu p*****r? Sakit-sakit sekali, aku tidak bisa membantah atau membela diri karna aku menyadari kalau aku memang p*****r, mungkin.
"Menurutmu begitu?"jawab gadis itu.
Kugigit bibirku kuat menahan supaya air mata ini tidak keluar.
"Tidak ada seorang lelakipun yang bertahan dengan pelacurnya, jadi tenanglah, setelah kamu menjadi istrinya, dia akan meninggalkanku"
"Bukankah kamu tadi mengatakan bahwa aku p*****r" lanjutku lagi.
Kulihat jemari tangannya asik bermain pada gelas kopi.
"Baiklah, aku memberimu waktu sampai hari pernikahanku, setelah itu pergilah dari kehidupan Edo"
"Kau tau, pernikahanku tiga hari lagi, jadi bersiaplah dari sekarang" katanya lagi sambil berdiri dan tiba-tiba.
Pyarrr satu cangkir kopi hangat membasahi wajahku.
"Itu hadiahku untukmu" katanya sambil berdiri
Aku tak mampu berucap, aku hanya bisa menunduk dan menangis menyesali nasib.
"Aku sudah memintamu untuk tidak menyentuhnya, Emil" suara bariton Edo terdengar setengah berteriak.
Aku kaget, kuangkat wajahku. Ternyata Edo sudah berdiri dibelakang Emillia.
"Rupanya kamu datang, cepat sekali...aku belum bersenang-senang dengan pelacurmu ini" jari telunjuk wanita itu tepat menunjuk ke depan hidungku.
"Jaga bicaramu, atau kita tidak akan pernah menikah, camkan itu"suara Edo terdengar Emosi.
Aku tidak ingin melihat perdebatan mereka, segera aku berlari kekamar dan menutupnya.
Kubenamkan wajahu ke bantal, aku menangis sepuasnya. Aku tidak memperdulikan mereka, aku hanya ingin menangis.
"Maafkan aku bila membuat kamu menangis Rena" tangan Edo menepuk pundakku.
Kuangkat wajahku dan duduk dihadapannya.
"Sebentar lagi kamu menikah, setelah saat itu kamu akan melepasku, bukan?" Kataku sambil terisak.
Diraihnya tubuhku dalam pelukannya. Wangi tubuhnya begitu menenangkan.
"Sampai kapanpun aku tidak akan melepasmu, Rena, tidak-tidak akan" semakin dieratkannya pelukannya padaku.
"Kenapa? Kamu jahat" aku tergugu,kupukul dadanya keras-keras. Dia hanya diam.
Setelah melihatku sudah tenang, dia melepaskan pelukannya. Diangkatnya wajahku, aku menatapnya. Kuselami manik coklat itu, kulihat ada parasaan sedih didalamnya.
Aku kecup bibirnya, dia terperanjat. Selama ini aku tidak pernah memulai untuk menciumnya. Dia yang selalu menciumku. Senyumnya mengembang. Kembali dipeluknya aku. Kunikmati setiap irama detak jantungnya, hangat.
Tuhan jika boleh aku serakah, aku tidak ingin berpisah dengannya, aku ingin memiliki seutuhnya. Hatiku telah penuh oleh rasa cinta untuknya. Kupejamkan mataku. Aku takut masa seperti ini tak akan lama, karena sebentar lagi dia akan menjadi milik wanita lain.
"Besok pagi kita berangkat keparis, aku ingin berbulan madu denganmu"
"Apa?" aku kaget. Aku mendongak, kulihat dagu lelakiku itu.
"Bukankah tiga hari lagi kak Edo menikah?" Kulepas pelukannya.
"Terus?" Tanyanya sambil beranjak.
"Orang menikah itu banyak persiapannya" mataku mengekori setiap geraknya.
Dia menoleh padaku, "Biarkan mereka yang menyelesaikan, aku tinggal duduk didepan penghulu saja"
"Kak, sudah cukup aku menyakiti Emillia, dia wanita baik"
"Hahahaha, kamu tak mengenalnya, makanya kamu bilang dia baik" katanya sambil menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Huft, aku mendengkus.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka kembali, kak Edo keluar dengan hanya memakai handuk.
Aku menutup wajahku.
"Kak, kondisikan dong kalau mau keluar, kok cuma make handuk aja" sungutku.
Edo berjalan ke arahku dan tiba-tiba mengankat tubuhku.
"Ayo kita mandi bareng" katanya sambil tersenyum.
"Apa?jangan bercanda ah, ga lucu, turunin aku" aku meronta.
"Ga usah malu, bukannya kamu sudah melihat tubuhku, bahkan tanpa sehelai benangpun"
Wajahku memerah mendengar ucapannya.
Dia hanya tertawa dan tetap menggendongku kekamar mandi. Dimasukkannya aku kedalam bathup.
"Kak, aku sudah mandi" kataku sambil mencoba berdiri. Bajuku sudah basah semua.
Dia masuk ke bathup juga dan memelukku dari belakang. Aku diam. Ditaruhnya dagunya ke pundakku.
"Aku ingin menikmati setiap waktu bersamamu Rena, aku tak ingin kehilangan kamu" katanya sambil melepas pelukannya dan menghadapkan tubuhku kepadanya.
"Janji kamu ga akan pergi, Rena". Aku mengangguk.
"Sekarang lepas bajumu, kita mandi bersama"
Aku tak segera mengikuti maunya.
"Ayolah, aku sudah melihatmu dari ujung kaki sampai ujung kepala setiap malam tanpa pakaian, hahaha"
"Kak Edo" aku berteriak.
"Cepatlah, setelah itu bantu aku menggosok punggungku"
Sedikit ragu, perlahan kubuka bajuku. Dia tetsenyum nakal. Segera dia berbalik memunggungiku.
"Ayo, gosok" perintahnya.
Kugosok punggung putihnya perlahan. Tiba-tiba dia berbalik menatapku. Dilumatnya bibirku, aku hanya pasrah dengan apa yang selanjutnya terjadi.