Tamu yang tak diharapkan

1514 Kata
Menjelang isya aku sampai di apartemen, Kak Edo mendiamkan ku dari sejak diperjalanan hingga sekarang. Aku menyiapkan makan malam sederhana untuknya, dadar telor dan sepiring nasi goreng sudah tersaji dimeja makan. Dengan kaos lengan pendek berwarna putih, celana pendek selutut dan rambut yang masih sedikit basah dia keluar dari kamar, melirikku sebentar dan berlalu menyalakan tv. "Makan malam sudah siap, kak" aku mengekorinya Tanpa menjawab dia berbalik menuju meja makan dan melahapnya. Aku pergi kekamar untuk mandi dan mebersihkan diri, terasa agak canggung. Biasa dia cerewet sekali dan memperlakukanku dengan manja dan sekarang dia mengacuhkanku. Ada rasa yang tak biasa, entahlah. Lama aku berendam dikamar mandi, setelah keluar kudapati dia sudah terpejam. Aku keluar menuju balkon, seharian ini aku ga ada nelpon Aris. Kucari no hp Aris pada benda pipih itu dan menlponnya, setelah duakali nada sambung akhirnya diangkat. "Assalamualaikum, Ris, gimana? sudah sehat?" "Waalaikumsalam, kak, alhamdulillah Aris sudah baikan, ini lagi menyiapkan keperluan buat masuk kuliah besok" hening sesaat "maafin Aris, kak, ya?" lanjutnya "Maaf untuk apa? Ga ada yang perlu dimaafkan, yang penting Aris sehat belajar yang tekun biar berhasil dan membanggakan mama sama papa diatas sana, ya" "Aris akan berjuang, kak, untuk membanggakan mama, papa dan kak Renata" "Ya udah Aris lanjutin persiapannya, kakak mau nelpon Kak Silvi dulu, Assalamualaikum" kuakhiri telponku. *** Mobil Edo berhenti didepan rumah bercat putih yang cukup luas. Pohon tinggi yang berjejer rapi didepannya, menambah asri rumah itu. "Adikmu dan Embok akan tinggal disini" Aku menoleh tak mengerti. Tadi Kak Edo mengajakku mencari makan siang cuma itu, bukan mencari tempat tinggal bagi adikku dan embok. "Adikmu hari ini diijinkan pulang, sekarang Rudi sedang menjemputnya, masuklah.. barang barang adikmu dan embok sudah didalam" katanya lagi kemudian. "Maksud kakak, Aris dan Embok akan tinggal disini?terus bagaimana uang deposit kontrakanku" "Aku sudah mentransfernya kerekeningmu" jawabnya. Tin tin mobil fortuner hitam berhenti di sebelahku. Rudi keluar dan membantu Aris dan Embok turun dari mobil. Aku berlari menghambur ke Aris dan menyambutnya. "Kenapa ga telpon kakak kalo sudah boleh pulang, Ris?" "Sudah cukup Aris metepotkan kak Renata" katanya sendu. Kami memasuki rumah itu, rumah yang sepuluhkali luasnya dari rumah kontrakan yang kutinggali sebelumnya. *** Berulangkali kutekan tombol dial di hpku untuk menelpon Silvi hanya mailbox yang menjawab. Kemana kamu Sil? Kamu menyisakan tanda tanya yang besar kepadaku. Kemana kamu menghilang? Aku masuk kemar dan berbaring menghadap Kak Edo, kupandang wajah tampan itu. Debar itu masih kurasa sekarang, debar yang sama bertahun tahun yang lalu. Takdir membawaku untuk menjadi miliknya, tapi apakah aku harus bersyukur atau tidak, entahlah. Perlahan mata itu terbuka, kita saling menatap dalam diam. Aku hendak menutup mukaku dengan selimut saat dia menahannya. "Aku sudah memintamu untuk tidak terlalu dekat dengan laki laki itu, aku tau kamu melihatku tadi, kenapa kamu mengacuhkan aku, Rena?" Ucapnya dengan nada kesal. Hening sesaat. "Dia temanku, dia selalu baik padaku, kak" jawabku pelan "Sepertinya dia menyukaimu, cara dia menatapmu berbeda" katanya berapi api. Hahaha aku tertawa. "Tadi kata bayu, bu Ajeng menugaskanku dan Bayu untuk membersihkan ruanganmu mulai besok, benar?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Aku tidak memungkiri berulangkali Bayu menyampaikan rasa sukanya untukku, walau dengan candaan aku tau dia serius. "Itu aku yang nyuruh, biar kuperlihatkan ke cleaning service itu kalau kamu milikku" jawabnya dengan penuh penekanan. "Maksudnya?" Aku mengambil posisi duduk menghadapnya. "Kamu ga perlu tau maksudku apa" katanya sambil menarikku kepelukannya. **** Pagi ini Kak Edo sudah cerah kembali, dia memintaku memilih baju yang akan dia kenakan. Kemeja putih dengan jas berwarna biru dan dasi yang senada telah dia kenakan, tampak gagah. Sementara aku, celana jeans dengan atasan blouse biru pilihannya. Katanya kita harus couple an, aku hanya menuruti apa maunya. Lama aku mematut diri didepan cermin bingung mau memakai apa untuk menutupi tanda merah di leherku yang ditinggalkan Kak Edo semalam . Aku cemberut. "Aku sudah bilang jangan tinggalkan noda dileherku, orang orang akan curiga jika melihatnya, kak" omelku. "Biarkan saja, biar mereka tau kalau kamu sudah ada yang memiliki, atau... sini aku tambahin" godanya sambil meraih pinggangku. Aku mencebik kesal. "Lepas ih udah siang tau, nanti kena omel bu Ajeng, lagi" kataku melepaskan diri. Aku sibuk mencari sesuatu untuk menutupinya, kulihat Edo sedang menelpon. "Rudi akan kemari membawa syal untukmu, kita tunggu dimobil aja, yuk" ajaknya. Aku mengekor mengikutinya turun kelantai bawah. Diparkiran Rudi sudah menunggu. Diserahkannya paper bag pada Edo. Dipakaikannya syal biru itu padaku. Tiba-tiba Rudi berlari mengejar seseorang. Dia kembali dengan wajah kesal. Kak Edo mendekatinya, mereka terlibat obrolan yang sangat serius. Entah aku tidak tahu apa yang dibahasnya. *** Dikantor suasana berubah, Aku yang bersiap diomeli bu Ajeng ternyata tidak. Dia menyambutku ramah. "Renata, mulai hari ini kamu bertugas mengurus keperluan pak Edo, dari sarapan, makan siang sampai makan malam jika beliau lembur" jelas bu Ajeng. "Baik, bu" jawabku. "Jika kamu lembur maka kamu dapat uang lembur" "Baik, bu, trimakasih" Setelah keluar ruangan bu Ajeng aku bergegas ke ruang ganti, mengambil semua barang barangku untuk dipindahkan kelantai sebelas. Dilantai sebelas itu ruangannya khusus, jadi petugas kebersihannyapun khusus tidak boleh bersama, itu kata temen-temenku dulu. Hanya orang-orang tertentu yang mendapat tugas disana. Setelah mengikuti arahan letak ruangan lantai sebelas dari Bu Ajeng, akhirnya aku sampai di ruangan ganti untuk petugas cs(cleaning service), ruangan itu jadi satu dengan pantri. Ada seorang wanita setengah baya dan seorang gadis seumuranku di pantri. Mereka tersenyum menyambutku. Setelah berganti baju seragam kerja, aku keluar untuk berkenalan dengan mereka. Bayu dan pak Mo sudah menungguku bersama mereka. "Perkenalkan, ini mbak Renata, yang akan mengurus makanan pak Edo mulai saat ini" kata pak Mo memperkenalkanku. "Dia, Slilla dan itu bu Mia, mereka koki disini" lanjut pak mo. "Dan ini Bayu, dia akan membantu bu Sri dan Eko untuk bersih bersih" Pak Mo memperkenalkan kami. Kami bersalaman satu sama lain. Sikap Bayu berubah dia sedikit dingin terhadapku, entahlah. Mungkin itu perasaanku saja. Setelah selsai acara perkenalannya, aku sudah diminta untuk mengantar makanan ke ruangan Kak Edo. Setelah mengetuk pintu, aku masuk membawa sandwich dan sekotak s**u lalu meletakkannya dimeja. "Kok cuma satu, punyamu mana?aku ga akan makan kalau kamu ga makan" katanya manja Aku melotot gimana tidak, ada Rudi di situ. Malu lah. "Rud, tolong suruh cleaning service yang baru naik itu untuk mengantar makanan kesini!" "Baik, pak" jawab Rudi sambil berlalu. "Sini duduk" ajak Edo sambil menepuk kursi disebelahnya. Aku hanya berdiri tak menghiraukan. "Sini..." Ditariknya aku hingga terduduk di pangkuannya dan itu bertepatan saat Bayu masuk membawa sarapan. Bayu menatap tidak suka dan Edo cuek tak peduli. "Makasih, yu" ucapku kikuk Dia hanya tersenyum. "Saya permisi dulu, pak, jika tak ada permintaan lain" kata Bayu undur diri. "Hemm" cuma itu jawab Edo. "Kak, gimana kalau Bayu cerita ke orang lain tentang perlakuan kakak ke aku" sergahku panik "Rudi sudah mengurus semuanya, oh ya jam sepuluh aku ada meeting diluar mungkin sampai sore, kamu ikut denganku dan sekarang habiskan sarapanmu" belum sempat aku menjawab Kak Edo memasukkan potongan sandwich kemulutku. *** Setelah seharian menemani Kak Edo kemana mana, badanku terasa remuk. Huft... ku hempaskan badanku ke kasur. Asikkkkk akhirnya aku lepas dari makhluk yang bernama Edo itu, walau cuma untuk semalam. Sore tadi maminya Edo menelpon, mereka terlibat obrolan serius dan mengharuskan Edo untuk pulang. Jadilah aku sendirian di apartemen ini sekarang, bibirku mengembang. Aku berguling-guling diatas kasur kegirangan, setelah lelah seharian, aku terlentang menatap langit-langit kamar. Apa yang akan ku lakukan sekarang ya, masih jam enam sore artinya aku ada waktu beberapa jam sebelum tidur. Seandainya Silvi bisa dihubungi tentu aku akan memintanya datang kesini tapi sayang dia ga bisa dihubungi, atau aku telpon Aris aja ya.. Kubongkar tas yang ada di nakas untuk mencari benda pipih itu, setelah mendapatkan apa yang aku cari. Segera akau telpon Aris. Terdengar suara merdu Rossa menyambut panggilanku, aku tersenyum. *** "Ariiisss, kenapa ko nada sambung hp kakak lagu mellow begini!" Aku berteriak. Aku beranjak mencari Aris dikamarnya, yang lagi dicari lagi nutupin mukanya pake bantal. "Eh kenapa adek ganteng kakak kok mukanya ditutupin" ku tarik bantal dari mukanya. Kulihat mata Aris sembab. "Aris dicampakkan, kak" jawabnya sambil teriak nangis. "Wkwkwk...anak cowo kok nangis, dah gitu cuma gara-gara diputusin cewe" aku terpingkal Dilemparkannya bantal ke arahku. "Kamu diputusin Maya yang anaknya pak lurah itu?" Selidikku "He'eh" Aris mengangguk. Dirumah ini hp cuma satu, hp samsung yang sedikit canggih itu dibeli dengan menjual hp senter Embok, Aris dan hp senterku. Aris yang sudah SMA membutuhkan hp cannggih untuk menunjang belajarnya, untuk membeli laptop aku belum mampu tapi alhamdulillah walau bermodal hp saja, Aris selalu jadi juara kelas. "Assalamualaikum, kak" Aku tersentak dari lamunanku. "Waalaikumsalam, Aris lagi sibuk?" "Enggak, kak. Ini mau pulang kerumah, ada apa?" "Kesini dong, kakak sendirian, kakak kangen sama kamu" "Loh kak Edo kemana?" Tanya Aris "Dia malem ini pulang kerumahnya, o ya nanti bawakan kakak martabak ya" pintaku pada adik tersayangku itu. "Assiyappp, kakak cantikku" aku tertawa mendengar jawabannya. Setelah mematikan panggilan hp, aku beranjak dari tempat tidur untuk mandi. Setelah mandi aku menuju dapur untuk membuat minuman segar untuk adikku nanti. Saat mempersiapkan semua, bel berbunyi. "Cepat sekali datangnya, Ris" kataku sambil membuka pintu, tapi ternyata... Seorang gadis cantik tinggi semampai dengan rambut pendek sebahu berdiri anggun dibalik pintu. Aku gugup, siapa dia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN