Bab 43 Selamat membaca. **** Ku tutup lembar terakhir buku tebal berwarna cokelat yang penuh kenangan ini dengan linangan air mata. Begitu sulit jalan hidup yang selama ini ku tempuh bersama mas Farell, pria pilihan ibu yang ternyata adalah pembunuh bapak, laki laki yang paling ku sayangi. Ku usap perut ku yang sudah membesar ini dengan lembut, meski sesak telah memenuhi rongga pernapasan. Sedih rasanya hidup sebatang kara seperti sekarang, tak punya siapa-siapa selain anak dalam kandungan ku ini. Bila saja bunuh diri tidak di larang oleh Tuhan, mungkin sudah kulakukan demi ketenangan hidup. Terdampar di suatu pulau di ujung Indonesia ini seorang diri adalah keputusan yang sulit, tapi ini harus ku lakukan agar pembunuh itu tak dapat mengetahui keberadaan ku dan calon anak nya sekaran

