Bab 22 Selamat membaca. "Katakan saja, Mas. Wajahmu terlihat sedang tidak baik-baik saja. Apa kamu masih belum bisa terbuka dengan ku?" Ku sudut kan terus agar dia mau bercerita. "Raka.." ucapnya menggantung, hatiku semakin penasaran saja. "Kenapa?" Tanyaku lagi. Mas ku malah menundukkan kepalanya lebih dalam di pahaku. Lalu terdengar isak nya yang semakin menjadi. "Mas? Ada apa? Raka kenapa?" Cecar ku saat merasakan ada sesuatu yang tidak beres, hatiku semakin berdebar saat mas ku mengangkat wajahnya dan menatapku dalam-dalam. Di lap nya air mata yang menggenang di pelupuk matanya m "Dia akan pergi ke Singapura malam ini," jawabnya terpotong. Tapi apanya yang sedih sampai dia menangis tersedu. "Terus?" Tanya ku bingung. "Dia.. Dia.." kalimat itu terpotong karena tangisnya pecah la

