Ajakan Menikah

1422 Kata
4.Ajakan menikah Betul kata ibu, dia memang seorang perempuan yang cocok untuk dijadikan istri. Wajah cantik, karir bagus, pintar, tetapi... aku tetap tidak tertarik. *** Sejak perkenalan Fadhil dengan Inaya beberapa bulan yang lalu, Ratna lebih gencar mengatur pertemuan keduanya. Ada saja acara yang dibuat Ratna di akhir minggu agar mereka dapat bertemu. Kadang acara tersebut diadakan di Bandung. Terkadang Ratna mengadakan acara di Jakarta. Dan seperti biasanya, Fadhil tidak pernah bisa melawan keinginan ibunya. “Bu, Fadhil lelah kalau setiap minggu selalu mengikuti semua kegiatan ibu." Fadhil merengek seperti anak kecil yang keinginannya tidak terpenuhi. “Kamu kan tinggal hadir saja Dhil, kenapa mesti lelah? Lagian kalau kamu tidak ikut sama ibu, kamu pasti juga buka jadwal praktek kan?“ “Itu kan beda, Bu? Kalau praktek, Fadhil menyukainya. Fadhil enjoy melakukannya. Lha, yang ini? Fadhil tertekan, Bu! Fadhil bosan!“ “Yaaa, biar tidak tertekan dan bosan, kamu juga mesti enjoy menjalaninya, anggap saja kamu sedang berhadapan dengan pasien kamu. Gampang kan? Lagian, ibu heran sama kamu. Inaya secantik itu masa kamu gak tertarik sih?“ “Fadhil kan sudah pernah bilang sama ibu, Fadhil gak mau menikah!" Fadhil berkata dengan memberi penekanan pada kata menikah. “Tapi ibu ingin kamu segera me-ni-kah!" Ratna juga tidak mau kalah, ia juga memberi tekanan pada nada bicara nya saat mengucapkan kata menikah. Sejenak, Ratna menatap tajam ke wajah putra satu-satunya itu. Kemudian pandangan tajam tersebut lama-lama memudar berganti menjadi tatapan sendu. “Ibu sudah tua, Nak, ibu ingin sekali menimang cucu. Kamu pikir kenapa ibu selalu aktif disemua kegiatan? Karena ibu bosan di rumah tidak ada kegiatan, Ibu kesepian! Kalau kamu menikah dan punya anak, ibu akan sering berada di rumah, main sama cucu-cucu ibu.“ Mata Ratna mulai berkaca-kaca, butiran halus sudah mengembang dan bersiap turun melewati pipi. Bibirnya bergetar saat berbicara. "Ibu juga cemburu, sama teman-teman arisan ibu yang terus saja menceritakan cucu mereka, sementara ibu? Jangankan cucu, menantupun tidak punya." Ratna berbicara sambil terus menatap wajah putranya. Fadhil tak tahan melihat wajah sedih ibunya. Dia memegang kedua tangan Ratna lalu mengangkatnya menuju bibir dan mencium dua tangan tersebut dengan takzim. “Maafkan Fadhil ya, Bu. Tapi Fadhil benar-benar tidak bisa.“ Fadhil berkata dengan suara memelas. “Kamu bukan tidak bisa, tapi kamu tidak ingin. Sampai kapan ibu menunggumu? sampai kamu siap? Apa ibu harus meninggal dulu baru kamu menikah?“ “I-Ibu?! Kenapa ibu bicara seperti itu?" ucap Fadhil. “Kalau begitu, menikahlah! Jika kamu sudah punya calon pilihan sendiri, kenalkan sama ibu. Tapi jika kamu tidak punya calon, menikahlah dengan perempuan pilihan ibu. Menikahlah dengan Inaya, dia perempuan yang baik, pintar, dan ibu juga merasa cocok dengan nya.“ “Ta-tapi Fadhil tidak mencintainya bu, dan belum tentu Inaya menyukai Fadhil, mungkin saja dia sudah punya pasangan atau sudah punya seseorang yang akan mendampinginya.“ Fadhil beralibi. “Ibu sudah mengenal Inaya empat bulan yang lalu, selama ini ibu sudah menyelidikinya. Dia single Dhil, dia tidak punya pasangan. Dia perempuan yang cocok menjadi pendampingmu. Percayalah pada ibu. Feeling ibu sebagai seorang perempuan dan sebagai ibu mengatakan demikian.“ “Baiklah, Fadhil akan menikah. Tapi ini semua Fadhil lakukan karena Ibu, bukan karena cinta.“ Fadhil mengakhiri perdebatan dengan ibu nya. kemudian dia keluar dari rumah tempat dia dibesarkan selama ini. Fadhil memilih istirahat di apartemennya saja. Dia lelah jika terus berdebat dengan ibunya. Hal seperti ini sudah sering terjadi, dan kali ini biarlah fadhil mengalah. ** “Gimana hubungan lo sama dokter itu, Nay?“ Siska, sahabat Inaya bertanya di sela jam istirahat mereka. Keduanya baru saja selesai makan siang. “Ya, gitu deh, Sis. Belum ada perkembangan. Tapi gue yakin sama dia.“ “Yakin apanya? Jangan ke pe-de an deh Nay, ntar lo bilang yakin ternyata dia sudah punya gebetan.” “Hhhmmm... masih single, Sis. Bu Ratna yang bilang. Gue merasa ibunya suka banget sama gue. Jadi gue Pedekate nya sama Ibunya aja duluan,“ ujar Inaya sambil nyengir ke arah Siska. “Lo mau kawin sama Ibunya apa sama anaknya?" tanya Siska heran. “Sama anaknya lah, masa sama Ibunya. Ngawur!“ “Harusnya lo deketin anaknya bukan ibunya.“ “Habis anaknya cool banget. Setiap jumpa gak pernah kasih respon. Gak pernah kasih sinyal ke gue. Ya gue deketin ibunya aja. Karna gue tau banget, dia tipe cowok yang nurut banget sama ibunya." “Heehh... terserah lo deh Nay, gak ngerti gue jalan pikiran lo. Saran gue ya... lo jangan lama-lama pedekate sama ibunya. Kalau lo suka anaknya, dia gak kasih sinyal, lo yang harus kasih sinyal. Gercep dikit gak apa-apa lah. Daripada kayak sekarang, status lo gak jelas. dibilang menantu... bukan! Disebut calon menantu... juga bukan! Lo mesti pikirin kata-kata gue, biar nanti lo gak nyesel. Gue masuk kelas dulu, lo gak ada kelas?“ ujar Siska sambil berlalu meninggalkan Inaya. Inaya terdiam mendengar ucapan Siska barusan. Siska benar, sejauh ini statusnya memang gak jelas. Dia hanya merasa dekat dengan Bu Ratna tapi arah kedekatan mereka selama ini hanyalah sebatas kenalan baik. Tidak ada ke arah yang Inaya inginkan. “Bu, sudah ditunggu mahasiswa dikelas.“ ucap seseorang di depan pintu ruang kerjanya. “Owh... ya.“ Inaya mengambil beberapa buku, alat tulis dan beberapa keperluan mengajar lalu segera masuk ke kelasnya. ** Sabtu ini Bu Ratna melakukan penggalangan dana di sebuah Mall di Jakarta. Bu Ratna membawa tim seni dari Kota Bandung untuk mengadakan acara seni di Mall tersebut. Dana yang mereka peroleh dari pertunjukan seni yang mereka adakan akan di sumbangkan ke salah satu panti asuhan di Kota Bandung. Inaya menemui Bu Ratna di akhir acara. Kami memang sudah janjian untuk beremu sore ini. Kebetulan tadi ada jadwal mahasiswa yang bimbingan skripsi, jadi Inaya agak telat datang ke acara tersebut. Disana juga ada Fadhil. Dokter kandungan itu selalu ada disetiap kegiatan ibunya. Dia hanya menatap Inaya sebentar lalu kembali sibuk dengan ponsel nya. “Nay, ayo duduk disini. Acara sudah mau selesai, kenapa baru datang? Kamu sibuk ya?" ujar Ratna. “Ada jadwal bimbingan tugas akhir mahasiswa tadi, Bu. Maaf Naya telat dan gak kasih kabar sama Ibu,“ ujar Inaya sambil duduk dikursi kosong samping Bu Ratna. “Ini ada sedikit sumbangan juga dari teman-teman di kampus, Bu. Kebetulan tadi Naya cerita, kalau ibu ada galang dana buat panti asuhan di Bandung. Jadi ada beberapa teman sesama Dosen yang ikut menyumbang.“ Bu Ratna menerima amplop coklat berlogo kampus tempat Inaya mengajar. “Alhamdulillah, sampaikan ucapan terima kasih ibu sama teman-teman nya ya, Nay. Semoga kebaikan mereka dibalas oleh Tuhan," ucap Ratna. “Iya, Bu... aamiin... terima kasih,“ jawab Inaya. “Ibu khawatir kamu gak datang. Ibu sama Fadhil sudah jauh-jauh dari Bandung mau ketemu kamu, takut gak jadi jumpa. Ya kan, Dhil?” Bu Ratna mencolek bahu Fadhil. Lelaki itu masih sibuk dengan ponsel nya. Fadhil menoleh sebentar ke arah Bu Ratna kemudian memandang Inaya cukup lama. lalu dia bangkit dari duduknya. Ponsel yang dipegangnya tadi sudah disimpan di saku celana kanannya. Kemudian.... “Aku mau ngomong sebentar sama kamu bisa, Nay?“ tanya Fadhil. “I-iya... bisa,“ jawab Inaya gugup. “Ayo, kita bicara disana, sambil makan. Kamu belum makan kan?“ Tunjuk Fadil ke sebuah gerai masakan sunda di Mall tersebut. Inaya mengikuti langkah kaki Fadhil menuju tempat makan yang ditunjuknya tadi. Entahlah, dihati Inaya ada sedikit rasa bahagia ketika Fadhil mengajak nya makan. Walaupun sore ini belum jadwal makan Inaya, tentu gadis itu tidak akan menolak kesempatan emas yang ada di depan matanya saat ini. Makanan pesanan mereka sudah diantar ke meja sama pelayan. Sejauh ini, Belum ada percakapan antara Inaya dan Fadhil. Inaya mengambil lotek yang ia pesan, dan memakan nya tanpa menunggu interupsi dari Fadhil. “Kamu mau menikah dengan ku?“ tanya Fadhil tiba-tiba. Uhuhukk.... Inaya tersedak mendengar ucapan Fadhil yang tiba-tiba. Kata inilah yang sudah lama ia tunggu, kata yang sudah sangat ia rindukan. Tapi Inaya tidak menyangka, akan mendengar kata ajaib ini sekarang. “Ka-kamu bilang apa?“ tanya Inaya lagi, ia bertanya lagi untuk meyakinkan apa yang dia dengar tadi. “Menikahlah dengan ku.“ Inaya meletakkan sendok yang sedang ia pegang, di tatap nya wajah Fadhil, lelaki yang duduk didepan nya yang baru saja mengajak nya menikah. Ekspresi wajahnya masih terlihat sangat santai setelah ajakan menikah tadi. Tidak ragu-ragu atau grogi seperti ekspresi laki-laki yang sedang melamar pasangannya di drama korea yang sering Inaya lihat. “Kamu serius dengan ucapanmu?“ “Ya!" “Kenapa kamu ingin menikah denganku?“ tanya Inaya kemudian. “Karena ini permintaan Ibu ku," jawab Fadhil acuh. “Apaaa????“
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN