5.Persiapan Pernikahan
“Kamu serius dengan ucapanmu?“
“Ya," jawab Fadhil singkat.
“Kenapa kamu ingin menikah denganku?" tanya Inaya kemudian.
“Karena ini permintaan Ibu ku!" kata Fadhil santai.
“Apaaa?"
Tangan kiri Inaya menopang pipi kirinya, lalu bergeser ke atas memijit dahinya. Pandangan matanya tak lepas dari lelaki yang sedang duduk santai di depannya. Bukan lamaran seperti ini yang diharapkannya. Tanpa Inaya sadari, kepalanya menggeleng sambil membuang nafasnya dengan kasar.
“Kamu menolakku?“ Mata Fadhil menyipit.
“Tidak.“ Inaya kembali menggelengkan kepalanya seperti anak kecil yang tidak menginginkan sesuatu.
“Kalau begitu, kamu menerima ku?" ucap Fadhil sumringah.
“Tidak."
“Lalu?“ Fadhil menegakkan punggungnya, alisnya sedikit terangkat karena bingung dalam mengartikan jawaban Inaya.
“Aku ingin kamu melamarku atas keinginan kamu sendiri, bukan keinginan ibumu.“
Inaya melanjutkan makannya yang tertunda, sementara Fadhil terus menatapnya.
Beberapa menit kemudian, "Baiklah, Inaya ... Maukah kamu menjadi istriku?“
**
Siska cekikikan menahan tawa, ia tak menyangka kalau sahabatnya akan dilamar seseorang dengan cara yang sangat lucu.
“Jadi, lo langsung menerima lamarannya?“ Siska bertanya di sela tawanya.
Inaya menganggukkan kepala, mengiyakan ucapan Siska.
“Woww, gue gak nyangka lo bakal senekat ini, Nay," ujar Siska takjub.
“Gue suka sama dia, dari pertama kami bertemu.“
Siska menghentikan tawanya melihat ekspresi muka Inaya yang serius.
“Tapi lo gak mungkin menikah dengan orang yang gak suka sama lo, lebih baik hidup dengan orang yang mencintai kita dari pada orang yang kita cintai." Siska menerangkan.
“Gue yakin Sis, gak butuh waktu lama bagi gue untuk buat dia jatuh cinta ke gue.“
“Yakin?" tanya Siska.
“Yaaah ... Sangat yakin.“
Siska mengangkat kedua bahunya. Percuma saja berdebat dengan Inaya, karena Siska tau jika Inaya sudah mengambil keputusan, maka itu akan sulit untuk dirubah.
“It’s Up to you, hopefully your decisions are right and you are happy.“ Siska berkata dengan tulus.
“Thanks Honey ...." Inaya tersenyum sumringah sambil memeluk sahabatnya. Aura bahagia tidak bisa disembunyikan oleh wanita dewasa itu.
“Jadi, sudah tentukan tanggal pernikahan nya?" Inaya mengangguk
“Kapan?“ tanya Siska penasaran.
“Tiga bulan lagi."
“Orang tua lo setuju?“
“Ya, gue sudah kasih kabar sama mereka. Lo kan tau Sis, Mama Papa tidak pernah meragukan keputusan gue.” Inaya berkata jumawa.
“Trus ... Kapan lo kenalin ke gue dokter kandungan itu? Sekalian gue mau konsultasi gratis. Gue kepengen punya anak perempuan nih.“
Inaya menyikut perut Siska, Siska meringis menahan sakit.
***
Fadhil memelankan laju mobilnya. Sesekali dia melihat ponsel yang sengaja di gantung di dashboard. Kota Jakarta hari ini sangat panas. Matahari bersinar terik memperlihatkan keperkasaan nya. Berbeda dengan kota Bandung yang sejuk, jika sedang musim panas, setidaknya Bandung tidak sepanas Kota Jakarta.
Sabtu ini, Fadil sudah janji dengan Inaya. Mereka akan menemui pihak Wedding Organization untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Juga Fadhil akan mengajak perempuan itu untuk mencari cincin pernikahan mereka.
Perempuan itu... Perempuan itu akan menjadi Istriku??
Seketika jantung Fadhil merasa sesak, sebenarnya dia belum yakin sepenuhnya dengan keputusannya. Dia hanya merasa kasihan dengan ibunya. Dengan menikah, ibunya pasti akan berhenti mengenalkan nya dengan banyak perempuan.
Fadhil kembali melihat Shareloc yang dikirim Inaya di ponselnya. Tidak lama lagi dia akan sampai di rumah Inaya. Suara perempuan di ponselnya memberikan perintah kepadanya untuk belok ke kiri. Fadhil mengikuti alurnya.
“Sudah sampai, sudah sampai,“
Fadhil menekan tombol Off diponselnya. Suara di dalam ponsel tadi berhenti bicara. Fadhil tersenyum sendiri. Sekarang teknologi sudah canggih. Kita tidak perlu takut dan khawatir jika bepergian jauh ke suatu tempat. Walaupun kita tidak tahu alamatnya, ada aplikasi yang bisa membantu kita mencari dan menunjukkan jalan dengan tepat. Bahkan jalan alternatif yang tidak macetpun bisa kita ketahui.
Sama juga halnya dengan profesi Fadhil sebagai dokter kandungan. Ibu-ibu hamil yang datang periksa kandungan mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang banyak hanya untuk melihat wajah anak mereka yang masih di dalam kandungan. Walaupun Fadhil sudah mengatakan kalau anaknya sehat, tapi ibu-ibu itu tetap memilih minta di USG dimensi tertinggi dan Fadhil akan dengan senang hati melayani pasiennya. Bukankah perempuan itu hanya merepotkan suaminya?
Inaya keluar dari rumahnya. Dress warna peach dibawah lutut yang dipakainya memberikannya kesan feminim. Dia selalu cantik memakai kostum apapun. Fadhil segera membukakan pintu mobil dan menutupnya kembali setelah Inaya duduk di kursi depan mobilnya.
“Kita mau bertemu dimana dengan pihak WO?“
“Dikantornya saja, tidak jauh dari sini. Aku sudah menelpon nya dan mereka sudah siap untuk bertemu kita “
Hanya butuh waktu lima belas menit, Fadhil dan Inaya sudah sampai di tujuan. Tapi butuh waktu hampir tiga jam bagi mereka untuk berbincang bincang dengan pihak WO mengenai konsep pernikahan yang mereka inginkan. Setelah mencapai kesepakatan, mereka pun keluar dari ruko yang sudah disulap menjadi kantor itu.
“Kalau kamu capek, gantian biar aku yang nyetir. Bawa mobil dari Bandung ke Jakarta lumayan pegel juga.“ tawar Inaya
“Gak apa, aku masih bisa. Lagian aku gak biasa di supirin cewek.“
“Bener? Gak capek?“
“Gak, ayo masuk! Masih ada yang mau di urus!“
Mereka melanjutkan perjalanan ke arah kelapa gading, menuju sebuah mall di kota jakarta. Tujuan mereka saat ini adalah soulmate wedding ring & jewelry. Sesuai janjinya, Fadhil akan membeli cincin pernikahan mereka.
“Kamu pilih saja cincin yang kamu suka, aku yakin dengan seleramu.“
Fadhil merasa yakin dengan pilihan Inaya. Setiap bertemu dengan gadis itu, penampilannya tidak pernah mengecewakan. Selain itu, dia juga tidak mau repot dan berlama-lama.
“Aku suka yang ini, Dhil, sederhana tapi terkesan Mewah."
Inaya menunjuk sepasang cincin berlian bentuk Princess. Dia memang suka dengan tampilan yang elegan dan feminim. Berlian bentuk Princess ini memilik permukaan batu berbentuk persegi, batu ini mampu memancarkan berton-ton kilau yang membuat tampilan semakin anggun.
“Oke! Kita ambil yang ini.“
“Ada lagi yang mau dicari?“ tanya Fadhil usai menyelesaikan pembayaran cincin.
“Sepertinya ini saja dulu Dhil. Kamu gak capek?"
“Gak, Haus aja."
“Kalau gitu, kita istirahat dan beli minuman dulu.“
Fadhil mengangguk dan mengikuti Inaya. Sebenarnya dia sudah capek. Tapi dia harus menyelesaikan semua urusan hari ini. Dia tidak mau minggu depan mesti ke Jakarta lagi mengurus persiapan pernikahannya.
Setelah semua urusan mereka selesai, Fadhil mengantar Inaya pulang kerumahnya. Dia memutuskan untuk menginap dulu di Jakarta. Besok pagi-pagi dia akan pulang ke Bandung. Inaya membantunya mencari hotel yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Biar Fadhil bisa langsung beristirahat setelah mengantarnya.
***
Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tidak terasa sudah dua jam Fadhil tertidur di kamar hotelnya. Fadhil mengambil ponsel yang diletakkannya di nakas samping tempat tidur hotel. Setelah membaca beberapa pesan yang masuk, lalu Fadhil menelpon seseorang.
“ Halo.. “
“ ----- “
“ Kamar 327, Hotel ... “
“ ----- “
“ Oke, saya tunggu. “
***