Menikah

1021 Kata
6. Menikah Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tidak terasa sudah dua jam Fadhil tertidur di kamar hotelnya. Fadhil mengambil ponsel yang diletakkannya di nakas samping tempat tidur hotel. Setelah membaca beberapa pesan yang masuk, lalu Fadhil menelpon seseorang. “Halo.... “ “ ----- “ “Kamar 327, Hotel ....“ “ ----- “ “Oke, saya tunggu!“ Tiga puluh menit setelah percakapan di telpon tadi, seseorang mengetuk pintu kamar hotel tempat Fadhil menginap. “Masuk Rob, lama banget datangnya.“ Fadhil membuka pintu kamar lebih lebar lagi. Laki-laki yang dipanggil Rob itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar di iringi Fadhil dari belakang. “Aku kan say goodbye dulu sama teman aku, lagian kamu nelpon udah malam. Tumben gak kabarin aku kalau ke Jakarta.“ Robby, teman fadhil langsung saja menjatuhkan pantatnya dipinggir tempat tidur. “Aku pusing Rob.“ “Kamu suruh aku datang kesini hanya untuk mendengarkan curhatan kamu?, kalau ya, aku pulang!" Robby berdiri, dan bersiap untuk meninggalkan Fadhil. Dengan cepat, Fadhil memegang tangan Robby dengan kedua tangannya. “Eittss. Tunggu... Bukan seperti itu. Aku hanya mau bilang, aku pusing! Lagi banyak pikiran.“ imbuh Fadhil. “Lalu...?“ “Tiga bulan lagi, aku akan menikah, Rob." ujar Fadhil lirih. “Apa? Kamu sadar Dhil?“ mata Robby melotot. “Iya, sebentar lagi aku akan menikah!" *** Hari pernikahan tinggal menghitung hari. Inaya sudah mulai cuti dan beristirahat. Begitu juga dengan Fadhil. Resepsi akan digelar di sebuah hotel di Bandung. Orangtua Inaya hari ini menuju Bandung. Mereka akan menginap di hotel tempat resepsi akan diadakan. Disebuah taman, tidak jauh dari rumah sakit tempat Fadhil bekerja, kedua calon pengantin ini sedang duduk santai sambil berbincang-bincang. Mulai besok kedua nya sudah dipingit dan akan bertemu kembali di hari pernikahan mereka. “Kamu tau dengan jelas kan, Nay, kalau antara kita masih belum saling mencintai. Aku harap kamu tidak menyesal dengan keputusan yang telah kamu pilih.“ Fadhil membuka percakapan. “Sekarang memang belum saling mencintai. Tapi kita tidak tau bagaimana esok setelah menikah. Terkadang, cinta bisa hadir setelah menikah. Aku hanya berharap kita masih bisa saling menghargai.“ “Aku yang memintamu untuk menikah denganku, setelah menikah nanti aku tidak akan membatasi kebebasanmu. Kamu bisa melakukan hal apapun yang kamu suka. Begitu juga denganku.“ “Aku mengerti." “Aku juga tidak akan memaksamu menjalani kewajibanmu sebagai istri.“ “Tapi aku ingin kehidupan rumah tanggaku seperti kehidupan rumah tangga normal lainnya.“ Fadhil melihat sekilas ke arah Inaya, lalu “Aku akan berusaha melakukannya." “Terima Kasih.“ *** Suasana gembira masih menggema di dalam ruangan hotel tempat resepsi diadakan. Raja dan ratu sehari masih setia melayani tamu yang datang memberi selamat. Aura bahagia tak lepas dari wajah kedua keluarga. orangtua Fadhil dan Inaya memang sudah menantikan hari pernikahan anak mereka. Mengingat keduanya sama-sama anak tunggal. Tidak terasa waktu berjalan. Hari sudah menunjukkan jam 23.00 WIB. Sebentar lagi acara selesai, tamu undangan yang datang sudah pulang satu persatu. Hanya teman dekat dan pihak keluarga saja yang masih berada di hotel. Kedua pengantin juga sudah diantar ke kamar mereka untuk beristirahat. Inaya sedang duduk di depan meja rias di kamar yang sudah disediakan pihak hotel. Dia sedang membersihkan makeup yang menutupi keseluruhan wajahnya. Tidak lama kemudian pintu kamar dibuka. Suara langkah kaki terdengar masuk ke dalam kamar, kemudian terdengar pintu ditutup. “Kenapa kamu belum mandi? Apa kamu menungguku?“ Fadhil mendekat. “Belum, apa kamu tidak lihat aku sedang membersihkan wajahku?" “Kalau begitu, aku yang akan mandi duluan." “Hhmmm.... Silahkan." Fadhil mengambil handuk dan pakaian ganti, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Lima belas menit kemudian dia keluar kamar mandi. Wajahnya tampak jauh lebih segar. Inaya masih saja duduk di tempat yang sama. Perempuan itu terlihat masih sibuk merapikan tatanan rambutnya. Ia mengacuhkan Fadhil yang sudah selesai mandi dan sedang berjalan menuju tempat tidur untuk beistirahat. Tanpa Inaya sadari, Fadhil sudah berdiri tepat di belakangnya. Ia melihat wajah tampan suaminya itu dari pantulan kaca yang ada di depannya. Fadhil membantunya membuka jepitan yang melekat di rambut Inaya. Jantung Inaya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Ia tidak menyangka Fadhil yang selama ini terlihat cuek sedang membantunya. Perhatian kecil Fadhil mampu membuat wajah Inaya merona. “Aku hanya membantumu membuang sarang burung dikepalamu, jangan berfikir yang aneh-aneh.“ ucap Fadhil seolah dia tau apa yang dipikirkan Inaya. “Sepertinya kamu butuh bantuan, aku membantu biar kamu cepat selesai dan bisa istirahat dengan cepat. Naahh ... selesai.“ Lanjutnya dan berlalu kembali ketempat ia semula. “Oh ya, Terima kasih.“ Jawab Inaya gugup. Lalu beranjak dari duduknya menuju kamar mandi. Fadhil duduk bersender di kepala tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Dia membaca puluhan pesan ucapan selamat dari sahabat dan rekan kerja di rumah sakit, lalu dia beralih ke akun social medianya. isinya sama saja, banyak foto-foto pernikahan mereka yang di Upload teman dan keluarga. Semuanya memberikan selamat dan mendoakan pernikahan mereka. Ck ... Jika saja pernikahan ini murni keinginannya sendiri, tentu Fadhil dengan senang hati membalas semua pesan yang ditujukan kepadanya. Sudah hampir satu jam Fadhil asyik dengan ponselnya, lau dia menyadari sesuatu. 'Selama itukah seorang perempuan mandi?' bisik hatinya. Fadhil berjalan ke arah kamar mandi, tidak terdengar suara air yang menandakan aktifitas seseorang didalam sana. “Nay.... “ ujarnya sambil mengetuk pintu kamar mandi dengan pelan. Merasa tidak mendapat jawaban dari Inaya, Fadhil mengetuk pintu kamar mandi lebih keras lagi. “Nay... Kalau kamu tidak menjawab, aku akan masuk.“ Fadhil menunggu beberapa saat, tetap tidak ada jawaban dari Inaya. “Inaya... Baiklah, aku masuk sekarang ya!" Fadhil berusaha membuka paksa pintu kamar mandi. “Tunggu Dhil, jangan masuk!" Tiba-tiba saja Inaya berteriak dari dalam kamar mandi. “Kamu ngapain di dalam, lama sekali mandi...Aku kira pingsan!“ ujar Fadhil kesal. “Ya, mandilah. Kamu tidur aja duluan. Bentar lagi aku keluar.“ “Ya udah, jangan lama-lama nanti pingsan beneran!“ Fadhil berjalan menuju tempat tidur, menarik selimut dan merebahkan tubuhnya yang memang sudah lelah. Tidur dalam posisi miring menghadap kamar mandi. Tidak lama setelah memejamkan matanya, Inaya keluar hanya dengan memakai handuk melilit d**a dengan rambut yang masih basah, berlari kecil sambil berjinjit menuju lemari. Lalu dengan cepat mengambil baju ganti dan kembali ke kamar mandi dengan cara yang sama. Fadhil membuka mata dengan pelan, “Huhh! Dasar perempuan. Hanya karena lupa bawa baju ganti betah menunggu lama di kamar mandi?“ Kemudian Fadhil menarik selimutnya lebih tinggi lagi, memejamkan matanya kemudian nafasnya mulai teratur menandakan dia telah masuk kealam bawah sadar dan tertidur lelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN