7. Malam Pertama
Fadhil membuka mata dengan pelan. “Hhhh, dasar perempuan. Hanya karena lupa bawa baju ganti betah menunggu lama di kamar mandi? Apa salahnya meminta tolong untuk mengambilkan, toh itu bukan sesuatu yang merepotkan.“ Fadhil berkata lirih, namun ia terus saja bersikap tidak peduli dan bersiap untuk melanjutkan tidurnya kembali. Kemudian, ia menarik selimutnya lebih tinggi lagi, memejamkan matanya hingga terdengar nafas yang mulai teratur menandakan dia telah masuk kealam bawah sadar dan tertidur lelap.
Usai mengenakan pakaian tidurnya dan kembali ke kamar mereka, Inaya lebih memilih duduk bersandar di kepala ranjang. Ia menoleh ke arah Fadhil yang sudah lelap dalam tidurnya. Lelaki itu tidur dengan tubuh terbalut selimut yang hanya menyisakan bagian kepala yang tidak tertutupi. Inaya memandang lekat wajah Fadhil, wajah lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya beberapa jam yang lalu.
“Seperti inikah malam pertamaku?” gumamnya. Meskipun ada nada sedih yang terucap dari bibirnya, tapi rasa sedih tersebut berhasil di tutupi dengan rasa bahagia akan perubahan statusnya.
Ya, Inaya sangat bahagia sejak kata sah terucap saat ijab kabul berlangsung tadi. Tidak masalah baginya jika malam pertama mereka berakhir dengan tidak adanya adegan romantis suami istri yang biasa dilihatnya di film-film yang suka ia tonton. Tidak juga malam pertama yang diceritakan Siska padanya beberapa hari sebelum ia mengajukan surat cuti di kampus. Malam pertama mereka berakhir di atas ranjang dan tidur tanpa obrolan sama sekali.
Meskipun tidak ada adegan romantis yang mereka lakukan sebagai pasangan suami istri yang baru menikah, setidaknya Inaya berharap malam pertama mereka ada percakapan yang membuat mereka saling mengenal satu sama lainnya. Obrolan ringan dan santai, membicarakan hal-hal seperti makanan kesukaan, hal yang mereka lakukan jika sedang libur bekerja. Inaya bahkan ingin tau bagaimana perasaan Fadhil saat pertama kali menghadapi pasien yang akan melahirkan. Bagaimana caranya ia bisa menenangkan dan menyemangati ibu-ibu yang kesakitan di detik-detik melahirkan buah hati. Dan bagaimana caranya memberi nasehat pada pasien yang putus asa saat sudah lama menikah namun belum diberi anak oleh Yang Maha Kuasa.
Hal-hal ringan yang belum Inaya alami tapi akan dialaminya suatu saat nanti. Masih dalam lamunannya, Inaya membayangkan ketika dia hamil nanti justru Fadhil lah yang menjadi dokter kandungan yang setiap bulan memeriksa kesehatan kandungannya. Fadhil lah nanti yang membantunya dalam persalinan. Lucu bukan? Fadhil yang memasukkan benih, Fadhil juga yang mengeluarkan benih yang sudah tumbuh menjadi bayi itu ke dunia.
Inaya terkekeh geli menanggapi lamunan konyolnya barusan. Membayangkan ia melahirkan dibantu suami sendiri merupakan hal lucu yang membuatnya cukup bahagia di malam pertama mereka yang dingin.
Pikiran warasnya memaksa ia untuk segera sadar. Ia berusaha memaklumi keadaan, menganggap mereka cukup lelah karena persiapan pernikahan dan menerima tamu yang datang mengucapkan selamat atas pernikahan. Jadi malam ini biarkan tubuh mereka beristirahat supaya bangun dalam kondisi bugar esok harinya.
“Tampan.” Bibir Inaya bergumam ketika tatapannya tidak lepas dari wajah Fadhil, dengkuran halus yang terdengar beriringan dengan hembusan nafas yang keluar dari mulut Fadhil mampu menarik sudut bibir Inaya membentuk senyuman. Jemarinya terulur ke sepasang alis tebal milik Fadhil, lalu turun menuju hidung yang tidak jauh beda dengan seluncuran anak TK lalu berhenti di bibir Fadhil, bibir yang jarang sekali mengucapkan kata. Bahkan ketika melamar Inaya, bibir tersebut juga tidak mengeluarkan kata romantis seperti yang ia dengar dari Siska.
Geram mengingat lamaran Fadhil yang serba biasa, reflek Inaya mencubit bibir Fadhil. Tubuh Fadhil bergerak karena merasakan sakit di bagian bibirnya, tangannya bergerak menggeser jari Inaya yang masih memegang bibirnya. Kemudian, Fadhil kembali diam larut dalam alam bawah sadar tanpa mengetahui kalau ia sedang menjadi objek panorama istrinya sendiri.
Inaya kembali tersenyum, ia sangat menikmati situasi malam pertamanya. Ternyata memperhatikan Fadhil dalam keadaan tidur sangat menyenangkan. Lain hal jika Inaya memperhatikan Fadhil dalam kesehariaannya, bukan kesenangan yang akan dia dapat melainkan sikap penolakan dari yang diperhatikan. Fadhil pasti akan merasa risih jika ditatap lama-lama dan Inaya juga akan turun image jika menatap Fadhil lama-lama.
Karena itu, Inaya memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan yang dia suka. Dia bebas memperlakukan Fadhil seperti apa karena jelas Fadhil dalam keadaan tidak tau apa-apa.
“Sudah puas?” Suara serak keluar dari bibir Fadhil, pelan namun mampu membuat langit di atas kepala Inaya jatuh dan menghimpit tubuhnya.
Inaya menegang, rasanya ia ingin meloncat ke dasar bumi yang paling dalam. Tapi itu pasti tidak mungkin ia lakukan, jadi Inaya mengambil selimut dan menutupi wajahnya dengan selimut tersebut persis anak ABG yang tertangkap basah bertemu dengan idolanya.
“Kamu lihat apa, sih?” tanya Fadhil kemudian, ia bangkit dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang lalu tangannya menarik selimut yang menutupi wajah Inaya.
“Gak lihat apa-apa.” jawab Inaya dengan santai.
“Gak lihat apa-apa? Bukannya kamu fokus menatap wajah tampan ini, dan itu tadi apa? Sakitnya masih terasa sampai sekarang.” Fadhil mengusap bibirnya.
“Maaf....” Inaya tidak bisa mengelak lagi. Matanya disipitkan dan kedua tangan menangkup di d**a.
“Iya gak apa-apa. Aku sudah biasa diperhatikan seperti itu. Terus, apa yang kamu dapat?” kata Fadhil narsis.
“Heh?”
“Apa yang kamu dapat dengan memandang wajahku hampir satu jam lamanya?”
“Ho-oh, memang kamu keberatan jika aku pandang? Dhil, ini kan malam pertama kita. Kamu tidur sementara aku tidak bisa memejamkan mata. Apa salah jika aku lihat kamu, kamu kan sudah jadi suamiku. Terus, kalau cubitan itu... itu karena aku....”
“Karena?” Fadhil menautkan kedua alisnya.
“Karena aku kesal, kamu irit bicara. Puas?” ucap Inaya sewot.
“Loh, kok kamu yang marah. Harusnya aku dong yang marah. aku yang menjadi korban disini jadi aku yang berhak marah.”
“Siapa yang marah? aku kan cuma kesal karna kamu irit bicara. Udah deh, gak usah dibesar-besarin. Kalau mau balas dendam, nih cubit lagi!” Inaya mengerucutkan bibirnya lalu mendekatkan ke arah Fadhil.
“Ogah! Sana tidur, aku sudah mengantuk.” Fadhil menolak dengan membesarkan kedua matanya. “Ingat! Dilarang pandang-pandang apalagi megang-megang.” ucapnya kemudian kembali menarik selimut dan merebahkan tubuh di kasur. Tidur dengan membelakangi Inaya.
Inaya merebahkan tubuhnya disamping tubuh Fadhil, tidur menghadap ke punggung suaminya. Menghadapi lelaki yang perfeksionis dan dingin seperti Fadhil mungkin akan butuh tingkat kesabaran yang tinggi. Namun, ia yakin jika ia akan bisa mengendalikan Fadhil dengan rasa cinta dan perhatian yang ia miliki. Inaya berjanji akan membuat Fadhil jatuh cinta padanya hingga sedetikpun Fadhil tidak akan bisa jauh dari dirinya, Inaya berjanji bahwa ia akan menjadi satu-satunya wanita yang bertahta dalam hati dan fikiran Fadhil.
***