Nasehat Mertua

1135 Kata
8. Nasehat mertua Harum aroma cake pisang tercium dari arah dapur. Aromanya menyeruak ketika cake tersebut Inaya keluarkan dari oven. Inaya dan Ratna sedang menyiapkan sarapan pagi untuk para lelaki yang ada di rumah tersebut. Siapa lagi kalau bukan Pak Soetopo dan anaknya, Fadhil. Sudah satu minggu Inaya menyandang gelar Nyonya Fadhil, selama itu pula ia tinggal di rumah mertuanya. Fadhil yang menginginkan mereka untuk tinggal bersama kedua orangtuanya, alasannya agar ibunya tidak merasa kesepian lagi, ada Inaya sang menantu kesayangan yang akan menemani. Bukankah itu yang selalu di inginkan Ibunya hingga terus menerus meminta Fadhil untuk segera menikah. Dan sekarang, Fadhil sudah mengabulkan semua permintaannya. Fadhil berhasil meyakinkan Inaya jika lebih baik untuk mereka tinggal bersama ibu daripada hidup berdua di apartemennya. Awalnya Inaya memang menginginkan untuk tinggal berdua saja dengan suaminya. Dia ingin membangun keluarganya sendiri, ia ingin merasakan menjadi istri yang mengurus semua keperluan rumah tangga. Tapi Fadhil menolak dengan alasan khawatir Inaya akan kesepian jika tinggal sendiri di apartemen sementara dia punya jadwal praktek yang padat. Belum lagi jika ada pasien yang Due-date yang mengharuskan Fadhil untuk melaksanakan kewajibannya sebagai dokter dan meninggalkan Inaya. Dengan alasan itulah, Inaya menerima dan mau tinggal di rumah mertua. Ia berusaha memaklumi profesi Fadhil sebagai dokter yang dibutuhkan oleh banyak orang. “Hmmm... dari aromanya bisa ibu tebak kalau ini pasti enak.” ujar Ratna sambil memotong cake menjadi bagian kecil dan menyimpannya di wadah kecil yang terbuat dari kaca. Inaya yang sedang menuang teh hangat ke dalam gelas tersenyum puas mendengar pujian mertuanya. “Nanti Naya bikin cake strowbery bu. Naya jamin ibu pasti suka dan ketagihan.“ “Uluh..Uluuuhh, mantu ibu sudah cerdas, cantik pintar masak lagi. Fadhil sangat beruntung memiliki kamu sebagai istrinya.“ puji Ratna. “Ibu juga baik dan sangat cantik, Naya yang beruntung punya mertua seperti ibu.“ Inaya juga tidak mau kalah, balik memuji ibu mertuanya hingga keduanya saling tertawa lepas mendengar pujian masing-masing.   Fadhil yang sedang berjalan ke meja makan mendengar percakapan Inaya dan ibunya. Dia melihat ibunya sangat bahagia. Kehadiran Inaya dalam hidup mereka membuat perubahan sikap yang signifikan terhadap ibunya. Sikap cerewet ibunya yang selalu nyinyir terhadap semua aktifitas yang Fadhil lakukan, hal-hal kecil yang selalu menjadi bahan untuk menyalahkan Fadhil karena tidak juga menikah di usianya yang sudah kepala tiga menjadi sirna hanya karena seorang Inaya Chairani. “Ehemmm....” Deheman lelaki paruh baya yang sedang berdiri dibelakang Fadhil membuat Fadhil tersentak dari lamunannya. Soetopo, Ayah Fadhil menyikut pinggangnya yang masih berdiri mematung. Fadhil bereaksi dan mengikuti ayahnya yang menarik kursi lalu duduk di meja makan bersiap untuk sarapan.   Ayah, Ibu, Anak dan Menantu itu berkumpul kembali untuk menikmati sarapan pagi yang sudah disiapkan. Fadhil duduk berdampingan dengan Inaya, di depan nya ada ayah dan ibunya yang juga duduk berdampingan. Ini hari ketujuh pernikahan mereka, dan hari ini Fadhil sudah kembali masuk kerja. Dia hanya meminta izin cuti satu minggu di rumah sakit, padahal kalau mau Fadhil bisa minta izin selama yang dia suka. Rumah sakit tempat dia bekerja sekarang adalah punya ayahnya dan tidak lama lagi rumah sakit tersebut akan diwariskan kepadanya. “Kamu yakin masuk sekarang, Dhil?“ tanya ayahnya sambil mengambil potongan cake dan memakannya. “Iya, yah. Fadhil sudah bosan dirumah tidak ada kerjaan.“ jawabnya lalu menyeruput teh hangat yang sudah terhidang di meja. “Apa kalian tidak mau berbulan madu dulu? Bawalah istrimu jalan-jalan. Sudah satu minggu kalian menikah, seharusnya saat ini kalian sudah pulang berbulan madu. Selagi Inaya masih ada cuti seminggu lagi. Tidak perlu jauh-jauh, yang dekat juga tidak apa-apa asalkan kalian bisa menghabiskan waktu berdua. Nanti kamu sudah punya kesibukan dan Inaya juga sudah kembali mengajar, tentunya akan sulit bagi kalian untuk memiliki waktu bersama.“ Soetopo memberi nasehat pada Fadhil karena selama seminggu ini ia memperhatikan Inaya sibuk menghabiskan waktu dengan Ratna, istrinya bukan dengan suaminya, Fadhil padahal mereka pengantin baru yang hangat-hangatnya, semestinya pengantin baru itu tidak bisa jauh dan ingin berduaan terus. Fadhil tidak merespon ucapan ayahnya. Inaya memandang wajah ayah mertuanya, wajah yang berwibawa. Soetopo memang irit bicara, tapi Inaya bisa merasakan perhatian dan kepedulian ayah mertuanya itu. “Ayahmu benar Dhil, rajin-rajinlah membuat anak. Ibu tidak sabaran menunggu kalian memberi ibu cucu.“ ujar Ratna bersemangat. Fadhil dan Inaya hanya saling pandang. Mereka larut dengan pikiran masing-masing. Tapi mulut mereka sama-sama tidak mampu berucap. Kedua orang tua itu memandang anak dan memantunya, tidak mengerti dengan apa yang mereka pikirkan. Menurut mereka, Pengantin baru pasti suka jika disuruh pergi berbulan madu. Menikmati waktu berdua, sebelum kembali kedunia kerja. Setelah ayah mertua dan suaminya pamit berangkat kerja, Inaya membersihkan meja makan dengan membawa cangkir sisa minum teh tadi ke wastafel dan mencucinya. Setelah dapur bersih, dia menyusul Ratna yang sedang membersihkan kebun bunga di halaman belakang rumah. Ratna duduk dibangku sambil mencabut rumput kecil yang tumbuh di sekitaran pot bunga yang dirawatnya. Inaya mengambil posisi disamping Ratna, mencabut rumput di pot yang lain. Memang dia berusaha mendekatkan diri dengan ayah dan ibu mertua. “Anggaplah ayah dan ibu Fadhil seperti mama dan papa. Orangtua suamimu juga orangtuamu, hormati dan sayangi mereka seperti kamu menghormati dan menyayangi mama dan papa. Kasih sayang mereka sama dengan kasih sayang yang mama dan papa berikan padamu.” Seperti itulah pesan yang disampaikan oleh mamanya setelah akad nikah mereka berlangsung. Meminta Inaya untuk menyanyangi orangtua Fadhil supaya Inaya mendapatkan kasih sayang yang tidak bisa diberikan secara langsung oleh mama dan papanya karena mereka berada jauh di Malaysia. “Jadi, setelah ini apa rencana kamu, Nay? Jakarta dan Bandung cukup jauh jika ditempuh setiap hari.“ Ratna bersuara. “Naya akan mengajukan perubahan jadwal dulu bu, mungkin bisa dipadatkan. Jadwal mengajar dua atau tiga hari dijadikan menjadi satu hari dari pagi sampai sore.” “Memang bisa seperti itu?“ Ratna menoleh pada menantunya, ia meragukan ucapan Inaya. “Dicoba bu, mudah-mudahan bisa.“ jawabnya sambil tersenyum lalu berpindah posisi menjangkau pot bunga yang lain untuk dibersihkan. “Nay, apa kamu tidak ingin berbulan madu?“ Pertanyaan Ratna reflek menghentikan tangan Inaya yang hendak mencabut rumput. Andai saja ibu mertuanya tau isi hati dan pikirannya, bulan madu merupakan sesuatu yang sangat di inginkannya setelah ia menikah. “Jika kamu ingin berbulan madu, ibu bisa mengaturnya. Kamu tau sendiri kan, Fadhil tidak pernah bisa menolak keinginan ibu.“ tawar Ratna. Tentu saja Ratna berani memberikan penawaran tersebut pada Inaya karena ia bisa merasakan keinginan menantunya, makanya dia berinisiatif mengatur bulan madu mereka. “Tapi, bu....“ Inaya ragu menerima tapi tidak ingin juga menolak tawaran yang menggiurkan tersebut. Disatu sisi, dia sangat ingin pergi berbulan madu, di sisi lain ada kekhawatiran jika nanti Fadhil tidak suka dengan ide Ibunya. “Udaaah, jangan khawatir. Biar ibu yang urus semuanya. Kamu mau nya kemana? Sebutkan saja.“ Ratna sambil tersenyum penuh makna. “Terserah ibu saja.” Inaya menjawab dengan malu-malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN