Mengunjungi nenek

1051 Kata
9. Mengunjungi nenek “Jika kamu ingin berbulan madu, ibu bisa mengaturnya. Kamu tau sendiri kan, Fadhil tidak pernah bisa menolak keinginan ibu.“ tawar Bu Ratna. Tentu saja Bu Ratna berani memberikan penawaran tersebut pada Inaya karena ia bisa merasakan keinginan menantunya, makanya dia berinisiatif mengatur bulan madu mereka. “Tapi, bu....“ Inaya ragu menerima tapi tidak ingin juga menolak tawaran yang menggiurkan tersebut. Disatu sisi, dia sangat ingin pergi berbulan madu, di sisi lain ada kekhawatiran jika nanti Fadhil tidak suka dengan ide Ibunya. “Udaahhh, jangan khawatir. Biar ibu yang urus semuanya. Kamu mau nya kemana? Sebutkan saja.“ Bu Ratna sambil tersenyum penuh makna. “Terserah ibu saja.” Inaya menjawab dengan malu-malu. *** Dengan malas Fadhil memasukkan bajunya ke koper. Dia menolak bantuan istrinya untuk menyiapkan keperluan perjalanan mereka. Hanya lima hari, Ya, lima hari waktu yang akan mereka habiskan bersama di Provinsi Sumatera Barat. Mereka akan berbulan madu sekalian mengunjungi nenek Fadhil-nenek dari pihak ibunya, di Kota Bukittinggi, salah satu kota wisata di Sumatera Barat yang terkenal dengan jam gadang. Karena orangtua Ratna sudah tua dan tidak memungkinkan menempuh perjalanan jauh meskipun menggunakan pesawat, mereka tidak menghadiri pesta pernikahan Fadhil dan Inaya. Dengan alasan itulah, Ratna membelikan tiket pulang pergi untuk anak dan menantunya dengan alasan mereka harus mengunjungi nenek Fadhil di Bukittinggi dan mengenalkan Inaya pada keluarga besar mereka yang disana. Alasan yang sangat tepat dan tentunya tidak bisa di tolak oleh Fadhil. Dibalik niat mengunjungi keluarga besar itu, Ratna membisikkan ke telinga Fadhil jika ia harus meluangkan waktu berdua dengan Inaya untuk mengajak Inaya berjalan-jalan dan menikmati waktu berdua sebagai suami istri. “Ibu sudah bicara sama nenek kalau kamu kesana tidak hanya mengenalkan Inaya pada semua keluarga besar kita tapi juga mau berbulan madu.” Fadhil hanya menatap ibunya tanpa sedikitpun memberi penolakan. Menolak permintaan ibunya adalah hal yang sia-sia dan membuang tenaga saja karena itu ia lebih memilih diam dan mengikutinya. “Setelah sampai disana, manfaatkan waktu satu atau dua hari untuk mengunjungi sanak saudara, selebihnya kamu harus membawa Inaya berbulan madu. Kunjungi tempat-tempat wisata yang menarik dan menginaplah di hotel. Nenek sudah menyetujuinya.” ucap Ratna lagi dan di respon dengan anggukan kepala oleh Fadhil. Usai menyiapkan segala keperluan, fadhil menuju tempat tidur untuk beristirahat. Sudah ada Inaya disana yang sedang bersiap-siap untuk tidur. “Kamu yang meminta ibu untuk mengatur bulan madu ini kan?“ tanyanya. Inaya tidak menjawab pertanyaan Fadhil, dia mengambil bantal dan guling lalu menarik selimut untuk menutupi kakinya. Ia memilih diam daripada melayani ucapan Fadhil yang akan menimbulkan perdebatan. Hal yang hampir setiap malam menjadi pengantar tidur mereka. “Nay, jawab aku.“ ucap Fadhil gusar. “Bukan.“ Inaya menjawab tanpa menoleh kepada Fadhil. “Dengar ya Nay, walaupun kita pergi berbulan madu, tapi aku belum bisa sepenuhnya menerima statusku yang sekarang. Aku akan berusaha memenuhi kewajibanku sebagai suami. Tapi aku belum bisa menafkahimu seutuhnya. Aku harap kamu mengerti dan memahamiku.“ “Bukankah dari awal kita sudah membicarakannya. Jadi kamu jangan khawatir akan itu.“ Inaya menimpali. Ada getir dihati Inaya sewaktu mengucapkan kata tersebut. Di dalam hatinya dia berucap “Aku akan buat kamu jatuh cinta dan tidak akan melepaskanku selamanya, Dhil. Kamu lihat saja nanti.“ *** Pesawat mendarat di Bandara International Minang Kabau, Sumatera Barat dengan selamat setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam empat puluh menit. Pengantin baru ini melangkah keluar menuju pintu kedatangan. Mereka sudah ditunggu oleh Makdang Adi, kakak kandung Ratna. (Makdang, dalam bahasa minang artinya Paman/Om). “Nay, kenalkan ini makdang Adi. Kakak laki-laki Ibu. Dan makdang, dia Inaya, istri Fadhil.” Fadhil mengenalkan Inaya dan Adi. Inaya dan Adi saling bersalaman dan menyebutkan nama masing-masing, setelah itu mereka meninggalkan bandara menuju Kota Bukittingi, kota kelahiran Ratna. “Kalian sudah makan belum?” Adi bertanya ketika mobil yang ia kendarai telah kelar dari kawasan Bandara. “Sudah tadi di Jakarta, sebelum berangkat.” jawab Fadhil. “Itukan makan di Jakarta, tapi di Kota Padang ini belum makan kan? Mau mamak bawa ke Rumah Makan Padang yang paling enak? RM Sederhana dengan menu yang luar biasa.” Adi menjelaskan dengan antusias. “Boleh, Fadhil juga sudah lama tidak makan masakan Padang. Kamu bisa makan pedas kan, Nay? Fadhil bertanya pada Inaya yang duduk di bangku belakang. “Bisa.” jawab Inaya sambil menganggukkan kepalanya. Tidak lama kemudian, mobil memasuki area rumah makan Padang. Karena belum jam makan siang, rumah makan ini belum terlalu ramai. Menurut Adi, kalau sudah jam makan siang rumah makan ini akan banyak pengunjung. Banyak pegawai kantor pemerintahan yang makan siang disana. Usai makan, mereka melanjutkan kembali perjalanan ke Bukittinggi. Dalam perjalan, Fadhil berbincang banyak hal dengan Adi. FAdhil bertanya soal keluarga mereka, pekerjaan yang dilakoni Adi saat ini, Kerajinan yang paling banyak di kirim ke Malaysia. Inaya baru tau, kalau pedagang di Sumatera Barat sering mengirim hasil kerajinan mereka ke Malaysia. Kerajinan itu bisa berupa pakaian, makanan dan bentuk kerajinan tangan lainnya. Inaya lebih memilih sebagai pendengar setia tanpa mengomentari apa yang mereka bicarakan. Setelah menghabiskan waktu beberapa jam di perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di rumah Nenek Ramini. Perempuan yang menutupi rambut putihnya dengan selendang itu memeluk Fadhil dan Inaya dengan erat. Air mata jatuh di pipi Ramini, ia menangis tersedu, tangis bahagia karna dikunjungi Fadhil dan menangis karena tidak menghadiri pernikahan Fadhil. “Tidak apa, Nek. Kan Fadhil sekarang sudah ada disini bersama Inaya. Nenek jangan menagis lagi ya.” Fadhil mengusap jejak air mata di pipi Ramini. Rasa kasih sayang yang ditunjukkan Fadhil pada neneknya membuat Inaya bertambah kagum pada sosok Fadhil dan semakin yakin jika Fadhil sebenarnya memiliki hati yang lembut. Ia bersikap dingin dan sedikit kasar pada Inaya karena hanya belum bisa menerima kehadiran Inaya sebagai istrinya. *** Sudah dua hari Fadhil dan Inaya berada di Bukittinggi, selama dua hari ini mereka terus disibukkan dengan acara mengunjungi keluarga besar Fadhil. Rupanya ikatan keluarga di daerah ini sangatlah kuat, Inaya sampai terharu dibuatnya karena tidak satupun dari mereka menganggap Inaya orang lain yang baru datang ke keluarga mereka. Mereka semua memperlakukan Inaya layaknya anak kandung mereka sendiri. Inaya yang hanya anak tunggal dan tidak memiliki saudara merasa kehangatan berada dalam keluarga tersebut dan begitu menikmati rasanya bagaimana memiliki keluarga besar yang penuh perhatian. Kelak dimasa yang akan datang, Inaya ingin memiliki banyak anak bersama Fadhil. Memikirkan banyak anak, kembali Inaya tersenyum sendiri. Akankah ia bisa menaklukkan hati Fadhil? Sementara dihari kesepuluh mereka menikah, Fadhil sama sekali tidak menyentuhnya. Jangankan menyentuh, kata-kata mesra saja belum ada keluar dari mulut Fadhil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN