Kecelakaan kecil

1211 Kata
10. Kecelakaan kecil Hari ini adalah hari ketiga mereka di Bukittinggi. Dua hari sebelumnya Inaya habiskan untuk mengunjungi semua keluarga besar Fadhil. Sesuai janji dengan ibunya, hari ini Fadhil akan mengajak Inaya megelilingi objek wisata yang dekat-dekat saja. Sebenarnya mereka juga tidak perlu pergi jauh-jauh karena Kota Bukittinggi terkenal dengan Kota Wisata. Banyak sekali objek wisata yang bisa mereka kunjungi. Waktu yang tersisa tiga hari saja pasti tidak akan cukup bagi mereka untuk mengunjungi semua tempat wisata yang ada. “Jangan pakai rok, pakai celana saja biar bebas.” perintah Fadhil sewaktu melihat Inaya memakai bawahan rok Zara Stevia pendek kotak katun. “Kita itu mau mengunjungi objek wisata alam bukan nge-mall.” Sedikit kesal Inaya mengganti setelan yang dipakainya dengan outfit kaos katun dipadukan dengan celana jeans biru muda dan sepatu kets. Ia mematut dirinya di cermin, sudah sangat lama ia tidak berpakaian seperti ini. Pakaian yang bertolak belakang dengan sisi feminim yang ia punya. “Kalau sudah selesai, kita berangkat. Nanti keburu siang, panas! Aku tunggu di luar ya!” perintahnya lagi. Inaya mengikat tinggi rambutnya, dan melhat kembali pantulan tubuhnya di cermin, setelah ia rasa sempurna, ia menemui Fadhil yang sudah menunggu di luar. Mamak Adi sedang memanaskan mesin mobil sementara Fadhil menaikkan dua sepeda ke bagian belakang mobil yang terbuka. Perjalanan mereka diawali ke Lembah Ngarai Sianok. Lembah yang terdapat di pinggiran kota Bukittinggi yang dikelilingi bukit-bukit memiliki panjang 15 kilometer dengan kedalaman 100 meter dan lebar 200 meter. Dengan mengendarai sepeda mereka mengelilingi Ngarai yang memiliki suasana damai dan udara yang sejuk. Inaya menghirup oksigen dengan sekuat tenaga ketika ia berada di titik paling bawah Ngarai. Mulutnya berdecak kagum melihat pemandangan di sekitar Ngarai. Sekarang ia mengerti kenapa Fadhil melarangnya memakai rok. “Haus?” Fadhil menyodorkan sebotol air mineral yang langsung disambut oleh Inaya. “Mau dilanjutkan apa istirahat dulu?” tanya Fadhil lagi. “Lanjut saja, kita menyusuri aliran sungai ini, ya Dhil.” pinta Inaya dan Fadhil langsung mengangguk tanda menyetujuinya. Inaya memang penasaran dan ingin melihat bagian paling ujung Lembah tersebut. Apalagi disepanjang aliran sungai ia melihat macam-macam tumbuhan langka seperti raflesia dan tumbuhan obat. Hampir empat jam waktu yang mereka habiskan di Lembah Ngarai Sianok. Saat kembali ke atas, Inaya merasakan kakinya yang kram karena terlalu lama bersepeda. Selama ini, Inaya juga tidak pernah bersepeda hingga aktifitas bersepeda yang ia lakukan hari ini membuat otot kakinya kaget dan mengalami kram kaki. Fadhil membawa Inaya untuk beristirahat di sebuah Panorama. Ia terpaksa menggendong Inaya di Punggungnya karena Inaya kesulitan berjalan kaki. Setelah mendapatkan tempat duduk yang nyaman untuk beristirahat, Fadhil menurunkan Inaya dari gendongannya lalu mendudukkan pantatnya di rerumputan sambil menyelonjorkan kedua kaki yang juga terasa penat. Dari tempat mereka duduk, mereka bisa melihat pemandangan Ngarai bak permadani hijau yang sangat luas. Sekali lagi, Inaya berdecak kagum terpesona dengan keindahan alam yang terpampang indah di depan matanya. Hingga ia tidak menyadari jika Fadhil sudah melepaskan sepatu kets di kedua kakinya. “Aaaw....” Mulut Inaya terpekik ringan ketika tangan Fadhil menyentuh pegelangan kakinya. Inaya meringis dan berlaku pasrah saat Fadhil mulai memijit, kedua sudut bibirnya tertarik. Hanya karena pijitan ringan yang dilakukan Fadhil mampu membuat hati Inaya berbunga-bunga. Ia tidak salah menilai, dibalik sikap cuek dan terkadang kasar Fadhil masih bisa memperlihatkan sisi lembut hatinya. “Jangan senang dulu. Ini bukan perhatian, ini wajar dilakukan oleh seorang dokter jika ada orang yang kesakitan di depan matanya.” ucap Fadhil dengan santainya. Inaya cemberut, bibirnya mengerucut mendengar perkataan Fadhil. “Lagian, saya juga tidak kuat gendong kamu sampai rumah. Rupanya kamu sangat berat.” imbuhnya lagi. “Oke, selesai. Kamu coba jalan dulu, kalau rasanya sudah tidak sakit kita lanjutkan perjalanan.” Fadhil bangkit dan mengibaskan kedua tangannya di udara. Inaya mencoba berdiri dan melangkahkan kakinya perlahan, sebersit ide muncul di kepalanya. “Aaaw, masih sakit, Dhil.” ucapnya sambil meringis. “Kalau masih sakit, kamu tunggu disini saja sampai sakitnya hilang. Aku pulang duluan ya.” Fadhil meraih sepeda yang dipakainya tadi lalu mengendarainya. Tangannya di lambaikan pada Inaya ketika ia melewati Inaya yang sedang memegang kedua lututnya. “Cari orang lain saja buat di tipu, saya tau kamu sekarang hanya pura-pura. Bye...Bye...” Inaya mendecih, penyamarannya sia-sia. “Fadhiiil, tungguuu....” Inaya berteriak lalu mengambil sepeda dan menyusul Fadhil. *** Mobil Pickup yang dikendarai mamak Adi berjalan pelan di pusat Kota Bukittinggi. Dua buah sepeda sudah bertengger di bagian belakang mobil yang terbuka, disampingnya ada dua koper milik Fadhil dan Inaya. “Nenek yang memberikannya, beliau meminta kalian untuk menginap di hotel. Ini juga perintah dari ibumu.” Mamak Adi berkata tanpa melihat ke arah Fadhil yang duduk disampingnya pandangannya masih ke depan jalan raya yang padat kendaraan. Inaya yang duduk di sebelah Fadhil lebih memilih melihat jalanan lewat pintu mobil yang kacanya terbuka. “Lagian, lusa kalian kembali ke Bandung. Di rumah ramai, banyak orang. Kapan kalian punya waktu untuk berduaan?” lanjutnya lagi. Dalam hati Fadhil mendongkol dengan semua kelakuan ibunya. Berada di pulau yang berbeda tetap tidak mengurangi kekuasaan ibunya pada langkah Fadhil. Mobil melambat di depan sebuah hotel. “Mamak hanya bisa antar kalian sampai disini. Ada barang yang harus mamak antar ke toko.” “Iya mak, terima kasih ya.” Ucap Fadhil. “Fadhil dan Inaya masuk dulu, nanti Fadhil kabari jika mau pulang ke Bandung.” *** Inaya berdiri di balkon kamar hotel. Matanya menjelajahi semua pemandangan kota Bukittinggi yang tampak dari posisi ia berdiri. Tidak lama kemudian, Fadhil datang menghampiri Inaya dan mengambil posisi berdiri di samping Inaya. “Itu apa?” tunjuk Inaya pada puncak menara tinggi yang ada di depan mereka. “Itu ikon Kota Bukittinggi. Jam Gadang. Nanti sore kita kesana. Tidak lengkap rasanya jika kita sudah ke Bukittinggi tapi tidak berkunjung ke Jam Gadang.” ujar Fadhil. “Saya pernah mendengarnya. Tapi belum pernah melihat langsung.” “Jam Gadang sering disebut kembaran Big Ben London dibangun tahun 1926. Dengan tinggi 36 meter dan 4 tingkat. Jam Gadang merupakan hasil rancangan arsitek Minangkabau dengan Yazid Rajo Mangkuto dan Sutan Gigi Ameh.” Fadhil menjelaskan. “Kamu ternyata tau banyak juga dengan sejarah tempat ini,” gumam Inaya. “Tidak juga, barusan di googling.” nyengir Fadhil, lalu, “Kalau mau kesana, ayo siap-siap. Kita jalan kaki saja, sepuluh menit sampai kok.” Inaya tidak mau melewatkan kesempatan yang Fadhil tawarkan, meskipun seluruh tubuhnya pegal-pegal karena bersepeda pagi tadi, ia juga tidak ingin melewatkan kesempatan traveling yang ditawarkan Fadhil. Inaya memilih outfit dengan model yang sama dengan yang pagi tadi ia kenakan. Mereka sekarang sudah berada di luar hotel, berjalan kaki di sepanjang trotoar menuju kawasan Jam Gadang. “Nay, tunggu sebentar disini ya, saya mau ke ATM dulu. Saya gak pegang uang nanti pengen jajan di warung-warung kecil sekitaran Jam Gadang.” ujar Fadhil sambil menunjuk ATM yang berada diseberang jalan. Fadhil dengan cepat menyeberangi jalan menuju gerai ATM yang dimaksudnya tadi. Lima menit kemudian, Fadhil keluar dari gerai ATM. Ia bermaksud menyeberangi jalan kembali untuk menghampiri Inaya. Inaya berteriak dengan kuat memanggil nama Fadhil seiring dengan suara decitan rem dan benturan keras yang terjadi di seberang sana. Sebuah sepeda motor yang melaju kencang menabrak Fadhil dan tersungkur ke trotoar. *** Gimana? sehari publish dua part lho. kasih boster saya dengan tap love dan komen ya. Happy reading ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN