45. Saran Siska “Tidak bisa, aku tetap ingin bercerai.” Inaya tetap bersikeras. “Gak akan, Nay! Aku tidak akan menceraikan kamu.” Fadhil juga tidak mau mengalah. Pagi-pagi sekali Fadhil sudah berdiri di depan rumah Inaya. Semalaman Fadhil tidak bisa memejamkan mata saking bahagianya. Sejak pulang dari rumah Ustadz Mulyadi, Fadhil terus saja tersenyum kadang ia tertawa sendiri bahkan berteriak senang. Robby jadi satu-satu nya pelampiasan kebahagiaan Fadhil, meski lubang telinga Robby sudah di tutupi earphone pun suara Fadhil tetap terdengar menggema di kamarnya. “Aku tetap ingin bercerai. Please, Dhil. Jangan buat aku terus menunggu. Kamu selalu saja keras kepala. Aku bersedia pulang ke Jakarta karena ingin mengurus perceraian kita secepatnya.” Inaya mulai melunak. Jika terus bersikera

