59. Siasat Sisil "Bukan siapa-siapa. Hanya teman lama." jawab Fadhil. "Teman lama? Istimewa? Sampai-sampai kamu meminjamkan bahumu untuk tempat ia menangis?" cecar Inaya. "Nay, sudahlah. Jangan berlebihan seperti ini. Dia hanya teman lama." jawab Fadhil membela diri. "Ayo sini, mendekat." Fadhil bergerak dan bermaksud membawa Inaya kedalam pelukannya. Inaya bergerak, bukannya mendekat malah menjauh. Kemudian ia melempar guling ke Fadhil yang sedang merentangkan tangannya. "Tuh!! Peluk sana, teman lama!" Fadhil memangkap guling yang dilempar Inaya. "Eh, Nay! Mau kemana? Masa aku tidur sendiri." Brakkk!!! Suara pintu yang dibanting menjawab pertanyaan Fadhil. * Seorang perempuan dengan rambut panjang tergerai, berjalan dengan anggun di koridor rumah sakit menuju ruangan Fadhil.

