Sebuah Pengakuan

1156 Kata

22. Sebuah Pengakuan. “Nay, berjanjilah....” Fadhil berkata lirih, ia mengangkat sedikit kepalanya hingga matanya menatap mata Inaya. “Berjanji untuk apa? Jika itu bisa membuat kita bahagia, akan aku lakukan.” “Berjanjilah, jika kamu tidak akan meninggalkanku jika aku menceritakan semuanya padamu.” Inaya mengangguk, senyumnya mengembang. Inilah hari yang ditunggu Inaya selama ini. sebuah pengakuan yang menguak kebenaran. “Aku berjanji.” Inaya berkata dengan mantap. Inaya terdiam sangat lama setelah mendengar pengakuan dari Fadhil. Dia sempat merutuki dirinya sendiri, kenapa tidak memperhatikan suaminya saat mereka berdua b******u. Padahal mereka sudah berkali-kali mencoba melakukannya. Tidak percaya, itulah yang Inaya rasa. Tidak percaya jika pernyataan itu muncul dari mulut orang l

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN