Inka baru saja sadar beberapa menit yang lalu dan wanita itu tak henti menangis di pelukan Sania. Putra kesayangannya pergi dari rumah, entah tempat mana yang menjadi tujuan anak itu. "Ma, Gibran... " lirih Inka disela-sela tangisnya. "Sudah, Sayang. Kita juga pasti membantu. Kamu tidak boleh stres. Kasian calon anak kamu," tutur Sania lembut sambil mengusap-usap lembut puncak kepala menantunya. Devan kembali masuk ke dalam kamar seraya berkata, "Fauzi tahu di mana Gibran sekarang, tapi anak itu bilang, kita harus membiarkan Gibran istirahat dulu." Inka benar-benar malas bicara dengan suaminya itu. Jika Devan tidak tempramen; langsung memaki Gibran begitu saja, tentu Gibran tidak akan pergi seperti sekarang. "Inka maaf." Namun lagi-lagi Inka tak menyahuti. "Inka, maafkan Devan, ya? D

