Devan melangkah gontai memasuki kediamannya. Hari ini ia pulang cepat karena sudah sangat merindukan istri serta calon anaknya. Jika biasanya Inka menyambutnya, kali ini Inka sama sekali belum menampakkan batang hidungnya. Apakah istrinya itu masih marah? Lelaki itu membuka pintu kamarnya perlahan hendak menemui sang istri. Begitu masuk, kontan saja matanya melebar melihat Gibran tengah tertidur di pangkuan Inka. Inka bahkan terlihat tengah menahan sakit, yang Devan yakini semua itu karena Gibran. "Gibran, apa-apaan kamu?" Devan menarik lengan Gibran menjauh dari pangkuan istrinya. Gibran masih betusaha mengontrol debaran kencang di dadanya karena kaget dengan perlakuan sang ayah, "A... Ayah? Ayah Kenapa?" "Sekali manja tetap saja manja! Kenapa kamu tidur di pangkuan Bunda kamu? Lihat B

