“Suruh dia masuk.” Kening sekretaris Moiz berkerut mendengar titah sang atasan melalui telepon. “Maaf, Tuan. Siapa yang Anda maksud? Apa ada janji di luar tabel jadwal, Tuan?” Moiz pun mengerutkan kening mendengar jawaban sang sekretaris. Ia melirik pintu besar ruangan kerjanya. Sang kekasih baru saja keluar, sehingga Moiz meminta Syera untuk masuk lewat titah kepada sekretarisnya. “Apa tidak ada wanita itu di sana?” tanya Moiz. “Wanita itu? Tidak ada siapa-siapa di sini, Tuan. Apa maksudnya Anda, Nona Takia yang baru saja keluar? Saya bisa menyusulnya, mungkin beliau belum jauh.” “Bukan dia,” sela Moiz cepat, “ck, apa dia pulang? Padahal aku menyuruhnya menunggu di luar,” desisnya. Tanpa berkata-kata, Moiz mematikan sambungan telepon begitu saja. Ia meraih ponsel, dan mencari nama s

