“Kalian sudah mau pulang?”
“Ya, sepertinya kita harus pulang sekarang!! Kita harus istirahat,” ujar Marco .
“Sangat merepotkan sebenarnya kita lari ke sini langsung dari bandara. Padahal, semalam aku sudah ingin terbang ke sini sayang, tidak mendapat tiket pesawat. Hati ini sakit melihat sahabat sendiri ternyata menikah tanpa mengabari kita. Bukan gitu, ‘Co”
“Too Much information, enough, Ok! Go away , Now!?” Ravin sudah bosan mendengar dua sahabatnya yang sudah seperti tekukur terus mengulang-ulang pembahasan yang sama .
Inara mendengar hal itu tersenyum sedikit pahit tentu saja, aka nada sahabat yang kecewa jika, tidak diundang pada pesta pernikahan sahabatnya sendiri bahkan, sahabatnya sendiri. Inara tidak tahu harus bicara apa nanti di depan sahabatnya, Inara. Dia pasti yang paling bertanya-tanya karena paling dekat dengannya dan Elvan. “Kalau soal itu… aku sangat minta maaf.”
“Yah, kamu gak usah minta maaf juga, sih?! Kita cuman …” Marco jadi bingung menjelaskannya dan hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya. “yah, begitu!”
“Udahlah, kita pergi!” Gary lebih pengertian sepertinya dia segera menggusur Marco untuk pergi dari sana. “Happy Wedding, yah?! Kita cuman bisa ngedoain ..entah dengan alasan apa kalian menikah tapi, kita harap kalian bisa bahagia berumah tangga berdua.”
“Makasih!” Inara sedikit berteriak saat mengucapkannya karena kedua orang itu sudah digiring sendiri oleh Ravin untuk segera pergi pulang.
“Mereka sangat merepotkan,” ujar Ravin ketika sudah sampai di depan Inara sambil merebahkan diri di sofa. Sudah siang, perut kenyang dan sedikit kelelahan membuatnya mulai merasa mengantuk. “Inara, kenapa hanya berdiri saja?” tanyanya heran karena masih melihat wanitanya hanya diam seolah mematung.
Inara segera tersadar dengan lamunannya yang kosong. “Aaah, iya, kenapa juga aku hanya berdiri, yah?” tanya bingung sendiri lalu, melihat Ravin yang sedang berbaring santai sambil menatapnya membuatnya tambah bingung dan malu. “Jangan melihatku, kayak gitu?” kesalnya.
“Melihatmu, kayak apa,” balas Ravin sambil tertawa. Semakin lama semakin diperhatikan entah kenapa di matanya kini Inara terlihat menggemaskan.
“Ahh, pokoknya jangan melihatku!” ujarnya sambil berbalik dan masuk kamar. Di dalam kamar Inara akhirnya menggerutu sendiri karena mendengar jika, Ravin masih menertawakannya padahal apa yang lucu sampai harus ditertawakan. Mendengus sebal, Inara mengambil ponselnya yang sudah ia matikan sejak kemarin.
Ponsel tersebut menyala dengan sangat cepat tidak sampai satu menit begitu banyak notifikasi bermunculan dengan sangat cepat. Mengabaikan hal-hal yang tidak penting . entah kenapa Inara masih mencari sesuatu yang seharusnya tidak dia cari. Kontak nomor Elvan, bahkan dia juga membuka kembali pesan-pesan sebelumnya yang mungkin terlewati di mana ada kesalahan yang membuat Elvan pergi. “Tidak ada, tidak ada! Bahkan, sampai sekarang dia tidak menghubungiku. Apa kamu mati?!” geram Inara sambil membanting ponselnya ke atas kasur.
Sedetik kemudian, ponsel Inara berdering dengan panggilan ‘Nadira.’ Sahabatnya yang baru beberapa waktu lalu sempat dia pikirkan. “Halo!”
“Inara! Inara! Kenapa ponselmu mati, kenapa gak nelpon gue?”
“Tenang dulu, Dir. Tarik napasnya jangan sampe bengek!”
“Sialan, Lo nyumpahin gue?”
Inara tersenyum mendengar suara omelan Nadira. “Gak, lah, Dir. Gak mungkin gue tega nyumpahin lo. Ada apa nelpon, hm?”
“Masih nanya, kenapa gue nelpon? Yang bener aja, Inara.”
“Maaf, gue salah!” aku Inara akhirnya sambil merebahkan tubuhnya tetapi, matanya menatap pintu kamarnya yang tertutup. Sedikit khawatir jika, sewaktu-waktu Ravin akan masuk dan dia dengan santai berbaring seperti kamar miliknya sendiri.
“Inara, Inara! Kenapa diem? Lo udah gak anggep gue sahabat lagi, yah? sampai hal besar kayak kemarin lo sembunyiin dari gue.”
“Gue gak nyembunyiin apapun, Dir. Semua yang terjadi kemarin, tuh. Puree… terjadi begitu aja. Kalau ada yang harus disalahin itu salah Elvan si Bregsek itu pergi tanpa ngomong apapun …. Hiks!” Tangis Inara tiba-tiba pecah masih tidak bisa menawan rasa kecewanya.
“Jangan nangis! Gue minta maaf. Gue juga terkejut banget saat tante Farah ngomong,” ucap Nadira juga tidak bisa menahan suara sengaunya menahan tangis tidak tega mendengar tangis Inara. “Inara, ayo, ketemu! Kamu di mana?”
Inara menghapus air matanya yang sempat jatuh. “kayaknya kita belum bisa ketemu. Gue di apartement Mas Ravin dan kalau harus keluar… gue belum siap! Ketemu orang yang tahu siapa gue. Gimana ngadepin mereka yang bakalan bertanya-tanya kenapa gue gak nikah sama Elvan.”
“Gue ngerti! Setelah lo siap dan udah baikan segera hubungi gue lagi, yah?! Gue sobat lo, kan, Inara. Hubungi gue saat lo butuh sesuatu.”
“Thank you, Dir. Lo emang sobat paling pengertian.” Setelah itu sambungan telepon pun terputus. Inara melamun dalam keheningan. Masih dengan kebingungan harus apa selanjutnya? Inara melirik tangannya di mana jari manisnya kini sudah dilingkari cincin emas. “Sekarang, aku udah jadi istri orang. Saatnya nanti Elvan kembali kita sudah tidak bisa bersama. Aku gak tahu apa perasaan benci tapi, rasanya tidak akan sanggup hanya dengan terus memikirkan pria yang tidak punya hati itu. Berani, sekali pergi begitu saja.” Sambil mengeram kesal dengan semua pikiran yang tidak berakhir seperti itu sampai alam mimpi membawanya tertidur lagi!
**
“Ya, ampun! Kemana dua orang ini? Kenapa pintunya gak dibukain juga?” Deswita menggerutu kesal berkali-kali mereka sudah membunyikan bel apartemen tetapi, tidak ada yang membuka pintu.
“Apa mereka sedang keluar jadi, tidak ada di apartemen.”
“Farah, coba kamu telepon Inara,” ujar Deswita.
Farah melakukan apa yang diminta Deswita tetapi, meski sambungan terhubung tidak ada yang menjawabnya. Di Kamar Inara tertidur dengan lelap dengan bunyi ponsel yang sudah di-silent-kan. “Tidak diangkat sama sekali! Memangnya kamu gak tahu berapa kode masuknya?”
“Andai Aku tahu, sudah sejak tadi aku buka pintunya,” sahut Deswita sakit kepala. “Beginilah, repotnya punya anak yang gak pernah mau diganggu orang tua kode rumah aja gak pernah dikasih tahu.”
“Kasian sekali ternyata kamu, ya, Des.”
“Gak usah ketawa!?
Klik!
“Aakh! Akhirnya!” pekik Deswita dan Farah bersamaan. Ibu-ibu rempong ini akhirnya bisa bernapas lega ketika mendengar suara pintu apartemen terbuka.
“Mom, Ma, ayo, masuk?! Ravin keluar sambil masih menguap dan mengusak matanya. Dia baru saja bangun ketika, melihat ponselnya terus berdering.
“Aish! Bugh!” Deswita memukul d**a bidang putranya setengah kesal. “Lama sekali bukanya. Mommy sampe lumutan tinggal di luar,” omel Deswita sambil menyelonong masuk.
Wajah Farah pun tidak jauh berbeda hanya dia tidak terlalu vulgar, menegur menantunya. “Di mana Inara?” tanyanya setelah berdiri di ruang tamu tapi, tidak melihat sosok putrinya.
“Ada di kamar. Biar Ravin panggilin?”
“Kamu barusan lagi ngapain, sih, Vin . lama banget buka pintunya?”
“Tadi, aku lagi tidur, Mih,” sahut Ravin sambil berjalan kearah kamarnya. “Inara?” panggilnya ketika sebelum membuka pintu kamar. Masuk ke dalam dan diperhatikannya sosok Inara yang sudah seperti udang yang meringkuk, gemas sekali. Ravin sebenarnya sedikit tidak tega untuk membangunkannya tapi, jika tidak bukan hanya kedua ibu-ibu itu akan kecewa tidak melihat putri mereka juga nanti, Inara akan kesulitan tidur lagi di malam hari.
“Inara, bangun!”
Inara langsung membuka matanya dengan sangat terkejut. “Eoh, Mas Ravin.”
“Ayo, bangun! Diluar ada Mommy sama Mama kamu.”
“Oh,ya?” Segera Inara mencoba bangun tetapi, karena dia dengan sangat merubah posisi tubuhnya. lututnya yang sebelumnya tertekuk lebih terkejut dan membuatnya mengerang karena otot bagian itu menjadi tegang. “Aaaakh! Sakit-sakit.”
“Kenapa-napa?” Ravin benar-benar terkejut, baru saja dia hendak berbalik.
Inara menggigit selimut menahan serangan otot lututnya. Mendengar teriakan Inara, Deswita dan Farah berlari masuk ke kamarnya dan melihat apa yang terjadi. “Kenapa dengan Inara?”
“Sepertinya, kakinya kram, Mom. Dia salah posisi tidur dan refleks cepat bergerak jadinya begini,” jelas Ravin. “Mana yang sakit?”
“Ahm, lututnya! Akh, jangan dipegang!” teriaknya saat merasakan sentuhan Ravin. “sakit banget, ototnya…”
“Oh, ok! Kakinya gak bisa dilurusin ?” Inara menggeleng.
“Aish, kok bisa-bisannya, sih, ‘Ra.” Farah khawatir dengan putrinya tetapi, juga tidak bisa apa-apa. “Jangan banyak gerak dulu, lemesin ototnya pelan-pelan.”
Inara mengangguk, tangannya mencoba mengusap-usap lututnya tetapi, segera dihalangi Ravin. Dia yang melakukannya dengan perlahan. “Biar aku aja, aku bakal pelan-pelan!”
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya otot lutut Inara menjadi lebih baik, dia bisa bergerak seperti biasa. “Makasih,” ucapnya lega.
“Sama-sama, nanti kamu harus hati-hati lagi ..ototnya kram karena kamu gak banyak gerak, kan? Nanti kamu harus ikut aku olahraga, yah? biar gak kayak gini lagi?”
“Aaah, aku malas,” jawab Inara sambil menggeleng menolak usulan rAVIN. “Aku gak suka olahraga.”
Ctak!
“Ouw!” baru saja Ravin menyentil dahi Inara. “Sakit!” rengeknya.
“Makanya, kamu harus ikut olahraga mulai besok gak ada malas-malasan.”
“Lihat aja, entar!” ujar Inara sambil berlari keluar menemui Deswita dan Farah. Meski, begitu dia senang dengan perhatian Ravin. “Mommy dan Mama ngapain ke sini? Mau kubuatkan minum?” tanyanya saat sudah sampai di depan mereka dan belum melihat ada minuman yang tersedia.
“Jujur, sih, Mama khawatir sama kamu tapi, kayaknya kamu baik-baik aja. Syukurlah.” Farah bicara dengan jujur. “Papa juga tadinya ingin ikut ke sini tapi, mungkin nanti sepulang kerja. Kita makan malam bersama, ya, nanti?”
“Ah, kalau gitu aku juga panggil suamiku juga.”
“Duh, padahal aku baru aja mau ngajak Dinner berdua aja sama Inara.” Tiba-tiba saja Ravin bicara dengan santainya.
“Yah, Mas…kita,kan masih bisa lain waktu,” jawab Inara dengan spontan dan pipinya yang sedikit merona malu mendengar ucapan kencan Ravin yang terang-terangan.
Deswita dan Farah jadi, sedikit bimbang dengan rencana mereka sebelumnya karena berpikir usul Ravin lebih bagus dari mereka, untuk membiarkan keduanya lebih dekat lagi. Tetapi, segera usulan yang akan mereka ucapkan ditolak Inara.
“Ma Kita makan malam bersama aja, yah? panggil papa juga Daddy Adi kita kumpul bersama. Mau makan di mana?”
“Aah, apa gak lebih baik kamu makan bareng aja sama Ravin.”
“Gak, ah! Mas Ravin cuman bercanda. Besok-besok kita masih bisa dinner berdua tapi, bareng-bareng semua kayak gini bisa sangat jarang.”
“Baiklah, kalau memang maunya begitu. Ravin, kamu gak keberayan, kan?”
“Ngga, Ma. Tenang aja! Kita emang harus makan malam bersama buat rayain suksenya menggelar acara pernikahan kita.” Ravin tersenyum bangga dengan kata-katanya.