Hug Moment

1896 Kata
Ravin melihat kedua orang pria didepannya dengan sedikit waspada ya, tentu saja karena tampang mereka yang terlihat tampak tidak bersahabat sejak tiba di apartemennya. Belum lagi ketika hendak mendekati mereka, dia mendengar nama Elvan disebut-sebut. Jujur saja saat ini dia sendiri enggan untuk mendengarnya. Perasaan kesal dan marah karena adiknya itu dia harus bertanggungjawab dengan menikah dan harus memulai menata hati serta hubungan yang belum tentu berjalan baik bersama mantan calon istrinya. ‘Elvan, aku bakal buat kamu nyesel karena udah kabur gitu aja! Lihat aja nanti, meski kamu minta dia balik. Aku gak bakal biarin itu terjadi.’ “Dad, Pa, nih minum dulu!” panggil Ravin meletakkan tiga minuman kaleng ke atas meja. “Kemari, duduk sini aja, jangan terus berdiri sana.” “Makasih, Vin, “ sahut Daddy-nya menurut berjalan kearahnya diikuti Bagas, ayah Inara. Mereka berada di balkon, berdiri di sana untuk menikmati terangnya malam hari sambil berbincang berdua sebelum Ravin datang. Sebenarnya mereka sedikit bertegang membahas soal Elvan dan pernikahan yang terjadi antara Ravin dan Inara. Bagas sebenarnya sangat khawatir dan tidak nyaman menikahkan putrinya dengan Ravin, meski, sebelumnya setuju itu hanya pengaruh istrinya terutama Deswita, selaku ibu Ravin. Dia tidak tahu bagaimana sikap dan sifat Ravin sebelumnya jika, Elvan saja yang terlihat baik dan bertanggujawab berani meninggalkan putrinya bagaimana dengan Ravin. Inilah yang jadi bahan perbincangan dua ayah ini. Yang satu meminta kepastian, yang satu menjawab dengan yakin jika, anak sulungnya bisa bertanggung jawab. “Baru saja Daddy sama Papa lagi ngomongin apa?” tanya Ravin tidak nyaman dengan keheningan yang tiba-tiba tercipta diantara para pria ini. Adibrata melirik Bagas dengan pandangan sedikit sinis, yang dibalas dengan dengusan. Lalu, membuat Bagas menegakkan punggungnya dan menatap Ravin dengan seksama. “Om, nggak Papa,” ralat Bagas lalu diam sesaat. Kini Ravin sudah memanggilnya Papa semenjak selesainya akad nikah, pemuda di sampingnya yang sudah menjadi menantunya sejak itu tampak, tidak canggung atau enggan saat memanggilnya dengan sebutan itu. Terlalu baik sehingga, membuatnya lebih khawatir tentang kehidupan putrinya kedepannya. “Ya, Pa. Ada apa?” “Papa masih gak yakin kamu bisa jaga putri Papa. Kalian baru saja mengenal, Papa juga gak tahu sifat kamu itu seperti apa? Apa kamu bisa mencintai Inara? Apa kamu bisa bersikap baik sama dia? Apa kamu orang yang benar-benar tulus?” Ravin mengangguk, mengerti kekhawatiran ayah Inara tersebut. Sebelum menjawab kekhawatiran ayah Inara, Ravin membasahi kerongkongannya yang kering bahkan, sekilas matanya juga melirik Inara yang sedang mengobrol dengan kedua ibunya. “Aku bukan orang tulus, Om,” jawab Ravin kembali pada panggilannya semula. Bagas menggeram menahan jengkel sambil menatap tajam Adibrata. Dalam benaknya bersarang kalimat, ‘Semua anak Adibrata berengsek!’ . “Lalu, kenapa kamu bersedia menikahi Inara?” tanyanya dengan perasaan tersayat karena, merasa putrinya tampak tidak berharga dikeluarga ini. apa salah Inara? “Bukan aku tapi, Inara’lah yang bersedia menikah denganku,” jawab Ravin masih dengan nada santai dan tenangnya. “Meski, begitu Papa tidak perlu khawatir. Aku akan belajar mencintai dan menjaga Inara, serta bertanggujawab sepenuhnya selama dia menjadi istriku. Apa Papa bisa mempercayakan putri Papa padaku?” “Kamu lihat?!” Adibrata menepuk bahu Ravin dengan sangat bangga. “Dia anakku, dia pasti bertanggungjawab dengan semua ucapan dan perbuatannya. Anak bunsuku saat ini memang mungkin salah tapi, anak sulungku tidak akan pernah seperti itu!” “Ish, Daddy jangan buat aku malu …sampai diumbar gitu dong,” balas Ravin bertingkah malu-malu tetapi, senang dipuji ayahnya. “Aishh!” Adibrata meringis jijik dengan sikap Ravin saat ini dan menggeplak bahunya tanpa berperasaan. Plak! “jangan tunjukan tampang menjijikan gitu.” “Aaw, Adibrata!” “Kurang ajar malah menyebut namaku.” “Salah, Daddy sendiri! kenapa harus acara mukul segala.” “Itu,kan salah wajah kamu yang menjijikan.” “Wah, wah, menjijikan hey … anak keluarga Malik. Aku ini keturunan keluarga Malik paling tampan bagian mana yang menjijikan.” Plak! Tidak segan-segan Adibrata memukul kening Ravin. “Sadar kamu!” Ravin meringis, menundukkan kepala dengan mata yang berkaca-kaca mendongak menatap ayahnya seolah ayahnya adalah orang jahat. “Y-ya, kenapa masih memukulku, kan, sakit, Dad! Kamu ayah yang jahat!” “Aiash! Kenapa kalian bertengkar, sih?!” Kesal Bagas melihat ayah dan anak ini malah bertengkar padahal, dia sedang merenung, sedang menata hatinya mendengar jawaban Ravin tapi, malah buyar setelah mendengar pertengkaran tidak penting. “Hilang sudah emosi ini.” “Ya, ampun! Ada apa, sih?! Sampai jerit-jeritan?” tanya Farah yang melihat suami, besan dan menantunya seperti sedang beradu mulut. “Jangan diperhatiin! Itu urusan mereka ini,’ sahut Deswita diplomatis. “Dasar kamu ini, perhatian sedikitlah sama suami dan anak sendiri.” “Ya, ampun. Aku sudah hafal dengan kelakuan duo ayah dan anak itu. jadi, gak usah diperhatiin kalau lagi perang mulut kayak gitu, cape sendiri kitanya. Mereka itu sama aja! Gak akan ada yang mau ngalah,” sahut Deswita sambil melirik suami dan anaknya yang, membuat bola matanya berputar malas dan bosan dengan tingkah keduanya. “Jadi, Ravin suka bertengkar dengan Daddy-nya, yah?!” tiba-tiba Inara memberi pernyataan tersebut dengan tampang bingung dan kosong. “Eh, tapi gak selalu, kok! Mereka cuman bertengkar main-main. Itu salah Daddy, nya sendiri yang mendidik Ravin kayak gitu. Jadi, jangan heran kalau kadang-kadang mereka perang mulut hanya karena merasa gabut.” “Deswita, tapi Ravin gak temperamental, kan? Gak bener-bener suka marah gak jelas. Apalagi ringan tangan, kan?” tanya Farah dengan tampang khawatir. Dia takut membayangkan jika, putrinya akan mendapat perlakuan seperti itu. mereka belum sepenuhnya percaya pada Ravin, menantu yang baru mereka kenal. “Aduh, Farah! Kamu mikirnya kejauhan… keluarga kami gak ada keturunan sebejat itu. Ravin, anak itu orang yang paling menghormati wanita apalagi, aku sebagai ibunya. Sangat bangga sama dia … yakin! Dia juga pasti bisa bahagiain kamu, Inara. Kalau sampai dia nyakitin kamu, jangan takut masih ada Mommy yang bakal lindungin kamu. Tapi, kalian harus tahu Ravin bener-bener anak yang baik. Inara tolong jaga dia, yah?” Inara termanggu sesaat mendengar pertanyaan Deswita tetapi, dia segera mengangguk setuju. Tidak masalah seharusnya menjaga Ravin. Lagipula hal itu wajar, mereka sudah menjadi sepasang suami istri yang harus saling menjaga dan mencintai. Mengingat hal tersebut, entah kenapa dadanya berdetak cukup keras, pipinya pun terasa panas merona. “Kamu baik-baik saja, Sayang?” “Aku baik, kok, Ma!” “Mama khawatir, abis kamu sampai pegang d**a gitu.” Inara tersenyum malu. Padahal dia hanya sedang memikirkan Ravin, pria yang jadi suaminya. Yang dengan mudahnya membuat dadanya berdebar sejak pertama kali bertemu dipelaminan. “Ini gapapa! Inara hanya refleks gitu aja.” “Ok, Mama ngerti!? Tapi. Inara jika terjadi sesuatu atau kamu berpikir tidak bahagia. Kamu harus cepet-cepet hubungi Mama. Jangan buat kami jadinya, khawatir.” “Aduh, Farah! Saya sebagai ibunya Ravin tersinggung, nih.” “Hehey, jangan baper! Aku cuman ngasih perhatian buat putriku satu-satunya.” “Terima kasih, Mam juga Mimih.. tenang aja aku juga bakal jaga diri baik-baik dan ngejaga Mas Ravin seperti itu juga.” ** “Aakh! Cape banget!” keluh Ravin sambil menjatuhkan dirinya disofa.” “Kalau gitu , Mas mau aku siapin air anget buat mandi?” “Gak usah, aku gak mau mandi!” sahut Ravin sambil merbah posisinya jadi, rebahan di sofa. Dalam benaknya dia memang tidak tidak perlu mandi, hanya perlu ganti baju lalu tidur. Sedangkan, Inara tidak demikian. Dia tidak suka pria yang malas mandi padahal beraktivitas banyak, dia tidak akan tahan apalagi harus tidur seranjang. “Mas, lebih baik mandi—“ “Eum, gak mau,” jawabnya polos sambil menggeleng dengan tingkah seperti anak kecil. Inara menganga tidak percaya. ‘Hee, dia bukan bocah, kan?’ tanyanya dalam benak sendiri. “Tapi, Mas…mas pasti bau—“ “Aaaa, aku gak bakal bau,kok!” sela Ravin sambil tersenyum dan mengedip genit, entah apa maksudnya siapa yang tahu. “Aku bakal ganti baju terus gosok gigi sama cuci muka.” “Tapi, masih aja gak mandi! Mas, kan sejak tadi sibuk dan keringetan.” Ravin tetap menggeleng tidak mau, dia bahkan berpura-pura tidak mendengar Inara dengan membalikkan tubuhnya. Inara teringat apa yang dikatakan ibu mertuanya kadang Ravin bisa jadi seperti anak kecil dan sangat keras kepala melampaui adiknya. “Kalau gitu aku mandi duluan, yah. baru nanti, Mas?!” Inara tidak bisa seakrab dan semudah itu untuk memaksa Ravin meski, ingin. Jadi, dia hanya bisa menyerah terlebih dulu saat ini. Ravin sendiri hanya bergumam malas, matanya sudah hampir setengah menutup lalu menoleh hanya untuk melihat punggung Inara yang sudah berbalik pergi. Setelah itu, dia benar-benar menutup matanya dan tertidur. Rasanya sangat lama tetapi, ternyata tidak selama itu karena tiba-tiba Inara sudah membangunkannya. “Ayo, bangun Mas?! Mandi ” “Euakh!” Ravin menguap dan menggeliat malas-malasan. “aku gak mau mandi,” kukuh nya dengan jawaban sebelumnya. “Mandi atau aku akan memandikanmu?!” “Kamu serius mau memandikanku? Aku sih senang-senang aja, tuh!?” “Y-yah, Mas! Akunya yang gak seneng. Udah jangang ngadi-ngadi cepet mandi.” “Ya, ampun aku gak nyangka ternyata punya istri yang cerewet,” sahut Ravin sambil tersenyum lebar. Dia juga dengan berani merentangkan tangannya seolah minta dipeluk tapi, Inara menghindar dan malah menariknya untuk bangun. “Aaah!” “Mas!” Kaget Inara yang ternyata tiba-tiba sudah jatuh di atas sofa sambil dipeluk dari belakang. Dia tidak berani menoleh, terlalu takut dengan apa yang akan terjadi dan malah terus bergerak untuk menyingkir. “Kenapa, sih?! Gak boleh gitu peluk-peluk kamu. Sekarang kamu udah jadi, istriku, loh.” Inara tahu itu, dia juga gak sepenuhnya menolak tapi, tetap saja. “Mas, terlalu deket!” ujar Inara akhirnya mengalah sedikit untuk diam. “Terlalu dekat bagaimana? Bukannya kalau berpelukan itu begini, yah?” “Memang seperti ini tapi,--“ “Kamu masih enggan dipeluk sama aku?” tanya Ravin sambil membalikkan tubuh Inara untuk menghadapnya. “belajarlah untuk terbiasa mulai sekarang.” “Hm, aku tahu. Maaf,” ujarnya sembari sedikit menunduk tidak berani menatap Ravin. Ravin menarik dagu Inara, menyuruhnya untuk menatapnya. “Apa hubungan kita masih berat untuk kamu jalani? Kamu masih mencintai Elvan?” “Entahlah!” “Kamu sangat membingungkan padahal, kamu sendiri yang mau menikah denganku.” Hati Inara terasa terluka, dengan refleks dia ingin menyingkirkan tangan Ravin dari dagunya tetapi, bukannya lepas Ravin malah menggenggamnya. “Apa, Mas sebelumnya benar-benar tidak menyetujui pernikahan ini?” “Ya, tentu saja,” jawab Ravin santai tanpa tahu perasaan Inara, yang merasa cemas sendiri. “Kamu tahu kenapa? Aku tidak menerima orang yang masih menyimpan rasa pada pria lain tapi, Inara … bukannya kamu berjanji bersedia melupakan masa lalumu dan memulainya denganku makanya, aku bersedia menikahimu. Sekarang, aku tidak meminta kamu memenuhi kewajibanmu sepenuhnya … aku hanya ingin memelukmu agar kamu terbiasa dengan keberadaanku tapi, kamu menolak. Aku kecewa!” Sekarang, Inara dibuat terpaku diam. Otaknya membeku dengan pernyataan Ravin. “Aku tidak menolakmu!” tiba-tiba saja Inara bersemangat berteriak. “aku hanya belum terbiasa dan aku juga sudah bilang akan melupakan Elvan.” “Sungguh? Kalau begitu cium aku?” “K-kenapa aku yang harus cium, Mas?” sahut Inara kali ini sedikit panic, dia tidak punya keberanian untuk memulainya. “H-harusnya, Mas yang menciumku.” Bibir Ravin terangkat membentuk seringai. “Oke, ingatlah mulai sekarang kamu itu sudah menjadi istri seorang Ravindra Malik dan lupakan Elvan. Di masa depan kamu hanya milikku.” Setelah mengatakan hal itu Ravin mendekatkan wajahnya hanya untuk mencium bibir manis Inara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN