Planning

1783 Kata
Di sebuah flat sederhana, di kota Canada seorang pria dengan wajah kusut masih terlentang bosan dengan beberapa botol minuman serta makanan yang berantakkan tepat di bawah kakinya yang menggantung di bawah kasur. Rasa lelah dengan pikiran kosong tampak begitu mengkhawatirkan. Beberapa hari berlalu sudah dari saat dia memutuskan pergi hanya karena sebuah alasan yang seharusnya tidak membuatnya melarikan diri tetapi, emosinya saat itu tidak bisa terbendung. Hatinya sakit dan hancur seakan, tidak bisa bernapas lagi membuatnya memilih untuk pergi saja dan merasa itu jalan terbaik untuk menenangkan diri serta menata hatinya kembali. Itu pikirnya. “Bagaimana kabar Inara, yah? Apa Daddy dan Mommy marah? Pasti marah terutama Inara tapi, kuharap kamu baik-baik saja. saatnya nanti aku bakal dan minta maaf.” lirihnya pada diri sendiri sambil mengambil ponselnya lalu, membuka galeri hapenya dan melihat gambar tiga orang yang terekam di sana dirinya, Inara dan Nadira. Wanita yang sudah membuatnya perasaanya kacau berantakkan serta membuat dirinya tampak sangat bodoh. “Mulai sekarang gue bakal nata hati gue kayak dulu dan bakal berusaha lupain perasaan ini sama lo, Dira dan cuma bakal mencintai Inara seorang setelah ini.” Menghela napas Elvan segera menjatuhkan kembali ponselnya dan memilih meringkuk dengan mata yang sudah memerah dan berkaca-kaca seperti bocah yang baru saja kehilangan mainannya meski, memaksa untuk tidak menangis dia dengan cepat terisak dengan meredam suaranya jatuh ke dalam bantalnya. “Bodoh! Bodoh, kenapa lo gak pernah bilang? Kenapa gue baru aja nyadar saat gue harusnya nikah sama orang lain? Lo, tahu betapa menyesalnya gue jadinya.” Selama itu Elvan terus merancau dengan kegalauan hatinya, yang tidak bisa ia luapkan pada siapapun. Sampai rasa lelah akan pikiran dan fisiknya Elvan akhirnya tertidur dengan lelap hari itu setelah beberapa hari ini larut dalam kesedihan dan membuatnya tak bisa tertidur. ** Inara terbangun dalam keadaan bingung karena jendela yang terbuka sedang memperlihatkan cuaca pagi hari yang mendung penuh rintik hujan yang jatuh membasahi jendelanya. Menyibak selimutnya, kaki Inara langsung terserang rasa dingin membuatnya terasa menggigil dan hendak menarik selimutnya lagi dan kembali bergelung dibawahnya. Tetapi, dia segera menyadari kesalahanya setelah melirik jam dinding. “Aku bangun telat lagi!” Waktu menunjukkan sudah pukul setengah delapan dan hal itu membuat mood-nya buruk sudah seperti cuaca di luar sana saja, yang suram. Inara melihat tempat tidur di sampingnya. Ravin, pria itu pasti sudah bangun pagi. Kesal dengan hal itu, dia melempar selimut dan segera pergi ke kamar mandi “Seharusnya, aku yang duluan bangun!” Inara berdecak kesal sambil mencuci muka dan mandi dengan air hantat. Kemudian, baru saja, keluar dari kamar mandi Inara sudah mencium wangi makanan juga kopi. Lebih cepat lagi dia segera berbenah diri dengan hanya mengoleskan pelembah di wajahnya lalu, memakai sweater dan celana jogger-nya. Pakaian santainya saat berada di rumah dan karena cuaca yang terasa dingin dengan pakaian seperti itu Inara merasa hangat. Ketika saat berjalan ke pantry, sengaja atau tidak dia disuguhkan pemandangan yang indah membuat hatinya berdebar seketika. Di mana dia melihat punggung lebar dan tegap Ravin yang sedang membelakanginya dan dia tahu pria itu sedang melakukan apa. Hal yang baru dia tahu pria itu senang sekali memasak dipagi, siang atau malam dia hanya akan memasak sendiri. Sebenarnya Inara sangat malu saat ini, sudah beberapa hari setelah pernikahan mereka tetapi, dia belum juga melakukan tugasnya sebagai istri teladan seperti… saat ini. Menyiapkan sarapan atau sekadar bangun lebih pagi darinya. Semua itu malah Ravin yang melakukannya. Mood-nya juga kini kembali berulah, kekesalannya Tubuh Inara tiba-tiba berbalik, dia benar-benar merasa malu gara-gara dia selalu bangun terlambat padahal dia sudah bertekad bangun pagi. “Selamat pagi, Sayang?!’ sapa Ravin. Mendengar sapaan pagi itu, Inara mau tidak mau menoleh dan berusaha tersenyum lebar meski, enggan karena perasaannya sudah kacau terlebih dulu. “Pagi, juga?!” jawabnya sambil berjalan kearah pantry di mana Ravin berada. “Mas, lagi masak apa? Sini biar aku yang lanjutin.” “Gak perlu! Sebentar lagi selesai, kok! Pagi ini aku masak telur, ayam goreng dan sayur bening. Apa kamu mau aku buatin yang lain?” Inara sedikit tidak percaya, pasti dari pagi buta Ravin masak sendiri. “Gimana, Mas bisa masak sendiri kenapa gak bangunin aku?” jawab Inara dengan pertanyaan lain. “Ini juga masih pagi, kenapa makanannya berat-berat kayak gini!? Kita bisa makan oatmeal atau roti.” Ravin menolak, menggeleng tidak setuju sambil memperlihatkan keahliannya untuk membalikkan telurnya dengan cara melemparnya dan …flex. Telur itu terbalik dengan sempurna. “Sarapan itu sangat penting untuk kelangsungan energy kita sepanjang hari. Jadi, kamu juga harus biasain dengan menu sarapan seperti ini.” “Tapi, gimana kalau aku gemuk?” tanya Inara dengan pipi menggembung dan menopang pipinya dengan kepalan tangan di atas meja makan. “Nanti, aku susah buat jadi cantik lagi.” “Hey, kamu, kan udah cantik ngapain harus cantik lagi?” “Tapi, bukan itu sekarang yang penting,” jawab Inara dengan mengalihkan dengan pernyataan lain, wajahnya dengan cepat berubah lesu. “Ada apa?” tanya Ravin yang sepertinya cepat tanggap sambil menyajikan lauk terakhirnya di atas meja, di depan Inara. “Soal ini!” Tunjuk Inara pada sarapan yang sudah tersedia di meja. “Kamu gak suka makanan ini?!” “Bukan, tapi aku gak suka Mas terus yang bikin makanan…coba, kalau aku telat bangun. Mas bisa bangunin aku duluan dan nyuruh aku bikin sarapannya?” “Jadi, itu muka ditekuk gara-gara hal ini?” “Ditekuk gimana, aku ini lagi gak enak hati sama Mas.” Jujurnya dengan menatap mata Ravin lurus dan yakin. “Jadi, Mas bisa ngertiin aku dikit, kan?” Ravin tertawa lalu, mengambil tempat duduk di samping Inara dan memegang tangannya sambil menatap matanya. “Kamu, tuh, gak enak hati gimana,sih? Bukannya para istri di luar sana bakal senang, yah, kalau dimanjain kayak gini sama suaminya?” “I-iya, kalau sesekali atau pas aku butuh …aku pasti bakal seneng tapi, ini… udah berturut-turut. Aku malu nanti pas, ada orang yang nanya. Aku udah buatin apa aja, buat suaminya… lalu, ternyata aku gak ngelakuin apa-apa?!” “Kamu ini kebanyakan berpikir!” Ravin mengusap puncuk kepala Inara. “tapi, aku beneran gak keberatan, loh masakin buat kamu.” “Mas!” “Oke, mulai sekarang, detik ini, jam ini kamu bisa lakuian hal apa yang mau. Tapi, kamu juga harus perhatiin apa yang aku suka dan ngga.” “Ough, iya donk! Itu harus. Aku gak bakalan asal bikin makanan yang kamugak suka.” “Berarti, kamu juga yang harus belanja, kan?” tanya Ravin sambil menyendok nasi beserta lauknya lalu mulai menyuapi Inara. Yang disuapi tidak menolak dan malah terus berbicara sampai disuapan terakhirnya dia menggeram marah dan malu. “Mas, kenapa nyuapi akunya kebanyakan?! Nanti, aku jadi gendut gimana?” “Yah, gampang sedot lemak aja!” jawab Ravin santai dan tertawa puas. ** Hujan itu selalu disertai dengan cuaca dingin meski, pemanas ruangan sudah dinyalakan tapi, tetap saja jika melihat hujan yang juga belum berhenti suasana jadi dingin. Ravin itu terbiasa bersikap tenang diwaktu-waktu tertentu, dia bisa nyaman dengan kesendiriannya saat ini sambil membaca dan begitu juga, sepertinya Inara. Dia menghabiskan waktunya dengan men-scroll ponselnya banyak sekali pesan-pesan yang dikirimkan teman-temannya, yang belum sempat dia baca. Gossip tentang pernikahannya masihlah panas, banyak dari mereka yang berspekulasi macam-macam apalagi karena tidak ada klarifikasi jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi. tetapi, sepertinya banyak dari mereka menebak dengan benar karena sampai sekarang tidak ada yang melihat keberadaan Elvan. Inara sendiri masihlah tetap bungkam, menutup mututnya dan belum juga bersedia pergi keluar untuk menemui mereka. Hanya Nadira saja, sahabat kentalnya yang tahu tentang hal ini sekaligus menyuruhnya untuk tutup mulut. anya Nadira sahabatnya yang mengetahui cerita sebenarnya. Yang lain hanya teman nongkrong semata, tidak ada kepentingan mendalam jadi, untuk apa dia bicara hanya untuk jadi bahan gossip mereka. Ting! Keduanya langsung menoleh mendengar suara bel. Inara yang pertama kali bangun, dia tidak ingin Ravin terganggu dengan bacaanya. “Aku saja, kamu terusin membacanya! Aku yang buka pintu,” sahutnya sambil berjalan pergi. Tidak lama terdengar dua gerutuan yang terdengar tak asing. “Haduh, cuaca sekarang emang gak bisa diprediksi! Seharian terus diguyur hujan hampir aja gak bisa ke mana-mana.” “Iya, sih! Rasanya males banget buat keluar rumah tapi, kalau inget Inara aku jadi gak tahan pengen ke sini terus.” Inara yang mendengar perkataan ibunya hanya bisa menepuk dahinya sambil menghela napas tidak berdaya. “Ya, ampun! Mama ini kayak gak pernah aku tinggal pergi aja.” “Ya,kan, emang gak pernah. Ya, ampun, Sayang. Mama juga ke sini, kan sambil bawa barang-barang kamu.” Farah, mengangkat sebuah kantung besar di tangannya. Dengan sukarela Inara menerimannya dan melihat apa yang dibawa ibunya ternyata beberapa helai pakaian baru dan aksesoris. Sebelumnya saat pernikahan Inara hanya membawa koper pakaian yang memang sudah dipersiapkan untuk perjalanan mereka yang akan langsung bulan madu bersama Elvan tetapi, semua berubah. Untuk semua pakaiannya, sebenarnya sudah tidak ada di rumah orang tuanya karena sudah dipindahkan ke rumah di mana Inara dan Elvan untuk persiapkan rumah tangga mereka. Keduanya berpikir ingin langsung tinggal ke tempat pribadi mereka. Sayang , itu semua hanya jadi kenangan belaka. ‘Kayaknya, aku harus balik ke rumah itu dan ngambil semua barang-barangku dulu,’ pikir Inara dalam hati sambil melirik Ravin, yang sepertinya sedang mengeluh pada ibunya. ‘Apa gapapa keluar sekarang, yah?!’ Selama beberapa hari ini setelah pernikahan, Inara menghindar untuk pergi keluar hanya karena terlalu takut. Takut dengan gunjingan orang dan tidak berani menghadapi orang-orang yang akan bertanya tentang pernikahannya. “Mommy, oh Mommy. Kenapa harus datang ke sini tiap hari?! Mommy pasti lelah, kan? Istirahatlah di rumah …Mama juga harusnya begitu.” Lelahnya Ravin dengan keberadaan dua wanita yang sangat kompak di depannya sebagai besan sekaligus sahabat. Ravin tidak menyangka, ternyata mereka cukup merepotkan jika, menginginkan sesuatu darinya. “Apa-apaan itu! Kamu gak sopan tau,” dumel Deswita sambil menjatuhkan dirinya di sofa. “Kita dateng karena kangen dan khawatir sama kalian.” “Iya,Ravin, mantu Mama Farah, kok, bisa gitu ngomongnya,” sahutnya dengan mata tak percaya. “Deswita gimana, ini ? Apa kita pergi aja mendengar ketidaksopanan mantu aku itu.” ‘Hadeuh, mulai-drama lagi!’ batin Ravin nelangsa. “Gak sopan dari mananya, sih, Mah? Aku cuman ngomong bener karena sayang kalian,” sahut Ravin benar-benar sepertinya tidak canggung sama sekali saat harus bersikap sarkas pada ibu dan mertuanya. Ya, karena dia benar-benar bosan bukan tidak sayang dengan kehadiran mereka tapi, niat terselubung mereka yang membuatnya sakit kepala terutama itu tentang ibunya. “Iya, ih!Mama ini …jangan mulai nge-drama lagi, deh.’ Farah dan Deswita tertawa terbahak dengan lelucon mereka sendiri dan seolah itu bukan apa-apa sampai mereka membahas hal yang mereka desak tanpa lelah selama beberapa hari ini. “Kalian, pergilah berbulan madu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN