Sepasang tiket liburan tergeletak di atas meja. Ravin masih memandanginya sambil memegang dagunya seolah tengah berpikir tetapi, sepertinya tidak. Tepatnya dia tidak peduli dengan tiket keberangkatan itu tetapi, dia melirik Inara yang malah menatap dengan pandangan kosong sebaliknya, Ravin berpikir jika istrinya itu sedang berpikir tentang adiknya sekaligus mantannya.
‘Sebenarnya, sangat menyebalkan! Melihat wanita milikmu masih memikirkan pria lain jika, waktu bisa diulang dia masih tidak akan mengambil jalan ini. menikahi Inara hanya menimbulkan banyak resiko?! Bagaimana si Elvan balik lagi dan Inara masih mau sama dia … memangnya dirinya ini ampas yang bisa dipakai dan dibuang sesuka hati. Meski, aku masih belum cinta sama, nih, cewe dia tetep istri Ravindra Malik.’
“Udah kamu ngelamunnya?”
Tatapan bingung diperlihatkan Inara. Baru saja, sebenarnya dia melirik Ravin yang juga tengah menatapnya. “I-iya, Mas, Maaf?”
“Sudahlah!” Ravin bangkit, dia tiba-tiba gerah dan ingin mandi. “Mala mini kamu yang ingin memasak, kan?” tanya ditengah jalan menuju kamar sambil menoleh pada Inara yang masih duduk.
“A-ah, iya, Mas. Aku yang masak makan malam.”
“Ok, siapin yang enak, yah?!”
“Iya,” balasnya seolah penuh semangat tetapi, sebenarnya pikirannya sedang tidak berada di sana. Inara masih memikirkan soal pembicaraanya dengan ibu dan mertuanya soal Elvan yang sama sekali belum memberi kabar. Bukan hanya kedua wanita itu yang khawatir terjadi sesuatu pada Elvan tetapi, dia juga menjadi ragu dan was-was mungkin sebenarnya Elvan tidak dengan sengaja meninggalkannya pada saat pernikahan.
“Daddy sama Mommy masih mencari-cari Elvan tapi, masih tidak ada kabar yang terdengar,” keluh Deswita saat itu dengan tiba-tiba. “Elvan memang anak kurang ajar udah ngecewain kamu …Nara. Tapi, dia masih anak Mommy,” keluhnya dengan mata sendu melihat tidak nyaman pada Inara juga putra sulungnya, Ravin karena membicarakan anak bungsunya yang biang masalah ini.
Ravin tidak mengatakan apapun tetapi, dia tidak mungkin diam saja juga saat melihat ibunya menggalau gara-gara adiknya yang tidak punya otak itu. ‘Kalau aku jujur apa mereka tidak akan tersedak menangis, terutama Inara. Apa dia tidak akan kecewa berat dengan sahabatnya sendiri?!’
“Apa betul-betul gak ada kabarnya? Mungkin ada salah satu temannya yang tahu keberadaannya.”
“Sayangnya, Gak ada. Farah! Entah ke mana dan kenapa anak itu pergi. Sungguh, aku kesal dibuatnya tapi, juga khawatir. Ngga, bakal ada yang akan terjadi padanya, kan?” tanyanya pada orang-orang di sampingnya.
Ravin mendekat dan merangkul ibunya. “Jangan khawatir, Mom, nanti aku juga bakal suruh orang buat cari dia. Mommy-ku yang cantik gak usah bersedih lagi apalagi sampai sakit gara-gara bocah nakal itu. Aku pasti bakal nyeret dia kalau ketemu tapi, … si Elvan itu pasti bakal kembali sendiri setelah puas bermain. Aaaackh!”
Deswita mencubit perut Ravin dengan sangat keras dan bertampang garang. “Siapa yang kamu bilang lagi main, huh? Dia itu udah lama hilang dan gak kasih-kasih kabar. Gimana kalau ternyata dia lagi dapat kesulitan? Jangan asal kalau belum jelas keberadaanya. Lain kali Mommy cubit p****t kamu ..kalau bicara seenaknya.”
Bibir Ravin mencebik kesal, sambil mengusap-usap perut six pack-nya yang sakit. Sebenarnya dia tidak asal bicara tetapi, Elvan si adik kurang ajar itu memang sedang berkeliaran diluar negeri dan sepertinya belum berani menghubungi mereka mungkin hanya karena takut atau dia pengecut.
“Iya, Mas Ravin harusnya gak asal bica—“ Tiba-tiba Inara menghentikan kata-katanya ketika matanya bertatapan Ravin sendiri. entah kenapa dia mulai merasa tidak enak hati, membela orang yang seharusnya tidak dia bela tapi, hatinya berbicara lain. Ada setitik rasa khawatir yang membuatnya cemas.
“Kenapa gak diterusin ngomongnya?” tanya Ravin seolah menantangnya.
Mana Inara berani setelah mendengarnya. Ravin sekarang suaminya tetapi, mulutnya tidak mudah dikontrol dengan mudah. “Aku cuma berpikir mungkin yang dikatakan Mommy ada benarnya lagipula, Mas gak boleh ngomong sembarangan dia, kan masih adik Mas.”
Setelah mendengar jawaban Inara suasana jadi, sedikit canggung karena mereka melirik Ravin yang tidak lagi bersuara dan dalam hati Deswita menyesal mengungkit Elvan di sini. Bukankah, karena dia juga sekarang Ravin dan Inara menikah. Bagaimana bisa dia mengingatkan ingatan Inara pada Elvan yang sudah lama berpacaran dengannya. ‘Ravin, pasti cemburu dan marah?! Eh, eh… tunggu dulu kalau Ravin marah bukannya dia mulai mencintai Inara? Apa usahanya berhasil?’ batin Deswita tiba-tiba menyeringai senang.
“Oh, Lupakan soal anak tidak tahu diri itu,” ujar Deswita mengalihkan perhatian pembicaraan yang tidak menyenangkan akhirnya. Buru=buru dia mengeluarkan sesuatu dari tas- clutch nya. “Ta-da! Tiket Honeymoon, kalian?!”
“Honeymoon?”
“Iya, Honeymoon? Bulanmadu buat kalian berdua. Mama sama Mommy kalian ini yang siapin dan pesen tiket special yang bakal bikin kalian tambah deket dan romantis.”
“Pokoknya lusa kalian harus pergi. Inara kamu harus mastiin kalian pergi, awasi Ravin kadang-kadang dial ah yang sering kabur dari liburan keluarga kita,” ujar Deswita mewanti-wanti Inara.
“Iya, Mom. Pasti!”
“Kalian harus akur terus, yah? Ravin, maafin Mama kalau kamu sampai bosen tapi, tolong jaga Inara, yah? Sekarang dia sudah jadi istrimu. Cintai dan sayangi dia … lalu, kalau bisa cepet-cepet Mama cucu. Mama udah pengen gendong cucu.”
“Yah, Farah! Emang kamu aja yang mau. Aku juga mau gendong cucu yang cantik dan manis kayak Inara,” ujarnya sambil melihat Inara sedangkan, yang ditatap malah bersemu merah merona. “Gak kebayang, deh!? Mommy, bakal bawa-bawa dia terus.”
“Haduh, ngebayanginya jangan sekarang. Kita baru nikah kemarin sore, kan?!” tukas Ravin tetapi, sambil terkekeh melihat excited-nya sang Ibu memikirkan tentang cucunya.
**
“Inara! Inara!” Panggil Ravin berkali-kali, dia mulai mendesah kesal dan mengguncang bahu Inara, yang akhirnya tersadar.
“Aach, Mas! Bikin kaget aja?!” Inara benar-benar terkejut
“Bikin kaget? Aku udah teriak manggil-manggil kamu tapi, kamu malah gak nyahut sama sekali dan, ternyata kamu malah ngelamun.”
“Maaf, Mas t-tadi—“
Ravin menolak mendengarkan jawaban Inara. Dia menyela dengan menanyakan sesuatu. “Apa makan malamnya sudah siap?”
Inara tertegun, rasa khawatir mulai menyelimuti sekarang sosok Ravin seperti bukan sosok biasanya yang sedang bersahabat. Raut wajahnya datar dan dingin. “Maaf, karena melamu—“
“Ya, sudah. Biar aku yang siapain sendiri.”
“Ngga, biar aku saja!” Inara segera bangkit dan bersiap pergi ke pantry. Melihat itu Ravin sebenarnya tidak yakin tetapi, dia membiarkan Inara melakukan apa yang dia mau. Ravin sendiri memilih pergi ke ruang kerjanya.
Inara menarik napas lega setelah melihat Ravin pergi. Menepuk-nepuk dadanya tidak tega, yah, tidak tega jika terkena serangan jantung hanya dengan tatapan datar Ravin saja. “Kalau udah gini, aku harus masak apa?” tanyanya bingung bahkan, karena gugup barusan dia benar-benar asal memegang pisau dan mencincang apa saja yang bisa membantunya berpose.
Setengah jam lebih berlalu. Mood Ravin terkadang buruk saat lapar, dia tidak bisa menunggu buat dipanggil Inara untuk makan jadi, inisiatifnya langsung datang ke pantry dan mengeluh sudah sangat lapar. “Apa makanannya sudah siap? Aku lapar sekali?”
“Eh, ah, iya …tunggu sebentar!”
“Oke,” jawab setuju sambil menghabiskan waktu dia membaca.
“Makanan siap?!” Inara tersenyum puas dan sedikit lega. Dia
Setelah beberapa saat, makanan siap di atas meja. Ravin sedikit mengusap sudut matanya yang berair hanya karena sedikit kantuk dan bosan menunggu kelaparan tetapi, yang di depannya hanya ada ayam goreng tepung. “Kamu membelinya,ya?”
“Gimana bisa beli! Ini keahlianku.”
“Ya, persis dengan ayam-ayam diluaran sana.” Ravin mengankat ibu jarinya dan langsung menyiduk nasi dan mengambil ayam gorengnya. “Sayang, tidak ada sayura—ach!” Ravin termanggu, baru saja dia menggigit ayam itu dan hendak mengunyanya saat rasa ayam itu tidak sesuai ekspektasi.
“Euhm, aku gak bikin kupikir ayam goreng aja udah cukup.”
Sambil mendengarkan Inara bicara, Ravin yang mencoba mengunyah ayam itu akhirnya menyerah tidak bisa mulutnya memasukkan rasa makanan itu. Ravin mengambil tisu dan meludahkannya setelahnya buru-buru menghentikan Inara yang hendak menggit ayamnya. “Jangan dimakan?”
Inara bingung. “Kenapa?”
“Kita keluar aja,yu, cari makan.”
Inara benar-benar tidak tahu, apa yang udah dia masukin ke dalam bumbu ayam gorengnya tetapi, karena itu dia marah pada Ravin. “Kalau Mas mau makan diluar ya, udah pergi aja sendiri. Aku mau makan apa yang udah aku buat,” jawabnya ketus dan belum Ravin bicara lagi Inara langsung menggigit daginya ayamnya besar besar dan – “Hooekkkk!”
Akhirnya, Ravin hanya bisa menepuk jidatnya. ‘Salah sendiri kenapa keras kepala? Sok, juga mau masak lagi ..’ melihat hal ini Ravin sendiri tidak tahan untuk tidak tertawa. Inara sendiri hanya bisa menatap Ravin dengan mata berkaca-kaca sungguh memalukan.
“Tadi, kamu masak sambil melamun lagi, ya, kan?” tanya Ravin sambil menggunakan jaketnya, mereka bersiap pergi keluar.
“Ngga, aku—“
“Kalau ngga berarti kamu gak bisa masak sampai gak tahu seberapa banyak ngasih garam ke makanan.” Sebelumnya, Ayam goreng tepung Inara benar-benar sangat asin itu hampir tidak bisa di makan sekali sepertinya, dia menumpahkan satu toples garam ke dalam masakannya.
Inara meringis terkejut, sepertinya karena kurangnya terigu dia tidak focus malah memasukkan garam. “M-maaf,” ucapnya sangat melas meminta simpati.
Ravin tidak menganggapnya dan hanya menariknya untuk segera pergi keluar. Ini petama kalinya mereka pergi keluar, sudah seperti kencan saja. mereka mimilih restoran sederhana yang tidak terlalu ramai pengunjung. Ravin tidak pilih-pilih makanan dan segera menunjuk menu, dia kelaparan dan kalau sudah begitu mood-nya anjlok ke bawah sampai-sampai Ravin tidak berbicara dan Inara semakin tidak enak hati.
Mata Inara masih terus melirik-liriknya takut sambil masih memilah-milah apa yang ingin dia makan. “Kamu masih ingin makan atau ngga?” tanya Ravin dengan sangat sabar. “Kalau gak ya, udah. Mbak, siapin pesenanku,dulu aja jangan terlalu lama,” pesan Ravin pada sang pramuniaga yang berdiri di samping mereka.
Di sisi lain. Inara terhenyak tidak percaya, Ravin tega sekali. “Mas, aku belum pilih makanan.”
“Oh, aku kira kamu gak mau makan dan cukup menatapku saja sudah kenyang,” jawabnya setengah tak acuh tetapi, dengan senyuman.
Inara ingin marah, sebal sama Ravin. Dia baru tahu ternyata Ravin bisa menyebalkan dibalik senyumannya.
“Ok, ok! Cepat pilih makanannya.”
Inara mendengus kesal tetapi, dia segera menunjuk entah apa saja yang terpentin makan setelah mendengar pesanan Inara barulah pergi. Inara masih memasang wajah kusutnya, mengabaikan keberadaan Ravin dengan melihat ke sana kemari dan tidak berbicara padanya. Namun, Inara rasanya makin kesal karena merasa diabaikan. Ravin seolah tidak peduli padanya dan malah sibuk dengan ponselnya. Kekesalan Inara kini sudah ditingkat geram, tidak percaya ternyata ada manusia yang bisa berubah-ubah kadang hangat kadang dingin.
Sampai akhir makan malam mereka masih seperti itu. Inara berniat untuk tetap diam dan bersikap tak acuh. Ravin juga merasa Inara sedang marah tetapi, karena tidak tahu karena apa. Tetapi, dia bersedia berbaikan terlebih dulu jadi, saat Inara hendak pergi langsung menuju mobil Ravin menarik tangannya sampai sudah sangat dekat, lalu mencengkeram hangat pinggangnya.
“Ayo, jalan-jalan dulu!”
Inara bingung, keningnya mengkerut otaknya masih loading tidak mengerti apa yang dimau pria ini. “Jalan? Memangnya mau jalan ke mana? Kalo begitu kenapa gak naik mobil aja?”
“Itu merepotkan! Ayo, jalan sambil begini!” Ravin memegang tangan Inara. “Anggap saja ini kencan pertama kita sambil menikmati malam yang indah dan dingin karena rasanya sudah lama sekali, belum berkencan seperti ini lagi.”
Mendengarnya Inara hanya bisa berdebar sambil setia mengikuti langkahnya dengan senyuman di bibir yang sulit memudah.