“Aku masih gak mau pergi,” gerutu Ravin yang sebenarnya sudah siap hanya tinggal berangkat. Dia memandang tiket ditangannya dengan tampang sangat malas.
Inara menarik napasnya, meletakkan kembali bagasi kopernya yang baru saja hendak diseretnya sambil melihat tingkah Ravin, yang malah duduk kembali di kursi tunggu padahal pesawat yang akan mereka tumpangi sudah siap. Para penumpang sudah bersiap check-in. “Kalau kita gak pergi sayang tiket dan semua yang udah disiapain Mommy, kan?”
Ravin sedikit mendongak karena Inara sedang berdiri. “Kalau begitu apa kamu berlibur ke sana atau tidak?”
“I-itu aku gak masalah, kok!”
“Tapi, Mas yang punya masalah,” sahut Ravin sambil berdiri, melempar tiket pesawatnya ke atas kursi yang baru saja didudukinya. “Mas, punya rencana sendiri buat bulanmadu kita. Jadi, gimana mau nurut terus kata Mama, mu atau .. pergi ngikutin suami
“Mas Ravin serius? Kalo, Mommy nanyain kenapa kita sampai gak pergi?”
“Kenapa, Mommy harus nanyain sampai ke sana? Dia tahu,ya, kan kita berangkat ke sana aja.”
“Mas, mau pergi ke mana?” tanya Inara mulai tergoda, lagipula rasanya tak akan buruk mengikuti rencana bulanmadu suaminya. ‘Ravin pasti bisa dipercaya, dia pasti gak akan seceroboh Elvan, kan?’ pikirnya dalam hati. Lalu tiba-tiba dirinya jadi sesak sendiri jika, ingat pria yang pergi tanpa kabar itu. ‘Sialan! Gak perlu inget-inget dia lagi.’
Lagi-lagi Inara dan membuat Ravin menunggu. “Berhenti melamun! Atau aku tinggalin kamu.”
“Mas tega!” Tiba-tiba suara Inara meninggi mendengar ancaman itu. Hatinya jadi, sakit sampai-sampai tangannya mencengkeram sandel bagasinya kuat.
“Yah, tentu aja,” jawab Ravin tanpa ragu. “Untuk apa aku tinggal bareng sama wanita yang masih mikirin mantannya meski, dia itu adikku!”
Inara tidak bisa menjawab, dia hanya bisa menyambut tangan Ravin yang sudah terulur. Masih sangat jelas, malam itu ketika Ravin mengajaknya berkencan dia terang-terangan mengatakan jika, dia tidak akan memakluminya jika masih, memikirkan Elvan. Ravin sangat tegas dengan pendiriannya, dia bisa menunggunya untuk jatuh cinta padanya tapi, tidak akan pernah toleran jika, dirinya masih menyimpan rasa pada orang lain ya, apalagi jika itu Elvan.
“Aku gak lagi mikirin dia dan gak bakalan mikirin dia lagi, Mas percaya atau tidak itu terserah, Mas,” ujar Inara ketika mereka berjalan beriringan keluar dari bandara.
“Oh, bagus! Aku suka dengan suara keyakinanmu.”
“Mas, meledekku, yah? Mas masih belum percaya.” Inara menarik tangan Ravin digenggamannya membuatnya berbalik padanya berhenti berjalan.
“Kenapa, marah lagi? Mas percaya sama kamu.”
“Bohong,” tegas Inara tidak percaya. Dia bisa lihat Ravin tidak percaya padanya. “Mas, pernikahan bukan hanya butuh cinta tapi, juga kepercayaan. Sekarang, bagaimana kita bisa menjalankan pernikahan kita jika, Mas aja gak percaya sama aku.”
Ravin menyibak rambutnya, dengan senyum kesal. Yah, dia kesal?! Sebenarnya tidak lagi percaya dengan omong kosong cinta semenjak dihancurkan oleh wanita yang dicintainya. Akhirnya, dia menoleh dan menatap wanita yang sudah menjadi istrinya itu dengan lekat. “Mas, bukan gak percaya sama kamu tapi, Mas hanya gak percaya diri kamu bisa dengan mudah mencintai, Mas,” jawabnya jujur dengan tidak memerdulikan keadaan di mans lingkungan sekitar, yang tampaknya mulai memerhatikan keadaan mereka.
“Mas,” lirih Inara sambil mermat kuat genggaman mereka.
“Inara, Mas bisa aja bersaing dengan orang-orang yang cinta sama kamu tapi, … inilah yang Mas takutin sedari awal pernikahan kita. Mas gak akan bisa bersaing dengan orang yang kamu cintai. Aku bukan barang yang dipakai dan diganti seenaknya,” terangnya dengan sangat jelas.
Mendengar hal itu, hati Inara pun terenyuh seakan-akan Ravin sendiri sudah mencintainya atau, minimal dia benar-benar ingin membuka hatinya, mencoba menjalani pernikahan ini dengan serius seperti ucapannya dulu. Lalu, bagaimana dengan dirinya sendiri seolah plin-plan ini bahkan, tidak bisa dipungkiri pernah terbersit di hati Inara adakah jalan untuk kembali bersama Elvan tetapi, betapa bodohnya dia … hal itu tidak akan berhasil lalu, bagaimana bisa dia menghadapi Rivan saat itu.
“Mas, aku juga sedang berusaha tapi, ternyata gak semudah itu!? Jadi, Mas harus bantuin aku jangan lepasin aku, jangan berpikir buat ninggalin aku! Aku takut dan masih sangat takut … kalau aku ternyata gak seberharga itu buat dipertahanin.”
Ravin segera memeluk Inara. “Maafin, aku juga… “
Inara mendongak dengan air mata yang menetes tetapi, segera dihapusnya karena melihat wajah tampan suaminya yang juga tengah tersenyum padanya. Ini pelukan mereka yang kesekian kalinya tetapi, rasanya ini yang pertama. Inara enggan melepasnya rasanya hangat dalam dekapannya.
“Ayo, kita pergi! Rasanya malu diperhatiin orang banyak kayak gini,” bisik Ravin sambil menarik Inara untuk kembali berjalan. Sedangkan, Inara setelah menyadari sekitar wajahnya segera memerah sangat malu.
“Ish, ini gara-gara, Mas!”
Ravin juga hanya tertawa dan semakin mencepat langkah mereka. “Yah, itu salah kita berdua tapi, …barusan tidak terlalu memalukan, kok!”
Inara sesekali ingin memukul kepala suaminya ini, bagaimana itu tidak memalukan mereka sedang tidak bermain sinetron, kan? Tetapi, terserahlah yang terpenting akhirnya hubungan mereka harusnya jauh lebih baik lagi mulai sekarang.
**
“Kita sebenarnya mau ke mana?” tanya Inara sambil melihat keluar jendela. Dia sedikit bingung dan juga was-was ternyata, pikiran Ravin itu membuat orang tak habis pikir benar saja, kedua mertuanya terkadang habis bicara padanya dan seringkali memperingatinya seperti. ‘Ravin itu baik tetapi, kadang tidak bisa dikontrol. Jika, ada yang bisa mengontolnya itu adalah dirinya sendiri.’ Dan, benar saja. “Mas, kita mau ke mana?” tanyanya kesekian kalinya.
“Mas, gak tahu tapi, tenang aja! Kita bakal baik-baik aja. Mas sering berpergian kayak gini, seru dan terkadang banyak hal menakjubkan terjadi.”
Inara memutar bola matanya malas tidak ingin bertanya lagi karena, Inara juga tahu Mas Ravin-nya juga tidak tahu saat ini mereka memasuki bus jurusan apa karena tidak ada petunjuk. Setelah mereka keluar dari bandara, keduanya menggunakan taksi yang akhirnya membawa mereka ke terminal bus. Kemudian, setelah sampai di sana Ravin menyuruh seseorang untuk membelikan mereka tiket.
Yang tanpa tahu tiket jurusan mana dan akan ke mana. Ravin hanya menurut saja ketika ditunjukan Bus mana yang akan mereka gunakan dan benar-benar kedua orang joki itu menurut saja pada Ravin. Y-yah memang jelas itu memang karena uang tetapi, Inara, merasa dialah paling bodoh mengikuti suami yang terlalu pintar sehingga, senang sekali berpetualang seharusnya dirinya bisa mengontrol Ravin seperti kata mertuanya.
Hari itu langit sudah menjadi sore ketika Inara melihat keluar jendela, sedangkan kepalanya masih ia sandarkan dibahu Ravin dan kepala Ravin sendiri di atas kepalanya sudah persis tumpukan kepala ikan. “Mas, bangun!”
“Hm,” gumam Ravin yang langsung cepat terbangun hanya dengan satu panggilan saja. Ravin menguap sebelum menoleh, melirik Inara. “Kita sudah sampai mana?”
“Mas, beneran nanyain hal itu sama aku, hm? Harusnya aku yang nanya, ini di mana?” balas Inara dengan nada lelah dan malah dijawab Ravin dengan senyuman dan kekehan kecil tawanya.
Ravin melihat ke samping, “Maaf, Pak! Mau tanya kita sudah sampai mana, yah?”
“Bentar lagi, nyampe terminal Bandung. Kalau mau turun mending sana aja, tanggung di sini-sini mah. Emang, tujuannya kelewatan, yah?”jawab si Bapak yang nada suara sundanya masih terdengar jelas meski, sudah menggunakan bahasa Indonesia.
“Ah, ngga pak! Terimakasih.” Setelah itu Ravin segera menoleh pada Inara. “Jadi, kita ada di Bandung, Say! Bagus banget .. kita bener-bener liburan di sini.”
“Yah, syukur juga, deh! Kita gak dikirim ke kota-kota aneh tapi, buat nanti ..beneran, deh aku gak mau ikutan liburan kayak gini yang gak jelas tempat tujuannya.”
“Eeh, sesekali aja! Ini menyenangkan, pengalaman yang bisa jadi tidak terduga.”
‘Berharga apanya?!’ desah Inara dalam hati, lelah dan hanya diam tidak membalas. Berharap Ravin menyadarinya jika, dia menolak pendapatnya jika berpergian tanpa jelas ini menyenangkan dan berpikir mungkin hal-hal tidak terduga itu bisa termasuk hal buruk juga,kan? Bukankah hal itu mengerikan jika, ada orang-orang jahat yang hendak mencelakai. Pastinya Ravin tidak memikirkanya sejauh itu, tebaknya asal.
“Hey, jangan pake melotot lagi, ok! Ini yang terakhir lain kali liburan kita bakal lebih baik lagi dan terserah kamu maunya ke mana.”
“Bagus, harusnya begitu!”
Ravin segera mengusak rambutnya, menyenangkan bisa membuat istrinya bangga untuk sesaat. “Ok, itu untuk nanti … nanti kalo ada kesempatan lagi kita jalan-jalan.”
“Hey, itu harus donk,” sahut Inara seakan tidak terima dibilang nanti. Dia langsung mengajukan keinginannya dengan wajah berbinar tampak tidak sabar. “Gimana, kalo bulan depan? Kita ke Raja Ampat, kita snorkeling di sana.”
Sebenarnya dijidat Ravin sudah tertulis kata . ‘Malas.’. Dulu, dia terlalu sering ke tempat seperti itu bersama dengan mantannya meski, tidak mengingatnya lagi tetapi, dia enggan pergi ke tempat hiburan yang sudah besar. Tetapi, sekali lagi demi tidak membuat Inara kecewa. Ravin mengangguk dan mengiyakan setengah hati. Lebih baik dia nanti akan mencari tempat yang eksotic, yang terpencil di mana hanya ada mereka berdua sepertinya itu lebih menyenangkan, pikir Ravin licik. “Tapi, beneran kamu harus snorkeling, yah? karena, Mas juga jago snorkeling, Diving juga-loh,” ujarnya membual.
“Serius?”
“Tentu saja, Mas gak mungkin bohong.”
“Bagus, berarti Mas bisa ajarin aku. Udah lama aku pengen ke sana tapi, selalu aja gagal..ada aja halangannya. Bulan besok aku bakal rencanain waktunya.” Inara menjadi bersemangat dengan mimpi liburannya.
“Tapi, kamu emang gak mau liburan ke Eropa ke Paris, Jepang atau Korea yang lagi rame banget.”
“Mas,” suara Inara kini tampak dalam. “Apa, Mas amnesia bukannya tadi kita baru aja ninggalin tiket pesawat ke Eropa?”
Kalau sudah seperti itu Ravin hanya bisa menarik senyumnya saja, lebih baik tidak menjawabnya saja. Jangan, biarkan Inara menyesal karena dibawa bertualang. Pikir Ravin dalam benaknya. “Sepertinya bentar lagi kita bakal turun, tuh!?”
Selama akhir perjalanan itu Ravin dan Inara berbicara banyak hal mereka mencoba untuk tidak canggung lagi untuk meningkatkan hubungan keduanya. Meski, awalnya hubungan ini tidak berdasarkan cinta dan hanya kehendak semata keduanya ingin masih punya perasaan untuk membuat pernikahan tersebut berhasil. Tidak ada yang tidak mungkin, terkadang cinta pun datang karena terbiasa. Cinta yang datang karena pandangan pertama tidak selalu menjadikannya sebagai cinta terakhir tetapi, cinta yang datang karena terbiasa selalu terlalu sayang untuk dilepaskan.