Honeymoon 2

1730 Kata
“Apa di sini tempatnya?” Inara sedikit terkejut melihat tempat yang mereka tuju ternyata diluar dugaan sangat indah. “Gimana, Mbak sama Mas, nya, suka?” tanya Pak Mus, dia supir grab car yang mereka sewa setelah turun diterminal. Sebelumnya, Ravin yang benar-benar tanpa perencanaan berjalan tenang tanpa ujuan dan meyakinkan Inara yang kurang mood, karena tidak jelas tujuannya mereka akan ke mana meski, Inara sendiri sudah mengusulkan untuk menyewa mobil lalu pergi ke hotel menginap beberapa hari di sana, traveling lalu pulang tetapi, Ravin tidak suka yang sesimpel itu. Motto-Ravin saat ini adalah jika ada yang rumit kenapa harus yang mudah. Jika, hanya menginap di hotel, tidak ada pengalaman yang menarik. Di Jakarta juga mereka akan mudah menemukan hotel. Ravin ingin tempat yang memberinya kesan, ini bulan madu mereka… meski, tidak sempurna tetapi haruslah luar biasa. Jadi, setelah menyelesaikan makan siang mereka yang terlambat. Ravin langsung menyewa grab mobil dan menyerahkan pilihannya pada si Sopir untuk mengantarkan mereka ke tempat yang menurutnya paling bagus. Sikap mudah percaya pada orang lain inilah yang membuat Inara bukan hanya ingin marah tetapi, juga ingin mengamuk sambil memukul kepala Ravin …sekali saja. Bagaimana dia bisa mempercayakan perjalan mereka pada sopir yang baru mereka temui jadi, selama perjalanan itu Inara benar-benar waspada dia terus membuka matanya --tidak seperti yang masih sempat-sempatnya tertidur—karena ternyata perjalan yang mereka tempuh masih memerlukan waktu hampir dua jam lamanya. Dan, sepertinya. Inara tidak terlalu menyesal dengan pengalaman ini karena tempat yang mereka tuju ternyata benar-benar tempat wisata yang indah. Daerah itu dipenuhi pondok-pondok kayu sederhana, yang disewakan untuk para wisatawan seperti mereka dan tepat di depannya adalah danau yang dikelilingi pepohonan. Begitu asri dan indah, tidak jarang juga ternyata ada yang mendirikan tenda dipinggir danau. Tempat itu tidak terlalu sepi juga tidak terlalu ramai, membuat Inara sangat puas dan senang tidak berhenti untuk tersenyum. “Gimana, ini sangat bagus,kan?” tanya Ravin sambil merangkul bahu wanitanya. “Wisata di dalam negeri tidak kalah indah, dari yang diluar, kan?” Inara membalas rangkulan Ravin dengan memegang tangannya. “Soal itu, aku sudah tahu sangat jelas, kok! Hanya tidak disangka saja, kita bakal ke tempat seindah ini. Aku kira kemungkinan besar kita bakal tinggal dihotel atau malah losmen kecil.” “A-ah, Inara, aku gak percaya sama, Mas, yah?! Mana mungkin, kan Mas itu bawa kamu ke losmen atau motel-motel murah kayak gitu. Kalau pun gak ada tempat bagus, aku pasti siapin tempat pasti terbaik.” Inara menatap wajah Ravin dan berusaha untuk percaya dengan menganggukan kepala. “Ya, ok! Aku percaya sama, Mas. Terus sekarang kita tinggal di pondok yang mana?” “Hampir saja aku buat kesalahan,” ujar Ravin. “Aku pikir kamu bakal lebih seneng tinggal di tenda seperti itu karena, sejak tadi kamu terus aja melihat ke sana.” Tunjuknya pada sebuah tenda di mana sepertinya terdapat sebuah keluarga yang tinggal di sana dan tengah makan jagung bakar, berkumpul sambil bernyanyi-nyanyi. “Yah, kemping sepertinya sangat seru, lain kali kita juga harus melakukannya tapi, buat sekarang, kan beda. Aku masih pengen tidur dikasur dan berselimut agar tetap hangat. Ihhh…” Inara bergidik kedinginan, memeluk tubuhnya sendiri. Ravin dengan sigap memeluknya dengan membentangkan jaketnya untuk menyelimuti mereka berdua. “Yah, di sini dingin sekali seperti dikutub. Ehmm, aku gak suka dingin.” Inara membalas pelukan Ravin dengan berlindung di dalam jaketnya, beruntung sekali mereka membawa jaket-jaket tebal yang rencananya bakal dipakai di Eropa karena katanya, di sana juga sedang musim dingin. “Mas, Mbak!” panggilan itu mengalihkan kegiatan romantic mereka, segera mereka memisahkan diri dan segera menanggapi Pak Mus yang tersenyum-senyum malu melihat kelakuan keduanya. “Maaf, ya, ganggu acara romantisnya.” “Haha, gapapa, Pak,” sahut Ravin santai. “Gimana jadinya?” “Udah beres, Mas. Ini kuncinya.” Pak Mus mengulurkan tangannya untuk menyerahkan kunci pondok. “Yang no. 23 ya, yang lain katanya udah dibooking. Untuk masih bisa, yah?! Sayang banget udah cape-cape ke sini…biasanya orang lain harus booking minimal seminggu sebelumnya.” “Makasih, bantuannya ya, Pak Mus, kalau bukan karena pak Mus juga kita gak bakal bisa nginep di sini. Bulan madu kita jadi lebih bahagia berkat, Bapak.” Pak Mus sepertinya sangat bahagia dan bangga sudah dipuji seperti itu, dia tersenyum puas. “Karena, kalian juga harus istirahat bapak juga kayaknya harus balik.” “Iya, terimakasih sekali lagi,” ucap Ravin kali ini sambil berjabat tangan .” Oh, ya hampir lupa. Nanti, kita bakal hubungin Pak Mus lagi, aja, yah? pas kita butuh jemputan. Pak Mus bisa, kan?” “Tentu aja, Mas. Nomor telepon saya sudah ada, kan?” “Ya, mungkin lusa kita ketemu lagi, ya, Pak Mus.” “Siap!” lanjutnya kemudian Pak Mus baerbalik meninggalkan kedua sejoli yang baru saja dia temui. “Lusa, memangnya kita mau ke mana? Apa bakal pulang?” “Eh, kenapa harus memikirkan pulang dengan cepat-cepat!,” jawab Ravin sambil berjalan bergandengan menuju pondok tempat tinggal malam ini. “Besok, kita santai saja di sini! Lalu, lusanya kita jalan-jalan ke kota, keliling kulineran menikmati Paris van Java. Sayang, kan jika kita tidak menikmati liburan kita ini.” “Ya, tentu aja! Dan ngomong-ngomong soal kuliner. Aku jadi lapar lagi! Mala mini kita mau makan apa?” “Apa kita harus makan? Bukannya kamu lagi diet, takut gendut?” “Mas Ravin! Aku sabar, loh? Tapi, kalo lagi kelaperan bisa kayak singa betina juga yang kalo diganggu bisa langsung cabik-cabik aja, tuh orang di depannya.” Ravin tertawa geli tidak banyak bicara lagi segera membuka pondok kecil mereka dan …Wow. Meski, sederhana dan hanya tersedia satu ruangan tanpa sekat di mana ketika membuka pintu. Kita langsung diperlihatkan satu ranjang putih lalu, pantry sederhana serta, ruangan kecil berpintu yang sepertinya itu adalah kamar mandi.” “Ini lumayan indah! Semua terbuat dari kayu, ranjangnya juga untung tidak dengan kasurnya,” ujar Inara yang langsung bergerak masuk dan mendudukan diri di atas ranjang berseprai putih. “Ini empuk. Kita bisa tidur dengan nyaman.” “Yah, bisa dibayangin kalo kita gak dapet kasur empuk ini lalu, dapet ranjang kayunya aja… bisa-bisa besoknya kita gak bakal bisa gerak, sakit badan,” balas Ravin lalu, kemudian menatap Inara. “Lalu, sekarang mau makan apa?” “Yah, untung sebelum ke sini kita belanja banyak makanan.” Inara menarik kantong belanjaannya dari sebuah supermarket sebelumnya. “gimana kalo Mie aja?” “Aaah, ide luar biasa! Memang masak mie disaat seperti ini memang paling ciamik. Ya, udah! Kita bagi tugas, ok?! Kamu mandi, aku bikin mie-nya sana.” Inara menerima tawaran itu dengat cepat. Segera memasuki kamar mandi. Yang benat-benar cocok bisa digunakan oleh satu orang saja.”Ini dingin sekali, ah!" saat dia mencoba mencelupkan satu jarinya ke bak kecil di sana tetapi, akhirnya dia menemukan shower. " Ah, untungnya di ternyata bisa pake air hangat.” “Hey, Sayang Inara cepat selesaikan mandinya!" teriak Ravin setelah hampir lima belas menit berlalu Inara belum juga keluar sedangkan, mie nya hampir dingin. "Ok, sebentar! Ini aku... selesai," ucap Inara sedikit lirih dan tidak percaya. Apa yang harus dia lakukan tetapi,tidak mungkin dia bertahan lama di Kamar mandi. "Mas, bisa aku minta tolong?" ujuan dan meyakinkan Inara yang kurang mood, karena tidak jelas tujuannya mereka akan ke mana meski, Inara sendiri sudah mengusulkan untuk menyewa mobil lalu pergi ke hotel menginap beberapa hari di sana, traveling lalu pulang tetapi, Ravin tidak suka yang sesimpel itu. Motto-Ravin saat ini adalah jika ada yang rumit kenapa harus yang mudah. Jika, hanya menginap di hotel, tidak ada pengalaman yang menarik. Di Jakarta juga mereka akan mudah menemukan hotel. Ravin ingin tempat yang memberinya kesan, ini bulan madu mereka… meski, tidak sempurna tetapi haruslah luar biasa. Jadi, setelah menyelesaikan makan siang mereka yang terlambat. Ravin langsung menyewa grab mobil dan menyerahkan pilihannya pada si Sopir untuk mengantarkan mereka ke tempat yang menurutnya paling bagus. Sikap mudah percaya pada orang lain inilah yang membuat Inara bukan hanya ingin marah tetapi, juga ingin mengamuk sambil memukul kepala Ravin …sekali saja. Bagaimana dia bisa mempercayakan perjalan mereka pada sopir yang baru mereka temui jadi, selama perjalanan itu Inara benar-benar waspada dia terus membuka matanya --tidak seperti yang masih sempat-sempatnya tertidur—karena ternyata perjalan yang mereka tempuh masih memerlukan waktu hampir dua jam lamanya. Dan, sepertinya. Inara tidak terlalu menyesal dengan pengalaman ini karena tempat yang mereka tuju ternyata benar-benar tempat wisata yang indah. Daerah itu dipenuhi pondok-pondok kayu sederhana, yang disewakan untuk para wisatawan seperti mereka dan tepat di depannya adalah danau yang dikelilingi pepohonan. Begitu asri dan indah, tidak jarang juga ternyata ada yang mendirikan tenda dipinggir danau. Tempat itu tidak terlalu sepi juga tidak terlalu ramai, membuat Inara sangat puas dan senang tidak berhenti untuk tersenyum. “Gimana, ini sangat bagus,kan?” tanya Ravin sambil merangkul bahu wanitanya. “Wisata di dalam negeri tidak kalah indah, dari yang diluar, kan?” Inara membalas rangkulan Ravin dengan memegang tangannya. “Soal itu, aku sudah tahu sangat jelas, kok! Hanya tidak disangka saja, kita bakal ke tempat seindah ini. Aku kira kemungkinan besar kita bakal tinggal dihotel atau malah losmen kecil.” “A-ah, Inara, aku gak percaya sama, Mas, yah?! Mana mungkin, kan Mas itu bawa kamu ke losmen atau motel-motel murah kayak gitu. Kalau pun gak ada tempat bagus, aku pasti siapin tempat pasti terbaik.” Inara menatap wajah Ravin dan berusaha untuk percaya dengan menganggukan kepala. “Ya, ok! Aku percaya sama, Mas. Terus sekarang kita tinggal di pondok yang mana?” “Hampir saja aku buat kesalahan,” ujar Ravin. “Aku pikir kamu bakal lebih seneng tinggal di tenda seperti itu karena, sejak tadi kamu terus aja melihat ke sana.” Tunjuknya pada sebuah tenda di mana sepertinya terdapat sebuah keluarga yang tinggal di sana dan tengah makan jagung bakar, berkumpul sambil bernyanyi-nyanyi. “Yah, kemping sepertinya sangat seru, lain kali kita juga harus melakukannya tapi, buat sekarang, kan beda. Aku masih pengen tidur dikasur dan berselimut agar tetap hangat. Ihhh…” Inara bergidik kedinginan, memeluk tubuhnya sendiri. Ravin dengan sigap memeluknya dengan membentangkan jaketnya untuk menyelimuti mereka berdua. “Yah, di sini dingin sekali seperti dikutub. Ehmm, aku gak suka dingin.” Inara membalas pelukan Ravin dengan berlindung di dalam jaketnya, beruntung sekali mereka membawa jaket-jaket tebal yang rencananya bakal dipakai di Eropa karena katanya, di sana juga sedang musim dingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN