Rain

1805 Kata
Cuaca memang sepertinya tidak bisa ditebak. Pagi hari ini mereka berencana untuk pulang setelah menghabiskan tiga hari dan dua malam di Bandung tetapi, sudah sejak dini hari tadi hujan terus mengguyur sedangkan, persiapan pulang sudah siap ditambah lagi dengan terus-menerus ponsel Ravin juga Inara terus berbunyi akhirnya, kemarin kedua ibu mereka yang cerewet mengetahui tentang keberadaan mereka. “Mommy, nelpon lagi tuh,kok gak diangkat lagi? Gak boleh didemin terus, dong Mas. Kali aja ada yang penting,” ucap Inara sambil melihat ponsel Ravin yang menyala di atas meja. Keduanya sekarang sedang berada diteras menikmati cuaca hujan dipagi hari setelah menyelesaikan sarapan mereka. Ravin hanya meliriknya, sedikit enggan untuk menjawab panggilan dari ibunya karena terakhir kali kemarin saat ibunya menghubunginya. Dia disemprot habis-habisan meski, tidak sampai sakit hati tapi, telinganya hampir saja rusak karena harus dipaksa mendengarkan ceramahnya karena malah kabur dari bulanmadu yang sudah disiapkan olehnya. Awalnya, Ibunya tidak tahu apa-apa dan malah khawatir, bertanya keberadaan mereka. Tetapi, sialnya ketika dia akan berbohong seorang tukang es cendol berteriak. “Es Cendol Dawet! Disuruput segerrr ahhh!” Suara itu tepat disamping Ravin dan Inara yang sedang jalan- dipinggiran kota. Siapa sangka jalanan yang awalnya sepi tiba-tiba riuh dengan para pedagang yang saling bersautan menjajakan daganganya. Ravin yang berniat menyembunyikannya tidak bisa lagi berbohong. Deswita marah, yang membuatnya tidak habis pikir anaknya malah membawa menantunya pergi bulan madu ke daerah Bandung bukannya ke luar negeri seperti yang direncanakan. Yah, salahkan saja dia yang memang punya sifat buruk seperti ini sejak dulu, dia orang yang jarang menuruti keinginan orang lain jika hatinya mengatakan tidak ingin. Apalagi Ravin selalu ingin melakukan semua hal melalui caranya, tidak terpaku harus sama dengan orang lain. “Mas, pake acara ngelamun lagi?” “Bukan ngelamun tapi, menikmati pemandangan di depan. Lihat hujannya …itu air, kan?” jawabnya dengan pertanyaan random lainnya. “Mas, aku itu sekolah, loh sampe jadi sarjana juga meski, gak sampe makan bangku di kelas aku tuh, tahu hujan itu air. Jadi, kalo nanya jangan ngaco,” jawab Inara dengan perasaan lelah menghadapi Ravin yang kadang suka aneh-aneh. Dia tidak tahu belum satu minggu tinggal bersama pria disampingnya warna hidupnya sedikit berubah. Inara sedikit bangga juga bahagia, ternyata menikah dengan Ravin tidak seburuk seperti yang dikhawatirkannya. Meski, dalam hati dia tidak tahu apakah dirinya sudah jatuh cinta atau belum pada pria ini tetapi, dia tahu hatinya mulai terbuka dan menerima kehadirannya. Mungkin, benar nyatanya jika, manusia adalah makhluk yang bisa dengan mudah beradaptasi dengan keadaan yang baru karena apa yang dirasakan Inara beberapa hari tinggal di sini bersama Ravin, dirinya dengan mudah dan hampir melupakan sosok Elvan yang sudah menorehkan luka padanya dan kini hanya menyisakan rasa sakit dan kebencianya saja. “Haha …” Ravin sangat senang mendengar jawaban Inara, yang sudah membuatnya tertawa dihari yang suram tersebut. Tetapi, segera berhenti tertawa karena melihat Inara yang menatapnya dengan jengah dan sebal. “M-maaf, maaf yang barusan sangat lucu ‘sampe gak makan bangku di kelas.’ Harusnya kamu juga ketawa itukan lelucon kamu, Sayang.” “Gak lucu, Mas,” ucap Inara sambil berdiri dan merapatkan jaketnya. Udara pagi yang biasanya sejuk dan dingin kebertambah dingin berkali-kali lipat. Lihat saja bukan hanya jaket yang digunakan Inara diajuga sampai harus memakai kaos kaki. “Mas, mau s**u hangat tidak? Aku siapin, sebelum nanti Pak Mus-ny sampai sini.” “Mas mau s**u bandrek yang kemarin kita beli, Tolong, yah?” “Oke!”jawab Inara sambil hendak berlalu pergi dan dering serta getaran ponsel Ravin kembali menyala dengan jahil, Inara meraih ponsel itu menekan tombol jawab lalu, langsung menyerahkannya pada Ravin sambil dia berlari terbirit-b***t. “Y-yah!” pekik Ravin yang tertahan di dalam tenggorokan dan akhirnya tidak bisa berteriak karena sudah terdengar juga suara ibunya yang berteriak. “Mommy, selamat pagi!” sapanya terlebih dulu dengan segala sopan santunnya. “Ravindra, kamu mau buat Mommy sakit, hah? Gimana bisa sejak tadi mengabaikan telepon dari Mommy, huh? Mommy, sangat kesal tahu?” “Maaf, Mommy,” balas Ravin dengan suara memelas. “Baru saja Hp-nya Ravin tinggal di kamar buat dicharger. Jangan marah lagi, Ok! Memangnya Mommy apa?” Jauh di seberang sambungan telepon itu Deswita, memutar matanya malas tidak percaya dengan alasan putranya yang kadang suka bikin orang emosi soal itu. Dia tahu pasti Ravin bisa menebak apa yang mau dia minta karena sampai meneleponya sejak masih pagi begini. Putranya itu memang banyak sekali sifat jeleknya tetapi, sifat baiknya juga tidak kalah. Ravin itu juga bisa sangat perhatian juga pengertian. Namun, hari ini dia gak butuh hanya perhatiannya tetapi, juga diperhatikan. “Mommy, pengen makanan khas bandung buat oleh-oleh, Vin. Terus beliin juga ini …sama … itu!” “Sudah kuduga,” balas Ravin sedikit lelah. Hal ini sudah seperti kebiasan ibunya jika, tiap kali mengetahui dirinya sedang berada diluar kota segala sesuatu harus dibeli dan dibuat jadi bingkisan buat tangan ibunya. Sebenarnya tidak masalah, harus beli apa tapi, yang jadi masalah itu tidak hanya dengan satu macam dan tidak sedikit Deswita membelinya untuk dia bagikan dikalangan teman-teman sosialitanya. “Mommy, tenang aja aku udah beli banyak cake roll yang Mommy bilang itu, kemarin Inara sangat suka itu kue jadi, kita beli sampe tiga roll dan buat barang lainnya Ravin gak janji cuaca di sini lagi buruk gak tahu apa kita bisa mampir-mampir lagi.” Terdengar suara desahan dari balik telepon sepertinya Deswita kecewa. “Ya, ampun hal gitu aja masa gak bisa beliin buat Mommy. Coba aja kamu, tuh pergi ke Eropa sesuai rencana Mommy gak bakal nungguin itu barang dan bisa langsung dipamerin… sekarang Mommy kepaksa, deh harus nunggu lebih lama dan kesel begini.” “Makanya, kenapa Mommy gak langsung pergi ke sana.” “Kalau gitu kamu yang minta izinin sama Daddy, bisa gak?” “Gak bisa,” jawab Ravin cepat lalu, melirik Inara yang baru saja datang dengan membawa nampannya. “Apannya yang gak bisa?” tanyanya pada Ravin. Ravin menggeleng, tidak mau memberitahunya karena tiba-tiba saja Deswita, Mommy-nya mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut sampai menahan malu. “Mommy!” “Kenapa? Mommy, juga berhak tahu donk, kan, Mommy yang suruh kalian nikah. Hey, Ravin sayangnya,Mommy. Hal seperti itu sangat penting dalam pernikahan yang merupakan kebutuhan mendasar utuhnya rumah tangga.” “Sudah, yah, Mih. Pokoknya oleh-olehnya hanya apa yang bisa kubeli saja dan gak usah nyari yang gak ada. Buat yang satu itu… itu masalahku, Mom. Mommy tenang aja, kami sedang berusaha bersama untuk saling nyaman dan memahami satu sama lain.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut sambungan ponselnya benar-benar berhenti. Di samping Inara sedang berpura-pura menyesap s**u hangatnya dengan pipi sedikit merona, yang entah karena cuaca atau malu karena samar-samar mendengar pernyataan Ravin tentang hubungan mereka. “Yah, Mas! Kenapa liatin aku kayak gitu?” Ravin terkikik hanya tiap kali melihat Inara dari dekat, hatinya juga makin tertarik. Apalagi di saat malu-malu begini, wanita yang sudah menjadi istrinya itu jadi sangat lucu dan menggemaskan. “Gak boleh gitu liatin sendiri? Tapi, anehnya Inara kok, jadinya tiap liat kamu kamu jadi makin cantik dari waktu ke waktu.” “Apa’an, sih, tiba-tiba banget,” sahutnya sebenarnya benar-benar malu. “Sebenarnya jam berapa, sih, Pak Mus rencananya jemput kita?” tanyanya mengalihkan perhatian dan berpura-pura memerhatikan jam tangannya yang masih menunjukkan pukul delapan empat puluh menit. Beberapa hari setelah pembicaraan mereka terakhir kali Inara sebeneranya sudah sedikit berubah yaitu, bisa bangun pagi seperti zaman sekolahnya dulu tentu saja itu berkat Ravin juga. Inara penasaran tidak ada suara dari Ravin dan tidak disangka suaminya itu masih sedang menatapnya. “Apa? Aku tidak boleh melihatmu juga?” “Gak tau, ah!” sahut Inara sambil tergesa berdiri, dia juga melihat tiba-tiba hujan makin besar disertai angin padahal, ini masih pagi. “Aku mau masuk dulu, kalau Mas masih mau di sini terserah.” “Yah, kenapa malah kabur?!” Ravin melihat ke depan, di mana hujan pagi hari ini bukannya berhenti tetapi, malah makin membesar dan sepertinya Pak Mus pun jelas terlambat menjemput mereka. Mengikuti langkah Inara, Ravin pun kembali memasuki pondok dengan tangan yang memegang cangkir duduk di samping Inara di atas ranjang bersadar di headboard –nya. Pelan tapi, disengaja Ravin menggesek bahu mereka. “Dingin, ya, Say?” Inara sebenarnya geli dan sedikit merinding mendengarnya tetapi, karena ini Ravin Inara mengangguk kecil dan mencoba memerhatikannya tetapi, sayangnya Ravin yang sedang dalam mood baik beberapa hari ini sangat cepat tanggap karena dengan santainya dia sudah merangkul bahu Inara mempererat pelukannya. “Kalau begini jadi, hangat, kan?” Inara tidak mau menjawabnya kali ini, berpura-pura terus menyesap susunya sampai habis. Entahlah, bukan takut, segan atau apa … hanya dia butuh waktu untuk secara lebih alami menerima perlakuan dan setiap hatinya. anggap saja inilah awal dari masa pede-kate dan pacaran mereka. Semua butuh proses. Proses yang ingin dia buat secara hati-hati karena dia ingin pernikahannya berhasil jangan sampai terputus ditengah jalan hanya karena ketidakcocokan yang baru mereka temui setelah menikah. Bukan hanya Ravin yang harus belajar menerimanya dari semua sifat, sikap serta kebiasaan baik dan buruknya Inara juga ingin belajar mulai memahami semua itu. jadi, saat inipun Inara bisa menebak-nebak jika, mungkin saja Ravin benar-benar bertindak sebagai seorang istri padanya. Hingga, sadar atau tidak sesuatu yang keluar dari mulutnya tidak bisa ditarik kembali. “Mas, apa, Mas … sudah ingin melakukan hal seperti itu?” “Huh?” Ekspresi Ravin benar-benar terkejut beruntung saat itu dia tidak sedang menelan s**u bandrek-nya atau bisa-bisa wajah manis Inara bakal jadi korban, baru saja dia hampir tersedak. Dan,soal untuk pertanyaan Inara dia tidak akan berpura-pura bodoh tentang hal ‘Itu.’ yang dikatakan Inara tersebut. Tentu saja sebagai Pria dia pasti punya keinginan dan hasrat. “Kenapa tiba-tiba nanyain hal itu? Apa gara-gara Mommy tadi ditelepon?” “Bukan tapi, kupikir … sampai kapan, Mas bisa tahan. Aku takut akhirnya Mas bosan menunggu lalu menyesal sudah menikahiku.” Ravin mengambil kedua gelas mereka dan meletakkanya di atas meja samping ranjang setelah selesai dia memeluk Inara sambil membaringkan tubuh keduanya, menatap matanya lekat. “Jangan takut! Aku tidak menyesal hanya karena belum mendapatkan malam pertama darimu karena, yang akan membuatku sangat menyesal dan marah …kamu berpikir bisa kembali lagi dengan Elvan.” Sudah jelas seperti ini. Ravin ini terlihat cuek tapi, dia bisa jadi sangat pencemburu. Itulah yang Inara perhatikan beberapa hari setelah bertemu dan bergaul dengan Ravin yang sebelum datang kemari dia bersikap dingin dan lucu mengekspresikan dirinya yang pencemburu. Padahal saat itu, memang benar dia melamun berpikiran sedih melihat Hanya karena melamunkan Elvan tetapi, tidak pernah yakin apa mereka bisa kembali?. “Aku bakal nunggu kamu sampai benar-benar. Tidak akan lama hubungan kita akan semakin erat dan baik dan …mungkin saja kita bisa melakukannya penuh dengan cinta. Itu pasti bakal jadi pengalaman yang indah. Jadi, ayo, kita buat itu terwujud,” tuturnya lembut sambil menarik dagu Inara lalu mencium bibirnya yang wangi s**u.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN