Perintah Bekerja

1710 Kata
Hangat dan nyaman perasaan luar biasa yang akhirnya dirasakan Ravin bahkan, juga Inara setelah beberapa hari ini tinggal di Lembang di mana daratan tinggi dengan suhu udara yang dingin ditambah dengan cuaca angin hujan yang terus mengguyur dihari terakhir membuat mereka harus berkeliling dengan jaket tebal untuk membeli pesanan oleh-oleh yang diminta Deswita. Sekarang mereka sudah ditempat yang paling nyaman di mana apartemen mereka bisa atur suhu-nya sesuka hati. Tadi malam mereka pulang cukup larut dengan banyak barang. Segera setelah melepas lelah mereka mandi lalu, tertidur lelap sampai siang. Tidak ada yang memasak dan makan dipagi hari jadi, sudah hampir tengah hari ketika mereka akan memesan makanan beruntung sebelum itu ternyata Deswita menghubungi Ravin dan berencana akan datang ke apartemen bersama Farah dan suami mereka masing-masing. Ravin tidak mengeluh awalany, malah sangat senang mereka bisa saja menghabiskan oleh-oleh khas Bandung yang mereka beli. Sepertinya tidak ada yang terlewati semua makanan viral di sana dibeli semua dari mulai basreng, bocil atau apalah Ravin tidak tahu tapi, Inara sama semangatnya membeli semua snack-snack itu bahkan, termasuk ‘peyem’. Singkong fermentasi yang ternyata sangat disukai Adibrata sang Daddy. Sekarang rumahnya sudah seperti gudang makanan saja. “Rasanya udah lama banget, Daddy. Makan ini? Rasanya masih aja kayak dulu.” “Lah, emang pengen rasanya berubah kayak apa? Coklat, keju?” sahut Ravin yang datang dari belakang Daddy-nya sambil memegang kopi. “Dasar kurang ajar! Bisanya ngeledek aja, kamu ganti tiket pesawat yang gak kamu pakai itu sepuluh kali lipat atau Daddy sita ini apartemen.” “Yah, enak aja main sita!? Ini apartemen hasil kerjaku, loh?” “Oh, yah?” balas Adibrata dengan wajah menyebalkan. “Emangnya kamu kerja apa, hah? Bukannya tiap bulan uang Daddy sama Mommy masih aja masuk ke rekening Kamu, kan?” “Ho hoo hoo, udah mulai pengerusakan harga diri kalau gini. Aku gak terima,” ujar Ravin berkacak pinggang, dia tahu ayahnya hanya tengah bercanda. “Ravin, kalo kamu masih pake uang orang tua kamu lalu, mau gimana cara memberi nafkah Inara?” tanyanya dengan raut wajah serius. “Gimana bisa aku menikahkan anakku dengan pengangguran.” Kali ini Bagas bergumam cukup keras dengan membuat dua pria disanpingnya kanan-kirnya bisa mendengarnya. “Hey, jaga bicaramu! Dia anakku, Cuma aku yang boleh mengejeknya.” “Hey, juga. Ingat yang dia nikahi itu putriku! Putriku!” sahutnya tidak mau kalah membuat Ravin menghela napas untuk perangai kedua ayah-ini. Sungguh Ravin tidak menyangka jika, hubungan kedua orangtuannya dan orang tua Inara seakrab ini sampai- sampai bisa bertengkar dan berbaikan sendiri seperti dia sahabat-sahabatnya jadi, seperti inikah gambaran dia dan teman-temannya kelak. Tetapi, dia berharap tidak akan berbesan juga dengan para sahabat karibnya. Balik lagi ke hubungan mereka rasanya jika, Ravin ingat-ingat ibunya sangat bahagia mendengar jika, Elvan ternyata berpacaran dengan Inara pada saat itu. Yah,wajar saja dia tidak tahu sedalam itu tentang hubungan mereka jika, tidak terjadi hal pernikahan dia dan Inara karena tidak lagi tinggal bersama. Sekarang, lanjut kembali pada pertengkaran duo ayah ini yang kini tiba-tiba ditimpali istri-istri mereka yang baru saja datang dengan membawa nampan yang berisi enam mangkok yang terlihat masih mengepul. Ketiga wanita tadi itu tengah sibuk di pantry entah apa yang dimasak tetapi, wanginya memang sudah tercium. “Ada apa ini, hm? Kenapa teriak-teriak!” “Biasalah, urusan bapack-bapack , Mom,” jawab Ravin cepat, matanya sendiri terfokus pada nampan yang baru saja ditaruh Deswita. Tangannya sudah terulur saja mengambilnya. “Apa ini, Mom?” “Oleh-oleh yang kamu beli, lah.” “Itu, Baso Aci, Mas,” sahutnya sambil memberikan bagian-bagian lain pada ayah-ayahnya. “Papa sama Daddy juga harus coba. Ini!” Selama beberapa waktu mereka sibuk menikmati makanan hangat mereka sampai mereka semua selesai dan Adibrata kembali membahas apa yang sebenarnya maksud serta tujuan mereka sebenarnya. Tiba-tiba saja ruangan itu hening seketika, bukan heran yang dirasa tapi, Ravin merasa bulu kuduknya merinding. ‘Ada apa ini? Kenapa terasa bakal datang firasat buruk,’ ucapnya dalam hati. “Vin, kamu udah nikah, kan? Harusnya kamu udah pikirin buat masa depan kalian juga, kan?” Terdengan suara Adibrata sedang sangat serius. Ravin, diam mendengarkan secara seksama dan mengangguk ketika menjawab. “Tentu, Dad. Papa juga…jangan khawatir aku bakal bertanggungjawab sama keluargaku sendiri.” “Kalau begitu kamu tahu, kan seorang suami itu bertanggung jawab berarti dia itu harus memberi nafkah lahir dan batin? Sekarang, Papa tanya. Apa pekerjaan kamu?” Disebelahnya Adibrata sudah mengedipkan matanya sambil mengacungkan jempolnya tanpa diketahui Raavin, yang masih memproses pertanyaan mertuanya. Deswita mencubit perut suaminya agar berhenti bertindak menjengkelkan sebelum ketahuan Ravin atau mereka akan kesulitan membujuknya. Ravin terdiam beberapa waktu. “Aku juga tentu bekerja, Pa? Hanya pekerjaanku tidak memakan waktu khusus yang membuatku harus tinggal di suatu ruangan atau gedung.” “Ngga, ngga ..itu bukan pekerjaan namanya. Itu hanya hobi kamu aja,” Adibrata langsung menyahutinya. “Lusa, istri kamu pasti balik sama butiknya. Benerkan, Inara?” “Eh, ah…iya, Dad,” jawab Inara terkejut karena tiba-tiba pertanyaan berbalik padanya. Dan yah, sudah waktunya dia kembali pada lingkungan sosialnya. Satu minggu penuh lebih dari cukup untuk liburan pasca pernikahan, semua orang yang terlibat disampingnya pasti sudah menunggu kehadirannya terlepas dari gossip, bisnisnya masih harus berjalan sebagai perancang busana di butik pribadinya sendiri. “Tapi, aku menghasilkan uang, kan?” “Ngga, Ravin …karena hobi kamu yang bisa di mana saja. kamu perlu pekerjaan yang matang dan mantap. Daddy, udah siapain hal ini buat kamu! Ambil alih jabatan Elvan. Perusaahan sangat butuh pemimpin dan itu gak bisa ditunda-tunda sampai anak kurang ajar itu kembali … banyak pekerjaan yang terbengkalai yang perlu diurus.” “Owh, mendengarnya saja aku sudah merinding! Sepertinya, Daddy cari orang lain yang bisa dipercaya aja.” “Mana bisa gitu, dong, Vin!” kali ini Deswita ikut menyela dan mengeluarkan taringnya. “Kamu tahu, kan itu perusahaan milik keluarga. Dulu kakek kamu sendiri yang merintisnya dari kecil sampai besar dan kamu suruh kasih ke orang lain? No, Mommy gak terima!” “Main saham itu hanya bisa jadi hobi kamu, Vin tapi, bekerja untuk perusahaan keluarga kamu sendiri itu harusnya jadi kewajiban yang dimasa depan bisa jadi tulang punggung keluarga kamu di masa depan.” “Tapi, aku malas …aku senang hidup bebas.” Ravin masih membalas ucapan orang tuanya dengan santai. Dia merasa cukup dan nyaman hanya dengan menanam sahan di mana-mana tidak kecil atau besar tetapi, setiap bulan masih menghasilkan uang. Deswita ingin sekali memukul kepala otaknya lalu, membelahnya sebenarnya apa yang ada di otaknya. Seberapa kebebasan yang diinginkan anak sulungnya itu.tetapi, sadar, dengan marah tak akan menyelesaikan apalagi meluluhkan kekeras kepalaan Ravin, Deswita memilih opsi yang paling mudah dan efektif serta seringkali dilakukan perempuan. Menangis, dia mulai menitikkan air matanya dan mencoba terlihat marah sekaligus sedih. Perusahaan yang bergerak di bidang supermall itu adalah milik Ayahnya yang sudah tiada dan …itu akan diabaikan begitu saja oleh para turunannya. Harusnya itu tak terjadi, kan? “Mommy, aku gak bakal terpengaruh sama tangisan buaya Mommy,” ujar Ravin sangat yakin dan cukup membuat orang lain ikut tidak bisa menahan tawa dengan kelakuan Deswita. Kesal! Akhirnya dilempar juga Ravin dengan sandal rumahannya. “Yah, dasar anak kurang ajar! Berani sekali tidak punya hati dengan ibu sendiri.” Ravin tertawa sambil menangkap lemparan sandal ibunya. “Mommy, tenanglah aku akan memikirkannya tapi, aku butuh waktu.” “Apa yang kamu katakan benar, kan?” “Iya, Mom. Aku perlu berpikir dan mempersiapkan diri jadi, mungkin dua sampai tiga bul—Aaah!Daddy.” Kali ini Daddy-nya Adibrata yang tidak sabar dan melempar sandalnya tepat jatuh kena sasaran jidatnya yang semula mulus kini, bertanda merah. Sepertinya dia baru saja berhasil membangungkan singa yang tidur. “Awas saja berani main-main.” Kesal Adibrata, tidak habis pikir dengan anaknya satu ini. Saat anak-anak orang lain memperjuangkan posisi perusahaan keluarga, dia malah tidak peduli .Pokoknya lusa depan kamu bakal kerja dan ikut Daddy. ** “Kenapa gak mau kerja kantoran?” Ravin melihat Inara yang sedang bicara sambil melipat pakaian, sedangkan dirinya sendiri sedang asyik berselancar main game. “Nanti, aku gak bisa maen game lagi.” Inara mendengus mendengar jawabannya. “Mas, bukannya dulu juga pernah kerja di sana… kayaknya bekerja di sana gak bakal sulit atau..?” “Atau apa?” tanyanya setelah melirik Inara yang tidak lagi melanjutkan perkataannya. Inara berwajah datar dan tengah menatap lekat-lekat Ravin. “Aku pernah dengar Mas Ravin berhenti bekerja setelah gagalnya pernikahan Mas. Apa, Mas sebenarnya belum move-on?” Ravin terkekeh, tidak bisa tahan dengan pemikiran Inara saat ini tetapi, dengan seperti itu dia ingin menggodanya. “Eoh, kalo aku belum move-on dari Jovanka apa kamu bakal cemburu?” “Oh, jadi namanya Jovanka? Sekarang dia di mana?” “Entahlah? Apa aku harus tahu?” tanya balik Ravin. Dia berjalan mendekati Inara duduk di sampingnya dan mulai membantunya melipat pakaian dan handuk mereka. “Bukan karena hal itu aku gak mau kerja kantoran lagi tapi, … aku sudah merasa nyaman dengan hidup santai melakukan apa yang kumau tanpa terkekang oleh waktu dan tanggung jawab besar. tapi, sepertinya aku harus berubah … sekarang aku punya kamu.” Semburat merah tipis muncul dipipi Inara setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Ravin. Mereka akhirnya punya perasaan memiliki, terdengar biasa saja tetapi, rasanya kekhawatiran Inara untuk bisa percaya dan mulai membangun rasa sayang hingga cinta cukup membuatnya percaya diri meski, belum sepenuhnya hilang. Sungguh masih jauh dari pasangan sempurna lainnya yang dipersatukan oleh ikatan cinta. “Jangan karena aku, Mas?! Jangan jadikan aku alasan. Aku tidak keberatan Mas gak kerja kantoran tapi, aku tetep dapet jatah bulanan, kan?” Ravin terkekeh, mencubit pipi Inara gemas lalu, kemudian dia langsung merogoh dompet kulitnya dan mengeluarkan sesuatu. “Sebelumnya, aku juga pengen langsung ngasih kamu ini tapi, aku khawatir kamu keberatan …yah, inginnya seperti ini kamu meminta sendiri.” “Mas, aku cuma bercanda.” Inara menggeleng dan hanya sesaat melihat kartu berwarna hitam yang baru dikeluarkannya. “Betulan aku, t-tidak.” “Akhirnya, setelah sekian lama kamu ingat untuk menghubungiku lagi.” Nadira berbicara halus sebagai bahasa sindirannya. “Maaf, Dira. Kumohon jangan marah. Lusa aku sudah akan kembali ke butik.” “Sungguh?!” "Iya. Aku balik lusa sambil bawa oleh-oleh dari Bandung. " "Ke Bandung?" "Iya, kita ke sana untuk Bulan madu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN