Terdengar suara tawa menggelegar dari ruang tamu. Inara yang sedang mempersiapkan minuman hampir saja memecah gelasnya saking terkejutnya mendengar suara tawa, yang disertai suara gaduh dari orang-orang itu di living room . Tiga sahabat Ravin datang, dua orang lain sudah Inara kenal dan satu lagi pria dengan rambut hitam dengan sentuhan cat rambut, yang hanya beberapa helai dirambutnya dan gaya berpakaian necis di mana dari atas kepala dan ujung kaki merupakan barang branded semua.
Berbeda dengan lainnya, yang terlihat kurang memperhatikan penampilan tetapi tidak salah mereka tidak santai menggunakan barang-barang mewah hanya tidak semencolok Rio, yang tampak sangat berwarna di antara teman-temannya yang lain. Sedangkan, Ravin dengan tampilan barang brended-nya tampaknya masih 0,01% dia terlalu sering menghabiskan waktu di rumah dengan kaos oblong dan celana kolornya, begitu santai. Membuat semua barang branded di dalam walkcloset nya tidak jarang menganggur.
Inara juga tidak habis pikir karena melihat teman-temannya berpakaian cukup necis, dia menarik Ravin terlebih dulu ke kamar hanya untuk merubahnya berpakaian tetapi, Ravin menolak ‘Itu hanya temannya.’ , ‘Ini dirumah sendiri.’ dan alasan terakhirnya yang membuat Inara tidak bisa menolaknya adalah . ‘Tampang adalah nomor satu.’ . Saat itu tidak bisa mengatakan apa-apa lagi dan membiarkannya menyambut teman-temannya.
“Eh, kakak Ipar harusnya jangan repot-repot begitu?!” Rio, yang semirip burung merak tiba-tiba bergerak heboh menjangkau Inara yang sedang berjalan dan segera mengambil alih nampannya. “Sini kubantu! Yah, Vin bantu istrimu ini… lihat dia bawa minuman sebanyak ini, berat kali hidupnya tinggal bersamamu. Kakak Ipar, lain kali biar aku aja yang mengambil minuman … Ayo, sini! Duduk bareng kita.”
Rio ini paling banyak bicara dia sangat pandai kritik sana kritik sini membuat sahabat-sahabatnya juga harus sabar menghadapinya. Mulutnya tidak bisa berhenti bicara kalau tidak disumpal oleh makanan. Dan, sepertinya Inara kehabisan makanan untuk itu. jadi, dia berniat pergi ke supermarket terdekat. Itu juga caranya menghadapi ketiga sahabat suaminya. Bukan dia tidak suka mereka…tapi, mereka seringkali kedapatan meliriknya bukan mata genit tetapi, sebaliknya mata masih penasaran dan menyelidik.
“Harusnya kalian yang bawa makanan, untuk apa kalian ke sini tidak bawa apa-apa, hah?! Istriku jadi, repot gara-gara kalian, kan?!” Omel Ravin, saat melihat Inara sudah bersiap pergi.
“Gak papa juga, sih, Mas. Cuman ke bawah sebentar. Oh, ya… kalian yang nyaman berbincang aja. Apa ada makanan khus yang kalian mau?”
“Udah, jangan ditanya dikasih batu coral aja bakal mereka makan, kok!?”
“Yey, itu lo aja kali! Pemain debus makan batu campur api…kita mah bukan,” balas Rio dengan mata sinisnya.
“Yah, kirain!”
“Vin, baru aja istri lo yang nawarin diri …jangan nyalahin kita?! Kita mah makan apa aja yang ada di sini bisa aja gak usah khawatir,” sahut Marco kali ini sambil mengerling membuat Ravin memandangannya terlalu jijik.
“Berisik, lo pada!” kesalnya, kemudian dia menoleh ketika mendengar Inara pergi berpamitan. Dia tidak sadar istrinya sudah berada diambang pintu karena bosan mendengar pertengkaran tidak penting mereka.
“Mas, aku pergi, yah?!”
“Hati-hati dijalan, Sayang!” ucapnya romantic sambil melihat ketiga temannya yang masih bersatus jomblo seolah sangat ingin pamer.
Ketika temannya langsung memberinya ekspresi muntah berlebihan. Kemudian setelah melihat Inara sudah pergi dan terlihat lagi para pria penggosip yang katanya sangat sibuk dengan pekerjaan mereka masih ingin mencampuri urusan sahabatnya.
“Gila! Gila! Lo pada harusya ada. Gimana kagetnya gue waktu liat si Ravin yang ke depan meja pernikahan..,” tutur Rio heboh menceritakan kembali pengalama pernikahan sahabatnya yang mendadak. “Bener-bener , waktu itu gue pengen langsung nerobos ke depan. Lihat sahabat gue sendiri yang nikah, dan bukan adeknya. Sekarang ke mana tuh, bocah prik?”
“Belum, entah di mana dia sekarang.”
Mendengar jawaban Ravin tampak tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi. Mereka cukup mengenal Elvan cukup baik, sehingga hampir tidak menyangka orang sepertinya akan melarikan diri di acara pernikahannya padahal, dia sulit sekali mendapat restu karena Ravin yang belum menikah. Seorang adik tidak boleh melangkahi kakaknya bukan? Ibunya sangat melarang jika, bukan karena Ravin sendiri yang tidak keberatan. Sayang, akhirnya sekarang menjadi seperti ini.
Ravinlah yang akhirnya bertanggung jawab besarnya untuk jadi suami dari calon istri adik kandungnya. Sebagai sahabat mereka sedikit khawatir akan hal ini meski, mereka bukan pria yang benar-benar baik tetapi, mereka juga penuh perhatian sebagai teman dan saudara lama yang selalu bersama-sama bertahun-tahun.
“Apa kalian bener udah baik-baik aja?” tanya Gary, yang sedikit pendiam tetapi pemerhati. “Udah saling nerima dan mulai jatuh cinta?”
“Ouw, jatuh cinta? Serius Gar, Ravin baru bentar kenal sama istrinya apa bis—“
Perkataan Rio tiba-tiba saja terhenti ketika, melihat mata Ravin yang sudah memelotinya seolah sedang mengancamnya sambil berkata. ‘Coba saja lanjutkan!?’ akhirnya Rio hanya bisa terkekeh tersenyum tidak berani melanjutkan kata-katanya.
Tapi, jika Rio diam bukan berarti mulut Marco bisa diam juga. “ Jadi, kalian udah mulai saling mencintai, hah? Syukurlah, temen gue masih waras ternyata nikah itu emang harus ada cinta. Gimana bisa hidup bareng kalau gak ada cinta.”
“Kita baru saling perkenalan dan menyesuaikan diri masing-masing lagipula, gak gampang banget buat Inara juga ngelupain cintanya ama adek gue tapi, gue sabar aja. Yang penting dia punya komitmen pernikahan kita bakal baik-baik aja meski, nanti adek gue akhirnya balik lagi.”
“Good luck, kita seneng kalo lo bahagia juga!”
“Soal si Elvan. Apa lo tau alasan dia kabur? Heran banget kabur pas hari mau nikah, apa gak punya otak,” ujar Rio dengan nada gemas dan setengh kesal gara-gara dia sobatnya sekarang gak jomblo lagi dan malah langsung menyandang status suami. Kan, dia juga mau dan iri.
“Ngga sama sekali! Entah karena apa tapi, tidak ada tanda-tanda dia bakal kabur dari pernikahannya sendiri.”
“Bodoh sekali yah, si Elvan,” ujat Marco . “Ninggalin istri cantik cuman buat nyuruh Abangnya yang nikah … emang, udah takdir Tuhan tertulis seperti itu dan juga adik lo gak nanti gak bisa nolak kenyataa ini.”
“Aku malas bangun,” rengek Ravin yang memulai hari kerjanya.
Inara melirik suaminya yang masih menggunakan bathrobe dan tengah memandang ke luar jendela sambil menikmati kopi paginya, ekspresinya seperti sebuah dalam potret berbeda jauh dengan ucapannya, yang seperti orang palin menderita membuat Inara sendiri menghela napas. “Mas, cepatlah ganti pakaianmu.”
Ravin menoleh dengan wajah tanpa gairah, yang baru pertama kalinya Inara lihat. “Apa aku harus mulai bekerja dan sibuk lagi dikantoran? Apa kamu gak bakal menyesal, nanti aku gak punya waktu lagi buat masakin kamu, ngajak jalan—“
“Mas,” sela Inara sambil berdiri dan menghampirinya lalu, menariknya untuk bangun dan mendorongnya masuk walkcloset sambil menyerahkan jas kerja nya yang sudah ia pilihkan. “Segera pakai itu!” perintahnya lalu menutup tempat tersebut.
Inara menghela napas, tidak habis pikir. Entah kenapa disaat seperti ini Ravin bertingkah kekanakkan seolah hidupnya bakal terpenjara saja jika, bekerja kantoran. Selesai membereskan Ravin, Inara juga mulai bersiap. Dia akan kembali bekerja, bertemu teman-temannya, para pegawainya juga lingkungannya sebelum pernikahan. Ini mungkin akan jadi, hari yang berat karena setelah pernikahan dia belum lagi bertemu orang-orang ini yang pastinya senang bergosip tentangnya.
“Bagaimana penampilanku?” Ravin baru saja keluar sambil mengancingkan lengan kemejanya. Inara yang baru saja mengoleskan lipstick dipermukaan bibirnya hampir saja merusaknya.
“Ups!” Inara cepat tersadar, lipstiknya baru saja keluar garis. Buru-buru segera ia perbaiki sambil menjawab pertanyaan Ravin. “Mas tampan sekali, pilihan bajuku memang tidak pernah gagal.”
“Kamu memuji yang memakainya atau apa yang dipakainya, hm?”
“Tentu saja wa—jah tampan, Mas penunjang utamannya.”
Ravin sangat puas dengan jawaban Inara yang malu-malu tapi, tepat sasaran. Dia tidak tahan untuk ikut tertawa senang sambil malu-malu dan bangga. Ravin mendekati Inara yang masih duduk di meja riasnya, mengungkungnya sambil berbisik ditelingannya. “Sayang, terima kasih, tiba-tiba rasanya aku jadi punya kepercayaan diri lebih. jadi, bukankah aku beruntung punya istri kayak kamu?”
“Harusnya, sih, begitu,” sahut Inara dengan sedikit malu, karena jawabanya yang terdengar terlalu percaya dirinya. Malu juga dengan keadaan di mana Ravin mendekati wajahnya seolah ingin menciumnya tetapi, Inara segera menghindar mendorong bahu Ravin. “Sudah, bicaranya. Ayo, bersiap.sudah waktunya kita pergi!”
Keduanya sudah berada ditempat parkir, Daddy-nya Adibrata sebelumnya ingin mengirim mereka dengan supir baru tetapi, Inara menolak dia lebih suka menyetir sendiri sedangkan, Ravin dia merasa tidak masalah dengan sopir tetapi, mendengar penolakan Inara dia juga merasa malu kalau harus nyaman sendiri apalagi dia ini seorang suami juga Bos-pemilik tempat usahanya jadi, lebih baik untuk mereka terus bersama.
“Ayo!” Ravin sudah berada di dalam mobil, siap menyetir kendaraanya.
“Mas, pergi duluan saja?”
“Kenapa begitu kita masih satu arah. Cepatlah masuk, aku harus masuk tepat waktu,loh?!”
“Karena itu Mas, kita pergi pakai mobil masing-masing aja,” sahut Inara lagi. Dia sudah memikirkannya lebih baik baginya untuk tidak pulang-pergi bersama Ravin lagipula, tetap saja mereka bakalan beda tempat meski, tak jauh. Jika butik Inara berada di dalam Supermarket maka, kantor Ravin berada digedung sampingnya di tempat tertinggi. Memikirkan teman-temannya akan bergosip tentangnya, kekhawatirannya datang. Inara sangat benci menjelaskan sesuatu.
“Inara, kamu mau masuk atau tidak?” di saat seperti ini Ravin tiba-tiba berubah tegas dengan mata tajam menusuk.
“Mas, aku bisa pergi sendiri.” Inara masih kukuh dengan pendiriannya dan segera berbalik memasuki mobil Bentley putihnya. Tentu saja hal itu membuat emosi Ravin, yang langsung tancap gas pergi dan hanya menyisakan angin semilarnya saja. tetapi, Inara tidak bisa tidak menyesal ini untuk kenyamanannya.
**
“Selamat pagi, Bos Besar!”
Begitu banyak sapaan terdengar dari setiap ruang ke ruang ketika Ravin menuju kantor pribadinya. Dia sudah lama kehilangan pemandangan ini, sikap hormat dan sapaan jika bertemu dengannya sehingga tidak membuatnya asing. Dia hanya membalas mereka ala kadarnya apalagi, mood-nya berubah jadi buruk karena penolakan Inara. Padahal apa salahnya jika, mereka satu mobil pulang-pergi bersama bukan hanya itu praktis, hal itu juga bisa mengurangi sedikitnya kemacetan meski, hanya 0,0000000001%, juga jekas menggunakan satu mobil itu juga irit bensin dan yang utama adalah kuantitas waktu bersama.
Jika dalam minggu ini mereka telah menghabiskan waktu bersama dalam waktu duapuluh empat jam untuk bisa saling mengenal setelah, memiliki kesibukkan masing-masing kebersamaan menjadi sulit jadi, lebih baik memanfaatkan waktu sekecil apapun untuk bersama dan berbincang. Itulah hal-hal yang dipikirkan Ravin dengan berbagai alasannya untuk pulang-pergi bersama yang, sayangnya tidak dimengerti Inara.
“Bos Ravin, selamat datang! Ini ruangan Anda sementara.”
Ravin memasuki pintu ruangan yang dibukakan oleh asistennya. Berjalan ke depan ke meja masih memerhatikan ruangan sekitar yang tampaknya masih baru. Samar- samar masih tercium bau cat baru. “Semua di sini baru?!.’’
)