Flashback

1703 Kata
“Inara!” Nadira langsung menghampiri Inara ketika melihatnya memasuki toko dan memeluknya. “gue kangen banget sama, lo?” “Sama gue juga.” “Lo, bener, baik-baik aja, kan?” tanya Nadira sambil memerhatikan Inara dari atas sampai bawah kakinya tetapi, dia tidak menemukan sesuatu yang aneh. “Tenang aja, sih! Gue baik, gimana sama toko-nya apa ada masalah.” “Gak ada masalah tapi, cukup banyak yang nanyain lo dan seperti biasa ada beberapa pasien yang pengen bikin baju tapi, minta lo yang desain.” “Ok, gak masalah!” jawabnya dengan senyum puas sepertinya, ketakutannya sebelum ke sini bukanlah apa-apa. Inara merasa lebih percaya diri dan merasa yakin bisa menghadapi orang lain. ** Nadira sesekali melirik Inara sambil meluruskan pakaian yang sedang dia atur dibadan patung boneka. Dia ingin bicara dengan Inara tetapi, masih belum ada waktu yang tepat sejak kedatangannya toko sudah dibuka dan keduanya mulai sibuk. Meski, tampaknya dia acuh tak acuh diawal tapi, bibirnya terkadang tak tahan ingin membuka mulut. “Akhh—ish, sial!” “Kenapa, Dir ?” “Ketusuk jarum,” sahutnya sambil menghisap jarinya sendiri. “Mbak Dira, sih, salfok terus,” sahut Gina sambil terkikik, pegawai di sana yang berdiridi belakang Nadira. “Untung, loh, bukan tangan saya yang kena!” “Berisik Gina, dasar ember bocor.” Ginu berdengung sambil memajukan bibirnya tanda protes, sedangkan Inara sendiri hanya ikut tertawa tetapi, dia sadar jika sahabatnya ini sepertinya tidak sabar untuk berbicara jadi, setengah jam sebelum waktu istirahat makan siang Inara dan Nadira pergi keluar terlebih dulu. Mereka menemukan rumah makan pribadi di luar komplek Mall agar bisa berbicara lebih nyaman. “Jadi, sebenarnya apa yang terjadi saat itu? Kenapa, lo segampang itu nikah sama laki, yang malah seharusnya jadi, kakak ipar, lo, Nar?” tanya Nadira sedikit menggebu-gebu, hatinya menjadi resah sendiri memikirkan pernikahan Inara. “Apa Elvan udah bisa dihubungi? Dia harusnya menyesal dan minta maaf sama lo, kan, Nara?” Bibir Inara tertarik tipis membentuk senyum tetapi, tidak sungguh-sungguh tersenyum dan hanya bisa memegang tangan Nadira dengan sangat erat, seolah ingin menyalurkan keluhannya tetapi, setelah menarik napas Inara mulai tersenyum dengan tulus. “Gue gak tahu apa-apa, Dir. Sialannya Elvan hanya pergi gitu aja tanpa alasan jelas dan ….” Nadira terdiam lama mendengar cerita Inara dari awal sampai akhir. Hatinya juga penuh kebimbangan apa dia harus bicara soal malam itu, ketika Elvan yang datang padanya tetapi, bagaimana dengan perasaan Inara setelah mendengarnya. Padahal dia juga sudah menghadapi situasi yang berat. Mata Nadira melirik Inara yang sedang makan dengan tenang tidak tampak wajah kusut dan sedihnya sebelumnya saat menceritakan kronologi pernikahannya. ‘Van, semoga lo gak pernah nyesel dengan semua tindakan lo,’ Batin Nadira ketika pikirannya melayang ke hari di mana Elvan mengetuk pintu rumahnya. Saat itu, masih sangat jadi pemandangan mengejutkan bagi Nadira melihat Elvan datang ke rumah kontrakannya. Karena meski, mereka bersahabat masih tetap bisa dihitung oleh jari kedatangan Elvan ke tempat pribadinya. Biasanya mereka lebih sering bertemu di luar atau dirumah Inara jika, ada kegiatan-kegiatan yang mereka selenggarakan seperti pesta barbeque-an. “Ada apa?” Itulah pertanyaan yang langsung diajukan Nadira. Elvan menunduk bingung menatap Nadira dengan mata sayu dan senyum pahit begitu menyedihkan siapa yang tahu dia langsung menarik Nadira masuk dalam pelukannya. Tentu saja Nadira pun terkejut dan berusaha melepaskannya tetapi, Elvan memeluknya makin erat, tidak membiarkannya. “Van, lo apa-apa’an lepasin gue.” “Gak, Dir! Biarin gue peluk lo! Sebentar aja.” Nadira menarik napas lalu mengangguk, sementara membiarkan Elvan memeluknya. Karena penasaran Nadira bertanya. “Kenapa lo nemuin gue? Besok lo nikah ngapain juga ke sini? Gimana kalo Inara sampai tahu, Van… hei. Bisa lo lepasin pelukan ini bisa-bisa gue mati, nih?” “Sorry, maafin gue.” Akhirnya Elvan melepas pelukannya tetapi, tidak membiarkan Nadira pergi menjauh, membuat Nadira sendiri harus mengerutkan kening ketika melirik kedua tangan Elvan masih mencengkeram bahunya. “Gue maafin tapi, lepasin ini!” Nadira menyingkirkan kedua tangan Elvan di kedua bahunya. “Sekarang, ngomong buat apa lo datang malem-malem begini?” “Tentu aja buat ketemu sama kamu.” Mata Nadira tiba-tiba membola sejak kapan sahabatnya ini membuat panggilan kamu. “Lo, sakit, Van?” “Aku gak sakit.” “Terus, apa yang aneh dari lo saat ini.” Nadira bukan hanya heran tetapi, mulai kesal dengan tingkah Elvan yang tidak jelas di depannya ini. “Apa sekarang lo lagi , mabuk? Van, inget bukannya besok lo bakalan nika—“ “Aku gak bisa nikah sama Inara kalo hati aku ternyata ada sama kamu.” Jderr! Rasanya seperti ada petir menyambar! Napas Nadira tiba-tiba langsung tercekat saja dan tidak tahu harus menjawab apa ataukah seharusnya memang dia tidak perlu menjawab apapun dan kata-kata yang keluar dari mulutnya hanyalah omong kosong. “Lo, gila, yah?” “Aku gak gila tapi, aku jadi gila karena gak bisa ngungkapin perasaan ini, Dir,” ucap Elvan dengan tampang menyedihkan bahkan, tubuhnya perlahan luruh ke bawah sampai berjongkok menyembunyikan wajahnya. Nadira memijat pelipisnya, dia tidak mengerti dengan keadaan yang sedang dihadapinya terutama pernyataan Elvan barusan. “Van, lebih baih lo pulang. Gue gak ngerti juga maksud lo apa kayak gini,” ujar Nadira sembari siap berbalik tetapi, segera tangannya dipegang Elvan. “Aku serius, Dir. Please..dengerin aku dulu!” Nadira tidak mau, dia hendak menghempaskan lagi tangan Elvan tetapi, sebaliknya tangannya semakin dicengkeram dan ditarik untuk berbalik hanya untuk dipeluk lagi. “Van, lo lepasin gue atau gue tampol lo benaran sekarang.” “Terserah, lo, Dir tapi dengerin aku sebelum itu.” “Van!” teriak frustrasi Nadira tetapi, dia tetap diam dalam pelukan Elvan. Napas Elvan kini tampak lebih tenang setelah beberapa saat lalu, masih dengan posisi yang sama dengan memeluk Nadira, Elvan kembali membuka mulutnya dan mulai berbicara tentang bagaimana perasaanya yang tiba-tiba bingung merindukan Nadira dan selalu memerhatikannya diam-diam. “Sejak kapan?” entah kenapa Nadira ingin menanyakan pertanyaan ini. “Entah kapan aku tidak yakin tapi, aku mulai tidak bisa menahanya saat kamu dekat sama Haris.” Nadira mendengus. “Lalu, perasaan kamu gimana sama Inara? Apa kamu gak inget, besok kalian harus udah nikah dan seenaknya … lo ngomong kayak gini!” kesal Inara yang selanjutnya mendorong Elvan menjauh darinya. Elvan menyentuh dadanya yang didorong Nadira, menunduk sedih memancarkan aura melankolisnya. “Kayaknya aku emang udah gila! Tapi, rasanya puas … aku udah jujur sama kamu. Aku hanya gak bisa berbohong terserah kamu percaya atau tidak dan soal pernikahanku sama Inara kamu gak usah khawatir.” Kini, malah giliran Nadira yang mulai berkaca-kaca menahan tangis yang bisa kapan saja pecah. Hatinya terasa diremas-remas dengan pernyataan Elvan saat ini. “Sebenernya mau lo itu apa, sih, Van?” “Aku pengen kamu tahu, Dira. Aku gak mau nyesel hanya karena gak bisa berbuat apa-apa dan liat kamu pergi sama cowo lain.” “Nyesel, gak mau liat aku sama cowo lain? Apa lo masih waras?!” Nadira mulai kembali emosi dan tidak habis pikir. Air matanya pun terus mendesaknya keluar. “Lo, apa lo tahu gimana perasaan gue sama lo bertahun-tahun ini? Apa selama ini lo buta sama perhatian yang gue berikan? Dan, lo hanya baru sadar saat gue nyerah dan pengen move-on dari lo.” “A-apa?” Elvan cukup terkejut dengan pernyataan Dira saat ini tapi, juga tidak bisa melepas perasaan lega. “Berhenti di sana!” teriak Nadira saat melihat Elvan, yang mulai berjalan selangkah sambil merentangkan kedua tangannya. “Tenangkan pikiran lo dan segera balik pergi! Gak ada lagi yang perlu kita omongin.” “Tapi, Dira tadi kamu baru aja ngomong kalau sampai saat ini.” “Gue nyerah, Van. Nyerah sebelum cinta gue makin nyiksa diri gue sendiri.” “Tapi, kenapa? Kenapa selama ini lo, cuman diem aja Dira?” “Terus, lo pengennya gue gimana? Teriak-teriak sampai hubungan lo sama Inara hancur? Apa kalo sampe itu gue lakuin… lo bakal sama gue? Ngga! Ingat, Van besok lo bakal nikah Inara. Lupain lo pernah ngomong kayak gini sama gue.” “Ngga akan. aku ke sini buat jujur buat kamu?!” Nadira menghapus air matanya yang baru saja jatuh terdesak keadaan. Dia tidak membiarkan dirinya sendiri seperti lelucon. Memiliki perasaan sendiri pada sahabatmu sendiri itu sangat menyiksa sampai tidak sadar sejak kapan cintamu mulai datang dan mulai ingin saling memiliki tetapi, sayang itu hanya angan belaka. Nadira tahu dan sadar omong kosong yang baru saja dikatakan Elvan tidak berlaku untuntuk membuat keadaan menjadi baik tetapi, hanya akan menjadi pemicu keretakannya saja. “Pergilah! Aku lelah. Harusnya lo ngerasa malu sama Inara, Van. Dia cewek baik-baik dan saat ini juga dia mungkin lagi gak bisa tidur cuman buat nunggui pernikahan kalian. Jangan jadi g****k, cepatlah sadar.” Seakan menjadi bodoh, Elvan menampar dirinya sendiri dengan suara tamparan yang keras. Nadira sendiri terkejut bukan main tapi, dia tidak melakukan apapun hanya memekik dengan bola mata membola tidak percaya dan raut wajahnya kembali datar ketika Elvan membuka suaranya. “Aku tau bakal kayak gini tapi, aku gak nyangka penolakan kamu gitu kuat.” Nadira menarik napasnya, mencoba tersenyum tak jelas lalu meraih tangan Elvan. Memegangnya seperti seseorang yang menghibur sahabatnya. “Elvan, gue masih gak ngerti apa maksudnya lo ngungkapin perasaan lo sama gue tapi, …gue udah denger perasaan lo dan terima kasih. Apa itu cukup? Gak aka nada yang berubah dari hubungan kita. Lo sama Inara adalah sahabat gue …lo tau,kan gimana bersyukurnya gue punya kalian.” "Terus gimana dengan hati aku yang rasanya hancur gini." “Pergi! Gue l⁶," ujar Nadira karena merasa Elvan tengah bersikap keras kepala. Nadira melangkah mundur tetapi kemudian berbalik dan mulai berbicara lagi. Harusnya lo ngerasa malu sama Inara, Van. Dia cewek baik-baik dan saat ini juga dia mungkin lagi gak bisa tidur cuman buat nunggui pernikahan kalian. Jangan jadi g****k, cepetlah sadar.” "Gue sadar, Dir. Sadar kalo perasaan itu harus jujur dan gak pantes buat disembunyiin. tapi, gue tau ini salah ini bukan yang tepat sekali lagi gue cuman pake dorongan hati gue... " "Yah, dorongan hati di mana lo gak pernah merhatiin perasaan gue, juga Inara. lo cuman mikirin diri lo sendiri. cowok paling egois yang pernah gue kenal. Makasih buat selama ini tapi, lebih baik kita gak usah berteman lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN