Meet her!!

1687 Kata
Cuaca kembali mendung di sore hari. Ravin yang berada diruangannya di lantai teratas cukup menyita perhatiannya karena kini yang ada dipikirannya apa Inara sudah pulang atau masih dibutiknya? Apa mereka bakal makan dirumah atau makan diluar saja? Ravin mulai jenuh dan ingin segera pergi tapi, ini masih jam empat sore kurang dari satu jam lagi gilirannya pulang dan seharian duduk dan berkutat dengan pekerjaan kantor tidak sama dengan hidup santai dirumah. Saat berpikir seperti itu, terdengar ketukan dipintu, Ravin hanya bergumam cukup keras untuk menyuruh orang dibalik pintu untuk masuk. “Maaf, saya bawa berkas yang masih harus ditandatangani oleh Anda, Pak!” sahutnya sambil menegakkan postur tubuhnya. Ravin mengerenyit heran dengan tindakannya memangnya wanita ini pikir dia sedang berhadapan dengan siapa sampai tampak begitu tegak atau sebenarnya tegang tetapi, tidak terdengar atau terlihat wanita itu cemas malah terlihat dengan postur ini dia adalah orang yang sombong. “Ok, letakkan di sini!” Sarah mendekat dengan masih postur tegak, tidak senyum kesopanan atau keramahan bahkan saat pertama kali bertemu. Dia dengan wajah datarnya dan hanya sedikit menunduk ketika tatapan mata Ravin bertemu dengannya. ‘Ada yang salah atau aku yang terlalu overthinking..hah. Biar saja dulu! Lagian aku belum kenal orang ini sepenuhnya.’ “Pak, Saya kembali ke tempat saya lagi,” ucapnya mulai tidak nyaman ketika hanya keheningan yang tersisa karena Ravin tidak mengatakan apapun lagi membuatnya kikuk. ‘Sial! Bos baru ini nyeremin banget!! Pak Elvan, bapak di mana? Aku rindu,’ ucap Sarah dalam hati sambil berbalik pergi. “Dasar wanita aneh,” lirih Ravin sambil mengambil berkas yang perlu ditandatanganinya tetapi, dia meletakkannya lagi, memilih mengambil smartphones-nya dan mendial nomor Inara. Tidak sampai tigakali tanda dering berbunyi Inara sudah menjawabnya. “Halo, Say. Kerjaan kamu udah bereskan, Mas jemput ya?” tanya Ravin to the point. “Iya, Mas. Kerjaanku emang udah beres, sih?! Tapi …” Inara melirik Nadira yang sedang menyelempangkan tas-nya dan siap pergi. “Aku udah janji mau makan malam sama temen-temenku, Mas.” Ravin itu orang yang tidak suka diatur, apalagi harus mengatur-atur orang lain tetapi, entah kenapa dia tidak mau membiarkan Inara berlaku seperti ini. Dia sudah menikah, seharusnya dia bisa mengatur waktu. Bisa saja,kan makan siangnya diaberkumpul bersama teman-temannya dan sarapan serta makan malam bersama suaminya. “Ok, untuk hari ini, yah? Besok malam kita keluar bersama.” “Iya, Mas! Terus, Mas mau makan malam di mana?” “Di mana lagi! Aku makan di rumah saja.” “Ah, ya, kalo begitu maaf, ya, Mas. Mala mini Mas harus sendiri dulu. Ini cuman buat hari ini saja, kok. Besok kita makan bersama lagi,” ujar Inara dengan rasa tidak nyaman. Sayang dia sudah terlanjur janji bukan cuman dengan Nadira tetapi, teman-temannya yang lain. “Ok, Sayang. Gapapa. Jangan pulang terlalu malam, yah?” “Tidak masalah, Bye!” Inara segera menutup teleponnya. “Suamimu?” tanya Nadira yang dibalas anggukan oleh Inara. “Dia orang baik, kan?” tanyanya lagi dengan mata, yang sejujurnya tak puas. “Baik banget,” jawab Inara dengan yakin lalu, menggandeng Nadira keluar dari butiknya dan membiarkan karyawannya yang lain tetap ditempat mereka sampai waktunya tutup toko. Sedangkan, Ravin harus berkutat lagi dengan pekerjaan sampai waktunya dia pulang. Sekarang tidak hanya ada Nadira dan Inara, dua teman mereka yang lain datang dengan hebohnya dan penuh suka cita. Yang pertama Elisa, si Sosialita yang hobinya arisan diluar negeri dan Jessica, calon ibu selain Inara yang juga sudah menikah dan tengah hamil lima bulan meski,begitu dia masih saja terlihat cantik dan perutnya sama sekali tidak terlihat hamil saking kecilnya. “Akhirnya, kita ketemu juga,” ujar Elisa sambil mengambil tempat duduk.”Gila aja, Inara lo ngilang bak buih dilaut setelah pernikahan yang bikin orang khawatir sekaligus heboh.” Jessica menepuk bahu Elisa, menyuruhnya tenang karena suaranya yang menggelegar. Maklum, ibu hamil ingin dalam kondisi yang tenang. Jessica menyapa kedua temannya yang lain dengan lebih tenang tetapi, tatapannya tentu jatuh pada bintang sorotannya hari ini. mereka sebenarnya sungguh tidak bisa tahan sejak awal ingin bertemu dan bergosip. Sayang, objecknya malah menghilang begitu saja. Beberapa waktu lamanya akhirnya Inara menceritakan semua dari awal sampai akhir dan tentu saja kedua temannya yang lain ikut marah dan mulai bersimpati pada Inara. Tidak menyangka pria yang sudah dipacari sahabat mereka malah dengan tega pergi di hari pernikahan pula. “Lalu, apa dia bener gak ngasih kabar kamu sama sekali?” tanya Elisa yang jelas dengan nada menggebu dan kesal. “Gak sama sekali. Aku juga gak berharap lagi.” “Dasar cowok gila! Kenapa dia jadi berengsek gitu, sih? Yakin, dia bukan Elvan yang kita kenal.” “Atau, apa dia sebenernya punya cewek lain? Makanya kabur?” Kali ini tebakan Jessica si calon ibu ini hampir benar dan bukan Inara yang terkejut melainkan Nadira yang sampai tersedak minumannya. “Hey, kenapa lo harus sampe harus batuk, sih?” Nadira mengusap mulutnya. “Ya, kaget aja?!” “Kaget apa’an? Denger si Elvan punya cewek lagi heh, … Dira, Lo beneran gak tahu apa-apa, kan?” tanya Elisa sebenarnya asal saja tidak serius. “Ya, gak gitu juga. gue kaget ama suara lo yang gede.” “Hah, harusnya yang kesel itu bukan lo tapi, si Elvan berengsek itu! biarin aja gue doa’in biar batuk keselek gak kelar-kelar.” “Sadis, lo!” Jessica menepuk lengan Elisa yang sedang mengumpat tapi, juga sedang mencomot makanan di piringnya. “Ish, lo yang pedit sih Jess! Minta dikit aka gak boleh,” dumel sambil menarik pandangan dan melihat Inara lagi. “lalu gimana ama suami lo, sekarang? Dia juga gak kalah cakep, deh ama si Elvan… beruntung banget, sih, lo. Bisa-bisanya gue hampir naksir dia lo pas pertama liat. Gak nyangka si Elvan punya abang ganteng banget.” Mendengar pujian itu untuk suaminya tiba-tiba begitu merasa sangat senang dan bangga. Pipinya pun ikut merona, apalagi dengan semua perhatian dan tindakan Ravin yang lembut juga penuh pengertian. Inara jadi, ingin segera pulang dan bertemu suaminya yang pagi tadi sangat manja hanya karena dipaksa harus bekerja. ‘Mas, Ravin lagi ngapain, yah? Apa beneran dia udah makan? Hah, jadi nyesel sendiri ninggalin Mas Ravin belom pagi ini juga, aku nolak berangkat bareng.’ Sedangkan dibelahan bumi yang lain Elvan yang kabur kini, sedang berjalan-jalan sendiri melihat-lihat toko dipinggir jalanan sungguh, tak jelas mau ke mana. Pikiran gilanya masih ke hari di mana dia mengambil keputusan tak jelas. Ingin kembali pun rasanya masih sangat malu dan tidak berani bahkan, sampai tidak memiliki alasan yang jelas kenapa memilih pergi. Akhirnya, karena lelah Elvan memilih duduk disebuah café, yang menghadap jalanan dia memesan kopi dan beberapa snack ringan. Duduk seorang diri sudah seperti seorang pemikir padahal otaknya kini malah sangat kosong, yang dia ingat hanya sosok Nadira juga Inara, merasa terjebak oleh perasaan cinta. “Hi, Jo. Please help me!” “Ah, Ok. What can I help” Terdengar seorang wanita berbincang tengah meminta tolong dibelakang punggung Elvan di mana dia tengah duduk dan , apa yang bisa terlihat si wanita yang dimintai tolong setengah frustrasi. Dia memegang kertas dengan wajah enggan tetapi, karena temannya tampak sangat memelas dia tidak berani menolak karena kasihan. “Sir!” Elvan menoleh karena merasa ada seseorang tengah menepuk bahunya dan apa yang dia lihat saat berbalik adalah tatapan mata yang bersirobok. Tidak ada dari keduanya yang membuka mulut terlebih dulu sebelum diintrupsi oleh wanita yang sebelumnya tadi meminta tolong. “Jo, are you, Ok?! Jo!” Jovanka sama sekali tidak bergeming dengan suara panggilan itu sebaliknya, melihat bibir Elvan bergetar hendak memanggil namanya. Tubuhnya dengan cepat melonjak bangun dan berlari. Elvan sendiri terkejut dan ikut berlari sambil memanggil-manggil namanya sampai akhirnya, dia bisa menyusulnya karena terhalang datangnya sebuha mobil. Sangat cepat tangan Elvan menyelamatkannya sambil menahannya dengan saat erat. “Jovanka! Hah …hah… akhirnya, kamu gak bisa lari lagi.” “Lepas, Van!” Jovanka berusaha melepas cengkeraman Elvan di lengannya. Dia tidak percaya, dirinya akhirnya tidak bisa kabur. “Lepasin, gue, Van!” “Ngga, gak mungkin aku lepasin kamu kecuali, kamu mau tenang dan kita bisa bicara,” ujar Elvan dengan sangat tenang. Jovanka melihat ke sana-kemari masih ingin melarikan diri, hatinya masih belum tenang takut. Terlalu takut malah jika, bertemu dengan pandangan orang itu. Tetapi, akhirnya ketika dia melihat lengannya yang dicengkeram juga tidak ada orang yang dimaksudnya dan hanya menemukan tatapan Elvan yang kusam, Jovanka bisa menarik napas lega dan bersedia mengangguk mau mengikuti keinginan Elvan, mantan calon adik iparnya. “Ukh, l-lepas Van hah,” lirih Jovanka dengan pernapasan yang terasa berat. “Ok, a-ayo kita bicara.” Elvan yang melihat kejanggalan tersebut dengan segera melepas cengkeramannya dan mulai merasa khawatir. “ Are u ok? Jovanka, apa kamu sakit?” Jovankan menggeleng, menarik napas panjangnya dan akhirnya bisa lebih baik. “Ayo, pergi dari sini dulu,” ujar Jo melihat Elvan yang, kini sudah sangat berubah. Lima tahun tentu saja bukan waktu yang sebentar melainkan, cukup panjang di mana. Mungkin banyak hal sudah berubah bahkan, jika itu termasuk dirinya. “Duduklah, dulu! Aku siapkan air minum,” ujar Inara seraya berbalik pergi masuk lebih dalam ke kamarnya menyimpan syal yang membelit lehernya. Mereka berada disebuah rumah yang sederhana “Tidak perlu hal merepotkan seperti itu. lebih baik kamu segera duduk dan ayo, bicara serius,” ucap Elvan penuh keyakinan menegakkan punggungnya, membangun kepercayaan. Jovanka tidak mengindahkannya dan tetap berlalu pergi ke kamarnya, meminum obatnya sebelum kembali keluar dan pergi ke dapur membawakan Elvan minuman kaleng lalu, duduk saling berhadapan. Akhirnya Elvan sendiri tidak bisa menolak dan mengucapkan terima kasih. Jovanka merasa sedikit puas tetapi, tidak berani menatap Elvan lebih lama namun pertanyan yang ini pun tak bisa dia tahan. "Apa kamu sendiri? Bagaimana kabar Ravin?" Sebenarnya tidak ada yang aneh jika, Jovanka langsung menanyakan kabar kakaknya,Ravin tetapi,dia juga tidak jelas. jika,mengingat Ravin yang tukang mengomel itu , Elvan jadi ingat dengan nasibnya sendiri sepertinya bukan hanya Inara dan orang tuanya yang akan marah tapi,Ravin. kakaknya juga yang pasti akan terkena dampaknya, gara-gara desakan orang tua mereka soal pernikahan. 'Rasanya aku harus minta maaf,saat pulang nanti dan .. bertemu Jovanka disini akan jadi hadiah terbaik buat Mas Ravin. luar biasa!!'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN