Suasana menjadi hening sejenak setelah mendengar semua penuturan mengejutkan Jovanka tentang alasan kepergiannya. Bahkan, Elvan sendiri tidak bisa mengatakan apapun atau sebenarnya sama sekali tidak pantas untuk berbicara apalagi harus menyudutkanya, tidak juga membela atau berada disisinya setelah apa yang dilakukannya. Dia tidak berhak bagaimana pun seharusnya kakaknya, Ravin yang mendapat pengakuan seperti ini.
Yang tersisa baginya hanyalah, perbandingan dari sebuah alasan kepergian mereka melarikan diri dari pernikahan mereka. Alasan kepergianya lebih buruk dan terdengar seperti sebuah lelucon. ‘Aku ini bajingann sekali tidak seharusnya aku melarikan diri dari pernikahanku dengan alasan yang kupunya seharusnya aku menjelaskan semuanya saja pada mereka.’
“Gimana kabar Ravin sekarang?” tanya Jovanka akhirnya setelah waktu yang cukup lama dengan mata yang jelas ragu untuk menanyakan hal ini.
Mendengarnya Elvan mencoba menarik bibirnya membentuk senyuman, membuat susasana lebih dingin sama sekali tidak mengisyaratkan jika, semua baik-baik saja.
“Mas Ravin sepertinya, dia yang sekarang sudah baik-baik saja.”
Jovanka yang mendengar jawaban itu, merasa masih ada sesuatu yang salah. “Apa dia pernah gak baik-baik aja?”
Elvan mengangguk. “Sejak kepergian Mbak, Mas Ravin jauh dari kata baik-baik saja, dia sempat sangat frustrasi karena bukan hanya karena – …” Tiba-tiba saja Elvan menelan ludahnya pahit, dia sakit kepala lagi memikirkan jika, kakaknya bisa sangat frustrasi ditinggalkan diatas pelaminan tanpa kabar dari calon istrinya lalu …, bagaimana dengan Inara. “Mas Ravin pernah sekali mengalami kecelakaan besar karena dia gak pernah berhenti untuk mencari kamu, Mbak.”
Rasanya ada sesuatu yang meremas jantung hati Jovanka mendengar jawaban terakhir yang diucapkan Elvan dengan wajah datarnya. Sesulit itukah yang harus dihadapin Ravin karena ditinggalkan olehnya? Akhirnya air mata Jovanka tidak lagi tertahan, itu menjadi tangisan terendamnya penuh penyesalan dan bahkan, sangat berharap saat ini juga dia bisa berada di depan Ravin, kekasih hatinya yang tidak pernah dia lupakan sampai saat ini.
Melihat tangisan Jovanka, hati Elvan juga makin kacau sendiri teringat Inara yang selama ini sebenarnya sudah menjadi kekasih yang sempurna baginya dan entah kenapa? Elvan mengusap wajahnya, dia juga tidak bisa menghilangkan bayangan Nadira dari benaknya jika, seperti ini sepertinya dia mencintai dua orang wanita dalam waktu bersamaan. ‘Berengsek! Sudah seperti ini saja aku masih belum bisa menentuka—ah, aish! Sialan! Nadira tidak pernah membiarkanku memilihnya,aku sendiri saja yang gila menginginkannya.’
“Mbak,” panggil Elvan. Seharusnya mengingat kakaknya yang juga masih sendiri dan sepertinya masih mencintai wanita yang bernama Jovanka ini. kenapa tidak membuat mereka bersama lagi, mereka masih punya hanya harapan tidak sepertinya. Jika menyadari hal itu Elvan kini penuh penyesalan, apa bisa Inara memaafkannya begitu juga dengan Nadira? Menghela napas kasar, Elvan mencoba menepis urusannya sendiri dan focus pada jawaban Jovanka. "Kembalilah temui Mas Ravin."
Jovanka menghapus airmatanya dan melihat Elvan dengan senyum tipisnya. “Aku gak percaya diri lagi untuk bisa berdiri dihadapannya. Kalau sekarang dia udah baik-baik itu udah cukup, asal dia bahagia.”
“Mbak, tahu apa kalau Mas Ravin bahagia? Apa Mbak sama sekali gak mau ngejelasin semuanya…”
“Gak semudah itu, Van. Aku takut! Takut Mas Ravin bakal nolak aku. Kalau itu terjadi, gimana bisa aku hidup!?” ucapnya penuh emosi yang terpendam. “Lebih baik mati saja karena penyakit sialan ini!”
Mendengar kata-kata yang seperti itu, Elvan cukup takut dadanya tiba-tiba saja berdebar kencang sangat mengerikan seorang wanita memilih mati hanya karena terlalu takut ditolak. “Mas Ravin itu sangat baik, mungkin aja dia maafin, Mbak! Meski, ditolak awalnya … gak ada yang mustahil kalau hubungan kalian bisa balik kayak semula jika memang masih ada cinta.”
Jovanka tidak yakin. “Ini sudah lima tahun berlalu,” jawabnya penuh tawa miris, yang bersamaan penuh air mata.
“Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan saja.”
“Terimakasih, sebenarnya ini pertama kalinya …aku bisa bicara panjang lebar soal masalah ini bahkan, aku gak berani bicara jujur seperti ini dengan kedua orangtuaku, Van.”
“Syukurlah! Kalau gitu Mbak pikirin lagi sekarang, Mbak udah sembuh jangan takut buat kembali buat ngeraih kebahagian, Mbak sendiri….” ‘karena gue juga setidaknya bakal ngelakuin hal itu! gue harus minta maaf dan mencoba menata semua hal bersama Inara dari awal… yah, Inara. Dia cewek yang seharusnya gue bahagiain bukan kecewain,’ ujar Elvan dalam hati sambil menetapkan pilihan.
**
Rasa senang dari tiap orang itu berbeda-beda tetapi, tidak dengan apa yang akan jadi pemicu kebahagian itu terkadang sangat mudah atau sepele seperti hanya dengan melihat seorang idol dilayar kaca atau lebih spesifik melihat orang yang kita sukai,cintai berdiri di depan kita dengan penuh senyuman hal itu cukup menghilangkan awan kelabu dari rasa marah atau sedih.
Dan, entah sejak kapan hal itu juga berlaku hari ini untuk Ravin. Pikirannya yang semula ruwet dengan pekerjaan juga mood-nya yang tidak menentu akhir-akhir ini selalu menjadi lebih baik ketika hanya bisa melihat Inara di depan matanya. Beberapa hari ini pekerjaannya sungguh sangat menyita perhatianya, hanya dihari pertama dia bisa kembali tepat waktu dan giliran keesokan harinya dan beberapa hari selanjutnya selalu ada yang membuat mereka gagal makan malam bersama, yang utama sebenarnya menghabiskan waktu sedikit lebih banyak.
"Mas, natapnya udah donk!" ujar Inara sedikit tidak tahan sejak, suaminya ini pulang matanya tidak lepas memandanginya membuatnya setengah malu dan setengahnya lagi sebal. "Ayo, cepetan makanannya di makan. Duh,entar sup nya dingin gak enak."
"Iya," jawabnya tetapi,dengan pandangan yang masih menatap Inara dan hanya sesekali saja beralih pada piring makannya.
"Mas,sebenernya ada apa,sih dimukaku, heh? Jangan diliatin terus akunya." Makin lama Inara menjadi semakin aneh,dia mencoba meraba-raba wajahnya mungkin ada sesuatu yang membuat Ravin tidak berhenti menatapnya tetapi,sepertinya tidak ada apapun. Wajahnya sudah ia cuci dan sama sekali tanpa make-up.
"Gak,ada apa -apa kok di wajah kamu, cuman gimana donk?!" sahutnya seolah bingung dengan tampang sok imut."Kamu cantik banget, bikin aku kangen terus sampe sayang kalau dilewatin. Karena beberapa hari ini aku udah ngelewatin hal itu aku jadi kesal."
"Ish,Mas lagi nggombal,yah!" balas Inara dengan jantung nya yang tiba-tiba saja berdetak kencang bahkan, lebih dari sebelumnya wajahnya mulai merona merah antara malu serta resah tak percaya. "Udah ah,jangan diliatin terus gitu, aku tuh biasa aja malah ini gak pake apa-apa. Cantik apanya?!" lanjut Inara kini memasang wajah pura-pura sebal dan menyangkal.
"Sayang kamu tahu ...seseorang itu bakal selalu cantik dan istimewa di mata orang yang mencintai dan mengaguminya. Itu termasuk kamu,Say. Di mataku ini kamu istimewa sampai aku tiap hari,tuh jadi kangen."
"Jangan aneh-aneh sampe bilang kangen segala.padahal kita,kan tiap hari ketemu dan hanya terhalang waktu beberapa jam dan itu wajar. Mas kan kerja aku juga."
Ravin kecewa dengan jawaban Inara, kan dia sebenarnya ingin dikangenin juga. Akhirnya, Ravin hanya bisa menyuap makanannya cukup banyak membuat pipinya menggembung menunjukan kekecewaanya.
"Emang kamu gak kangen juga,yah,sama,Mas? Padahal beberapa hari ini kita udah lama gak ngabisin waktu bersama," ujarnya setelah memastikan makanannya tertelan habis.
Inara sedikit terkejut juga dengan perubahan suasana yang dibawa Ravin ini. Sungguh,dia tidak bermaksud buruk dengan jawaban seperti itu. "Mas, aku juga kangen, kok?!"
" Bohong ah!" sahut Ravin menyerah meletakkan sendok makannya. "Kangen juga kamu engga apalagi cinta sama aku."
Ucapan Ravin membuat Inara tertegun, sulit untuk sekadar menelan ludah saja.
Ravin sebenarnya sedang sakit kepala gara-gara beberapa mulut pegawainya yang tidak sengaja ia dengan mereka menyebutkan begitu menyayangkan pernikahannya bersama Inara dan kepergian Elvan yang tanpa alasan serta, seperti dukun saja mereka memprediksi pernikahannya tidak akan bertahan lama. padahal, kan keinginan Ravin pernikahannya akan berlangsung sekali dan selamanya.
Tidak hanya itu juga tetspi, macam-macam issue yang tak jelas itu entah berasal dari mana seperti dia, Ravin yang memaksa ingin menikah dengan Inara lalu, kemudian menyingkirkannya (Elvan) dari perusahaan karena iri. wah, luarbiasa sekali para penggosip itu ingin rasanya memukul wajah mereka Namun, setelah kembali ke apartemen dan melihat wajah cantik Inara. Kemarahan itu terasa hilang dan mereda. Siapa yang peduli dengan orang-orang itu. sebaliknya tiba-tiba saja hatinya malah melantunkan perasaan rindu yang banyak pada wanita dihadapannya.
"Mas!"
"Apa kamu masih suka sama Elvan?"
Sungguh sebuah pertanyaan yang membuat Inara terpaku diam.Gimana hal itu bisa disebutkan Ravin padahal sebelumnya mereka selalu menghindari untuk membicarakan hal itu. "Apa aku harus menjawabnya?" tanya Inara balik.
Ravin menggeleng dengan kepala menunduk dan menghabiskan makanan dipiringnya malas untuk kembali bicara. "Tidak apa tidak perlu dijawab jika, itu terlalu menyakitkan bagiku." Yah, siapa juga yang tidak takut mendengar jawabannya, sekarang dia suaminya sedangkan Elvan mantannya yang dipacarinya tiga tahun ini. kenangannya tidak akan mudah hilang.
Mendengar jawaban dingin dari Ravin, Inara pun tidak mengejar lagi pembicaraan ini. dia turut menunduk dan mulai kembali sibuk menghabiskan makanan dipiringnya.
Keadaan sepi dan sunyi diantara pengantin baru ini dan masih berlangung sampai mereka berada di tempat tidur. Inara melihat Ravin baru saja menutup buku dan laptop dipangkuannya jelas sekali dia tampak lelah. " Mas!" panggil Inara sedikit ragu.
Ravin hanya menjawab Inara dengan gumaman, tubuhnya sudah merosot jatuh ke dalam selimut dan hampir menutup matanya. Ravin sudah tidak memerhatikan lagi istrinya, Inara seolah dia tidak lagi percaya diri dengan keadaan rumah tangga mereka yang berlangsung padahal jelas,keduanya harus membuat rumah tangga mereka ini berhasil.
"Mas,aku minta maaf." Inara tahu diri dia bersalah bukan hanya merasa tapi, benar adanya. Dia sepenuhnya belum menjadi istri Mas Ravin lahir maupun batin.
"Kenapa harus minta maaf?! aku dengan sabar menunggu kamu karena ...aku gak akan mudah ngelepasin sesuatu yang sudah jadi milikku."
"Terima kasih, aku juga sedang bersungguh sungguh berusaha untuk menyiapkan hati dan diriku buat, Mas. agar aku sendiri juga tidak menyesal."
"Terus sampai kapan?" Kali ini Ravin tidak lagi hanya ingin menunggu tetapi, menetapkan waktunya. Sebut saja inilah Ravin dengan kodratnya sebagai seorang pria, yang menuntut tidak hanya ingin memandang saja tetapi, juga ingin mengalami rasanya memiliki wanita di depannya seutuhnya meski, mengatakan masih bersedia menunggu tetap saja perlu ada batasan waktu sampai kapan. "Satu hari, satu minggu, sebulan atau setahun lagi?!"
Inara tidak bisa menjawab, kepalanya jadi penat sendiri apalagi setelah tiba-tiba Ravin kembali berucap.
"Aku, kan gak cukup sama bibir kamu saja. Suami kamu ini punya hasratnya sendiri yang harus dipenuhi seperti juga perut yang perlu diisi makanan." Lalu!setelah mengatakannya Ravin segera menyelimuti tubuhnya dan berbalik memunggungi Inara.
Kepala Inara berasap, wajahnya memerah bukan hanya karena tersipu dengan kejujuran Ravin tapi, juga marah. Matanya tajam rasanya ingin menghancurkan punggung orang yang baru saja membelakanginya. Giginya bergemeletuk, tsngannya mengepal seolah tengah meremas sesuatu."Ukhh!" dengusnya lalu turut berbalik saling memunggungi