Karakter buruk

1878 Kata
Di sinilah Elvan sekarang di depan pintu rumah Jovanka. Dia sudah memikirkan untuk membujuk wanita itu agar pulang kembali bersamanya meski, dia juga tidak punya alasan jelas untuk membujuknya karena belum tentu disaat kembali Ravin, kakaknya bisa menerima kembali Jovanka Tetapi, mengingat kehidupan kakaknya yang belum juga menemukan wanita lain selama lima tahun ini , Elvan setengah yakin jika,kakaknya masihlah mencintai dan mengharapkan mantan kelasihnya kembali ke pelukannya. Memikirkannya saja tiba-tiba membuat semangatnya naik. Benar saja melihat kebahagian orang lain dengan tulus, kita pun akan ikut senang. "Ini bakal bagus kalo sampai Mas Ravin balik lagi sama Jovanka, Mommy juga gak bakal khawatir dan pernikahan aku gak bakal ada ganjalan lagi...' Elvan dengan pikiran sederhananya, yang tidak tahu apa yang menantikannya. Bahkan,saat ini senyumnya semakin lebar ketika melihat Jovanka baru saja keluar dari rumahnya. "Mbak Jo!" Jovanka tersenyum disertai keluhan dalam hati. Rasanya masih berat untuk bisa bertemu tanpa merasa malu meski, Elvan bukanlah Ravin tetapi, masih saja keduanya berhubungan dekat. "Panggil Jovanka,saja ...kita gak lagi di Indonesia. Terus sebelumnya, kamu juga masih panggil Jovanka, juga." Sebalnya dengan kerutan dikening. Tampak wajah Elvan segera berubah menjadi sedikit malu dan bingung. "Yah, setelah tahu kebenarannya aku harus kembali sopan, kan?! Mungkin saja Mbak bakal segera balik lagi sama Mas Ravin." "Kamu terlalu menghayal, diberi maaf Ravin saja. Aku sudah berterima kasih," jawabnya sederhana dan jujur. Langkahnya juga tidak berhenti begitu saja setelah terus disejajari Elvan. Jovanka hanya meliriknya tak yakin tetapi,bukan todak bersemangat. "Mbak,ayo,balik ke indo." Pinta Ravin bukan tiba-tiba tetapi,sudah menjadi agenda rencananya. "Aku bakal bantu Mbak Jo buat balikan lagi sama Mas Ravin. Aku sungguh-sungguh dan yakin. Mbak Jo masih punya peluang buat balikan lagi sama Ravin, dia masih cinta sama Mbak." "Itu hal gila, Van," sahut Jovanka dengan raut wajahnya yang terkejut meski, otaknya berpikir untuk tak pernah kembali tetapi, dalam hatinya dadanya terlalu menggebu-gebu siapa bilang dia tidak pernah ingin kembali. "Gak ada yang gak mungkin, Mbak Jovanka harus pikirikan lagi!" "Kesalahanku terlalu besar!" Jovanka menatap jalanan di depanya dengan tatapan nanar. "Sekarang waktunya kamu pergi, Van. Aku masih punya banyak urusan lain," ujarnya sambil setengah melarikan diri ,tidak jauh dari tempat mereka berdiri adalah halte bis dan sungguh kebetulan bis yang dibutuhkan Jovanka baru saja tiba dan berhenti menunggu penumpang. Elvan sendiri tidak mengejarnya, tidak apa-apa jika saat ini Jovanka masih belum mau pulang tapi, cepat atau lambat dia pasti bisa membujuknya. Elvan pun sebenarnya bukan hanya berpikir tentang kebahagian kakaknya tetapi, kekhawatirannya sendiri tentang bagaimana dia bisa kembali dan menghadapi semua orang setelah keputusan perginya yang egois. 'Andai kamu juga tahu, Mbak. Kesalahanku juga tidak lebih besar dari kamu dan kamu bakal menertawakan kebodohan kita yang sama." "Aaaakhhh!" Tiba-tiba Elvan berteriak sambil berputar-putar melepas beban dan kepenatan pikirannya yang menyusahkannya berminggu-minggu lamanya ini. "Sir, what's happen? Why are you shouting?" Seorang pria bule dengan kepala botak dan tengah memegang minumannya bertanya penuh dengan wajah waspada, sorotan tajaman pada perilaku Elvan yang sudah mengganggu ketertiban umum. "Sorry, Sir!! Elvan segera meminta dengan senyum ramahnya. "Nothing happened, this ... i'm sorry once again." Pria botak itu,hanya meliriknya dengan sinis kemudian berlalu pergi begitu saja. Elvan dengan bijak dan hati penuh rasa bersalah memilih tetap rendah hati penuh senyuman dan keramahan sebelum dia melihat orang itu benar-benar pergi akhirnya bisa bernapas lega. "Sialan!! Dasar buat malu aja," ujarnya sedikit malu tetapi,puas. "Setelah ini aku harus pergi ke mana lagi??" tanya Elvan penuh rasa bingung. Di depannya kini terbentang jalan raya yang luas khas Amerika. Cuaca yang panas dan keadaan penuh padat dijalan raya tetapi, tidak sampai di negeri tercinta yang macet di mana-mana. Hal gila apa yang sebenarnya yang dibuat Elvan selama bekerja di sini. Ravin paling gak suka untuk menyelesaikan pekerjaan orang lain. Tentu saja karena cara yang akan dia pakai berbeda dengan orang sebelumnya, baik-baik saja jika lawan atau kawan bisnisnya bisa menerima pembaharuan tetapi,jika tidak itu bisa jadi menimbulkan kesulitan yang baru. ‘Sangat menyusahkan! Orang-orang ini … hah,’ desah Ravin dalam hati, sangat kesal dengan yang terjadi kali ini. Ravin mendongak melihat dua orang di depannya, yang pertama asistennya dan yang kedua sekertarisnya. Seharusnya kedua orang ini bisa lebih baik memberinya-schedule pekerjaan entah itu yang berada di dalam atau diluar perusahaan. Bagaimana bisa ada jadwal pertemuan dengan dua klien dalam waktu yang bersamaan dan lebih tidak masuk akal lagi. Keduanya orang-orang penting di mana perusahaan mereka sudah saling berkaitan erat …ah, entah itu perusahaan mana tetapi, jika sudah mengadakan perjanjian semua harus ditepati. “Tubuhku tidak akan bisa dibelah dua, kalian urus. Buat salah satu dari mereka mengundurkan jadwalnya atau re-schedule lagi jadwalnya.” “Pak Ravin, Gvg sepertinya tidak bisa diundur lagi karena sudah tigakalinya perundingan dibatalkan jadi, dengan perusahaan Votto, kita bisa mengundurkan lain waktu,” usul Sarah sedikit bersemangat. Rudi, sekertaris Ravin menggeleng keras. “Tapi, Pak Ravin perjanjian tidak bisa kita undur begitu saja. Apalagi kita yang mengajukan proposal! Perusahaan itu mungkin tidak akan bersedia lagi, lagipula Bos-nya sendiri yang ingin datang. Kita tidak bisa mengecewakannya.” “Tapi, Merk ternama Gvg sudah lama berhubungan dengan kita,” balas Sarah tidak ingin kalah. Dia juga tidak berhenti melirik Ravin, Bos-nya juga menatap tajam Rudi seorang asisten baru yang dia pikir tidak ada apa-apanya. “kita akan memperpanjang kontrak dan tidak bisa hanya diabaikan saja. Pak Ravin!?” Setelah menyelesaikan kata-katanya Sarah menoleh dan menatap Ravin. Kedua jari-jari tangan Ravin saling bertaut dan menjadi penyangga, di mana dagunya bertumpu. Sekarang raut wajahnya sangat dingin dan datar, alisnya menukik tajam dengan sorot mata tidak lepas dari kedua bawahannya. Ravin menahan emosi untuk tidak meluapkan kekesalan pada dua orang di depannya terutama pada Sarah, sekertarisnya yang tampaknya sedikit kurang ajar. “Panggil orang-orang perencanaan!” Sarah sedikit terkejut dengan perintah Ravin, otaknya masih berputar tetapi, mulutnya dengan cepat terbuka tanpa ada filter. “Pak Ravin untuk apa mencari orang perencanaan, semua sudah ada tertulis sangat jelas diberkas dan kita hanya tinggal melakukan pertemuan dan menandatangani perjanjiannya.” “Sarah, aku yang Bos-mu atau kamu?” Mulut Sarah akhirnya tertutup rapat, tidak sanggup membuka mulutnya sedangkan yang sudah melihat ada kilat kemarahan di mata Bos-nya segera pergi tanpa harus diperintah dua kali membiarkan Bosnya, tinggal dengan sekertaris yang sudah tampak jadi bos-nya saja. ‘Rasain, dasar cewek besar kepala!Kurang aja dipiara,’ umpat Rudi dalam hati. Menghela napas, Ravin enggan kembali untuk berbicara dan kembali fokus pada berkas di depannya, tidak diacuhkannya si Sekertaris. Terlalu sibuk untuk bisa memahami pembaharuan kerjasama yang sudah disetujui Elvan, yang jika dia tilik kerjasama ini tidak lagi menguntungkan apalagi utuk perusahaan mereka. Sebelumnya, Ravin kira kerjasama antara dua perusahaan ini sudah selesai sehingga, dia menyuruh tim perencanaan untuk membuat proposal baru untuk perusahaan ritel mereka. Sudah hampir tujuh tahun berlalu dan sama sekali tidak ada perubahan karena itu Ravin ingin memiliki wajah baru untuk Supermall- ik mereka dan hal itu sudah dilakukan dalam waktu singkat oleh para perencanaan, ya, karena tentu saja itu tugas mereka belum lagi menjadi sangat mudah saat perusahaan property yang mereka ajukan disambut dengan antusias. Bahkan, sponsor yang ditunjuk Ravin sudah sangat menyesuaikan dengan tuntutannya untuk menjadi warna baru bagi perusahaan. Sarah yang berdiri dan melihat keseriusan yang diperlihatkan bosnya, Ravin sudah sangat membuatnya tegang tidak berani melakukan apapun. Lutut Sarah sudah sangat sakit, cemas berlebihan seolah apa yang sedang dilakukan Ravin ini sudah seperti keadaan tenang sebelum badai besar datang. Suara ketukan pintu akhirnya terdengar, Sarah bernapas lega sambil memutarkan tubuhnya ke depan pintu melihat tiga orang lainnya datang. Seolah tidak punya kesadaran diri dan juga Ravin tidak repot-repot untuk bicara dan meliriknya lagi, dia pergi membahas kedua sponsor mereka kedepannya. Sarah menelan ludahnya, dia sudah menjadi sekertaris diperusahaan ini hampir lima tahun lamanya mungkin, sepertinya sepanjang masa Elvan menjabat. Dan keadaan seperti ini baru pertama kali ditemuinya, bukan hanya pendapatnya tidak didengar bahkan, Ravin tidak lagi meliriknya membuat tiga orang dari tim perencanaan pun dibuat heran tetapi, tidak berani bicara apa-apa. Padahal jika pak Elvan yang duduk di sana, hal ini tidak akan terjadi. Dia akan memilih dengan mudah tidak perlu banyak keributan seperti ini. Karena, mengingat hal tersebut Sarah menegakkan kepalanya dan menatap Ravin, bosnya yang sekarang dengan mantap. "Pak Ravin, merk dagang GVg sudah cukup lama bekerja sama dengan mall kita serta mengadakan acara hampir setiap bulan dan selalu bisa menarik pengunjung--" Ravin mendengus kasar tanpa, menyembunyikan ketidaksukaanya setelah mendengar suara Sarah, tidak mengindahkannya membuat yang bersangkutan segera menunduk tidak menyelesaikan kata-kata karena sebenarnya apa yang dikatakan Sarah bukan hanya tidak sesuai dengan data lapangan tetapi, mengganggu Ravin. "Keluar!” Cukup satu kata itu, orang lain terdiam dan rasanya tahu siapa yang dimaksud. Tidak ada yang berani menyanggah, Bos baru mereka tidak seperti bos sebelumnya yang sebenarnya lebih serius dan selalu memaksakan kehendaknya tetapi, keinginannya terpenuhi dia akan cepat puas. Berbeda Bos-nya selalu bertanya dan bersedia mendiskusikan semua hal tetapi, yang paling sulit tidak mudah dipuaskan. Mendorong mereka lebih keras dan cukup membuat tegang sepanjang pembicaraan. "Pak Ravin, saya ingin menjelaskan sesuatu… Anda tidak ingin berbicara dengan saya tapi, bukan berarti saya tidak tahu apa-apa." Sarah masih tidak puas diusir begitu saja. "Anda harus tahu Gvg sendiri sudah bertahun-tahun menjadi rekan kerja perusahaan ini dan masalah jadwalnya, Pak Elvan sudah mempersiapakan agendanya sudah jauh-jauh hari Anda tidak bisa merusak pekerjaanya.” Empat orang selain Ravin sendiri dan Sarah, tidak ada yang tidak terkejut . seorang bawahan yang menjawabat sebagai sekertaris sangat berani sekali mencampuri keputusan bos-nya. Mereka berpikir seberapa besar nyali, Sarah saat ini. Mereka saja masih sangat segan, bos mereka saat ini bukan Elvan yang bisa mudah berbaur dan menyenangkan saat dilihat. Dia Ravindra Malik, putra sulung yang katanya sama diseganinya seperti kedudukan ayahnya, Adibrata Malik. “Aku tidak suka berbicara dua kali jadi, perhatian buat kalian. Aku di sini Bos kalian, bukan hanya bertanggungjawab secara keseluruhan tentang perusahaan. Aku juga pengambil keputusan tertinggi. Aku tidak butuh respon kalian yang merepotkan…” Tiba-tiba ucapan Ravin berhenti. Dia memegang lehernya yang sedikit gatal, memandang mereka kecuali Sarah. “tapi, kinerja yang memuaskanlah yang bisa mempertahankan kalian.” Suasana masih hening selama beberapa waktu. Otak mereka sedang berputar mencerna kata-kata Ravin sampai akhirnya, Bu Gwen si Ketua perencana respontif menoleh pada Sarah. “Sarah!” panggilnya yang membuat Sarah menoleh dengan wajah mengatakan ‘Apa?’ . “Tugasmu adalah sebagai sekertaris, jadi kerjakan tugasmu itu. Masih ada yang perlu kita kondisikan di sini jadi, cepatlah keluar.” “Bu Gwen, bukan aku yang pergi!” Pikiran Sarah kacau, dia bingung lalu menoleh ke sana kemari sampai matanya jatuh menatap sosok Ravin dikursi kebesarannya. “Pak Ravin bukan seperti itu maksudnya tapi, begitu disayangkannya jika, hasil kerja Pak Elvan sebelumnya dihancurkan begitu saja. Pak Ravin mohon pengertiannya. Saya sungguh tidak bermaksud tidak sopan hanya …sepertinya saya terbawa perasaan dan semua jadi kacau. Maafkan saya.” “Sarah! Jangan bicara omong kosong lagi dan cepetlah pergi,” ujar Gwen menyeretnya keluar meski, sambil meronta enggan pergi. Sarah tentu saja terkejut, kali ini dia diusir secara terang-terangan. Dibalik sana, Ravin puas dengan Gwen yang respontif meski, masih sangat lambat. Itu bagus untuk membina karyawan yang insiatif, kreatif serta inovatif. Untuk mengembangkan perusahaanya Ravin sangat perlu orang-orang seperti itu, dia tidak akan jadi, orang yang setengah-setengah jika sudah terjun ke dalam suatu bidang. Tidak ada kata menyerah sebelum berperang, dia hanya akan jadi orang menyenangkan saat kemenangan sudah berada ditangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN