“Aku pulang?!” sapa Ravin berjalan masuk apartemennya dengan wajah letih.
“Selamat datang, Mas,” sahut Inara cepat, berbalik dan segera bangun untuk menyambutnya. “Malam sekali, pulangnya, Mas?! Udah makan atau belum apa perlu aku angetin makanannya.”
“Gak usah tadi, aku udah makan malem bareng klien tadi.” Ravin segere mengistirahatkan tubuhnya di atas sofa, matanya terpejam jelas sangat mengantuk tetapi dia masih berusaha membuka mata dengan tangan terentang meminta pelukan penuh senyuman. “Kemarilah, Mas ingin memelukmu.”
Inara ragu tampak enggan tetapi, akhirnya melihat wajah lelahnya dia tidak tega menolak. Dengan bibir yang penuh senyum Inara mendekat penuh persiapan, dia tidak akan terlalu gugup atau kaku tetapi, siapa sangka hal ini masih saja membuatnya terkejut ketika Ravin dengan ringannya menariknya membuatnya jatuh ke pangkuannya termasuk dalam dekapan hangatnya. “Mas!”
“Apa?”
“Bukan apa?” jawab Inara sambil menengadahkan wajahnya melihat wajah suaminya. “aku ini beratkan, lepasin! Nanti kakimu sakit.”
Ravin, siapa peduli?! Bukannya melepaskan dia makin mengeratkan pelukannya kini melemparkan tubuh mereka berdua ke sofa samping sehingga, kini mereka berbaring nyaman. “Gimana sekarang, kakiku gak bakal sakit lagi, kan?” bisik Ravin dengan sengaja di telinga Inara.
Inara bisa saja gila, mendapat perlakuan seperti ini terus-menerus dari Ravin. Siapa mungkin tidak ada yang akan luluh, belum lagi jatuh cinta tidak ada yang akan mengelak. Wajahnya kini merona merah padam antara malu dan mau. Saat ini Inara mencoba untuk sangat tenang dan mempersiapkan diri, sudah hampir dua bulan sepertinya tidak perlu mempersiapkan moment yang malah akan membuat tegang dirinya dan malah gagal. Inara berpikir lebih baik mengalir begitu saja membuat dirinya lebih nyaman. Dan, sepertinya waktu inilah yang tepat.
“Mas!” panggil Inara dengan wajahnya yang masih memerah, di depan matanya adalah d**a bidang sang Suami. Dua kancing kemeja Ravin sudah terbuka, tampak kulit sehat d**a Perlahan tapi, pasti Inara meletakkan tangannya di atas d**a merasakan sedikit sentuhan di mana dari balik kemejanya yang terbuka, tersibak kulit dadanya yang sexy mengintip.
Inara menunggu respon Ravin tetapi, dia tidak mendapatkan apa-apa juga tidak mendengar jawabanya akhirnya Inara mengangkat wajahnya untuk melihat sebuah wajah yang bagai pahatan patung dewa saking, tampan suaminya. Inara terkesiap sesaat, matanya mengerjap bingung penuh senyum dan membiarkan jantungnya berdetak keras tenang terlebih dulu. Dia semakin bingung tiap kali mendongak dan melihat wajah rupawan Ravin hatinya segera berdetak tak karuan dan makin gila.
Perasaan ini aneh. Jika, dia ingat sejak pertama kalinya berhadapan dan saking menatap menyiratkan kesungguhan mereka akan menjadi suami istri selamanya jika, dia berani setuju. Dan, yah Inara berani mengambil ancaman itu.
“Mas!’ Terlihat jelas napas Ravin yang mulai naik-turun dan sangat tenang tetapi, yang sulitnya untuk dimengerti tubuh Inara masih dalam pelukannya. “Ya, ampun Mas Ravin malah tertidur. Capek banget, yah?!” ujarnya dengan penuh keberanian mengulurka tangan menyentuh paras wajahnya yang tampan.
“Mas!” panggilnya lagi tetapi, tetap saja tidak ada sahutan membuatnya yakin jika Ravin yang menutup matanya kali ini malah tertidur. “Apa bisa semudah ini melupakan perasaan, Mas? Padahal aku yakin tiga tahun bersamanya cintaku itu berakar kuat. Tapi, Ravindra Malik, gimana kamu bisa hanya… dalam waktu singkat! Aku pikir butuh bertahun-tahun atau setidaknya satu tahun ini saja. Biarkan hatiku ini bisa terbiasa… sayang, kamu tuh terlalu jahat! Gak biarin aku terbiasa lebih lama, kamu seenaknya saha merebutnya.”
Inara tiba-tiba tertegun malu, karena berbicara sendiri dan berharap Ravin tidak mendengar apa saja yang baru saja dia katakan dan Iya saja. Ravin benar-benar tertidur, dia hanya bangun sampai Inara membangunkannya untuk mandi dan pindah tempat tidur bahkan, dipagi hari Ravin masih seperti biasa. Sungguh membuat Inara sedikit kcewa padahal jika, pria itu mendengarnya Inara bertanya-tanya apa yang akan dilakukannya.
**
“Elvan, kamu lagi?!” Jovanka menghela napas sedikit lelah dan tidak percaya jika, dia harus bertemu Elvan lagi.
“Hey, calmdown! Kali ini kita hanya tidak sengaja bertemu saja.”
Kening Jovanka mengerut sedikit tidak percaya tetapi, melihatnya lagi tidak perlu juga Elvan berbohong meskipun, benar. Akhir-akhir ini Elvan tampak serius mengajaknya pulang dengan segala iming-imingnya tetapi, hal itu tidak membuatnya tertarik kecuali … tentang membayangkan Ravin yang, mungkin bakal senang, kah atau sebaliknya?.
“Please, come n sit down,” tawar Elvan sedikit penuh semangat.
Jovanka enggan menerima tawaran itu karena dia membawa teman tetapi, memang temannya ini sedikit tidak tahu malu tanpa ragu dia menarik lengan Jovanka dan menyuruhnya duduk di depan Elvan. “Jo, Who’s he? Is he your friend?”
“Yes/No,” jawab Elvan dan Jovanka disaat bersamaan.
“Ok, ok! He’s not your friend but …?”
“Oh, come on Bella… yes, He is my friend, Elvan from Indonesia.”
“Aaah, Hello, Elvan.” Si gadis pirang dengan rambut keritingnya tersenyum ramah pada Elvan sambil mengulurkan tangannya. “I’m Bella, nice to meet you.”
“Nice to meet you too.” Tiba-tiba suara Elvan terendam suara bising tepuk tangan dari seluruh area café di mana ternyata penyanyi di atas panggung sudah menyelesaikan performance-nya.
“Dengan siapa kamu ke sini?” tanya Jovanka, karena dia tidak melihat ada minuman lain di atas meja atau ada oranglain disekitarnya.
“Aku sendiri,” sahut Elvan lalu, menyesap minumannya. “Kamu sering kemari?”
“Tidak, hanya sesekali! Kapan kamu pulang ke Indonesia?”
Elvan melirik Jovanka lalu bibirnya tersenyum lebar saat pandangannya bertemu juga dengan Bella, ternyata diam-diam wanita itu sering mencuri pandang padanya. “Entahlah tapi, jika Mbak Jo ikut pulang. Aku mungkin bisa pulang lebih cepat.”
“Jadi, kamu ke sini buat nyariin aku yah?”
Elvan tertawa, menggeleng menolak pernyataan tersebut. “Ini betul-betul takdir ketidaksengajaan karena, kita punya sedikit kemiripan dalam ngambil keputusan yang salah dan … aku pengen bawa Mbak Jo balik ke Indonesia agar kita bisa memperbaiki kesalahan yang sudah terjadi.”
Jovanka meraih gelas minumannya, menegaknya hampir setengahnya. Jauh dalam hatinya dia juga ingin, sangat ingin kembali. Dia tidak ingin terus-menerus tinggal di negeri orang jauh dari keluarga, teman juga terutama Ravin. Cintanya yang tidak pernah berubah sedikit pun selama lima tahun ini. cinta yang penuh penyesalan hanya karena … tiba-tiba saja, Jovanka terbatuk keras, tidak bisa berhenti meski ingin. Dia terus menutup mulutnya membuat tidak hanya Elvan dan Bella terkejut, orang-orang yang melihatnya pun sama.
“Jo, Jo …are you ok?! I will take you to the Hospital.” Bella segera meraih bahunya, hendak memapahnya meski, mendapat gelengan keras dari Jovanka sendiri tetapi, Bella tidak peduli dengan peringatan tersebut terlebih dia sudah melihat darah mengalir dari sela-sela jari tangan yang menutupi mulut Jovanka.
Elvan terkejut bukan main, dia hampir tidak bisa bergerak dan mematung seperti orang bodoh sebelum sadar dan mengejar Jovanka yang beberapa langkah di depannya dan sungguh di waktu yang tepat karena tiba-tiba saja tubuh Jovanka bergoyang jatuh dan hampir pingsan ketika dia menangkapnya. “Go!” perintah Elvan pada Bella, yang diam karena terkejut ketika melihat Elvan sudah menggendong Jovanka ala bridal style.
Di rumah sakit.
Elvan mengusap wajahnya di wetafel, mencuci darah di tangannya. Untuk pertama kalinya dia melihat orang sakit begitu parah, sangat dekat dan jujur saja. Tangannya masih gemetar ketakutan, membayangkan jika sesuatu benar-benar terjadi. “Jovanka, benar-benar sakit dan …dia masih berbohong jika, penyakitnya sudah sembuh?! Ngga. Dokter bilang penyakitnya kambuh kembali satu tahun ini setelah menjalani tiga tahun pengobatan? Apa, Dokter-Dokter di sini gila! Bagaimana penyakit itu bisa kambuh lagi setelah operasi dan segala macam pengobatannya.”
Setelah keluh kesahnya sendiri, serta ketidakpercayaannya Elvan segera kembali ke bangsal di mana Jovanka berada. Di sana dia melihat Bella sudah tidak ada, wanita itu bilang dia harus masuk kerja. Jadi, memikirkannya lagi sebenarnya Jovanka tinggal bersama siapa dan siapa yang merawatnya di saat seperti ini.
“Kamu masih di sini, Van? Pulang sana,” ujar Jovanka yang sudah sadar kembali dan sedang berbaring dengan wajah lelah dan kusutnya.
Elvan tidak mendengarkan sarannya sebaliknya, dia malah duduk dan pertama yang diucapkannya yaitu, “Kalo aku pulang Mbak Jo dengan siapa?”
“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Jadi, ini alasannya kenapa Mbak gak pernah mau kembali?”
Jovanka memalingkan wajahnya, “Aku pernah kembali dan ingin menemui Ravin lagi saat pertama kalinya penyakitku dikatakan sembuh tapi, saat itu tubuhku benar-benar tidak menarik …” ada tawa miris terdengar dari bibir Jovanka. “Aku ingin bertemu lagi dengan Ravin saat semuanya menjadi lebih baik, jadi, aku pikir hanya butuh waktu satu tahun lagi tetapi, bukannya membaik penyakit sialan ini malah muncul lagi!”
Tangan Elvan bergetar dia ingin meraih tangan Jovanka hanya untuk mencoba menenangkannya tetapi, dia tidak bisa karena suara tertekan yang dikeluarkan Jovanka lebih menggetarkan dibanding apapun. tawa mirisnya yang seperti menggambarkan rencananya yang indah tetapi, tidak pernah menjadi nyata.
“Aku cuman ingin sembuh, Van? Tapi, kayaknya itu cuman bakal jadi mimpi aku aja. Hidupku bener-bener gak akan lama lagi.”
“Jo,” lirih Elvan penuh sesal sebelum ini dia tidak pernah memerhatikan keadaan fisiknya yang sebenarnya jelas-jelas berbeda.
“Tapi, aku masih ingin ketemu Ravin, aku masih pengen bahagia dihari-hari terakhirku. Bukankah terlalu egois? Karena itulah aku memilih pergi …bagaiamana sama Ravin kalau sampai melihatku mati. Dia bakal sangat sedih tapi, aku juga malah membuatnya bertambah sedih dan menderita meninggalkannya begitu saja. Aku ingin minta maaf, Van tapi, aku tidak punya nyali untuk bertemu lagi dengannya.”
“Kalau itu jadi harapan terakhir kamu apa kamu masih tidak mau melakukannya? Apa kamu gak akan penuh penyesalan.”
Jovanka termenung sesaat dan berbalik menatap Elvan seolah mencari kekuatan dari mata lawan bicaranya. “Apa Ravin bisa nerima aku yang kayak gini? Yang hampir mati dan hanya menyusahkannya saja.”
“Apa Mbak pernah menanyakannya sendiri? Bahkan, Mbak belum pernah menyebutkannya atau mendengar seperti apa jawabannya. Yang kulihat, kamu tidak sepenuhnya percaya dengan cinta-nya Mas Ravin selama ini! Kalau sudah seperti ini aku juga tidak bisa terus memaksa kamu, Mbak. Jadi, aku akan kembali. Istirahatlah sekarang.” Elvan berdiri bangun dan meninggalkan Jovanka dengan pikirannya yang rumit. “Cobalah, pikirkan dengan hati-hati!” ucapnya terakhir kali sebelum benar-benar pergi.
“Apa Ravin bisa nerima aku yang penyakitan ? Yang, mungkin tidak akan lama lagi mati digerogoti penyakit kanker sialan ini?!”