“Lapar!”
Telinga Nadira berkedut untuk kesekian kalinya, dia sudah mendengar kata-kata itu berkali-kali dalam satu jam ini dan jawaban yang diberikannya pun tetap sama. “Kalau gitu makan, mau sampai kapan ditungguin?”
Inara tidak menoleh tetapi, melihat pintu toko butiknya dengan pandangan jauh ke depan seolah dia tengah menunggu seseorang. Nadira, yang melihatnya akhirnya melepas pekerjaannya dan menghampirinya yang berada di depan meja kasir. Kebetulan saat itu butik sedang sepi pengunjung, hanya ada mereka dan dua pegawai lainnya.
“Makan siangnya belum dimakan juga?” tanya Nadira sambil menunjuk kotak makan siang Inara di atas meja padahal waaktu makan siang sudah lewat dari satu jam lalu. Inara hanya melirik tetapi, tidak menjawab malah mendesah. “Nara, kenapa? Ada sih, aku liat kamu dari tadi pagi sibuk ngelamun terus?”
“Gue gak ngelamun, Dir! Gue cuman lagi banyak pikiran kepala gue pusing mumet,” jawabnya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Lo, gak sakit, kan?” Nadira mencoba meraba suhu tubuh Inara tetapi, tidak ada masalah. Tidak terasa panas apalagi demam.
“Gue gak lagi sakit, kok.”
“Terus coba ngomong kenapa? Ada masalah sama rumah tangga lo?”
Dalam hati Inara mengiyakan, tidak bisa dipungkiri lagi hatinyalah yang sedang sangat bermasalah dia mulai merasakan perasaan rindu jika, tidak melihatnya barang sebentar. Akhir-akhir ini Ravin sering pulang larut dan lebih cepat tertidur saking lelahnya meski, tak jarang dia masih ingin melakukan pillowtalk mengenai keseharian mereka tetapi, akhirnya karena tak tahan dia jatuh tertidur lebih awal. Di pagi hari juga seperti itu tidak jauh berbeda dan yang lebih membuatnya tidak nyaman adalah Weekend kemarin lusa di mana seharian mereka bersama.
Inara memejamkan matanya, mencoba membayangkan sosok Elvan sebelumnya tetapi, sayang semakin keras dia bayangkan yang terlihat jelas dimatanya hanya sosok Ravin. Inara mengerang keras, gemas dengan dirinya sendiri bahkan, ingin sekali menampar pipinya. “Lalu kenapa!?” geramnya penuh tanya yang tidak berkesudahan. Hatinya menjadi cemas dan kesal sendiri mengingat bagaimana, dia sudah menolak Ravin. Keinginan suaminya yang sudah seharusnya ia penuhi pantas saja, Ravin marah.
Lalu hari Senin dengan cepat datang dan mereka kembali disibukkan dengan urusan masing-masing. Waktu makan siang tadi, Inara berharap Ravin mengajaknya untuk makan siang bersama atau menghubunginya seperti biasa menanyakan keadaanya tetapi, hari ini tidak ada yang seperti itu. Ponselnya tidak berbunyi sama sekali.
“Lo, ngelamun lagi!”
Inara meraih tangan Nadira, memegangnya cukup erat. “Dira, kayaknya gue udah berbuat salah! Mas Ravin terlalu baik buat gue tapi, gue malah nyeret dia sama hubungan yang kadang masih gak bisa lepas dari perasaan itu.”
Nadira balik menggenggam tangan Nadira lalu, menariknya untuk memasuki ruangan pribadi mereka. Kemudian, menyuruhnya untuk duduk dengan nyaman. Nadira ingin mendengarkan lebih dalam apa yang dipikirkan Inara saat ini dalam pernikahannya yang tanpa cinta tersebut. “Gue gak mau yang lain denger dan bikin gossip lagi soal pernikahan lo jadi, ceritain apa aja yang terjadi selama lo, nikah?!”
“Gue kan udah banyak cerita sama, Lo, Dir.”
“Tapi, rasanya itu gak relate aja. Kalian gak saling cinta tapi, nikah? Dan, Lo …gue tahu lo, ‘Ra. Lo, gak bakalan semudah itu lupain Elvan yang selama tiga tahun ini dampingin, lo. Dan, gue harus ngomong sekali lagi …. Lo terlalu gegabah buat mutusin nikah sama orang lain yang bahkan, gak lo kenal baik dan … yang harus jadi pertimbangan pertama lo sama sekali gak cinta sama dia.”
“Gue udah mutusin buat lupain Elvan sebelum ngambil keputusan buat nikah sama Mas Ravin. Meski, sebelumnya gue gak kenal baik apalagi cinta seperti yang lo sebutin, ‘Ra. Setelah gue nikah gue belajar buat ngenal dia dan … mungkin, gue juga udah jatuh cinta sama dia.”
Sebuah kejutan yang tidak pernah disangka Nadira jika, perasaan cinta sahabat nya bisa berubah dengan cepat. “Lo, gak bohong, kan? Gimana lo bisa berubah secepat ini?”
“Itu juga yang gak gue ngerti?! Gue kira bakalan sangat sulit tapi, … Mas Ravin bisa buat gue lupa sama seperti apa? Hubungan gue sama Elvan dulu. Dia pribadi yang hangat, menyenangkan, pengertian terlebih lagi … kayaknya gue udah jatuh cinta sama dia tapi, gue gak berani ngomong dan bertahan sama sikap bodoh gue.”
Nadira dibuat terkejut bukan kepalang mendengar pengakuan Inara yang tidak disangka-sangkanya. Dalam hati, dia menolak pernyataan tersebut. dia masih ingin melihat Elvan dan Inara bersama. Untuk apa selama ini dia melewati semua rasa sakitnya untuk merelakan Elvan bersama Inara jika, hasilnya malah seperti ini. ‘Elvan, sialan! Kenapa lo harus sampai melarikan diri juga, hah?’ kesal Nadira dalam batinya.
“Nara, Sorry! Gue cuman mau lo bahagia …mendengar cerita lo bukan berarti gue gak seneng t-tapi, gimana suatu hari si Elvan balik dan nemuin kakaknya dan kekasihnya malah udah nikah. Gimana perasaan dia?”
“Lalu, kenapa perasaan gue!? Saat dia ninggalin gue di hari pernikahan? Apa dia pernah mikirin hal itu, gimana bukan cuman gue …yang sedih dan terpuruk. Semua orang, Dir’. Orang tua gue, mertua gue bahkan, Mas Ravin sendiri!”
Mendengar keluhan itu, bibir Nadira tidak bisa lagi mengeluarkan suara dia bisa merasakan emosi ditiap kata-kata Inara keluarkan. Membuatnya hanya sanggup untuk memeluk Inara, memberinya tepukan ringan dan sederhana. Emosi Inara pun dengan cepat mereda, membalas tepukan sahabatnya, Nadira.
“Gue tahu maksud lo, Dir. Sahabat Lo juga bukan cuman gue tapi, Elvan bahkan, sebelum ada gue. Lo udah jadi sahabat Elvan. Makasih udah ngertiin dia tapi, lo juga harus mencoba berada diposisi gue bahkan, diposisi Mas Ravin juga. Gak ada yang mudah buat kita semua.”
Kembali Nadira segera menarik tangan Inara, menggengamnya dengan wajah menunduk malu. “Gue tahu, gue bodoh! Bukannya gue gak ngertiin posisi lo, Nara tapi, tetep aja ..gue gak bisa ngerti keputusan lo yang gitu mudahnya ninggalin Elvan dan nikah sama suami lo saat ini.”
“Ravindra Malik, namanya Ravindara Malik, Dir. Suami gue sekarang dan selamanya sampe takdir yang misahin kita,” ucap Inara memastikan semuanya.
**
Telinga Ravin sedikit panas dan berdengung, banyak mitos mengatakan kalau telinga merah dan panas pasti ada seseorang yang sedang membicarakannya dan itu benar-benar terjadi. Bukan hanya bergosip tentangnya dibelakang punggungnya tetapi, kini di depannya secara langsung. Beberapa saat lalu, Ravin baru saja tiba di kantor dari rapat diluar bersama para investor. Kembali, ke kantor dalam keadaan haus kering. Ravin ingin sedikit bersantai dengan menyeduh kopinya sendiri tetapi, yang dia terima adalah sisi lain para pegawainya yang sangat senang bergosip tentangnya.
“P-pak!”
Ravin langsung mengangkat tangannya untuk menutup mulut Rudi, dibelakangnya Rudi langsung diam tidak berani membuka mulutnya lagi tetapi, matanya berbicara pada tiga pegawai, yang sedang asyik bergosip yang saling menimpali. Pantry itu jadi tampak ramai dengan suara-suara mereka. tanpa menyadari jika, Bos yang sedang mereka bicarakan berada di belakang mereka mendengarkan.
“Kalian, denger katanya Mbak Santi dapet SP,.. Wow! Padahal waktu masih sama Pak Elvan dia disebut pegawai paling berdedikasi, setia banget!”
“Heh, dia sih setia ama Pak Elvan. Mbak Santi naksir berat Pak Elvan kalo aja, Pak Elvan belom punya pacar pastinya dia embat.”
“Embat gimana, kalo Pak Elvannya gak suka ama dia makannya dia ketemu si cewe ini yang gilanya, malah nikah sama kakaknya Pak Elvan. Gila banget, kan!?”
“Tapi, beneran, deh! Kasian Mbak Santi dia ampe nangis gak berhenti,” sahut si OB, yang tengah berjongkok sambil membersihkan gallon air yang akan digunakan.
“Wah, Bos baru kita memang kontroversial yah?! Menikah dipernikahan adiknya, mengambil calon istrinya lalu, sekarang juga mengambil jabatan Pak Elvan juga … jika, melihat seperti ini aku jadi, kasihan dengan Pak Elvan.”
“Yang aku heran kemana Pak Elvan pergi?”
“Aku malah bersyukur mereka gak jadi nikah,.. cewe itu gak pantes banget buat Pak Elvan. Kalo dia cinta sama Pak Elvan dia gak mungkin nikah sama kakaknya jadi, sepertinya sebelum ini mereka berselingkuh.”
“Nah, iya, perkiraanku juga begitu! Pak Elvan yang tahu lalu, pergi… eh, tapi kalo sampai begitu apa gak semakin aneh. Apa cewe itu udah hamil duluan, yah? Makanya gak dinikahin —“
“Vi, lo beneran, deh?! Kok, aku baru kepikiran juga. Omongan kamu itu mungkin ada bener—“ Kata-kata Siska si pegawai yang baru saja selesai mengaduk kopinya dan hendak berbalik pergi berhenti begitu saja, saat matanya bertemu dengan tatapan dingin yang terasa membekukan seluruh tubuhnya.
Prank!
“Aaah!” jeritnya saat kopi panas beserta gelasnya pecah ke lantai dan imbasnya air panas serta pecahan gelasnya menyentuh kakinya.
“Sis, kamu gapapa?!” tanya kedua temannya yang lain dan sama berbalik memeriksanya tetapi, Siska menggeleng keras dengan mata bergetar menahan tangis serta raut wajah yang pucat pasi. Kedua temannya masih tidak tahu apa yang baru saja dilihatnya, segera saja setelah melihat Ravin, Bos mereka yang pergi tanpa berkata-kata. Pegawai bernama Siska langsung, menjatuhkan tubuhnya dan berjongkok menyembunyikan wajahnya yang akhirnya mulai menangis tidak tahan dengan rasa takutnya.
Kedua teman Siska. Lina dan Miranti hanya bisa dibuat bingung, tidak tahu apa yang baru saja dialami temannya. “Siska, kamu kenapa, sih? Jangan nakutin kita donk!”
“Siska!”
Di sisi lain Ravin yang hanya melihat dan berlalu pergi setelah memberikan tatapan mautnya, berbicara di depan Rudi. “Apa kamu juga mendengar gossip-gosip itu, hm?” tanyanya dengan suara dingin.
Rudi menelan ludah gugup, dalam hati dia ingin berbohong tetapi, tidak berani. Bosnya tentu bukan orang yang bodoh, apalagi mulutnya juga yang tidak pandai diajak bersilat lidah. “Iya, Pak!Tapi, saya tidak berani—“
Ravin tersenyum sarkas, melihatnya dari samping Rudi sudah sangat merinding dan bukan hanya dia tetapi, sebagian besar para karyawan yang dilewati Ravin tidak berani mengangkat wajahnya karena sekilas semua orang merasakan hawa buruk dari tubuh bos barunya ini. Belum lagi mereka tidak bodoh, untuk segera melihat asal kedatangan Ravin sebelumnya yang seertinya datang dari pantry. Mereka melihat kearah sana dengan wajah penasaran siapa saja orang-orang yang berada di sana.