Malam hari ini terasa berbeda selepas mereka kembali kerja, Inara melihat perubahan emosi suaminya. Pertama kalinya, dia melihat sisi baru Ravin yang sulit digambarkan karena pria itu jadi sangat pendiam dengan wajah seriusnya dan bahkan, Inara harus merasa berhati-hati dengan sikap serta tingkahnya malam ini begitu juga kata-kata yang ingin diucapkan kini, harus berulang kali Inara pikirkan, apa harus diucapkan atau tidak.
“Ada apa?”
“Hah?” Inara tersentak sampai menjawab sembarangan ketika tiba-tiba saja Ravin yang diam bertanya sungguh sangat mengejutkannya untuk mendengar pertanyaan sederhanannya. “Maaf, Mas, barusan aku ngelamun. Mas tanya apa?” jawab Inara kali ini dengan lebih baik setelah bisa mengontrol diri.
“Mas, tanya. Ada apa? Kenapa kamu ngeliatin Mas sama tampang ketakutan kamu, hm?”
Inara mengaduk-aduk nasi dipiringnya, dengan mata yang melirik Ravin lalu kembali ke piringnya di atas meja. “Aku, sih, gak ada apa-apa. Yang ada apa itu, Mas,” jawab Inara yang kemudian memberanikan diri untuk menatapnya. “Wajah kusut, Mas saat pulang kantor itu sangat menakutkan sampai aku gak berani ngomong apa-apa.”
Mendengar keluhan dari istri cantiknya, Ravin sepertinya baru sadar mood-nya yang baruk karena beberapa karyawannya terbawa sampai ke sini dengan penuh perhatian. Ravin menarik tangan Inara sambil menyuruhnya bangun dan mendekat membawanya kepangkuannya. Awalnya, Inara ingin menolak terlalu malu untuk duduk dipangku seperti itu tetapi, mengingat kembali sifat Ravin yang bisa menakutkan lagi seperti sebelumnya. Inara, akhirnya duduk dengan patuh.
“Barusan kamu takut, yah?”
Inara yang sedang memalingkan wajah, segera menoleh dengan wajah sedikit mengerut. “Sebenernya aku gak tahu apa harus takut atau ngga tapi, aku gak nyaman banget liat tampang Mas, dingin banget kayak gitu.”
“Maaf,” ujar Ravin sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Inara dan menyandarkan kepalanya tepat di depan d**a Inara. “Mas, lagi suntuk dikerjaan sampai lupa ke bawa ke sini. Lain kali aku gak bakal gitu lagi.” Janjinya.
Dada Inara berdebar kencang, perlakuan Ravin saat ini membuatnya tubuhnya kaku. Di depan daadanya kepala Ravin tengah bersandar padanya, harap-harap cemas Inara ingin mengulurkan tangannya dan membelai rambutnya yang tampak terus menggodanya untuk dibelai. Melepaskan kegundahannya dan mengumpulkan keberanianya Inara meletakkan tangannya di atas kepala Ravin dan bergerak sangat lambat untuk mengusapnya. “Janji, yah! aku bener-bener gak nyaman banget lihat Mas kayak tadi.”
Ravin mendongak menatap wajah Inara, kali ini dengan senyuman yang biasanya. “Kalau gitu cium aku dulu!”
“Kenapa jadi harus cium?” Inara menolak, kepalanya menggeleng.
“Ok, kalau gitu gak masalah.” Dalam sekejap raut wajah Ravin berubah dengan sangat jelas bahkan, dia melepaskan pelukannya dari pinggang Inara. “Turunlah, aku mau menyelesaikan makanku?!”
Inara tentu saja benar-benar terkejut, mematung dengan mata yang masih melihat Ravin dan perubahan dirinya yang secepat kilat. Dingin terasa langsung menusuk ulu hatinya, membuat rasa bersalah yang tidak bisa dia sangkal. Hanya sebuah ciuman apa yang salah dengan meminta ciuman pada sepasang suami-istri. Lagian, bukan sekali dua kali mereka sudah sering berciuman tetapi, akhir-akhir ini tuntutan Ravinlah yang membuat Ravin setelah mereka usai berciuman. “Mas!?”
“Kamu gak mau, kan? Tenang aku gak marah tapi, kamu harus terima wajah datar aku,” sahut Ravin. Dalam dirinya, Ravin benar-benar setengah kesal karena Inara menolak menciumnya. Biar saja dia dianggap kekanak-kanakkan tetapi, demi mendidik dan mendapatkan perhatian istri sepertinya hal ini harus dilakukan. Jika, sifat lembut dan hangatnya tidak bisa membuatnya luluh maka, Ravin merubah cara pendekatannya.
“A-aku mau cium, Mas tapi,…” cukup lama Inara diam, tidak melanjutkan kata-katanya untuk melihat respon Ravin tetapi, yang diharapkanya ternyata tidak berubah. Ravin malah tetap diam dan kini malah dengan melipat kedua tangannya di depan d**a memberinya tatapan ringan seolah menunggu apalagi yang bakal diucapkannya.
Kali ini Inara memilih melakukan action dibanding hanya berbicara. Dia yang bergerak meletakkan bibirnyaa diatas bibir Ravin dan tidak pernah selesai begitu saja sejak Ravin yang menahannya sampai dia sendiri merasa puas. Inara saat itu ingin sekali marah tetapi, rasanya aneh juga harus marah hanya karena hal-hal seperti itu jadi, dia hanya bisa membiarkanya begitu saja.
Melepaskan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Mereka benar-benar melakukannya tanpa ragu dan yang paling penting adalah situasi yang tepat saat hal seperti itu untuk muncul. Dan, Ravin benar-benar mengambil kesempatan tanpa menyia-nyiakannya.
“Aku mau hal itu sekarang?!” ucapnya setelah menyudahi ciumannya kali ini lalu, tanpa ragu mengangkat tubuh Inara membawanya seperti tuan putri.
Inara langsung memekik terkejut, mengalungkan lehernya karena spontan dan berteriak gemas. “Mas!” inilah yang membuatnya pusing akhir-akhir ini jika, terlalu intens dekat dengan Ravin yang selalu mengarah tujuan akhirnya ke tempat tidur.
“Aku gak mau tahu, atau aku bakal ngambek lagi,” sahut Ravin dengan santai tetap berjalan menuju kamar mereka. dalam benaknya, dia cuman pengen mala mini Inara bener-bener jadi miliknya. Sedangkan, Inara kesal sendiri dan malah mengigit gemas pipi Ravin. “Ackh! Jangan digigit!”
Sekarang Inara ingin memukulnya juga, karena Ravin malah berteriak genit. “Yah, Mas… aku belum selesai makan?! Turunin, aku lapar!” Telinga Ravin sudah jadi tuli, dia mengunci pintu kamar dan siap untuk makan hasratnya yang sudah tinggi, melupakan sejenak persoalannya di tempat kerja karena sekarang waktunya mengajari istrinya untuk jadi, istri yang baik.
***
“Kamu mau menghubungi siapa?”
Elvan melirik Jovanka yang bertanya, mereka masih berada di rumah sakit dan hendak keluar dari sana setelah tiga hari lamanya Jovanka di opname di sana. “Aku ingin menelepon Mommy tapi, aku masih ragu dan takut.”
Jovanka tersenyum tipis, belum lama ini akhirnya dia juga mendengar pengakuan Elvan kenapa dia berada di Canada ternyata bukan liburan seperti pikirnya melainkan, tinggal di sini untuk melarikan diri persis yang dia lakukan tetapi, bodohnya dia punya alasan lebih sederhana dan seharusnya lebih mudah dipecahkan. “Kamu harus menelepon mereka!? Kupikir tidak apa-apa meski, marah mereka masih keluargamu.”
“Bicara saja mudah,” ujar Elvan sambil mendesah dan menghesmpaskan dirinya di kursi yang tersedia dibangsal sana. Tangannya tidak berhenti terganggu dengan ponselnya, yang terus-menerus ia putar=putar dimainkan.
Jovanka seharusnya masih harus menjalani perawatan intens tetapi, ditolaknya dan hanya ingin dirawat jalan saja. Memilih rumahnya yang sedikit lebih nyaman ditinggali. “Kenapa tidak hubungi Ravin saja, dulu kupikir kamu paling sering datang padanya untuk merepotkannya.”
“Hah,” Helas Elvan. “Itu dulu! Lagipula, itu hanya masalah kenakalan remajaku, soal seperti itu Mas Ravin tidak akan terlalu peduli tetapi, untuk kali ini pastinya tidak bisa. Kesalahanku berat, bukannya Mbak Jo juga tahu, bagaimana Mas Ravin itu lebih tegas dari siapapun apalagi kesalahanku ini menyangkut nama keluarga. Jika, Dipikir sendiri Mas Ravin, tuh, bahkan, lebih menyeramkan dibandingkan Mommy atau Daddy kalau sudah emosi. Kadang, mereka sampai nanya dia turunan siapa? Kalo marah udah kayak iblis?!”
Jovanka setengah tertawa mendengar jawaban Elvan, dia juga harus dan mengakui hal itu jika, kemarahan Ravin itu seperti bahan bakar yang tersulut api tapi, harus jelas dulu bahan bakar seperti apa yang dibawa karena dia bukan orang yang tanpa pikir panjang tetapi, sekali kita mencoba membawakannya bahan bakar bensin. Dia akan siap meledak tanpa jeda dan semua akan habis dibuatnya.
Seperti itulah yang kini terjadi diperusahaan Mall-ik. Setelah apa yang terjadi kemarin lalu di mana Ravin mendengar para bawahannya bergosip tentang kehidupan pribadinya. Dia yang bekerja di posisi tinggi dan terhormat kenapa hanya bisa diam saja saat orang-orang dibawahnya bertindak kurang ajar. Hanya butuh satu hari akhirnya, Ravin mempersiapkan sesuatu untuk semua para pegawainya tanpa terkecuali. Dia bukan orang yang tidak adil, apa yang dilakukannya masih akan mempertimbangan kejujuran tetapi, bagi orang-orang yang masih sudah membuat masalah dengannya.
Ravin memberi mereka dua kali kejutan lebih besar karena mulut mereka yang lebih suka bergosip daripada bekerja akan menjadi highlight-nya atau akan menjadi sorotan utama dalam memenuhi pekerjaan yang harus dilakukannya dan jika, yang dihasilkannya adalah ketidakmampuannya. Mereka hanya bisa mengucapkan selamat tinggal bagi orang-orang yang tidak berguna seperti itu.
Sebuah kertas terpampang di dinding pengumuman kantor yang langsung dikeluarkan oleh Ravin sendiri yang menjabat sebagai C.E.O. perusahaan retail dari supermall Mall-ik milik keluarganya. Rudi, yang bahkan disuruh langsung menempelkannya menghela napas, tidak berpikir Bos-nya bertindak sejauh ini. Kemarin saja dia melihatnya hanya diam dan berpikir Pak Ravin tidak memikirkannya tetapi, pagi ini dia langsung diberi kertas selembaran ini dan memerintahkannya untuk ditempel.
“Apa-apaan ini?!” Terdengar semua rendah riuh suara para karyawan yang terkejut sekaligus tidak menyangka pagi hari mereka yang cerah menjadi, suram dengan keluarnya surat pengumuman tersebut. Semua orang yang tahu kejadian kemarin langsung menunjuk tiga pelaku yang merupakan kunci utama timbulnya masalah ini.
Ravin sendiri tidak ragu untuk tidak menutupi kesalahan ketiga orang kemarin bahkan, posisi Sarah yang sebagai sekertaris yang kemarin masih diberi sp kali ini langsung Ravin berikan surat pemecatan karena reaksi Sarah yang telah diberikan surat peringatan tidak merenungi kesalahannya dan malah berbuat seenaknya dengan semakin memprotes kebijakan Ravin.
Melihat hal itu para pegawai gemetar ketakutan, mereka sangat ingin protes dan meminta para manager disetiap bagian di mana mereka bekerja dan ditempatkan untuk datang dan membicarakan ketidaksetujuan mereka. Semua orang menjadi penuh diskusi di mana-mana terutama mereka mulai menunjuk tiga karyawan lain yang menjadi penyebab masalah terjadi.
“Ini gara-gara kalian! Lihat semua jadi begini?!”
“Dasar gak punya otak! Berani sekali kalian bergosip tentang Bos sendiri.”
Siska dan kedua temannya sudah sangat tertekan, mereka sudah menangis. Wajah mereka sembab penuh air mata, semua riasan yang mereka luntur sudah. Tidak cukup dengan surat pemberitahuan di mana mereka diberikan sp, mereka terus dimarahi habis-habisan oleh rekan-rekan kerja mereka yang mendapatkan dampak masalah gara-gara perbuatan mereka.
“Gimana kalo kami pergi minta maaf sama Ravin,” usul Siska, rasanya menderita sekali harus merasakan cercaan dan tatapan sinis rekan kerja lebih baik dia langsung pergi menemui bos-nya terserah dipecatpun dia sudah pasrah.
“Memangnya semudah itu, hah?! Kami juga udah mencoba tapi, kalo kamu memang punya keberanian lakukan saja toh, ini juga gara-gara kesalahan mulut kalian yang terlalu longgar.”
Tiga orang yang menjadi masalah yang menggemparkan seluruh perusahaan tidak lagi berani bicara, mereka menunduk dan menerima semua perlakuan semua orang yang menatap jengkel ketiganya meski, dalam hati mereka juga mengeluh. ‘Seperti kalian gak pernah bergosip tentang Bos Ravin saja! Kami hanya sial saja, karena ketahuan!’