Diam-diam cemburu

1731 Kata
“Elvan!” “Apa?” tanya balik Elvan, yang sedang mencuci bekas makannya. Baru saja mereka selesai makan malam dan tugasnya adalah mencuci piring tidak membiarkan orang yang masih sakit mengerjakan tugas-tugas seperti ini. “Aku masih khawatir kedatanganku hanya akan jadi beban buat Ravin, terus …kalau kupikir lagi tentang dia.” Elvan menarik napas, mengelap tangannya yang sudah selesai membereskan cuciannya. Dia melirik dan duduk di depan Jovanka dengan segelas kopi yang dibuatnya sebelum mencuci piring. “Masih sangat panas,” ucapnya selesai mencicipinya. Jovanka diam-diam mengamati meski tak banyak lagi waktu yang mungkin dia miliki tetapi, terlalu banyak hal yang masih belum bisa dia putuskan harus melakukan apa diwaktu-waktu terakhirnya. Jelas seperti orang bodoh, yang punya banyak waktu panjang dan bisa hidup tenang dengan bersenang-senang. “Sebenernya apa yang kamu khawatirin, sih, Mbak?” tanya Elvan sebenarnya cukup lelah dengan pertanyaan yang berulang-ulang yang diucapkan Jovanka. Dulu, jika dia tidak salah ingat wanita di depannya adalah orang yang penuh percaya diri dan punya kemampuan lalu, kemana dia sekarang. Sepertinya, mengidap penyakit selama bertahun-tahun sudah merubah kepribadiannya. “Banyak hal yang kutakutkan. Sangat takut sampai membuatku enggan kembali apalagi harus bertemu orang-orang yang mengenalku… aku terlalu takut menerima pandangan mereka yang mengasihaniku yang mempunyai penyakit seperti ini dan tidak memilik lagi waktu hidup yang panjang.” Jawaban Jovanka cukup membuat Elvan terkejut jadi, inilah harga dirinya dan Jovanka tetaplah, sosok yang dulu dia kenal sebagai kekasih kakaknya yang paling menawan dengan sikapnya yang ceria, cantik dan penuh percaya diri. Ternyata dia tidak menghilang, melainkan bersembunyi dari tatapan orang lain hanya untuk menyembunyikan kelemahannya. Sungguh ironis tetapi, juga tidak bisa disangkal itu menyedihkan dan sangat disayangkan. Elvan sedikit menyesal sudah merasa kesal dan tidak sabaran padanya. “Aku gak tahu gimana tanggapan pastinya Mas Ravin ke Mbak kalo ketemu tetapi, setidaknya Mbak Jo tidak akan menyesal, kan?” “Menyesal, yah?? Lima tahun cukup lama buat aku ngalamin perasaan itu.” Jovanka menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Wanita penyakitan kayak aku akhirnya balik lagi sama dia setelah, lima tahun lamanya pergi karena gak berhasil sembuh?! Terlalu menyedihkan … “ Elvan berjalan keluar meja menghampiri Jovanka hanya untuk menepuk punggungya, mencoba menenangkannya. “Aku gak bakal maksa Mbak lagi, buat ikut pulang hanya coba pikirkan lagi?! Apa Mbak mau di sini sendiri atau …berkumpul dengan orang-orang yang Mbak cintai.” Setelah mengatakan itu Elvan segera pergi kembali ke rumah sewaaanya. Dia juga harus memikirkan tentang dirinya, alasan apa yang harus dia berikan pada orang-orang terdekatnya. ** “Pak Ravin!” panggil Rudi ragu-ragu dia tengah berada dalam dilemma besar yang baru saja dibuat sang Bos. Belum lagi satu hari penuh para manager-manager per bagian datang hanya untuk menyuruhnya mencoba bicara dengan Bosnya, untuk tidak melakukan perombakan. Dalam hati dirinya sendiri hanya bisa mengeluh pada mereka. ‘Kenapa mereka harus punya terlalu banyak untuk mengurusi urusan pribadi orang lain.’ “Ada apa?” jawab Ravin tanpa meliriknya sama sekali karena dia terlalu sibuk dengan berkas-berkasnya di atas meja. “Apa jadwalku selanjutnya?” tanyanya lagi. Rudi mengusap keringat yang tidak ada di atas keningnya dan memilih melakukan tugasnya terlebih dulu daripada kepentingannya sendiri. Rudi membuka tablet jadwal pekerjaan Bosnya, lalu mengumumkannya. Setelah selesai dia menutup jendela tablet lalu melihat dan menunggu tanggapan Ravin selanjutnya. “Pindahkan jadwal dengan Jewelery Goul, untuk siang besok,” ujar Ravin menatap Rudi pertama kalinya, “Lalu, ingat baik-baik tidak ada jadwal makan apalagi disaat malam hari dengan klien. Semua jadwal harus sesuai jam kerja, diluar itu tidak ada yang bisa mengganggu kecuali, ada hal urgent… yang memang harus dilakukan!” “Baik, Pak! Saya akan mengingatnya.” “Oke, bagus!” Ravin puas dengan kerja asistennya. Sebelumnya, untung sekali dia meminta seorang asisten baru dari luar. Jujur saja dia butuh orang yang bersih, perubahan kepemimpinan tidak semudah mengganti pakaian. Apalagi, dia cukup tahu bagaimana pekerjaan Elvan yang, selama ini cukup baik dan pasti banyak karyawan loyal padanya dan sulit menerima perubahan atasan baru, Ini bukan soal perasangka tapi, Ravin sudah mengevaluasi orang-orang dibawah Elvan. Di mana pegawainya yang di d******i oleh perempuan yang sangat suka orang muda juga mapan. Tidak cukup dengan kedua alasan tersebut, alasan terakhir tidak akan bisa disangkal tampang Elvan bisa menaklukan para wanita. “Pak Ravin!” panggil Rudi, berjalan lebih dekat dengan sedikit gugup. “Ada apa lagi, sih, hah? Dari tadi tampang kamu itu, udah kayak orang sembelit,” ucapnya setengah malas, sambil melambaikan telapak tangannya menyuruh Rudi segera pergi jika, tidak ada hal lain lagi. “Be-begini, ada sedikit masalah.” Rudi mencoba bertahan, dia belum mengatakan apapun bagaimana bisa pergi sama saja orang-orang dibelakang punggung akan menyuruhnya kemari lagi. Selesaikan saat dan bereskan saat ini juga. “Saya perlu bicara mewakili para manager perbagian, yang katanya meminta rapat diskusi dengan Bapak.” “Rapat apa, hah?”jawab Ravin dengan tampang malas. “Rapat soal pengumuman yang Anda keluarkan tadi pagi.” Jelas Rudi dengan hati-hati, tenggorokannya sudah sangat kering “Memangnya ada apa? Mereka ketakutan, begitu?” Kepala Rudi mengangguk begitu saja, kalau bukan ketakutan kenapa juga mereka tidak berani ke depan sendiri dan malah menyuruhnya. “Seperti itu, Pak! Mereka merasa tidak adil jika, harus menghadapi perombakan dengan mengikuti berbagai tes perusahaan.” “Hah,” Ravin menghela napas, menjatuhkan pena yang sedang dipegangnya dengan sangat kuat. Rudi yang melihat ini semakin khawatir saja jika, pekerjaanya akan terancam juga gara-gara mulutnya yang dijadikan sambungan mulut orang-orang itu. “Mereka ini! Rudi, katakan pada mereka untuk tidak membuat aku repot jika, tidak mematuhi perintah kerja yang kuberikan suruh mereka buat surat pengunduran diri. Masih banyak orang cakap dan butuh pekerjaan.” Rudi tidak menyangka memiliki bos yang sangat tegas dan tidak kenal ampun jika, soal pendirian. ‘Orang-orang itu memang mencari masalah sendiri!’ batin Rudi sambil menghela napas besar. “Baik, Pak! Terimakaasih. Saya akan lanjutkan kata-kata Bapak sama mereka.” “Bagus! Jangan buat kacau lagi perusahaan dengan gossip tidak berguna katakana itu juga pada mereka,” ujarnya sambil berdiri dan mengambil jas-nya, memakainya dengan cepat. Rudi tentu saja terkejut melihat apa yang dilakukan Ravin dan bertanya-tanya. “Anda mau ke mana?” “Ini sudah waktunya makan siang! Tentu saja keluar untuk makan,” jawab Ravin santai sambil melewati Rudi. Tidak lupa dia juga dengan perintahnya. “Oh, jangan lupa sebelum keluar dari sini. Bereskan berkas di meja dan sortir semuanya.” Kepala Rudi terkulai lemah dengan jawaban penuh hormat. Pekerjaanya cukup menumpuk sekarang setelah kosongnya jabatan sekertaris mulai hari ini. “Baik, Pak!” ** “Sayang, aku jemput atau kamu yang datang turun!?” Terdengar suara Ravin diponsel Inara. Inara yang sedang duduk santai di depan meja kasir langsung berjengit kaget, lebih tepatnya berdiri dengan wajah bersemangat. “Terserah Mas, maunya gimana?” jawabnya cepat. “Oh, kalau gitu aku ke sana?!” “Hm, iya. Ke sini aja!” Dari seberang sana Ravin terkiki lucu juga bangga karena Inara mulai bersikap terbuka, “Kamu gak takut lagi orang-orang lihat kita jalan, nih?” “Ngga ada yang gitu, kok,” sangkal Inara cepat, dia juga keluar dari meja kasir dan segera masuk ke dalam kator mini=nya. Beberapa saat kemudian sambungan ponsel keduanya terputus. Inara menghela napas, pipinya merah merona dengan sempurna. Hatinya berdebar menunggu kedatangan Ravin, suaminya. “Nara, lo di dalem?” “Masuk, Dir. Ada apa?” “Ngga ada apa-apa, cuman gue khawatir aja. Tiba-tiba aja lo lari ke sini,” sahutnya sambil memerhatikan ruangan itu yang tampak sedikit berbeda. “Agak aneh tapi, kayaknya ada yang beda. Apa itu?” Inara mengikuti apa yang sedang ditunjuk Nadira, dan melihat satu pot tanaman berada di nakas sisi jendela. Bibirnya tersenyum lebar, berjalan ke sana. “Ini hadiah dari Ravin pagi ini. Bagaimana ini bagus, kan?” “Lumayan,”jawab Dira sedikit dingin. Seperti orang yang iri, dia jengkel melihat hubungan Inara dan suaminya, Ravin merasa itu tidak adil bagi Elvan, yang sebenarnya entah berada di mana. “Oh, ya, Ravin sebentar lagi kemari! Aku kenalin lo ke dia, yah?” “Buat apa! Ngga, aku ngga mau, ah.” “Hey, lo harus mau. Dia laki gue sekarang,” ujar Inara sambil meletakkan kedua tangannya yang dingin di kedua pundak Nadira. “Sekarang, ayo. Sebentar lagi dia pasti udah sampai di depan.” Dan, benar saja! kelika mereka keluar, Ravin baru saja melangkah masuk dengan pembawaanya sebagai pemimpin serta, aura-nya yang membuat orang-orang sangat terkesan. Tidak hanya para pengunjung bahkan, para pegawai Inara, yang sebelumnya pernah melihat sosok Ravin masih dibuat tercengang. “Sayang!” “Mas,” balas Inara dengan sedikit malu-malu. “Sini, aku kenalin sahabatku!” Ravin datang menghampiri dan kemudian berkenalan tetapi, melihat kurang antusiamenya. Dia tidak memaksakan kehendak, untuk orang yang tidak menyukainya Ravin tidak akan repot mengurusinya juga. Inara yang juga bisa menilai sendiri, hanya bisa menghela napas sedih tetapi tidak memaksakan diri untuk membuat mereka nyaman. “Dira, beneran kamu gak ikut?” “Ngga, kalian aja berdua.” “Ok! Kami pergi, yah,” ujar Inara. Lalu dia teringat sesuatu. “Mas, tunggu sebentar Tas malah masih di kantor.” “Iya, santai saja,” jawab Ravin sambil mengelus rambut Inara dengan sayang membuat suara gaduh diantara para karyawan Inara diam-diam. Inara malu sekali tapi, juga senang dan hanya buru-buru melarikan diri, mencari tas-nya yang tertinggal. Di saat itu Ravin mengikuti kemana larinya Inara sebelum tertangkap mata dari pandangan mata lainnya yaitu, Nadira. Orang yang baru dikenalkan Inara. Mereka tidak saling melepaskan pandangan, tidak sebelum akhirnya Nadira menyerah karena merasa malu. Tatapan mata Ravin terasa sedang melubanginya. Dan, saat itupula dia melihat Inara sudah keluar membawa tasnya. “Kami pergi, yah, Dira! Sebentar aku balik lagi.” “Ok, hati-hati kalian,” sahut Nadira sambil melambai melihat kedua orang itu pergi menjauh. Inara hampir menyeret Ravin dengan sangat cepat. Perasaan tak karuan tiba-tiba menyentuh benaknya. Inara melirik Ravin di sampingnya memerhatikannya dengan seksama. “Ada apa?’ Inara sebenarnya tidak mau mengatakannya tetapi, mulutnya tiba-tiba saja tidak mempunyai rem sendiri. “Ngapain, Mas tatap-tapan ama Nadira?” “Kapan, Mas tatap-tatapan?” jawabnya dengan perasaan aneh dan bingung karena Ravin tidak merasakan apapun dengan tuduhan bingung Inara. “Baru saja tadi!” “Kamu cemburu?” ‘Sialan! Mana mungkin aku cemburu,” ucap Inara dalam hati tidak mau mengakui dengan juga memepercapat langkahnya. Dibelakang Ravin malah tersenyum puas melihat tingkah Inara yang menggemaskan dan segera mengejar langkahnya, setelahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN