cubitan manja

1396 Kata
Adibrata menekan ujung hidungnya, menahan penat yang tidak dikira baru saja dia mendapat laporan yang membuatnya harus geleng-geleng kepala tidak percaya. Sudah dewasa seperti ini ternyata anak-anaknya tidak ada yang berubah juga, selalu senang membuat masalah. Padahal mereka anak-anak yang baik tetapi, sekalinya membuat masalah selalu saja tidak pernah kecil. Belum lagi anak bungsunya yang belum terdengar kabarnya, entah di mana dan sedang apa. “Ya, sudah. Kamu bisa pergi sekarang,” ucap Adibrata mengusir sekertarisnya. Lalu mengambil lagi berkas keluhan yang katanya dikirimkan perusahaan Mall-ik, di sana para manager dan karyawan menadatangani surat keluhan di mana mereka memprotes kebijakan baru kepemimpinan Ravin, yang akan mengadakan tes kelayakan berkinerja. “Sebenarnya, apa-apa’an bocah ini! Untuk apa dia melakukan itu!?” Tidak habis pikir, Adibrata langsung berdiri dengan bundel kertas ditangannya dan pergi. Ditengah perjalanan dia juga sempat menjemput istrinya dan mengabari Ravin jika mereka akan singgah di apartemennya untuk makan malam. Deswita cukup heran, melihat suaminya ingin datang ke rumah anak sulung mereka. “Sebenarnya ada apa? Tumbenan sekali ingin datang ke sana?” “Memang apa salahnya datang ke sana. Toh, anak sendiri!” “Heran, Dad! Heran, kan , aku bilang tumbenan biasanya gak pernah ke sana kalo gak aku ajakin,” sahut Deswita sambil masih bersolek di depan kaca meraba-raba wajahnya yang terasa halus dan kencang. Baru saja dia selesai dari klinik wajah. “Dad, hari ini Mommy makin cantik gak? Baru aja Mommy pake perawatan baru, loh?” “Cantik, cantik! Tiap hari Mommy selalu cantik,” jawab Adabrata tanpa sedikitpun menoleh, sudah biasa tiap hari dia ditanyai seperti itu. Lagipula, kalo istrinya tidak cantik mana mau dia nikahi belum lagi, berapa banyak uang untuk perawatannya. Bisa rugi besar kalo istrinya, tidak jadi cantik. “Aaaakhh!” jeritnya baru saja perutnya dicubit gemas oleh Deswita. “Makanya, kalo ngomong itu harus bener. Sambil liat Mommynya dong!? Ini, kan usaha besar Mommy buat bangga Daddy.” Adibrata melotot, membuka matanya lebar-lebar. “Tapi, gak usah sambil nyubit juga dong, Mommy?! Daddy, cubit balik mau?” “Aishh, Boleh aja kalau Daddy berani. Mommy, laporin ke polisi karena udah KDRT …nih, nih, coba aja?!” “Oh, nantang. Bukannya yang barusan Mommy nyubit Daddy juga KDRT.” “Ho..ho.. tapi, coba mana buktinya?” Penuh emosi Adibrata mengangkat kemeja bajunya, dan menunjuk di mana istrinya tadi mencubit, hasilnya hanya bekas memerah tidak seberapa. “Lihat nih! Lihat merah. Ini, tuh sakit!?” Deswita tertawa puas. “Jadi, begitu aja , Daddy Lebay! Cuman merah dikit bentar lagi juga ilang. Hah, Mommy kira gimana bekasnya! Untunglah Daddy punya kulit badak!” “Tapi, sakit Mom!” “Iya, iya, maaf,” ucapnya dengan senyuman sambil bergelayut manja menghilangkan kemarahan suami tampannya. ** Terdengar suara bel pintu berbunyi, pasangan baru menikah itu saling menatap untuk saling memberi intruksi agar salah satu dari mereka pergi membuka pintu tetapi, tidak ada yang mau melangkah, sepasang tangan mereka malah sibuk dengan peralatan makan karena baru saja keduanya selesai masak. Pas sekali dengan kedatangan kedua orang tua mereka. “Mas, cepet buka!” Akhirnya Inara membuka mulutnya. “Mereka bisa buka pintunya juga, biar saja, ah!” “Mas!” lelah Inara menghadapi sikap Ravin, yang tiba-tiba saja jadi menyebalkan. “Buka pintunya, cepat!” “Malam, sayang-sayang Mommy!” seru Deswita yang tiba-tiba saja sudah berjalan masuk, tangannya terbuka memeluk menantu kesayangannya pertama kali meski, jaraknya sedikit lebih jauh dar tempat berdirinya Ravin. “Baik, Mom! Gimana sama Mommy sendiri? Maaf, ya, barusan telat buka pintu. Ampun, deh, itu Mas Ravin kelakuan.” “Gapapa, Sayang. Mommy juga tahu, kelakuannya yang nyebelin,” sahutnya sambil berjalan kea rah Ravin dan menjewer telinganya. “Kamu itu, kurang ajar banget masa orang tua harus buka pintu rumah anaknya sendiri.” “Haduh, Mom. Jangan pura-pura, biasanya kayak gitu.” “Waktu itu, kan, kamu masih bujang!” balas Adibrata sambil datang menghampirinya lalu segera memukul kepalanya dengan gulungan kertas. “Sekarang kamu udah nikah. Mommy juga! udah tahu salah masih main nyelonong masuk aja. Lain kali jangan begitu.” Ravin mengusap kepalanya, tidak sakit tetapi, tetap saja tidak nyaman kala“Oke, oke! Aku hanya berpikir kalian orang tuaku, jadi bisa bersikap santai!” “Aishh!” gemas Deswita mencubit bibir Ravin. “Sekarang saja, kamu menyuruh kita santai tapi, saat menyebalkan kamu gak pernah biarin kita masuk sini!” “Aw!” rintih Ravin pelan, menggosok bibirnya yang baru saja dicubit. “Kalian datang cuman buat mukulin aku doang, yah? Duh, sayang coba liat bibirku,” ujarnya kemudian sambil mendekati Inara, ingin diperhatikan. Pipi Inara menjadi merah sedikit malu karena Ravin datang dengan bibirnya yang bergerak maju tetapi, dia tidak bisa menolak menyentuhnya dan menggosoknya perlahan. Tidak ada bekas luka sungguhan. “Gapapa, Kok! Ini baik-baik aja. Udah duduk sana, Ayo, kita makan dulu! Nanti masakannya dingin.” Mata Deswita berbinar senang melihat anaknya dan menantunya sangat rukun. Dia bahagia karena merasa pilihannya saat itu tepat sembari begitu Deswita pun tidak lupa, bergelayut manja pada suaminya. “Ya, ampun. Mereka manis sekali seperti kita.” “Yah, untungnya,” bisik Adibrata --yang hanya bisa di dengar istrinya—merasa lega keputusan istrinya untuk menikahkan mereka baik-baik saja dan berharap untuk selamanya juga. ** “Jadi ini apa, hah?” Sekali lagi Adibrata memukulkan gulungan kertas ke kepala Ravin lalu, membuka lembaran kertas tersebut. Sambil mengusap-usap kepalanya yang tidak seberapa sakit, Ravin membaca isi lembaran surat tersebut, yang langsung membuat bibirnya tertarik ke samping kemudian menatap ayahnya. “Jadi, Daddy ke sini, buat ini?” “Iya,” jawabnya sambil menyesap teh hangat buatan menantunya, mereka sudah menyelesaikan makan malam dan duduk santai di Living room sambil bersantai. “Kamu beneran mau ngelaksanain hal itu,hah? Emangnya buat apa?” “Tidak untuk apa-apa? Aku hanya ingin para karyawan memang sudah sesuai kemampuannya.” “Daddy, gak masalah kamu mau ngelakuin apa sama perusahaan itu kecuali, jangan buat bangkrut aja. Satu lagi, kamu gak tahu gimana mereka begitu ketakutannya?” Ravin malah tertawa, mendengar yang dikatakan ayahnya. “Kenapa mereka harus begitu ketakutan? Ini hanya akan seperti tes sederhana.” Adibrata ingin sekali lagi memukul kepal Ravin, sayang. Anak itu mengelak dan malah menjadikan lembaran kertas ditangan sebagai tameng. “Jangan mengerjai mereka apalagi, orang yang lebih tua darimu.” “Aku gak ngerjain mereka, cuman ngajarin mereka biar kerja bener.” “Lebih baik kamu pikirin lagi, deh. Laporan itu udah ke tangan Daddy dan bakal ngerepotin kalo mereka ngajuin protes kayak gitu lagi.” “Biar saja, Dad! Bukan cuman mereka ini yang butuh pekerjaan,” ujar Ravin dengan santainya sedangkan Adibrata hanya bisa menggeleng pasrah. Tidak jauh seperti Ravin dan Adibrata yang sedang berbincang tentang urusan mereka. Deswita dan Inara masih nyaman duduk sambil berbincang di ruang makan setelah keduanya selesai mencuci piring. Puas dengan bercerita kesana kemari, Deswita menahan-nahan diri untuk tidak mengutarakan sesuatu dari bibirnya karena berkali-kali dia terus-menerus menyesap minumannya. Inara juga merasakan sesuatu, berkali-kali tatapan yang diberikan mertuanya itu seakan ada sesuatu yang ingin dikatakan. “Mom, sebenarnya ada apa?” tanya Inara hatti-hati meski, dia penasaran apa yang ingin dikatakan Deswita, sisi lainnya dia juga khawatir apa yang dikatakan bukan hal kurang baik. Jujur saja, terkadang mendengar nama Elvan saja membuat mood-nya berubah terutama hubungannya dengan Ravin. Deswita menegakkan punggungnya, tersenyum lembut setelah selesai membasahi mulutnya untuk terakhir kali. “Mommy, hanya ingin tahu apa kapan kamu dan Ravin ngasih mama cucu? Mommy, udah pengen gendong baby kalian?” Raut wajah Inara hilang dari ketegangan sebelumnya tetapi, berubah menjadi terhenyak. Begitu terkejut dengan perkataan Deswita bahkan, tersadar kembali dari lamunannya. Pipi Inara berubah menjadi memerah. “Mommy kenapa nanya begitu?! Rezeky bayi, Tuhan yang sudah mengatur.” “Itu memang benar tapi, kalian benar-benar berusaha, kan? Kalian sudah melakukannya, kan?” “Mommy!?” pekik Inara tertahan tetapi, malah disambut senyum ceria Deswita. “Tapi, beneran, kan. Kalian udah …” Deswita memperagakan ‘sesuatu’ dengan kedua tangannya. Kepala Inara mengangguk meski, malu parah. “Kami ngga nunda kehamilan, kok! Jadi, Mommy gak usah khawatir. Semua udah diatur sama Tuhan.” Mendengar jawaban Inara yang melegakkan. Deswita juga merasa puas dan tidak banyak lagi n apapun. “Baguslah! Mommy sempat khawatir sebelumnya, soal hubungan kalian berdua tapi, itu hanya kekhawatiran belaka,” “Iya, jadi Mommy tenang saja!” “Mommy, tenang-tenang saja, kok! Hanya ingin kalian punya momongan saja dengan cepat?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN