Inara beberapakali melirik ke samping, di mana Ravin sedang menyetir dengan raut wajah bahagia sejak bangun tadi pagi dan tidak seperti biasanya. Hari ini dia tampil lebih bersemangat seolah ada sesuatu yang sedang dinantinya sungguh membuat penasaran, beberapakali sudah Inara bertanya sebenarnya ada apa tapi, Ravin tidak menganggapnya hal penting dan hanya menjawab dengan mengatakan hanya akan ada tes. Lalu, tes seperti apa yang membuatnya begitu bahagia?
Meski, sebenarnya dia juga sudah tahu tentang tes ini dari mertuanya beberapa malam lalu saat dengan sengaja datang. Tetapi, dia masih ingin tahu detail-nya. Kenapa tiba-tiba Ravin melakukan hal seperti itu?! Sayang, Ravin terlalu asyik sendiri dengan pikirannya tidak peka jika, Inara sudah mulai kesal dan tidak puas dengan tingkahnya. “Nanti siang tidak usah datang, nanti aku makan siang bareng yang lain.”
“Oh, oke!” sahut santai seolah itu bukan masalah besar.
Mendengar jawaban seperti itu lagi, Inara mendengus keras. Melirik Ravin dengan sinis, dia baru sadar ternyata suaminya juga tidak selalu punya kepekaan tinggi terhadap sesuatu dan hal itu sangat membuat frustrasi. Akhirnya dia tidak bisa berharap banyak punya suami yang sempurna. “Hari ini aku juga mau pulang malem, aku mau nonton dan traktir temen-temenku di restoran seafood yang baru dibuka.”
“Restoran Seafood? Ayo pergi ke sana, aku juga mau ikut.”
“Aku cuman mau sama temen-temenku,” jawabnya sedikit dingin. Tetapi, Ravin yang tidak sadar dengan mood istrinya masih bertindak dengan santai.
“Jangan gitu dong!? Aku tetep ikut, yah? Lagian kamu yang traktir sesekali traktir juga suamimu ini,” ujarnya sambil mengangkat alis.
“Tapi, aku, kan mau bawa temen-temenku.” Tolak Inara sambil memalingkan wajahnya, masih sedikit tak tahan jika melihat tingkah tampan suaminya. Ravin jadi sangat tampan hanya dengan mengangkat alisnya saja.
“Ya, gapapa donk! Sekalian kenalan, aku juga harus tahu temen-temen kamu kayak gimana,” jawab Ravin masih dengan senyum bahagianya.
Inara menghela, mengangguk pasrah setelah memastikan wajah tampannya masih memesona. “Oke!”
“Harus kujemput atau kamu mau bareng ama temen-temen kamu?!
“Aku bareng temen-temen aja, Mas datang telatan aja. Jangan kepagian entar, disangkanya nungguin.” Ravin menganguk-angguk setuju saja, tidak keberatan sama sekali tetapi, sikapnya itu malah membuat Inara tambah menghela napas.
“Gimana, Rud, semuanya udah datang?”
Rudi mengiyakan, “Mereka sudah datang dan sudah stand-by diruangan yang sudah disediakan. Kalo begitu. Apa Pak Ravin mau datang ke sana sekarang?”
Ravin menggeleng. “Masih banyak yang harus kukerjakan biarkan saja mereka bekerja dan ingatkan mereka …untuk tepat waktu! Tidak ada nepotisme dan kolusi, kamu sudah cek semua orang, kan?”
“Yah, semua sesuai yang Pak Ravin perintahkan.”
Mendengar itu Ravin senang dan puas, dia akan mendidik bawahannya agar lebih berdedikasi lagi pada perusahaan tidak terkecuali para manager dibawah arahannya meski, mereka marah sampai membencinya dan membuat surat protes ke ayahnya tidak ada yang bisa dilakukan mereka karena ketetapan dan kebijakan perusahaan dialah yang buat. Sebenarnya, apa yang dilakukan Ravin juga tidak berlebihan, dia hanya membuat tes dasar bagi seluruh karyawan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Semua jadwal sudah ia atur sebaik mungkin agar tidak menggangu pekerjaan mereka juga.
Terlebih Ravin juga dengaja membawa para Ahli ditiap bidang dari perusahaan-perusahaan ternama yang dia kenal terutama dari tiga perusahaan besar teman-temannya untuk jadi, pengawas itu pun masih sangat dia awasi dengan memeriksa latar belakang mereka. Akhirnya, dia akan menilai lalu, mengawasi ulang apa posisi mereka memang sudah pantas berada di tempatnya. Sebenarnya dia bisa saja langsung menggeretak mereka seperti yang dilakukannya pada sekertaris Elvan sebelumnya dengan langsung memecatnya tetapi, tidak terlalu mengasikkan.
“Membuat mereka tegang dan cemas semua orang adalah sesuatu,” ujar Ravin dengan tawa yang tidak bisa dia tahan melihat orang-orang itu gugup hanya karena tes sederhana yang dibuatnya.
“Pak Ravin, apa Anda akan me-rekontruksi jabatan mereka?”
“Kenapa tidak? Kamu pikir buat apa aku repot-repot melakukan hal ini. Seharusnya sebagian dari orang-orang itu bahagia jika, mereka punya kemampuan mereka bisa memimpin.”
“Tapi, bukankah tidak semudah itu?! Prestasi dan kemampuan seseorang tidak hanya bisa ditunjukan oleh tes semata tapi, banyak hal.”
Ravin mengacungkan jempol padanya tanpa mengangkat kepalanya karena dia sudah disibukkan lagi dengan banyaknya berkas diatas mejanya. “Kalau begitu coba pikirkan apa lagi yang harus kulakukan setelah semua tes ini selesai.”
Rudi menahan napas, memukul bagian d**a kirinya pelan mencoba sabar. ‘Kenapa harus gue yang nyari solusi!?’ batinya berucap lelah. “Pak, aku kembali ke tempatku dulu,” ucapnya memilih menyingkir saat ini. Ravin bergumam mengiyakan.
Setelah keluar dari ruangan Ravin, Rudi yang sedikit lelah berjalan terlebih dulu ke pantry jika, mengingat tempat itu dia jadi, teringat akar masalah para karyawan di sini. Sungguh, membuat pekerjaannya makin menumpuk jika saja mereka punya mulut untuk dijaga tidak aka nada hal seperti hari ini terjadi. Perombakan besar-besaran , luar biasa harusnya para karyawan ini lebih pintar setelah ini.
“Aaackh!”
“Yah, jangan teriak!”
“Sialan! Gimana gak teriak. Ngapain kalian di sini?” tanya Rudi yang sebenarnya baru saja sampai belokan ruangan sebelum akhirnya bertabrakan dengan orang-orang di depannya. “Kalian beneran cari masalah, bukannya kerja malah ngumpul di sini? Mau cari mati lagi, hah?”
“Sini lo!” Seorang teman Rudi mengeretnya sedikit jauh dari persimpangan dan memastikan kamera CCTV tidak menangkap keberadaan mereka. “Lo, anak baru, kan tadi udah dapet kepercayaan, Bos! Seneng banget,kan lo!?”
Kata-kata itu yang pertama kali didengar Rudi dari orang yang sudah dianggapnya teman. “Jer, apaan sih, Lo?!”
“Kalo gitu kasih tahu kita, donk?! Apa yang bakal dilakuin Bos? Masa kita harus ikut tes-tes gitu kayak mau daftar CPNS aja, sih?!”
“Lo lo pada udah tanya berapa kali, gue dah bilang. Gue juga gak tahu maunya si Boss…udah lakuin aja. Tinggal tes ini?! kagak bakalan dipecat, palingan ada yang naik dan turun jabatan aja.”
“Aaah, sialan! Tapi, gaji kagak dipoto—“
“Kalo soal gaji pasti disesuaikan! Tuh, manager keuangan ama gue lagi mempersiakannya,” potong Rudi cepat tetapi, itu sebenarnya tidak begitu, Ravin tidak atau belum pernah bicara soal keuangan tapi, dia bertekad merombak setiap sector pekerjaan dipegang oleh orang-orang berkompeten atau sebenarnya dia hanya ingin suasana baru saja. Itu yang jadi tebakkannya.
**
“Dira, yang lain gimana? Nanti malam jadi, kan?” tanya Inara sambil tetap menggambar sketsa gaun yang dipesan pelanggannya.
Nadira menoleh, menghentikan aktivitasnya mengikat sepatu barunya. “Tentu saja, donk! Kita gak bakalan kehilangan duit karena lo yang terakhir. Gak mungkin mereka nolak! Gimana sepatu baru gue? Bagus kagak?”
Inara melongok ke bawah kaki Nadira. “Baguslah! Tapi, jangan dipake sebelahan gitu donk?! Yang satu sepatu pesanan, kan?”
“Yah, kan, nyobain doang! Gapapa,” sahut Nadira sambil tertawa renyah tidak merasa bersalah. “Gue harus pastiin juga mana yang bagus dan cocok buat kaki gue ini.”
“Dasar,” dengus Inara sambil menggelen pasrah. “Oh, iya. Gapapa, kan kalo sampai Mas Ravin ikut dateng?”
“Apa? Siapa maksudnya?” Nadira terkejut sampai bola matanya keluar saking terkejutnya.
“Mas Ravin pengen ikut makan malem bareng-bareng kita sekalian, kenalan sama kalian.” Inara menatap Nadira intens menatapnya menunggu tanggapannya.
Nadira akhirnya tidak punya alasan untuk menolak dan berpikir juga, lewat makan malam ini mungkin dia bisa tahu lebih jauh soal sosok Ravin yang dinikahi sahabatnya. “Tentu aja, bagus juga dia pengen kenal sahabat-sahabat kamu, Nara.”
Inara bergumam mengiyakan. “Tapi, pagi tadi dia nyebelin banget. Sebenarnya aku malas ngajak dia makan malam,” bisiknya sendiri. tetapi, jika dibayangkan teman-temannya bisa mengenal Ravin, bajal jadi kebanggan tersendiri jika itu terjadi.
“Gimana perasaannya? Baik-baik aja, kan?” tanya Elvan setelah mereka akhirnya mendarat turun dengan selamat di bandara.
Jovanka,sedikit melonggarkan syalnya. Tersenyum tipis dan mengiyakan apa yang dikatakan Elvann. Yah, semuanya baik-baik saja selama perjalanan. Saat ini Jovanka keluar dengan menggunakan coat panjang juga syal hampir menutupi seluruh tubuh tingginya, belum lagi kacamata, yang menyelubungi matanya dan hasilnya seperti itu hampir menyembunyikan dirinya sendiri dan hanya geraian rambutnya saja yang tampil dengan bebas. “Kamu mau langsung pulang?”
“Aku masih bingung harus pergi ke mana terlebih dulu. Lalu, apa aku harus ngantar Mbak terlebih dulu?” tawar Elvan
“Gak usah… itu!” Jovanka menunjuk seseorang yang tengah melambai ke arahnya. “Aku pergi duluan, yah?! Nanti aku hubungi lagi setelah aku benar-benar siap.”
Elvan, mengangguk setuju lalu, membiarkan Jovankan berjalan terlebih dulu darinya. Sedangksn, dia masih berdiri kepinggir sambil memegang ponselnya dan mencoba untuk menghubungi salah satu keluarganya. Elvan menghubungi ibunya tetapi, beberapa kali tersambung tidak ada juga yang mengangkat. Menghela napas akhirnya, dia pasrah dan hanya bisa mengambil langsung jalan pulang menggunakan taksi.