Kenapa harus dia ??

1404 Kata
Elvan berada di dalam taksi, melihat jalanan ibu kota yang sudah ditinggalkan beberapa bulan ini. Di luar sana langit tengah mendung dengan tetesan air hujan mulai jatuh ke atas jendela. Beberapa kali Elvan tidak berhenti melirik ponselnya di mana tertera nama-nama orang yang ingin dia hubungi mulai dari Ibunya, Inara bahkan, sampai Nadira. Ketiga wanita itu berderet itu ingin dia hubungi. “Pak, pergi ke Mall-ik aja, ya,” ujar Elvan akhirnya setelah berpikir berulang kali sampai memutuskan dia harus bertemu Inara terlebih dulu dan menjelaskan semuanya juga, untuk Nadira. Elvan sudah sadar dia harus melupakan perasaaannya, apa yang terjadi malam itu hanya karena dorongan sesaatnya. “Bangun, Mas, sudah sampai.” Elvan yang masih sempat tertidur di dalam taksi karena lelah dan jet-lag yang mendera dan kini terhenyak bangun saking terkejutnya sampai bola matanya terbuka lebar membuat si sopir terkekeh geli. “Maaf, Pak! Malah ketiduran,” ujarnya sedikit malu dan bersiap untuk turun. “Gapapa, Mas.” Mendengarnya Elvan hanya tersenyum lalu, menyerahkan ongkosnya sebelum keluar dan mengambil kopernya dari dalam bagasi. Elvan memasuki Mall dari lobi depan dengan banyak perhatian bukan hanya karyawan Mall yang mengenalnya tapi, juga dari para pelanggan Mall yang sesekali meliriknya karena dia terlihat cukup aneh dengan datang menggeret koper. Elvan mendatangi butik Inara, dia pikir masih ada waktu untuk menemuinya di sini karena yang dia tahu ini belum waktunya wanita itu untuk pulang. Tetapi, setelah sampai di sana yang Elvan bukanlah Inara tetapi, Nadira. Yah, seharusnya dia tidak lupa jika kedua wanita itu bekerja di tempat yang sama. “Bagas, gue masih belum pulang. Lo masih mau nunggu?” Pria bernama Bagas itu menganguk, mengiyakan sambil mengusak rambutnya. “Iya, gue tungguin. Ya, udah sana kerja lagi! Gue ke coffeshop dulu aja, entar wa aja kalau udah pulang.” “Oke! Ya, udah pergi sana!” Usir Nadira mendorong punggung Bagas agar cepat berjalan pergi lalu, melambaikan tangan setelah melihatnya mulai berjalan menjauh. “Dira!” panggil Elvan cepat sambil meraih lengan Nadira yang baru saja hendak berbalik masuk ke toko butiknya. “Elvan!” Nadira cukup terkejut ketika berbalik melihat pria yang sudah beberapa bulan ini pergi menghilang. Mata Nadira tidak bisa menyembunyikan kemarahannya, dia menyentak tangan pria itu hingga terhempas. “Ngapain lo ke sini, hah? Baru inget balik, lo setelah kabur gitu aja?! Dasar cowo kurang ajar!” kesalnya terus mengumpat kasar dan memukul d**a dan lengan Elvan kuat tidak peduli jika, dia tengah diperhatikan oleh pengunjung lain. Elvan juga tidak melawan membiarkan kemarahan Nadira meluap sebelum akhirnya, semakin lama pukulan itu makin keras dan dia mulai tak tahan. “Sudah, Dir. Aku kesakitan,” ucapnya sambil menahan tangan Nadira. Nadira menghela napas, menyentak tangannya hingga terlepas lalu menatap Elvan dengan mata tajamnya. “Harusnya, bukan gue yang marah kayak gini! Bukan gue yang lo tinggalin dipelaminan.” Setelah mengatakan itu Nadira berbalik pergi. “Tunggu, Dir!” Elvan segera berjalan menyusulnya, tidak lupa juga dengan kopernya. “Ayo, bicara dulu!” “Ngapain gue harus bicara sama, lo?” “Oh, Pak Elvan?!” Beberapa karyawan berseru terkejut melihat mantan calon suami Bos mereka datang tiba-tiba. Nadira yang melihat ini mengerutkan kening melihat bergantian antara Elvan dan pegawainya, mendengus dingin lalu masuk lebih dalam ke ruang kerjanya dan Inara. Dalam hati Nadira bersyukur, sahabatnya memilih pulang terlebih dulu jika, mereka bertemu bagaimana jadinya? Dia tidak bisa menebak. Seperti yang diduga Elvan tetap mengikutinya sampai ke ruangannya. Nadira sudah bersiap melipat kedua tangannya di depan d**a sambil bersandar di meja, menatapnya dengan pandangan malas. “Siapa yang suruh lo masuk?” Helaan napas Elvan terdengar cukup berat, melihat ke sana kemari tetapi, orang yang ingin dia lihat tidak ada sehingga, fokusnya kembali pada Nadira. “Aku tahu aku salah, Dir!? Tolong, dengerin penjelasan aku dulu.” Kepala Nadira menunduk, tangannya menjepit pangkal hidungnya kepalanya tiba-tiab pening. Jelas, dia tidak mau bicara dengan Elvan dan tidak ingin ada hubungannya dengan masalah kepergiannya. “Sebenernya Lo gak perlu sama sekali ngejelasin apapun sama gue, Van. Lebih baik, Lo segera pulang aja. Temuin kedua orangtua, Lo.” Saran Nadira, tentu saja karena dia tidak akan mau memberitahu kabar yang bisa membuat Elvan mati berdiri nantinya. “Aku tau, kok! Tapi tetap saja. Aku juga harus nuntasin perasaanku sama kamu.” “Ngga perlu! Gue juga gak peduli,” sahut Nadira sambil berjalan mendekati Elvan lalu memegang kerah coat-nya. “Lo, harus balik ke rumah sekarang setelah itu, apapun yang terjadi. Lo harus renungin apa yang udah lo lakuin sendiri. Cepet pergi!” Elvan malah memegang tangan Nadira, dengan tatapan matanya dia bicara dengan sungguh-sungguh. “Aku salah besar sama kamu dan Inara. Hampir aja aku mempermainkan kalian kalo aja kamu gak bikin aku sadar dan buat itu semua. Aku perlu waktu dan memilih pergi terlebih dulu, ngeberesin hati aku yang berantakkan karena perasaan aku sama kamu ini.” Nadira sebenarnya sedikit linglung, tidak tahu apa yang harus dia jawab atas pernyataan Elvan tetapi, semua itu juga jelas hanya pernyataan bukan pertanyaan yang harus pasti jawabannya. “Oke, oke! Jadi, kamu udah baik-baik aja sekarang, kan?” tanyanya sambil melepas tangan Ravin yang masih memegang pergelangan lengannya. “Makasih buat semuanya. Maafin aku karena hampir saja menghancurkan semuanya,” ujar Elvan kali ini dengan senyuman leganya. “Juga, aku gak pengen hal ini jadi alasan yang harus gue sebut di depan Inara.” Bibir Nadira terkatup rapat, sebenarnya siapa peduli dengan alasan Elvan sekarang. Nasi sudah menjadi bubur, tak waktunya ada yang bisa diulang jika sudah terlewat. “Pergilah!” Elvan mengangguk, berbalik hendak pergi lalu, berbalik lagi. “Cowok tadi,apa dia cowo kamu?” tanya Elvan tiba-tiba tetapi, akhirnya kepalanya menggeleng. Seolah tidak mau tahu apa yang dijawab Nadira. Elvan lebih memilih mengajukan pertanyan lain. “Kamu tahu ke mana Inara pergi?” Giliran Nadira menggeleng, terlalu malas menjawab dan khwatir mulutnya akan mengatakan apa yang tidak seharusnya. “Inara sudah pulang! Pergi, pergi,” ujarnya sampai mendorong Elvan keluar pintunya dan menutupnya. Masih di sana, Nadira tengah menyandarkan punggungnya dibalik pintu setelah Ravin mengusir Ravin. ‘Lo, bener-bener gak punya otak dan hati, Van. Seenteng itu nyatain lalu, narik ucapan seolah itu gak ada apa-apanya, ‘ keluh Nadira dalam hati. Lalu, berjalan lagi ke meja kerjanya dan mulai mengerjakan sesuatu seolah ingin menghilangkan pikirannya tentan Elvan. Sayang, dia tidak bisa dan hanya berakhir mencemaskannya. Sore itu Inara dan Ravin sendiri sedang berada di salon dan sedang bersiap-siap untuk pergi ke pesta perjamuan yang diadakan para kolega perusahaan. Malam ini sangat istimewa karena pertama kalinya mereka pergi ke pesta sebagai suami istri jadi bukan hanya Ravin, Inara pun sedikit bersemangat. Dia ingin di dandani tetapi, juga gaun yang dipakainya tentu saja rancangan sendiri. Bangganya pasti berkali-kali lipat. Ravin,sih, menurut saja yang terpenting Inara istrinya akan lebih bahagia dan akan semakin cantik setelah berhasil di dandani. Itulah keberhasilan seorang suami, mampu membuat istrinya cantik bagi setiap yang melihat. Saat ini Inara masih duduk dengan rambut yang ditutupi handuk baru saja selesai keramas dan sibuk membuka-buka majalah. “Mas, kenapa, sih?” “Ada apa?” Ravin balik bertanya. Inara mendengus, menutup majalahnya lalu mulai mencubit hidung bangir Ravin. “Kamu terus aja liatin aku. Aku, kan jadi ge-er dan gak konsentrasi.” “Hm! Abis kamu cantik, Sayang! Makanya, rugi banget kalo gak diperhatiin.” “Gombal banget,” dengus Inara disertai senyuman puas. Mereka menghabiskan waktu cukup lama, hampir dua jam lebih berada di dalam salon. Sebenarnya kebutuhan Ravin tidak seberapa tetapi, berbeda ketika itu Inara. Semua perawatan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki tak satupun terlewat. Menunggu sekian lamanya Ravin sangat puas melihat hasilnya. Inaranya menjadi lebih cantik dari biasanya. Rambutnya yang digerai tetapi, bergelombang. Make-up tipis dan gaun putih dengan v-neck sedikit terbuka serta memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah serta dipadukan dengan suami yang gagah dan berkharisma yang memakai jas yang juga buatan istrinya. Kehadiran keduanya di pesta jadi sorotan utama para tamu undangan. Semua orang ingin berkumpul d i dekat mereka. Sementara Ravin dan Inara tengah dikelilingi kebagiaan. Elvan yang baru saja sampai di rumah harus tersentak, terkejut bukan main ketika kakinya mulai masuk dan hendak berseru memanggil ibunya. Sebuah tangkapan mata mengalihkannya, di mana ada potret besar bertema keluarga bahagia yang tidak menyertakan dirinya. Berkali-kali Elvan mengusak matanya,mencoba melihatnya dengan seksama penuh perhatian. Masih saja tak terlihat ada sosok dirinya, yang ada hanya sosok mereka dan …Inara. Kekasih, calon istrinya. Lalu kenapa bersanding dengan kakaknya Ravin ?! “Mommy!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN