Kenyataan yang pahit

2015 Kata
“Mommy sama Daddy gak bakal sampai bunuh aku, kan? Gimana kalo iya, apa aku ke apartemen Mas Ravin aja, yah?” Elvan tengah berbicara sendiri sambil mengeluarkan kopernya dari bagasi melihat rumahnya yang sudah ada di depan mata. Menarik napas akhirnya Elvan tetap menghadapi semuanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Elvan menepuk bagasi mobil dengan cukup pelan mengisyaratkan pada supir jika dia sudah selesai dan taksi bisa berbalik pergi. Sesaat dia berdiri diam terlebih dulu, cahaya dari lampu-lampu ditaman maupun dirumah sudah menyala. “Belum terlalu malam seharusnya mereka masih makan malam,” ujarnya seperti itu sebelum berjalan memasuki pekarangan rumah. Para penjaga keamanan cukup dibuat terkejut melihat pemandangan Tuan muda keduanya yang tiba-tiba pulang. “Den Elvan? Beneran ini?” “Iya, donk Pak Bob… kalau bukan saya emang siapa lagi? Baru aja pergi beberapa bulan masa kalian sudah pada lupa.” “Eh, ngga gitu, Den. Kaget aja, kita, teh,” sahut Pak Musri penjaga keamanan yang lain. “Den Elvan tiba-tiba pergi terus tiba-tiba balik juga udah kayak hantu jelangkung.” Elvan tertawa, tidak merasa tersinggung karena lelucon mereka. “Ya, udah saya masuk dulu mau bikin kejutan buat mommy.” “Iya, Den, cepet masuk. Nyonya pasti bakalan seneng!” Kedua orang itu mempersilahkan Elvan untuk segera masuk. “Kopernya biar saya bawain, Den?!” tawar Pak Musri berjalan mendekatinya tetapi, segera ditolak Elvan. “Gak usah Pak Mus, saya bisa sendiri,” ujar Elvan sambil berlalu pergi tanpa menoleh lagi. Segera setengah tak sabar Elvan membuka pintu rumah sambil mencoba bersikap ceria seolah dia baru saja pulang dari berlibur itu niatannya. Tetapi, apa yang terjadi suaranya tersendat di tenggorokan dengan pemandangan mata yang jatuh pada sebuah pigura tepat setelah dia membuka pintu. Tubuhnya memantung, jiwanya terasa melayang dan tersentak oleh kenyataan. Potret itu adalah potret keluarga di mana tak terlihat ada sosok dirinya, yang ada hanya sosok mereka dan …Inara. Kekasih, calon istrinya. Lalu kenapa bersanding dengan kakaknya, Ravin?! “Mommy!”teriak Elvan menggema diseluruh ruangan. “Mommy! Daddy!” lagi suaranya memanggil tanpa dia berusaha mencari karena, jelas matanya sepertinya tidak mampu berpaling dari potret perkawinan tersebut. Adibrata dan Deswita yang sedang berada di meja makan sama terkejutnya mendengar suara menggelegar yang rasanya tidak asing lagi bagi mereka. keduanya berpandangan sebelum akhirnya berdiri dan berlari menuju asal suara dan melihat siapa yang tengah berdiri mematung di sana. Ternyata tidak salah lagi anak bungsu mereka yang pergi entah ke mana beberapa bulan ini baru saja kembali. Kedua mata Deswita berkaca-kaca tanpa diminta, dia terlalu bahagia sehingga lupa apa yang sebenarnya sedang dilihat Ravin. Langkah kakinya membawanya untuk memeluk si Kesayangannya. “Elvan, Mommy, kangen sama kam—“ Tangan Deswita jatuh begitu saja, tidak mampu meraih pelukan Elvan yang dengan cepat menghindarinya. “Apa itu, Mom?” Tunjuk Elvan. Mendengar pertanyaan itu Deswita menoleh begitu juga Adibrata yang masih berdiri di tempatnya. Keduanya akhirnya menyadari sesuatu. Deswita menelan ludah, dia menjadi sedikit gugup karena ini. Dia tidak tahu akan seperti ini akhirnya, sebenarnya figura foto itu sudah Ravin protes sebelumnya tetapi, dia terlalu keras kepala dan bahagia karena anak kesayangannya akhirnya menikah. Dia ingin semua tamu yang datang nanti melihat tapi, sialnya itu termasuk Elvan. “I-itu… kamu bisa dengerin Mommy sama Daddy dulu, kan? Ayo, kita masuk ke dalam dulu?!” Kepala Elvan menggeleng, dia tidak mau mendengar. Kakinya sudah akan berbalik ketika tangannya kali ini di tahan ibunya. “Lepas, Mom. Aku mau cari Inara sama Mas Ravin.” Cekalan tangan Deswita makin mengerat. “Kamu gak bisa pergi ke mana-mana.” “Mommy?!” Elvan menghempaskan tangan Deswita dan hampir saja membuatnya terhuyung jatuh saking kuatnya jika, tidak ada Adibrata yang menahan tubuhnya. “Elvan!” teriak Adibrata marah. “Berani sekali kamu kasar sama ibumu sendiri.” Mendengar teguran itu, Elvan menyadari kesalahannya. Dia menghela napas dan mencoba menahan diri. “Maaf, Mom,” ujarnya sambil menunduk, mengusap wajah lelahnya lalu mengangkat kepalanya. “Tapi, aku gak bakal berhenti marah dan diam setelah cuma mendengar penjelasan Mommy dan Daddy aja.” “Apa kami juga cuman bakal diem aja mendengar penjalasan kamu yang melarikan diri di hari pernikahan, hah?” balas Adibrata tak kalah marah. “Masuk kamu sekarang!” lanjutnya dengan lirikan tajam dan tegas. Kemudian, dia merangkul istrinya Deswita yang sudah bercucuran air mata sedih. “Aaackh!” Elvan menjambak rambutnya kesal dan marah tetapi, tetap berbalik menggusur kopernya dan masuk ke dalam. Orangtuanya sudah duduk di sofa, di ruang keluarga berdampingan di mana ayahnya sedang menghibur ibunya dengan menghapus air matanya. Sosok seorang suami yang mencintai istrinya jika, bukan dalam keadaan hati seperti ini Elvan pasti sudah menggoda keduanya tetapi, melihatnya sekarang dia tidak peduli karena tiba-tiba pikirannya penat. Adibrata menepuk bahu istrinya lembut setelah melihat Elvan duduk dan tengah memandangi mereka. “Sayang, kamu udah tenangkan? Ayo, sekarang bicaralah pada anakmu itu?!” Deswita melirik suaminya dengan lirikan tajam juga, tak lupa sebuah cubitan di paha Adibrata sukses membuatnya berjengit nyeri. Kesal karena suaminya ini bisa-bisanya menyerahkan pembicaraan ini padanya. Rasa bersalahnya tentu besar tetapi, tidak sampai membuatnya menyesal. “Dad, lebih baik kamu aja yang ngomong,” ucapnya dengan segala penekanan. Deswita masih tidak tega dan tidak tahu harus mengatakan apa? Apa tidak masalah jika, terlalu jujur. Dia takut dibenci anak bungsunya ini sebagai penyebab pernikahan kakaknya dengan Inara meski benar adanya. “Mom, kamu, kan yang haru—ok! Ok!” Adibrata akhirnya menyerah setelah mendapat tatapan marah dari istri tercintanya belum lagi, dia melihat anak bungsunya, yang hilang sudah kembali dan sedang berada dalam keadaan linglung. “Elvan.” Elvan mendongak hanya untuk melihat tatapan kedua orang tuanya. “Mom, Dad,” panggilnya yang menghasilkan kepalan ditangannya. “Kalian tidak menyembunyikan sesuatu dariku, kan?” “Menyembunyikan apa?” “Foto tadi bohong, kan?”balasnya lagi. “Seperti yang kamu lihat. Kakak kamu yang akhirnya menikahi Inara,” terang Adibrata tanpa merasa kesulitan meski, sangat disayangkan tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi Elvan saat ini. “Dad! Kenapa?” Elvan berdiri, dengan tampangnya yang terluka. “Inara gak mungkin selingkuh? Dia, kan cuman mencintaiku?Kapan? Bagaimana bisa?!” Adibrata mendengus, lalu melanjutkan perkataanya tanpa ragu sedikitpun. “Tentu saja bisa. Kamu yang seharusnya menikah hari itu malah melarikan diri tanpa alasan yang jelas membuat semua orang hampir malu terutama calon istri kamu, yang sekarang kamu bisa memanggilnya kakak ipar.” “Daddy, aackhh!” Elvan tiba bisa terima, dia berteriak kesal sekaligus menyesal. “Aku bakal cari Mas Ravin, dia harus ngembaliin Inara sama aku.” “Inara bukan barang yang bisa kamu ambil dan buang seenaknya saja,” ucap Deswita, yang kali ini ikut berdiri untuk menahan Elvan yang hendak pergi. “Keduanya sudah bahagia jangan mengganggu mereka.” Di saat seperti ini memangnya siapa yang peduli. Elvan kali ini tidak membiarkan kedua orang tuanya menahannya lagi, dia berlari mengambil kunci mobilnya. Dia harus menemui Ravin, mereka tidak bisa seperti ini. Inara itu mencintainya jadi, tidak mungkin dia bisa bahagia. Hidupnya pasti menderita menikah dengan kakaknya, Elvan akan membawanya kembali. Pikirnya. Deswita dan Adibrata tidak bisa mencegah kepergian Elvan dan hanya bisa mencoba mengejarnya sembari menghubungi Ravin dan Inara agar keduanya tidaklah terkejut tentang kedatangan Elvan. “Bagaimana ini Ravin maupun Inara tidak bisa dihubungi?” “Cobalah lagi!” perintah Adibrata pada istrinya sedangkan, dia masih sibuk dengan menyetir sambil tetap mencoba mengekor di belakang mobil Elvan. *** Sedangkan Ravin dan Inara masih menikmati jamuan pesta dan tidak mendengar suara ponselnya yang terus bergetar. Ravin jadi begitu sibuk menyapa kenalannya ke sana kemari, tidak ada celah untuk bisa menikmati pestanya bersama Inara. Belum saja mereka ditinggal pergi oleh yang lain, sudah ada beberapa orang lain datang dan menyapa, memperkenalkan diri lalu, kembali berbicara ini itu lagi. Inara mencoleh tangan Ravin, kakinya sudah sangat pegal dan minta izin untuk mengundurkan diri. Dia terlalu haus dan lelah untuk jadi manikin berjalan terus- menerus. “Mas, aku pergi ngambil minum dulu, ya?” “Iya, Sayang! Sebentar lagi aku nyusul, ya?” Inara tersenyum mengangguk, tidak hanya pada Ravin tapi, juga pada yang lain. Sesampai di tempat yang menurutnya nyaman, Inara langsung menarik napas lega. “Minum, Nyonya?” tawar seorang pramusaji. Tanpa bicara, Inara menganguk dan mengambil minuman pilihannya tetapi, belum dia bisa menyesap minumannya gelas itu sudah melayang pergi jauh darinya kembali ke nampan pramusaji. “Kamu tidak bisa minum itu, berikan dia jus jeruk!?” perintah Ravin yang tiba-tiba saja datang, menyelamatkanya dari efek mabuk nantinya. Tak lupa dia segera menyuruh pelayan mengambilkan apa yang diinginkan. “Mas, udah ke sini aja. Yang lain bagaimana?’ “Gak usah mikirin yang lain,” ujar Ravin sambil mengusap lembut bagian sisi wajah Inara. “Cape, ya, sampe keringetan gini! Mau pulang sekarang?” “Heh, ini baru jam berapa?” “Gapapa, kita pulang aja atau …jalan-jalan ke tempat lain,” usul Ravin lalu sambil setengah berbisik dia mendekati telinga Inara. “Di sini membosankan. Ayo, pergi!” “Ini minumannya…Tuan, Nyonya.” Tepat waktu sebelum mereka sempat berdiri dan berpamitan. Ravin mengambil minumannya dan menyerahkan pada Inara yang tidak disangka meneguknya sampai habis membuat Ravin tertawa. “Ternyata, Sayangku kehausan, yah? Kenapa gak bilang dari tadi, sih?” Wajah Inara memerah malu. “Mana sempat?! Semua orang pada bicara,” ucapnya sedikit merajuk. “Udah, yuu?! Kita pergi.” “Ok!” Ravin segera ikut berdiri lalu, berpamitan pada tuan rumah serta beberapa orang tamu undangan penting lainnya. Ternyata, bukan hanya mereka tetapi, beberapa dari tamu lain pun sudah berpamitan pergi. Waktu sudah malam tetapi, tidak cukup malam untuk bisa keluar dan menikmati keindahan jalanan ibu kota. Mereka jarang sekali menikmati waktu-waktu seperti ini dan rasanya begitu menyenangkan sampai Inara membuka kaca jendela mobilnya untuk menikmati angin malam. “Kita tidak pernah berkencan sampai malam seperti ini, yah?” “Kalau kamu suka jalan malem, nanti sesekali kita bisa lakuin lagi.” “Oke! Janji yah!” Ravin tentu saja tidak menolak karena dia sendiri yang mengutarakannya. Dia melirik Inara yang masih bisa tersenyum bahagia meski, tahu. dia tengah kelelahan entah kenapa membuat Ravin diam-diam bangga dan bersyukur dengan pernikahan keduanya. Tidak disangka keseriusan mereka untuk melalui ini berbuah hasil. Benih-benih cinta mulai berbunga dan mekar. Tidak ada yang lebih memahagiakan untuk cinta yang berbalas dan beriring saling memupuk diri agar tumbuh bersama-sama. “Sayang, apa kamu mau makan sesuatu?” “Tidak, Mas! Aku sudah makan-makanan di pesta. Masih penuh rasanya tapi, kalau emang mas mau kita bisa makan dulu, aku tungguin.” “Gak usah, Mas juga gak laper,” jawabnya senanng tetapi,dia juga memikirkan penampilan Inara yamg masih mengunakan gaunnya. Tidak mungkin untuk membawanya kelua karena itu sangat merekpotkan, setelah puas walau hanya dengan melihat-lihat jalanan, rupanya Inara tanpa sadar tertidur lelah. Melihar hal itu Ravin segera mengemudikan mobil segera kembali pulang ke apartemen. Diam menunggu. Elvan mencengkeram kemudi setirnya dengan perasaan marah dan kesal hampir dua jam berlalu dia menunggu kakaknya Ravin dipelataran lobi apartemen. “Sial! Sial!”teriaknya marah sambil memukul setir, otaknya tidak bisa diajak berpikir, emosinya malah semakin sulit dikendalikan tiap kali menyadari kekasihnya malah menikah dengan kakak kandungnya sendiri. Di waktu yang seperti itu Elvan tidak menyadari jika, sebuah mobil melewatinya dan berhenti di depan pintu lobi. Ravin dengan cepat membuka pintu mobil lalu, berpindah membuka pintu lainnya dan … menggendong Inara ala bridal style. Dari kejauhan Elvan yang akhirnya melihat itu pegangan tangannya mencengkeram setir. Emosinya meluap setelah memastikan jika, wanita yang sedang dipegang Ravin memang benar-benar Inara dengan segera dia menyerbu keluar. Mulutnya yang sudah terbuka dan bersiap berteriak untuk menarik perhatian Ravin tiba-tiba saja dibungkam dengan cepat dan tubuhnya ditahan oleh tiga orang berseragam jas hitam. “Hmmmm!” Elvan terus berusaha berteriak tetapi, tiga orang ini dengan sigap tidak membiarkanya. Meskipun, Elvan sekuat tenaga bukan hanya tangan tetapi, juga kakinya. Sayang semua melayang, dia hanya bisa menggeliat heboh mencoba membebaskan diri. ‘Sialan! Siapa mereka?’ ucapnya dalam hati. “Tuan, tenanglah! Kami tidak akan melukai Anda,” ucap salah seorang dari mereka. “Ayo, bawa pergi!” lanjutnya menarik Elvan memasuki mobil mini bus mereka. “Hoooo, L-lhepass!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN