Hanya waktu yang bisa menjawab

1617 Kata
Suara rumah yang biasanya tenang kini tiba-tiba menjadi sangat gaduh seketika Elvan digiring masuk. Dia marah, mengamuk ingin lepas dari dua pengawalan yang terus memegang tangannya sampai mereka ada di depan kedua orang tuanya. “Tuan Besar kami sudah membawanya.” Adibrata mengangguk tetapi, dia tidak membiarkan para pengawalnya melepas Elvan begitu saja. “Apa kamu bisa tenang sekarang?” “Daddy!” jawabnya dengan marah. “Lepasin aku! Aku harus ketemu b******n itu, dia udah rebut Inara dari aku.” Deswita menggeser tubuh suaminya, lalu berteriak marah pada Elvan. “b******n apa, hah? Siapa yang kamu sebut itu? Dia kakak kamu, Elvan.” “Tapi, dia udah rebut Inara dari aku!”amuknya semakin marah, kedua tangannya masih dicekal dengan kuat. “Lepas! Lepas! Ini sakit berengsek.” Lanjutnya memarahi kedua orang pengawal di sampingnya. “Elvan, apa kamu tidak akan berhenti berteriak dan cuma terburu nafsu,hah?” “Daddy,” sebutnya dengan napas terengah yang sebenarnya dipenuhi emosi di dadanya. “Apa aku tidak bisa berteriak marah dan kecewa karena semua ini? Kalian juga terlian, kalian yang sudah membuat pernikahan itu terjadi. ackhhhh!” Sekuat tenaga akhirnya Elvan bisa melepaskan diri dan bergerak menyapu dengan menghancurkan semua barang pecah belah di sekitarnya. Adibrata maupun Deswita terkejut dengan kemarahan anak bungsunya saat ini, tidak pernah mereka melihat hal itu terjadi di masa lalu. Kali ini bukan hanya Elvan yang emosi, Deswita pun dibuatnya tidak bisa menahan kesabaran, dia berjalan mendekatinya dan langsung melayangkan tamparan ke pipi Elvan dan seketika itu juga dirinya terdiam mematung menatap ibunya dengan pandangan tak percaya. “Apa itu cukup untuk buat kamu tenang? Seharusnya, sebelum emosi menguasai hatimu, cobalah pakai otakmu. Apa yang sudah kamu lakukan terakhir kali.” “Mom, Mommy …seharusnya tidak menamparku,” ucapnya dengan nada memelas dan mata yang berkaca-kaca menahan tangis. “Aku yang sedang kesakitan sekarang tapi, Mommy dengan teganya menamparku?” “Kalau begitu renungkan kesalahanmu itu? Jangan hanya tahu marah dan mengamuk,” balas Deswita tidak lagi peduli, dia juga marah dan emosi jika mengingat perilaku Elvan dari awal sampai hari ini. kemudian, dengan langkah tegaknya, dia berbalik pergi tidak lagi peduli tentang hal apapun dan tidak mengatakan apapun lagi, tak mengabaikan Elvan, yang hanya bisa menggerutu marah. “Mommy! Mommy, memang hanya menyukai kakakku saja, kan? Jika, seperti itu harusnya Mommy gak perlu melahirkanku, kan?” Deswita berbalik terkejut dengan perkataan anaknya, bagaimana dia bisa hanya menyukai salah satu. Dia sudah sangat berusaha begitu adil pada kedua anaknya. Adibrata yang melihat kemarahan di mata istrinya, segera membuat pengaturan pada pengawalnya untuk mengurung Elvan ke kamarnya. “Kurung anak itu di kamarnya dan jangan biarkan dia sampai kabur!” “Siap, Tuan Besar!” Segera setelahnya para pengawal itu kembali memegangnya dan menggiring Elvan pergi meski, dia berontak dan meminta dilepaskan memaggil-manggil kedua orang tuanya. “Mommy, Daddy! Aku gak akan biarin mereka bahagia. Inara cuman bakal bahagia sama aku!” Adibrata menggeleng pasrah, merangkul istrinya yang kini sudah bermata sembab dan terpukul oleh kata-kata anak bungsunya. “Sudah, jangan menangis! Anak itu berkata begitu hanya karena marah.” “Tapi, Dad. Aku tetap sedih,” ujar Desmita memeluk erat suaminya. Beberapa saat keduanya hanya saling memeluk dan memerhatikan Elvan yang sudah tidak lagi terlihat di anak tangga, hanya sesekali terdengar suara teriakannya juga barang pecah. “Sudah, Mom! Mommy lebih baik istirahat, tidur, ya, sekarang?!” Deswita menggeleng. “Bagaimana dengan Ravin dan Inara? Apa kita harus memberitahu mereka?” “Biar Daddy aja, yang urus. Mommy istirahat sekarang.” Adibrata sedikit memaksa dan mendorong istrinya untuk segera pergi ke kamar. “Daddy, Mommy gak mungkin bisa istirahat! Mommy, harus telepon dulu Inara. Kasian mereka jika, sampai bertemu Elvan tanpa persiapan,” ucapnya lirih penuh kesedihan dan perasaan tak karuan karena mau bagaimana pun ide pernikahan Ravin dan Inara datang dari pemikirannya. Adibrata tidak tahan dengan pemikiran rasa bersalah istrinya, bagaimanapun ini istrinya ibu dari kedua anaknya. Yang selalu ingin terbaik untuk mereka. “Ok, kalau kamu emang mau bilang sendiri sama Ravin. Kita hubungi dia sekarang.” Deswita mengangguk setuju dan segera mengambil ponsel dan menghubungi Ravin. Tidak di sangka butuh waktu sampai sambungan terangkat. Di Apartemen Ravin dan Inara baru saja menyelesaikan malam panas keduanya dan baru saja akan terlelap tidur ketika dering handphone berbunyi. Inara cukup terusik sebenarnya begitu juga Ravin tetapi, pria itu terlalu enggan untuk bangun. “Mas, teleponnya?!” “Hm,” gumamnya dengan mata yang tak sedikit pun terbuka. Inara pun membuka matanya hanya untuk melihat Ravin sudah terlelap. Sebal karena itu dengan niat jahil Inara mencubit daadanya dan mempelintirnya gemas. “Bangun, Sayang!? Ravin segera merintih sakin dengan mata terbuka. “Ok!ok.. aku bangun!” Ravin segera bangkit dengan mata terbuka lebar karena Inara tanpa rasa segan dengan cubitannya. Ravin mendenngus sebal tetapi segera kembali ke kenyataan begitu juga Inara, yang memilih kembali menutup matanya. Melirik ponselnya Ravin tahu kedua orangtuanyalah yang baru saja menghubunginya. Dengan perasaan enggan, Ravin menyibak selimutnya hendak turun tetapi sebelumnya saat melihat Inara, Ravin tidak tahan untuk pergi dan hanya pergi setelah mencium bibir merahnya. “Tidur yang nyenyak, Sayang.” Inara membalasnya dengan senyuman tanpa harus membuka mata dan kembali terlelap tidur. Ravin sendiri keluar kamar dengan bagian tubuh atasnya yang toples memperlihatkan bentuk tubuhnya yang berotot tetapi, juga ramping. Memegang ponsel di tangan, Ravin segera berbalik menghubungi ayahnya. “Ravin?! Dari mana saja kamu.” “Dad, ada apa? Ini sudah malam tentu saja aku tidur,” jawab Ravin santai, dia juga baru saja menyesap air putihnya. “Mommy, sangat khawatir!? Hampir saja, dia ingin langsung pergi ke sana.” Ravin mengerutkan kening aneh. “Memangnya khawatir apa sampai mau ke sini?” tanyanya kini lebih menyelidik, cukup mengherankan. Ibunya tidak akan sampai mau bergerak jika, itu tidak benar-benar penting. “Di mana Inara?” tanya Adibrata terlebih dulu. “Dia tertiur pulas, kelelahaan setelah mendampingiku di pesta.” Adibrata terdiam sesaat, “Elvan sudah kembali.” Hening di antara keduanya lalu, yang kemudian Ravinlah yang pertama memecah kesunyian tersebut. “Jadi, dia sudah kembali? Bagaiamana keadaanya. Apa dia baik-baik saja?” tanyanya sungguh-sungguh. “Bagaimana dia baik-baik saja. Saat pertama kali datang yang, dia lihat foto pernikahan kalian yang Mommy-mu pasang di depan pintu ruang tamu,” terang Aibrata yang mau tak mau menahan sedikit tawa dengan apa yang terjadi pada Elvan sebelumnya. “Lalu, dia pergi ke sana untuk menemui kalian.” “Benarkah? Apa yang dia mau, Dad?” tanya Ravin sedikit cepat jelas dia terasa bingung dan takut. “Dia minta penjelasan dan tentu saja ingin menghajarmu,” jawab Adibrata sangat jelas penuh tawa. “Yah, Dad. Itu gak lucu sama sekali.” Sebal Ravin “Iya,iya. Daddy tahu,” lanjut Adibrata tidak lagi tertawa. Dia juga tidak terlalu menganggap hal ini lucu tetapi, mendengar Ravin ketakutan rasanya menjadi sangat lucu. “Buat sekarang Daddy udah lebih dulu ngamanin adik kamu itu. Nanti, bakal Daddy kasih pengertian semoga aja dia akhirnya bisa ngerti tapi, kasian Mommy kamu sepertinya dia sedikit shock!” “Mommy-nya, di mana?” “Dia baru saja Daddy suruh istirahat. Ya, sudah! Istirahatlah lagi. Daddy, hanya ingin menyampaikan hal itu saja.” “Ok, Dad. Terima kasih yah.” “Yah, jangan lupa jaga menantu Daddy. Ini mungkin juga bakal sulit buat dia.” Sambungan telepon akhirnya terputus, Ravin menjatuhkan dirinya di atas sofa memikirkan apa yang baru saja didengarnya. “Hah, akhirnya bocah itu pulang juga?!” Setelah mengatakan hal itu, Ravin hanya bisa menghela napas, dia tidak bisa memikirkan apapun malah kantuknya sendiri datang kembali. Menggiring langkahnya, Ravin kembali ke kamar melihat pemandangan cantik istrinya. Tidak peduli bagaimana masa lalu Inara dan Elvan. Kini, Inara adalah istrinya. Dengan nyaman dan tenang Ravin kembali berbaring sembari memeluk Inara. Jika, malam itu Ravin tidur tanpa membawa beban apapun berbeda dengan Elvan yang masih membuka matanya. sulit sekali baginya untuk terpejam. Pikirannya masih melayang pada figura fota yang tergantung diruang tamu di mana kakaknya dan Inara lah yang bersanding di pelaminan dan semakin tidak bisa mengonrol emosinya, tiap kali teringat bagaimana di depan lobi apartemen kakaknya, Ravin menggendong Inara. “Kenapa? Kenapa kalian berbuat seperti ini, hah?!” amuknya kali ini dia membanting sebuah figura action, koleksinya. Tidak ada lagi barang pecah belah seperti vas atau figura, kaca yang bisa dia lempar karena sudah ia lempar sebelumnya. Hingga yang tersisa hanya barang-barang koleksinya yang berada di nakas kaca, dilemparnya satu persatu. “Aku minta kamu nunggu aku, NARA! Tapi, kenapa? Kenapa? Malah begini! Harusnya kamu tahu kalau aku bakal balik buat kamu,” ucapnya sambil memukul-mukul dinding dengan kedua kepalan tangan kosongnya. Tubuh Elvan akhirnya merasa sangat lelah, tubuhnya merosot jatuh ke lantai menatap kosong pada ruangan kamarnya yang hampir hancur berantakkan karena ulah perbuatannya sendiri. Dadanya berdebar kencang tetapi, sangat menyakitkan tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Meskipun, jauh dlubuk hatinya Elvan, semua hal terjadi karena ulahnya sendiri. “Kenapa baru sekarang aku menyesal? Kenapa? Aku harus pergi gitu aja hanya karena perasaan bodohku yang harusnya gak boleh aku lakuin.” Elvan menjambak rambutnya sangat frustrasi. Rasanya cintanya untuk kedua wanita kini berbalik menjadi buah simalakama. Tidak ada yang bisa dia pertahankan. Entah itu Inara ataupun Nadira, dia gila menyembuhkan luka dengan pergi dan meninggalkan luka di tempat lain. “Akhhhh! Tapi seharusnya lo gak bisa gitu aja ngerebut Inara dari gue!” teriaknya marah di tengah malam buta. “Dad,” panggil Deswita terbangun dan merapat pada pelukan suaminya. “Elvan masih seperti itu. Mommy, jadi sangat takut. Apa yang harus kita lakuin, agar dia bisa baik-baik aja? Rasanya Mommy juga, jadi. Sakit kalau begini.” “Cuman waktu yang bisa jawab, Myh. Tenang aja, gak bakal ada apa-apa,” ucap Adibrata menenagkan sang istri, sambil memeluknya erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN