Pagi-pagi sekali Ravin dan Inara bangun dalam keadaan segar bugar meski, malam kemarin menjadi malam yang melelahkan keduanya tampak baik-baik saja dan bahagia. Ravin juga tidak terlalu memikirkan soal kedatangan Elvan meski, tentunya dia harus bersiap dengan kedatangannya yang akan meminta penjelasan. Belum lagi dia juga harus mengatakan kabar ini sendiri pada Inara.
Keduanya sudah menyelesaikan sarapan mereka, Inara melirik Ravin yang tiba-tiba diam seolah tengah melamun saat dia memanggilnya karena belum juga digubris panggilannya. Inara bangun, jalan memutar dan langsung menarik wajah tampannya itu ke arahnya. “Mas, kenapa? Kenapa melamun?”
“Ouh, Sayang,” panggilnya lalu, menarik Inara untuk duduk dipangkuannya. Inara tidak menolak, dia duduk dengan santai sambil mengalungkan kedua tangannya. “Ada apa?” tanya Ravin balik.
Inara mengerutkan kening. Yang harusnya bertanya, kan, dia. “Aku yang harusnya tanya, Mas. Tadi saja, aku panggil-panggil kamu tapi, kamunya gak nyahut. Makanya aku samperin.”
Suara tawa keluar dari bibir Ravin, dia mengecup bibir Inara sambil meminta maaf. “Aku barusan gak ngelamun cuman, …lagi berpikir aja. Apa aku harus ngasih tahu ini sama kamu atau nggak?”
“Kasih tahu apa?” tanya Inara yang tentu saja langsung penasaran.
Sebelum bicara jujur, Ravin mengeratkan rangkulannya terlebih dahulu. “Elvan udah balik! Kemarin malem Daddy yang sampein.”
Bola mata Inara membesar sebelum akhirnya menyempit kembali, hal cukup mengejutkan baginya tetapi, setelah itu bola matanya hanya bisa bergetar. Gugup dan bingung harus apa selanjutnya. “Oh.” Hanya itu yang dia ucapkan.
“Elvan udah balik dan kayaknya dia sangat marah mendengar pernikahan kita. Kamu gimana?”
“Gimana apanya?” tanyanya balik seraya ingin turun dari pangkuan Ravin tetapi, pria tampan itu tidak membiarkannya.
“Jangan mengelak, aku masih pengen peluk kamu?”
Inara akhirnya menarik napas lalu, kembali menatap Ravin. “Aku gak tahu harus apa? Kalau dia bisa marah, apa aku juga gak bisa marah? Dia yang ninggalin aku lebih dulu, yang berarti semua sudah selesai antara kami berdua.”
“Sungguh?”
“Iya! Sekarang, kan, aku udah jadi istri kamu, yang berarti hubunganku sama dia cuman sebagai saudara ipar gak lebih. Aku udah move-on dan bahagia sama kamu. Gitu juga, Elvan. Dia harus bisa move-on dan bahagia dengan pilihannya nanti.”
“Ach, cantiknya istriku ini,” ujar Ravin bangga dan dia mulai gemas tidak hanya memeluk, dia mulai menciumi wajah Inara. Tidak menyangka, wanita dipelukannya ini akan berubah begitu cepat menjadi, istrinya yang bisa dia banggakan saat ini. “Jadi, sekarang cintaku ini sudah sangat mencintaiku, kan?”
Wajah Inara sudah seperti kepiting rebus, memerah sempurna. Bukan hanya panas karena terus berada dalam dekapan Ravin tetapi juga, kata-katanya barusan. Inara pun sebenarnya tidak pernah sadar sejak kapan dia bisa mencintai Ravin seperti ini. Sungguh pernikahannya tidak buruk seperti yang dia bayangkan sebelumnya. “Aku gak tau,” elak Inara di mulutnya.
Ravin mencebik. “Aku gak bakal lepasin kamu, kalo kamu gak jujur.”
“Aku beneran, Mas. Aku gak tau.”
“Ya, ampun masa gitu aja gak tahu? Beneran kamu gak cinta sama Mas ganteng sejagat raya ini?”
“Narsis banget!” Inara mencubit hidung mancungnya gemas. “Masih banyak kali, Mas yang lebih ganteng.”
“Eit, Mas tanya beneran ini, loh? Apa kamu mencintaiku?” tanyanya kali ini dengan sangat serius membuat Inara, tidak lagi bisa bercanda.
“Kalau begitu apa Mas, sudah mencintaiku?”
“Kamu takut aku gak cinta sama kamu?” Mata Ravin memandang Inara penuh cinta dan senyuman manis hanya untuk wanitanya ini. “Aku mencintaimu, really, really love you so much. Gak bakalan ingkar janji, cuma kamu wanita terakhir dihidupku.”
Inara menarik tenguk Ravin dan pertama kalinya dia yang berinisiatif untuk mencium pria itu. meski, malu tetapi hatinya berdebar bahagia ketika dari bibir Ravin yang sedang ia cium ini terdengar kata-kata cinta yang tulus sampai menyentuh jantung hatinya. tanpa perlu ada rangkaian kata yang berlebihan tetapi, cukup mengena dengan matanya yang juga mengatakan cinta padanya.
**
Berbeda dengan pagi dikediaman Malik lainnya. Pintu kamar Elvan akhirnya dibuka oleh Adibrata dan yang pertama dia lakukan saat melihat kamar pecah anak bungsunya itu hanya sebuah gelengan kepala. “Bereskan semuanya!” perintahnya pada dua orang pelayan yang sejak tadi mengikutinya di belakang.
“Baik, Tuan besar.” Kedua pelayan itu dengan sigap segera masuk, yang satu cekatan dan hati-hati membersihkan pecahan kaca. Satu yang lain sudah meletakkan sarapan Elvan di atas meja sebelum dia membantu temannya. Adibrata sendiri berjalan kea rah buntalan selimut yang dia tahu itu pasti Elvan.
“Bangun, Anak malas!”
Elvan mengerang malas tetapi, otaknya segera bereaksi ketika mendengar lagi suara ayahnya. “Aku gak mau bangun!” teriak Elvan sembari menahan selimutnya agar tidak bisa ditarik ayahnya. Matanya bengkak karena habis menangis semalam, tidak mungkin dia memperlihatkan wajahnya. Ini memalukan sekali.
“Bangun, atau Daddy bakal pukul kamu.”
“Pukul aja!” Tantang Elvan, dia gak mungkin memperlihatk wajahnya yang kacau pada ayahnya, kan. “Aku emang pantas dipukul dan bahkan, dikunci di kamar sudah seperti penjahat tapi, kalianlah penjahatnya.”
Plak! Adibrata benar-benar memukul Elvan dengan tangannya lalu, menarik selimutnya dengan sangat kuat. “Yah, cepat bangun! Kita bicara dan selesaikan semuanya.” “
Elvan terhenyak, dia tidak mau melihat ayahnya dalam keadaan begini tetapi, jika renungkan lagi. Dia menjadi tambah kesal, yang akhirnya hanya membuatnya berteriak kesal lalu, melarikan diri ke kamar mandi. “Ackhm!”
“Van, Hati-ha—“ belum selesai Adibrata bicara, kaki Elvan yang bertelanjang tanpa alas menginjak pecahan kaca yang dibuatnya sendiri. Melihat hal itu, Adibrata menahan napas dan hendak berjalan ke arah Elvan untuk membantu sayang, anak itu sudah lebih dulu melarikan diri ke kamar mandi.
Tidak peduli dengan rasa sakitnya Elvan pecahan kaca itu begitu saja dan berjalan ke arah kamar mandi tanpa memedulikannya. Kedua pembantu yang di sana pun tercengang dan melirik tuan besar mereka yang menatap mereka tajam. “Bersihkan kamar ini dengan cepat. Jangan sampai ada pecahan kaca yang tertinggal!”
“Baik, Tuan! Segera.”
Mendengar jawaban itu Adibrata merasa sedikit tenang apalagi setelah melihat dua orang itu tampak bergerak lebih cepat. Tak lupa dia juga sempat melihat ke kamar mandi yang tertutup. “Bi Nar, bawa kotak p3k dan kasih sama Elvan.”
“Iya, Tuan.” Lanjutnya segera keluar kamar. Begitu juga Adibrata yang memilih keluar kamat Elvan terlebih dulu untuk melihat istrinya yang masih gugup dan cemas.
Di kamar mandi Elvan sendiri sedang duduk di closet, melihat telapak kakinya yang berdarah. Sangat perih tetapi, sugesti dalam dirinya terucap jika, sakit bagian tubuhnya ini tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya meski, tidak berdarah tetapi cukup membuatmu harus menelan pil pahit kehidupan. Tidak terasa air mata Elvan pun berderai lagi bahkan, terasa lebih memilukan daripada semalam karena dia benar-benar menghayati rasa perih dan nyeri dari luka dikakinya.
Berjalan keluar sambil tertatih, Elvan melihat Bi Nar pembantu rumah tangga yang sudah bertahun-tahun berada di sini menungguinya sambil memegang kotak p3k sedangkan, ruangan yang sebelumnya berantakkan kini tidak terlihat lagi. Semua sudah bersih dan rapih. Barang-barangnya yang tidak hancur kembali ke semula.
“Duduk, Den. Biar Bibi bantu obati!”
“Gak usah, Bi! Aku aja.” Tolak Elvan dia mengambil kotak itu tetapi, sekali lagi ditarik oleh bibi Nar seraya mendudukan Elvan di atas ranjang.
“Den Elvan gak bakal bisa. Lukanya, kan di kaki susah dibersihin,” ujarnya sambil cepat bergerak menuju kaki Elvan dan membubuhkan obat antiseptic sebelum membalutnya dengan perban.
“Sayang, kamu terluka!?” Tiba-tiba saja Deswita memasuki kamar dan melihat kaki Elvan yang sedang dibalut. Tiba-tiba saja air matanya juga berderai sedih. “Gimana kamu sampai terluka gini, huh? Ya, Tuhan. Anak Mommy pasti kesakitan banget …Bin nar hati-hati balut kakinya. Tadi, seberapa besar lukannya?”
“Gak terlalu besar, kok, Nyonya tapi, pasti memang sakit, ya, Den?” tanya bi Nar balik. Elvan tidak menanggapinya bahkan, dia sedikit memalingkan wajahnya dari sang Ibu. Dia sedang tidak ingin bicara dengan kedua orang tuanya. Tidak benci hanya tidak sanggup untuk bersikap ramah saja. Hatinya masih terlalu sakit, melihat kekasihnya menikah dengan kakaknya. “Sudah selesai. Sarapannya di sini! Udah Bibi siapin.”
Setelah mengatakan hal itu bi Nar pergi keluar memberi ruang untuk ibu dan anak itu bicara. Meskipun, Elvan tampak tak ingin bicara tetapi, Deswita tidak seperti itu. di meraih wajah putranya mengamatinya dengan wajah yang sama sedihnya. “Sayang, wajah kamu kenapa jadi tirus gini, hm? Sudah berapa lama kamu gak makan? Belum lagi… apa ini? Mata kamu sangat merah.”
“Aku baik-baik aja, Mom.” Elvan melepaskan kedua tangan Deswita dari wajahnya. Tidak mau melihat wajah ibunya.
Deswita terluka dengan sikapnya tetapi, juga mengerti kemarahannya jadi, kali ini dia tidak mengambil hati perbuatan Elvan. “Ayo, makan dulu!”bujuknya sambil mengambil nampan.
“Aku bisa sendiri.” Tolak Ravin mengambil alih nampan tersebut.
Deswita membiarkannya tetapi, dengan tetap duduk di sampingnya dan terus memerhatikannya sampai Elvan selesai makan. “Kenapa gak dihabiskan?”
“Memangnya aku masih punya nafsu makan?”
Deswita menghela napas mendengar jawabannya dan tidak mengatakan apa-apa hanya terus mengelus punggungnya, mengelus kepalanya juga sayang. ‘Aku harus bicara darimana, yah? Seberapa besar marahnya anak ini, yah, jika tahu aku yang mengusulkan pernikahan Inara dan kakaknya. Apa dia bakal kabur lagi?’ Banyak sekali pertanyaan bersarang dibenak Deswita tetapi, tidak satu pun berani ia utarakan.
Seperti Deswita, seperti itu juga Elvan. Kali ini dia menunggu penjelasan tersebut makanya, dia masih membiarkan ibunya mengelusnya. ‘Kapan Mommy bicara? Kenapa cuman diam saja? Gak mungkin, kan, aku yang harus nanya?’ Dalam hati Elvan sangat kesal. Terus meruntuk pada kediaman Deswita. “Mommy gak mau ngomong?”
Akhirnya kata-kata Elvan yang diharapkan keluar juga. Deswita tersenyum tenang dan memeluknya menyamping. “Anak pinter, anaknya Mommy. Sekarang kamu udah bisa tenang dan berpikir jernih, kan?”
Elvan mengepalkan tangannya setengah meremas seprai yang dia duduki. “Sebenarnya, Elvan gak bisa tenang sama sekali, Elvan pengen sekali lari langsung ke apartemen Mas Ravin lalu menghajarnya,” tuturnya jujur. “Kalo aja para preman berengsek itu gak dateng, udah aku hajar Mas Ravin semalam.” Lanjutnya sambil menatap Deswita dengan kilatan emosinya.
Deg.
Jantung Deswita berdetak cepat, matanya membulat setengah melotot. “Jangan macam-macam kamu, Van. Dia itu tetep aja masih kakak kamu dan jangan cuman nyalahin Ravin. Lihat dulu diri kamu!”
“Mommy, masih membelanya padahal dia udah rebut Inara dari aku.”
“Inara gak direbut tapi, kamu yang ninggalin dia!”
Giliran dir Elvan yang terhenyak, lemas. “A-aku gak ninggalin dia,” lirihnya.
“Kamu ninggalin dia tepat di pesta pernikahan kalian. Ninggalin Mommy dan Daddy dengan rasa malu yang sangat besar bukan cuman sama Inara tapi, keluarga besarnya juga para tamu undangan yang sudah kita sebar. Di mana pikiranmu saat itu, hah? Apa kamu gak berpikir sampai sana? Apa hanya dengan sebuah surat kecil itu cukup dan berpikir tak masalah?”
Giliran Elvan yang terhenyak lebih dari sebelumnya tanpa bisa berkata-kata untuk hanya sekadar membalas pernyataan ibunya dan dalam hati Elvan bahkan, sangat malu dan jika, bisa dia tidak akan pernah menjawab jujur tentang alasannya pergi saat itu.
“Sekarang biarkan Mommy tahu. Apa alasan kamu pergi saat itu?”
Akhirnya, pertanyaan yang tidak ingin didengar terucap dari bibir ibunya sendiri. Bagaimana akhirnya dia bisa menghadapi semua ini? Meskipun, begitu hatinya masih tak akan pernah rela dengan pernikahan Inara dan Ravin, kakaknya. ‘Inara cuman untuk aku. Mas Ravin, kamu gak bisa ngambil Inara gitu aja. Lihat aja nanti, aku akan ngasih kejutan besar buatmu, Mas. Nantikan aja!”