Hujan dan Rindu

1912 Kata
Deswita harus menahan kepalanya yang terasa berat. “Alasan apa itu?” tanyanya tak sedikitpun percaya. “Van, kamu jangan mengada-ada. Jangan salahin kakakmu terus dia gak salah. Mommy, yang minta mereka menikah saat itu karena Mommy kira kamu gak bakal balik lagi.” Telinga Elvan memerah sempurna, rasanya sangat panas bukan hanya karena malu tapi, dia sudah sangat berani berbohong tentang alasan kepergiannya. ‘Aku gak sepenuhnya bohong, nyatanya, kan aku memang ketemu sama Mbak Jo.’ “Van.. kamu masih gak tahu. Apa yang kamu lakuin itu merupakan hal serius?” “Dad, aku gak bohong. Waktu itu—“ Elvan menghentikan kata-katanya saat melihat ayahnya sudah menggeleng keras yang berarti dia tidak menerima alasan yang dibuatnya. Malah, dengan sengaja Adibrata berjalan kearahnya dan tanpa tendeng aling-aling dia langsung memukul kepala Elvan dengan lumayan keras sampai menjerit tak karuan. “Aaaakh!” “Kamu pikir, kami ini bodoh hah? Kalau memang ada kabar seperti itu kenapa kamu yang bakal nikah yang pergi, bukankah lebih baik kamu panggil kakakmu suruh dia yang pergi!" Sambil meringis dan memegang kepalanya yang sakit, Elvan baru saja berpikir sampai sana tetapi, karena terlalu malu dan marah. Dia hanya bisa semakin menjerit, berteriak dengan sangat kesal. ‘Dasar semua tidak punya perasaan,’ lirih batinnya miris. Sedangkan Adibrata dan Deswita hanya bisa menghela napas melihat kelakuan Elvan, yang terlihat sangat childish. Tetapi, meskipun begitu mereka tidak sepenuhnya tidak percaya apalagi Elvan menyinggung orang yang sudah lama sekali tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Jadi, setengah tentang hal ini mereka percaya jika Elvan bertemu Jovanka di luar negeri. Melalui lirikan mata Deswita menggiring suaminya pergi ke tempat lain dan membiarkan Elvan seperti itu untuk membiarkannya berpikir ulang tentang alasannya. “Ada apa?” “Ini soal Jovanka, yang dikatakan Elvan. Apa dia benar-benar kembali?” “Memangnya, apa urusannya dengan kita,” tukas Adibrata. “Dia kembali ke sini atau tidak. Sekarang itu bukan masalah kita bahkan, juga Ravin. Mereka sudah berpisah sangat lama tak ada lagi hubungannya.” Setelah mendengar ucapan suaminya, Deswita menjadi rileks dan menghempaskan pikirannya tentang Jovanka dan Ravin di masa lalu. “Yah, juga. Daddy benar sekali! Kenapa juga tiba-tiba aku khawatir. Sekarang Ravin sudah punya Inara untuk apalagi dia mau bertemu lagi wanita itu. tapi, anak itu?!” Deswita memandang Elvan yang masih meringkuk mengenaskan di sofa. “Apa alasannya dia pergi? Kenapa juga harus berbohong dan memberi alasan tidak masuk akal.” “Jangan menanyakannya padaku,” sahut Adibrata yang juga tidak mengerti akal pikiran anak bungsunya itu. “Suruh saja dia jawab kalau tidak mau ya, dipaksa masih tidak bisa pukuli saja biar kapok!” “Pukul! Pukul! Kamu duluan yang aku pukul,” tukas Deswita yang memang langsung memukul lengan suaminya. “Dia itu masih anak kita, dasar! Memangnya dia penjahat kayak apa sampai mau nyiksa dia, huh?! Terus, gimana kamu bisa pukul kepalanya sangat keras kayak gitu. Gimana kalau sampai gegar otak, hah?” “Tadi itu pelah, aku gak pake tenaga berlebihan, kok?!” “Mau ngelak? Lihat anakku sampai menjerit kayak gitu?” “Dia aja yang berlebihan.” “Awas aja berani mukul dia lagi!” ancam Deswita memelototi suaminya sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Kedua tangan Adibrata terangkat ke atas tanda menyerah. Dia tidak bisa melawan istrinya jika, sudah seperti ini. Seberapa marahnya seorang ibu ternyata, tetap saja tidak akan pernah bisa melihat anaknya benar-benar terluka dan tidak akan pernah rela jika, ada orang lain yang memukulnya. “Ok, Ok! Mommy benar. Aku gak bakal pukul dia lagi tapi, kalau dia berani lukain hati Mommy. Daddy, bakal coret dia dari kartu keluarga.” Deswita mendengus geli, bibirnya tak kuasa untuk tidak tersenyum merasa tersentuh dengan perhatian suaminya meski, belum terjadi tetapi, sangat menyenangkan hanya mendengar kata-katanya saja. ** “Kamu sudah bangun, Sayang?” Maria bertanya pada putrinya Jovanka, yang sedang menuruni tangga tengah tersenyum ke arahnya. Baru beberapa menit lalu, dia datang dan melihat putrinya masih terlelap tidur, sungguh menyenangkan bisa melihatnya lagi berada di rumah. “Iya, Mah. Maaf, yah, aku terlambat bangun.” “Mama yang ganggu kamu, yah, barusan?” Maria menggeleng menolak pernyataan Jovanka dan alih-alih itu, dia malah balik bertanya. “Eh, ngga, kok!” “Ya, udah cepet sini! Sarapan dulu. Kamu mau makan sama apa roti atau nasi goreng, nasi biasa atau bubur? Biar Mama siapin.” Jovanka menarik tangan Ibunya, yang sudah akan bergerak berjalan pergi ke dapur. “Mama gak usah repot-repot, udah sini duduk bareng!” Pintanya sambil melihat ke meja lalu berjalan duduk di kursi makan. “Sarapan dengan roti saja aku sudah cukup. Mama gimana?” “Hm, kita sarapan saja sama roti. Mama buatin yah? Mau rasa apa? Strawberry kesukaan kamu?” # Hari masih siang tetapi, awan hitam sudah bergelayut manja mulai menurunkan tetes demi tetes air hujan untuk membasahi bumi. Jovanka duduk di sofa ruang tengah sambil memandangi pemandangan tersebut sambil bertopang dagu memikirkan masa depannya yang hanya dibatas waktu. Rasanya cukup menyesakkan membuat Jovanka tidak berani memimpikan apapun tetapi, sebuah harapan kecil datang. Dia ingin menutup usianya bersama orang yang ia cintai. “Aku bisa ngurus diri aku sendiri, kok?! Tapi, bisnis Papa gak bisa ditinggal gitu aja dan Mama juga gak mungkin ninggalin Papa terus-terusan. Di sini Mama pastinya yang paling capek, kan? Aku sayang, Mama. Maafin aku!” “Cuaca jadi dingin, pake ini!” Tiba-tiba saja Maria datang dan dengan penuh perhatian menyampirkan sebuah selimut ke bahu Jovanka, putrinya yang akhirnya bersedia kembali pulang setelah sekian lama. “Gak usah makasih, kamu anak Mama tentu aja, harus Mama perhatikan. Rasanya masih gak nyangka kamu ada di sini,” ucapnya sambil membelai sayang rambut Jovanka. “Gak usah minta maaf. Mama, yang harus minta maaf. Giman bisa Mama sama Papa terus-terusan ninggalin kamu disaat kamu butuh kita. Siapa yang ngurus kamu.” “Makasih, Mah.” Jovanka membalikkan tubuhnya untuk memeluk ibunya, yang manis. Wanita yang paling berjasa sudah melahirkannya ke dunia. “Maafin aku, yah, Ma. Aku bener-bener egois selama ini. berpikir bisa hidup sendiri aja di sana tanpa mikirin kalian yang juga sama harus berjuang buat aku.” Benar-benar hari itu dia merenungkan segalanya. Egoisnya, dia yang sakit berpikir bisa hidup sendiri tanpa bergantung pada orang lain hanya karena perasaan rendah diri dan malu. Yah, Jovanka terlalu malu untuk mengatakan dia punya penyakit parah dan sulit disembuhkan. Terlalu malu untuk sekadar ditatap sedih atau bahkan, lebih buruk lagi dikasihani. Dirinya tidak mampu menghadapinya, hingga memilih pergi. Sayang, meski pergi jauh ke negeri orang penyakitnya tidak pernah benar-benar sembuh. Dan, akhirnya sepandai-pandainya tupai melompat ada waktunya dia akan jatuh. Begitupula, seberapa keras dia bertahan sebanyak itu pula dia ingin menyerah dan pulang. ‘Mungkin saja jika, dulu Mama sedikit memaksaku untuk kembali! Aku mungkin sudah kembali ternyata, aku hanya perlu sedikit dorongan untuk berani kembali kemari. Negeri tercinta di mana seharusnya aku hidup dan mati kelak di sini bersama orang-orang yang kucintai dan mencintaiku,’ ucap Jovanka dalam penuh dengan rasa lega di dalam hati. “Mama ingin tahu, bagaimana akhirnya kamu berani memutuskan kembali ke sini Jo. Apa yang merubah pikiran kamu? Padahal dua bulan lalu kamu masih tidak berani pulang?” Jovanka menatap mata ibunya lalu tersenyum lembut, sambil memeluknya erat. “Ini cuman karena Mama…” “Apa kamu masih mau bohong sama Mama.” Maria sangat tahu bagaimana putrinya, belum lagi saat ini. Dia yang sedang memeluknya dan mengusap sayang rambut Inara harus melihat rambut-rambut yang mulai berguguran jatuh ke tangannya. Sudah sejak lama ini terjadi bahkan, pernah rambut putrinya dipangkas habis setelah melakukan kemotrapi yang menyakitkan. “Penyakitmu tidak bertambah parah, kan?” tanyanya dengan lirih dan penuh perasaan sakit. Deg! Berdenyut juga hati Jovanka mendengar pertanyaan tersebut bahkan, tanpa sadar tangannya terkulai jatuh. “A-aku baik-baik aja, Ma,” ucapnya bohong. Tetapi, siapa yang coba Jovanka bohongi. Maria tidak bisa menyembunyikan tangisnya. Air matanya berderai sambil menahan isak selanjutnya, yang bisa dia lakukan adalah meraih wajah putri cantiknya dan mulai menciuminya. “Maaf, Mama nangis. Kadang perasaan itu tidak bisa ditahan dengan mudah atau sia-sia …akhirnya jika meledak.” Jovanka mengangguk, sekarang dia bisa menerima jika ada orang lain untuk menangis untuknya. Dulu, dia tidak akan membiarkannya. Dia tidak mau melihat orangtuanya menangis jadi, segala macam sakit yang dirasakannya dirinya selalu menahan diri di depan mereka tetapi, sekarang sepertinya dia harus mulai menjadi jujur. “Gapapa, kok! Mama mau menangis, menangis aja kalau udah cape baru bisa berhenti.” Maria bernapas lega, kembali mengucurkan air mata sebelum benar-benar menghapusnya kali ini dan tersenyum lebar. “Udah selesai! Dan, semua bakal baik-baik aja. Mama, akan berusaha terus jaga kamu..jadi, kamu gak usah khawatirkan apapun.” “Aku tahu-aku tahu…, ya, udah buat makan siang kamu mau makan apa?” “Apa aja, aku kangen banget masakan Mama.” Jovanka merasa lega, menatap punggung ibunya yang pergi ke dapur hanya untuk membuatkannya makan. Sungguh merupakan kehangatan yang tidak akan bisa terganti. Setelah tidak lagi terlihat bayangan Maria, Jovanka meraih ponselnya. Melihat sama sekali tidak ada panggilan dari orang yang sedang ditunggunya. “Ke mana dia? Seharusya dia sudah menghubungiku, kan?” monolognya sendiri, yang tak sabaran hanya karena mengharap Elvan segera menghubungi tetapi, diri sendiri tidak berani menghubunginya terlebih dulu. Lelah, akhirnya Jovanka hanya bisa berbaring sambil menyelimuti dirinya menikmati suara hujan di luar sambil membayangkan bagaimana pertemuannya dengan Ravin kelak. Sesekali Jovanka mengeluarkan senyumnya hanya karena imajinasi bodohnya, meskipun hanya seperti ini dia merasakan kembali harapan yang sejak penyakit ini menyerang tidak pernah berani dia impikan. Hidup bahagia bersama Ravin walau itu hanya sesaat. ** Hattchi! “Wah, kayaknya ada yang rindu sama Bapak,” ujar Rudi sumringah setelah hanya mendengar suara bersin bosnya, Ravin. “Darimana awalnya, huh?! Ini hanya karena kedinginan saja.” Baru saja Ravin bersin padahal suhu diruangan sudah ia naikkan dan seharusya tidak terasa dingin sama sekali meski di luar sana hujan tengah turun sangat lebat. Tiba-tiba saja melihat cuaca seperti ini Ravin jadi ingat dengan Inara. Apa istrinya itu sekarang sudah makan siang atau belum? Apa dia kedinginan atau tidak? Memikirkan hal itu membuat Ravin jadi, tertawa sendiri ternyata, sudah lama sekali dia tidak pernah mengkhawatirkan orang lain terlebih itu wanita. Rasanya sangat berbeda, terlebih saat tiba-tiba rindu dengan tingkah lakunya di depan mata meskipun, itu hanya hal kecil belaka. “Pak Ravin sepertinya bukan orang lain yang merindukan Anda tapi, Anda-lah yang merindukan orang lain.” “Rudi kenapa semakin lama, kamu semakin cerewet, hah?” sahut Ravin dengan mata sinisnya tetapi, dia tak pernah merasa tidak suka dengan asistennya ini. Rudi, tampak menjadi orang yang berkompeten lebih dari yang dia duga. “Lebih baik dari itu, daripada mengusrusi kehidupan bos mu ini, katakana apa yang dirasakan para karyawan setelah perombakan yang kuhasilakan berhasil?” ‘Apa Anda seyakin itu berhasil? Dasar narsis,’ keluh Rudi dalam hati. “Selalu ada pro dan kontra tetapi, tampak mereka tidak meributkan hal ini lagi karena Bapa sepertinya benar-benar menempatkan orang-orang yang kompeten di bidangnya.” “Tentu saja harus seperti itu,” ujarnya dengan laga sok keren. “Pak Bos, sepertinya ada yang harus saya beritahu? Tapi, apa tidak apa-apa” “Apa? Jangan berbelit-belit.” “Hm… di antara karyawan tersebar gossip k-kalau pemimpin sebelumnya kembali. Maksud saya, i-itu …karena saya tidak tahu siapa dia sebelumnya. Beberapa karyawan di Mall melihatnya kemarin.” “Yah, dia emang sudah kembali!” Jawab Ravin dengan tenang. “Lalu apa? Mereka pikir jika, adikku kembali. Dia bisa duduk di sini lagi?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN