Trouble

1893 Kata
Hujan masih sangat besar diluar Mall. Mereka sebelumnya yang punya rencana untuk hang out di luar sepertinya harus menunda hal tersebut tetapi, jauh dari itu Nadira yang sejak dari pagi melihat Inara dengan tatapan tidak berdaya. Mulutnya terus saja bergetar seolah ingin bicara sayang, tak pernah berhasil. Matanya pun bergetar, kesal tiap kali itu terjadi dan hanya helaan napasnya yang terdengar semakin berat. Inara pun tidak luput untuk memerhatikannya tetapi, dia memilih diam. Jika ada hal yang penting untuk dikatakan Inara tahu sahabatnya yang sudah seperti saudara itu pasti bakal bicara jadi, dia hanya tinggal menunggu waktu saja. ‘Lihat dia lelah sendiri aja lucu jadi, biarin aja sampe stress,’ kekehnya dalam hati. Dan, sebenarnya bukan hanya Nadira yang sering curi-curi lirikan tetapi, juga empat pegawainya yang lain sering mengintip untuk melihat inara meski tidak setara Nadira. Lagipula, yang lain tidak seberani Nadira, yang adalah sahabatnya. “Mbak, ayo, makan!” panggil Siti, salah seorang pegawai Inara yang sebelumnya sudah dia suruh untuk membeli kotak makan siang. Sesekali mentraktir mereka dan makan bersama tidak masalah. Inara segera bangkit dari kursinya, tak lupa dia juga mengajak Nadira yang sedang bertopang dagu menuju ruangan khusus karyawan yang biasanya tidak hanya digunakan untuk istirahat juga tempat berkumpul untuk makan dan berganti pakaian. “Dira, ayo!” Nadira mengangguk dan mengikuti Inara di belakang punggungnya. Di dalam ruangan itu yang berisi lima orang, termasuk Inara dan Nadira tampak tak biasa. Semua orang saling melirik sedikit gugup dengan mulut mengunyah, mereka biasanya akan mengobrol sesekali meski itu sedang makan tetapi, suasana di tempat itu sejak awal jadi aneh tawa mereka seringkali canggung. Ini bukan cuma karena Nadira yang biasanya dikenal cerewet tiba-tiba menjadi pendiam tetapi, tiga karyawan lain mulutnya gatal ingin mengatakan sesuatu. “Kalian sudah selesai makan, kan? Cepat sana balik butik,” ujar Nadira cepat melihat ketiga karyawannya yang lain. Tidak ada yang protes dan semua bersedia pergi begitu saja, meninggalkan kedua owner sekaligus sahabat tersebut. Inara sudah sangat siap mendengar apa yang ingin dikatakan Nadira jadi dengan santai dia segera berbicara. “Ada apa? Sejak tadi ada yang mau lo omongin, kan?” “Nar. Udah berapa lama kita itu sahabatan?” Tangan Inara menyentuh dagunya, berpose cantik sekaligus berpikir. “Kayaknya udah dari SMA Jadi, lo bisa hitung sendiri, deh.” Nadira melempar buntalan tisu pada Inara, sebal dengan jawaban entengnya lalu mendengus keras. “Gue serius, nih.” “Ih, gue juga serius kali,” sahut Inara sambil melemparkan tisu balik pada Nadira yang malah dengan mudah ditangkapnya. “Terus udah berapa lama kita sahabatan sama … Elvan?” tanyanya lagi sambil cukup lama menyebut nama pria itu. “Kita bertiga bertemu di tempat kuliah, kan?” Inara sedikit mengangkat senyumnya lebih lebar. “Sepertinya kalau bukan karena lo, gue juga mungkin gak bakal kenal dan deket sama si Elvan.” “Itu juga ya, gue gak ngerti! Kenapa akhirnya lo sama dia yang jadian.” Mata Inara membulat baru pertama kalinya dia mendengar pernyataan ini dari Nadira. “Dir? Lo baru aja ngomong aneh kayak gitu..” Nadira tertawa dengan wajah sendunya, mengangguk mengiyakan jika, dia benar-benar dalam keadaan sadar mengatakan hal tersebut. “Iya, gue iri sama lo yang gitu mudahnya dapet perhatian dan cinta Elvan padahal, saat itu gue juga naksir sama dia.” “Dira,” panggil Inara dengan tidak berdaya dan langsung memeluknya. “Maafin gue, selama ini gue gak tahu sama perasaan lo sebenernya. Kenapa, lo baru bilang sekarang, hah? Juga, kenapa tiap gue tanya serius lo selalu ngelak …” Sedih Inara jadi, rasa marah frustrasi sekarang. “Gak usah marah!” Nadira balik menggenggam tangan Inara. “Gue udah baik-baik aja dan itu cuman ada di masa lalu, yang mau gue omongin itu. Seperti gue kenal banget sama lo, gue juga kenal baik Elvan, Nar. Elvan udah balik Nara. Kemarin gue ketemu dia di sini, dia ke sini cuman buat lo doang.” “Terus?” jawab Inara dingin. “Gue gak bisa bayangin. Kalo dia liat lo dan ternyata sama kakaknya nikah, gimana perasaan dia?” Nadira tampak benar-benar sedih matanya berkaca-kaca seolah dialah yang kini sedang mengalaminya. Inara sendiri cukup bingung dengan semua ini dan tak bisa merespon apapun kecuali menatap sahabatnya, Nadira penuh pandangan terpaku dan bingung tetapi, akhirnya setelah cukup lama berusaha berpikir jernih Inara bisa menjawabnya, “Ini pasti bakal berat buat dia tapi, semua udah terjadi. Waktu gak bisa lagi terulang.” Nadira menolak, dia menggeleng berusaha tersenyum tenang sambil meraih tangan Inara. “Coba pikirkan lagi, apa di hati lo emang udah gak ada tempat buat Elvan.” “Gak ada!” Kali ini Inara menjawabnya dengan sangat cepat. Meneguhkan hatinya, dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Elvan dan semuanya hanya masa lalu di antara mereka sedangkan, masa depannya dan seterusya dia hanya akan jadi, istri Ravindra Malik. “Nara, apa lo gak punya perasaan? Lo tahu Elvan kemarin langsung datang sambil membawa kopernya kemari langsung dari bandara. Ini nunjukin kalo sebenernya dia itu masih cinta banget sama lo dan dia pasti punya alasan jelas kenapa dia pergi pas pernikahan kalian.” “Aku juga tahu dia pasti punya alasan untuk hal itu tetapi, apa cukup menjadikannya sebuah alasan ketika hari itu merupakan hari yang kita nantikan. Di mana bahkan keluarga besarnya dan keluarga besarku ada di sana dan … dia, dia malah menghilang. Pergi hanya dengan sepucuk surat permintaan maaf? Apa dia pikir hal itu cukup?” Inara berbicara sangat banyak, mengungkapkan kembali emosinya yang seharusnya sudah hilang. Mencoba, menarik napas Inara kembali berusaha tenang tak lupa menggenggam erat tangan sahabatnya. Nadira tidak mengerti ini. Elvan hanya melakukan kesalahan sekali tetapi, bahkan tanpa pikir dua kali tidak memaafkannya dan mereka berpisah begitu saja setelah, selama ini dia mencoba mengorbankan perasaan untuk membuat mereka bahagia tetapi, berakhir begini saja. Apa Inara punya perasaan? Setelah, baru saja dia mengatakan hal yang bertahun-tahun ini ia sembunyikan. “Apa kamu mengerti?” “Ngerti apa, Dir?” Mulut Nadira membuka dan menutup entah mau bicara apa lagi tetapi, yang jelas perasaannya menjadi kacau. Air matanya pun terasa menggenang dipelupuk mata,sudah ingin menangis dan tidak mau jika Inara harus melihatnya menangis. Nadira bangkit berdiri dan berlari pergi begitu saja menyisakan kebingungan yang tak berkesudahan bagi Inara. “Dira!” panggil Inara terlalu terlambat karena tak ter;ihat lagi sosoknya meski itu hanya sekadar bayangannya saja dan seperti itu juga ketika dia menemui Nadira diluar sosoknya sudah menghilang pergi. “Kamu mau pergi ke mana?” tanya Deswita setelah dia baru saja meletakkan masakannya di atas meja makan lalu, tanpa sengaja melihat Elvan yang sedang berjalan sudah berpakaian rapih tampak akan keluar rumah. “Aku mau pergi ketemu Inara,” jawab Elvan tanpa berbohong. “Ngga boleh!” larang Deswita, sambil menarik tangan Elvan menggiringnya duduk ke meja makan. “Lihat, Mommy udah buatin scootel kesukaan kamu. Lebih baik kita makan aja di sini!” Elvan tidak menyerah, menahan langkah ibunya bahkan, sebelum sampai ke meja makan. “Pokoknya aku harus pergi sekarang, Mom.” Deswita berbalik lagi, menatap mata Elvan dengan cermat sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. “Kamu tinggal pilih. Tinggal di sini sampai kamu bisa tenang atau Mommy, suruh Daddy kurung kamu lagi di kamar?” “Mom!” teriak Elvan tidak terima. “Aku Cuma mau ketemu Inara dan bicara ama dia. Aku gak bakal nemuin anak kesayangan Mommy karena kalau ketemu aku pasti bakal menghajarnya.” “Siapa yang mau kamu hajar? Berani kamu gak sopan sama kakak kamu, hah?!” Deswita berjalan dengan garang dan memukul p****t Elvan dengan tangan kosong bahkan, juga mencubitnya. “Mommy! Mommy apa-apa’an, sih?! Wajah Elvan seketika saja memerah, sudah sebesar ini masa masih pukul p****t. “Kamu emang harus dipukul dulu baru menurut.” “Tapi, jangan pake pukul p****t dan nyubit juga. jijik tau bukannya sakit,” keluhnya sambil menghindar kali ini. “Jadi, kamu milih ditampar! Ok!” Plak! Suasana jadi hening seketika dengan tangan Deswita menggantung di udara sebenarnya, dia tidak sungguh-sungguh. Tamparan itu juga tidak terlalu keras tetapi, hanya karena pengaruh angin dan pipi Elvan yang dekat saja jadi, berdengin suara tamparan di ruangan luas tersebut. “Mommy, beneran nampar aku!” “Mommy, gak sengaja,” ujarnya langsung merangkul Elvan yang turut mematung shock berat karena pertama kalianya dia ditampar. “Van, jangan nangis, Sayang! Mommy gak beneran tampar kamu. Maafin, Mommy.” Elvan mengambil kesempatan ini. Dia setengah berjalan cepat, pergi keluar. Hari ini dia harus menemui Inara, tak mungkin dia terus diam.Inara pasti tengah menunggunya jadi, sambil berurai air mata Elvan berpura-pura melarikan diri dan berlari keluar. “Van, jangan pergi! Maafin Mommy, Sayang!” “Ngga! Aku mau pergi. Cukup Mommy, larang-larang aku.” Elvan mencoba menghempaskan tangan Deswita, yang terus mengait di lengannya dan tanpa sengaja matanya melirik dan jatuh melihat pada figura yang menghenyakkannya pada kenyataan pahit. Sakitnya kembali muncul meski, jelas tak berdarah tetapi cukup membuat kacau pikirannya. Elvan melirik ke suatu tempat dan dalam keadaan marah dia melihat sebuah vas pajangan dan berlari ke arahnya yang mengejutkan Deswita. Tangan Elvan sudah terangkat akan melempar vas tersebut ke figura di dinding sana tetapi, karena refleks Deswita pun cepat. Vas itu segera beralih tangan. Wanita yang sudah menjadi dari dua anak dan masih cantik karena perhatiannya pada perawatan diri baru kali merasa habis kesabarannya. Matanya melotot sambil berkacak pinggang. “Berani sekali mau lempar Vas mahal ini? Kamu gak tahu susahnya Mommy buat dapetinnya.” Dengan hati-hati, Deswita meletakkan benda itu kembali ke tempatnya. Setelah memastikannya aman, dia berbalik badan dan mulai membuat perhitungan pada anak bungsunya itu. “Kemari kamu!” Deswita benar-benar mengejar Elvan kali ini dan memukulinya menggunakan kemoceng yang dia dapatkan di atas meja. Pasti salah satu asisten rumah tangganya tanpa sengaja meninggalkannya di atas sana. Untuk kali ini dia tidak akan marah dan malah bersyukur karena benda itu dia bisa memukul Elvan yang hampir menghancurkan vas mahalnya. “Sini kamu! Kamu bisa pecahin barang-barang di kamarmu sendiri. Mommy gak marah tapi, berani sekali mau pecahin barang Mommy?! Buk … buk … Belajar dari siapa kamu. Pernah Mommy sama Daddy ngajarin kamu buat hancurin Barang?” Elvan akhirnya pasrah menjerit kesakitan setelah punggung dan kakinya tidak terlewat sedikit pun dari pukulan ibunya, yang sepertinya benar-benar histeris marah karena vas mahalnya hampir saja hancur. “Aaah, iya, I-iya…aku minta maaf. UU-ackh udah! Sakit, Mom!”teriaknya sembari elus sana sini di punggung dan kakinya. Hampir seperempat jam Deswita terus berlarian mengejar dan memukul Elvan yang seharusnya tidak perlu lagi dimarahi. Sungguh, dia bukan lagi bocah tetapi, anak muda berkepala dua yang sudah menghancurkan pernikahannya sendiri karena sebuah alasan tidak jelas. Entah apa yang dipikirkannya sampai berbuat bodoh seperti itu. Tidak jauh berbeda seperti Deswita yang terengah lelah dan terentang begitu saja di sofa. Sedangkan Elvan malah harus berada di atas lantai, jatuh dipukul. Kelelahan juga menyedihkan. Di balik tembok, semua para asisten di rumah besar itu mengintip dan melihat-lihat situasi antara ibu dan anak tersebut yang baru pertama kali bertengkar sangah heboh. “Bawakan air untuk merekan.” Betty seorang asisten senior menyuruh temannya yang lain sedangkan, dia akhirnya menghampiri kedua tuannya. “Nyonya, Den Elvan baik-baik saja, kan?” “Gak baik!” sahut Deswita sambil melirik Elvan di bawah lantai. “Bawa Elvan ke atas dan periksa kalo-kalo lukanya parah panggil Dokter.” Lanjutnya kini bangun dari sofa dan berjalan ke kamar pribadinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN