“Apa kita gak pergi ke sana, haruskah kita nemuin dia?”
“Buat apa nemuin dia?” tanya balik Ravin yang tidak setuju dengan usulan Inara. “Dia bukan anak kecil lagi, biar dia nenangin diri sendiri dan datang dengan kakinya kalau dia memang ingin bertemu kita tapi, beda cerita kalau kamu yang mau ketemu sama dia. Kangen ya?”
Bugh!
Inara langsung melempar bantal ke wajah Ravin, kesal. “Siapa yang kangen? Aku cuman pengen cepet nyelesain masalah,” ujarnya sambil bangkit berdiri dan pergi keluar kamar.
Tampang Ravin menjadi orang yang tampak bingung dengan dua bola mata yang terus menatap mengikuti punggung Inara sampai tak terlihat lagi di luar kamar. “Apa masalahnya, sih? Kangen juga gakpapa, sih! Yah, paling kulempar juga nih, bantal ke mukannya. Tapi, gara-gara bantal ini nimpuk aku duluan. Aku jadi kalah,” ujarnya kesal sambil meninju bantalnya lalu, melemparkannya ke sudut kamar dan melanjutkan permainannya.
Inara masuk kamar dengan sebuah teko air dan gelasnya, dia hanya melirik sinis Ravin yang sedang rebahan dikasur sambil bermain game. Pergi ke sisi tempat tidurnya, sebelum akhirnya berbaring dengan santai dan tanpa basa basi langsung mematikan lampu kamar tidurnya. “Cepat tidur, istirahat! Besok kerja.”
“A-aku baru mau main?”
“Tidur!” putusnya sambil menarik selimut dan pergi membelakangi Ravin.
Bibir Ravin mencebik sebal, matanya melirik-lirik tajam antara istrinya dan smartphone-nya. Sebenarnya dia bisa aja pergi keluar tetapi, dia terlalu malas keluar kamar dan akhirnya dia kalah. Mematikan ponselnya, Ravin mulai bergelayut manja dengan memeluk Inara dari belakang.
“Sayang kamu marah, yah? Gak nyangka, marahnya, kok, gemesin,” ucapnya dengan tangan bergerilya ke mana-mana membuat Inara kesal sendiri dan memukul tangannya lalu, berbalik dan mendorongnya pergi.
“Jauh-jauh sana! Awa—“
“Iya, Awas anjing galak,” potong Ravin cepat dan singkat langsung memeluk Inara tidak peduli jika ditolak. “suka gigit kayak aku!” lanjutnya sambil mengigit dan sana sini atau tepatnya menyebar ciuman sana-sini entah di wajah leher atau bahu Inara. Belum sampai bibirnya, Ravin dengan sengaja melewati ‘plum merahnya’ hanya untuk menggoda si pemilik.
Inara juga tidak tinggal diam, meskipun tidak pandai menggoda, dia cukup pandai meniru apa yang dilakukan Ravin bahkan, dengan sengaja bergerak langsung menuju bibirnya hanya untuk mengigitnya karena gemas tetapi, Ravin tidak membiarkannya. Dia dengan cepat mengelak, menggoda Inara. Tidak peduli wanita itu menjerit kesal, Ravin terus menjailinya tidak mencium bibirnya dan malah mencari hal-hal lain.
Kesal, Inara juga semakin mengikuti emosinya. Dia melakukan hal yang sama dengan saling mengigit sampai keduanya malah berakhir saling menggelitik dan tertawa. Lelah dan puas tertawa dengan keadaan semerawut Ravin kali ini menarik tengkuk Inara mengecup bibirnya sebelum melumatnya dalam dan berakhir dengan desahan keduanya semalaman.
**
“Kenapa kamu tidak menghubungiku?”
Pertanyaan itu terdengar dari sambungan gawai Elvan, yang sengaja ia loadspker sedangkan dia sendiri dalam keadaan terentang malas-malasan di atas kasur. Sedang merajuk karena sama sekali dirinya belum diperbolehkan untuk pergi ke mana-mana apalagi mencari untuk mencari masalah dengan kakaknya.
“Van, kenapa kamu diem? Kamu dengerin, kan?”
“Aku dengerin, Mbak,” sahut Elvan akhirnya. “Mbak, ada sesuatu yang harus aku kabarin dan ini bukan kabar baik.”
Diseberang sana Jovanka sedang mengerutkan kening tetapi, dia tak punya perasaan khusus. Baginya kabar buruk yang terakhir dia ingat adalah saat dirinya divonis penyakit mematikan ini dan membuatnya harus mengubur semua mimpinya bersama orang-orang dia cintai terutama, sebuah keputusan berat dengan meninggalkan kekasihnya. Memangnya apa ada lagi yang lebih buruk bahkan, sejak dia kembali divonis kedua kalinya setelah hanya diberi kesempatan lebih baik satu tahun saja. Dia, Jovanka malah tertawa meski, harus diiringi tangis.
“Hello!” Giliran Elvan yang gemas karena merasa ditinggalkan, saat tak terdengar balasan jawaban dari Jovanka.
“Sorry, aku di sini! Jadi, berita buruknya apa?”
Elvan memandangi langit-langit kamarnya lalu, berguman dengan sangat jelas. “Mas Ravin sudah menikah.”
Cukup lama keadaan hening diantara keduanya meski, sambungan telepon sama sekali belum terputus. Sampai, Jovanka memberanikan diri memecah keheningan tersebut. “Ravin udah nikah? K-kamu bohong bukannya … Elvan!”
“Dia nikah sama calon adik iparnya sendiri, dia nikahin kekasihku, Mbak,” jawab Elvan datar tetapi, mengandung emosi yang dalam terdengar. “Sekarang saja aku masih sangat marah dan benci sama dia.”
“K-kapan?” Rasanya Jovanka merasa sangat bodoh dengan menanyakan hal itu.
“I-itu… saat aku ninggalin pernikahanku. Pernikahan itu terjadi karena paksaan kedua orangtuaku,” terang Elvan sedikit menggebu-gebu sampai bangun dan duduk untuk bicara serius. “Aku yakin Inara maupun Mas Ravin dipaksa Mommy, tau, kan gimana sifat Mommy. Dia ngambil kesempatan itu buat nikahin Mas Ravin yang gak pernah mau pacaran atau nikah setelah Mbak Jo pergi.”
“K-kamu serius, Van?”
“Tentu saja aku serius. Aku yakin dengan pacarku, Inara itu cuman cinta sama aku dan kalo masalah Mas Ravin itu juga sama, bertahun-tahun dia nolak pacaran atau dekat dengan wanita lain karena dia masih sangat mencintai Mbak Jovanka. Ayo, kita lakuin sesuatu buat mereka !?”
Jovanka sebenarnya sudah terhenyak jatuh di atas sofa. Berita itu sangat mengejutkan dan membuat lamunan manisnya menjadi hempasan debu. “Elvan kamu sedang berbohong lagi, kan?” tanyanya dengan suara lemah.
“Mbak Jo, aku gak mungkin bohong! Inara itu mencintaiku bahkan, dia gak pernah deket atau tertarik sama sekali sama Mas Ravin. Pernikahan itu dipaksakan ke mereka dan kita harus lakuin sesuatu buat mereka. Yakinlah mereka sedang tidak bahagia sekarang.”
Kepala Jovanka menjadi pening sesaat, pandangannya mengabur dengan napas sedikit terengah. Wajahnya pun memucat dengan tubuh yang melemas. Kabar ini sungguh membuatnya terhempas jatuh. Bagaimana bisa dia merebut hati Ravin lagi jika, dia sudah terikat dengan orang lain.
“Mbak Jo!”
“Van, apa yang kamu katakana itu serius? Ravin bener-bener udah nikah?” tanyanya lagi masih ingin memastikannya.
“Aku juga gak ingin percaya tapi, … aku sudah membuktikannya sendiri,” balas Elvan sambil meremas pakaiannya di atas d**a kirinya. Sekarang, hatinya lagi-lagi teriris sakit ketika mengingat apa yang terjadi di malam itu ketika, dia melihat bagaimana Ravin, kakaknya menggendong Inara keluar dari mobilnya. Rasanya sungguh membuatmu gila dan ingin menghancurkan apa saja.
Seperti juga Elvan, Jovanka merasa tidak bisa menerima kenyataan tersebut tetapi, hanya saja merasa tidak berdaya dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi. “Aku harus istirhat, Van. Terimakasih buat kabarnya lain kali, kuhubungi lagi,” ujarnya cepat lalu menutup sambungan kominikasinya. Elvan pun tidak berdaya melanjutkan dan akhirnya hanya bisa berbaring tiduran memikirkan cara untuk segera bertemu Inara.
Belum dia menyelesaikan pikirannya sebuah ketukan pintu terdengar dari pintu kamarnya. Elvan beranjak dengan langkah malas dan segan untuk melihat siapa di luar pintu sana dan ternyata … sesuai dugaan. Itu ayahnya, Adibrata.
“Masuk, Dad.” Elvan sedikit menyingkir dari pintu mempersilahkan ayahnya masuk. “Ada apa?” tanyanya langsung tanpa menunggu ayahnya untuk sekadar duduk terlebih dulu. Meskipun, begitu sepertinya Adibrata tidak keberatan dengan sikap anaknya itu.
“Kenapa kamu belum tidur?”
Elvan mendengus. “Apa aku masih bisa tidur setelah semua hal yang terjadi?”
Adibrata mengangkat satu alisnya dengan heran dan pandangannya bertemu dengan mata Elvan sendiri. “Jangan terus merajuk seperti itu tapi, berpikir dan merenunglah semua hal ini juga terjadi karena kamu sendiri yang tidak bertanggungjawab.”
“Jadi, Daddy ke sini cuman buat salah-salahin aku?”
Helaan napas dan gelengan kepala keluar dari diri Adibrata. “Bukan menyalahkan tapi, menyadarkan diri kamu. Semua udah terjadi dan gak bisa diulang atau diubah, berhenti marah dan interopeksi diri. Baru Daddy, bakal izinin kamu keluar rumah dan kalo kamu mau juga … Daddy, bakal panggil Ravin dan Inara datang ke sini ketemu kamu.”
“Bagus, aku memang ingin ketemu mereka,” balas Elvan. “Daddy, harus lihat Inara gak bakal bahagia sama Mas Ravin begitu juga sebaliknya. Mas Ravin gak pernah cinta sama siapapun kecuali, Mbak Jovanka, kan? Aku bakal nemuin mereka lagi dan liat apa yang bakal terjadi?”
“Kamu jangan cari masalah, Van!” Adibrata menjadi terkejut ketika mendnegar nama Jovanka, mantan Ravin dulu yang sudah tak pernah mereka dengar lagi nama itu disebut di sini. “Gak aka nada yang bakal terjadi. kamu harus tahu entah itu Ravin dan Inara, yang Daddy lihat keduanya sudah bahagia dan saling menerima diri masing-masing.”
Semakin ditekan Elvan semakin tak bisa menerima kenyataan tersebut dan tidak mau tahu. “Aku gak mau dengar pendapat Daddy! Aku harus ketemu dan dengar sendiri dari Inara. Pasti, Daddy bohong?!” dengusnya meremehkan. “Inara itu wanita yang setia, bertahun-tahun aku jadi pacarnya dan tahu bagaimana sifat dan sikapnya. Gak akan semudah itu Inara lupa sama perasaaanya sama aku.”
“Terserah. Kamu percaya atau tidak! Segera kamu bisa melihat mereka setelah ,,,” Adibrata berhenti bicara dan berjalan mendekat hanya untuk berdiri di depan anaknya, Elvan yang kini tingginya bahkan sudah setinggi dirinya. Adibrata mengacungkan telunjuknya, menunjuk kepala Elvan juga dadanya. “Ini pikiran dan hati kamu lebih bisa luas, tabah dan sabar.”
Bibir Elvan terkatup rapat, tidak membalas dan hanya tatapan matanya terus mengikuti punggung tua lelaki yang dia panggil Daddy tersebut. ‘Apa Daddy tidak mengerti bagaimana perasaanku juga? Hatiku hancur … ‘ tidak bisakah seseorang bisa empati padaku. Padahal, aku belum melakukan apa-apa tapi, kalian begitu khawatir. Seberharga itukah Mas Ravin dibandingkan aku ini.’