Tidak berlebihan rasanya setelah apa yang Jovanka alami selama ini membuatnya akan sangat mudah atau rentan terhadap kondisi tubuhnya. Setelah mendengar kabar soal pernikahan Ravin. Jelas saja, pikiran dan perasaanya segera kacau dan menjadi kalut. Tidak bisa lagi tenang dan penuh kecemasan bahkan, nafsu makannya sangat berkurang banyak membuat kedua orangtuanya lebih dari khawatir. Kemudian di malam harinya pun Jovanka mengalami demam yang membuatnya harus masuk rumah sakit.
“Pah, Jovanka bakal baik-baik aja, kan? Dia baru aja balik ke sini, kemarin dia masih sangat baik tapi tadi pagi dia berubah dengan cepat… gimana itu bisa terjadi, Pah?” rancau Maria dengan banyak pertanyaan tak jelas dan hal itu hanya berasal dari kekhawatirannya belaka.
Haris, papanya Maria tidak banyak bicara. yang dia lakukan adalah menarik tubuh sang Istri dalam dekapannya sambil menanti keluarnya dokter dari ruang pemeriksaan di mana Jovanka pun berada.
Setelah menunggu lama akhirnya, para medis terdiri dari dokter dan perawat keluar dari ruangan tersebut. Melihat kedua orangtua Jovanka sang Dokter tersenyum tipis lalu, mempersilahkan mereka mengikutinya ke ruangan pribadinya. Maria dan Haris tidak lagi menjadi terkejut mendengar semua diagnosis tentang penyakit Jovanka mereka, sudah lebih dari tahu meski, terkadang jarak memisahkan mereka. Kesehatan Jovanka tidak pernah mereka lewatkan tidak peduli seberapa bungkamnya anak gadis mereka.
“Sepertinya kalian tidak lagi terkejut?”
Haris mengangguk, “Kami sudah sangat tahu … “
“Yah, seharusnya saya tidak menanyakan ini karena rekap medis yang saya terima semua berasal dari rumah sakit luar negeri jadi, pastinya kalian jauh lebih dari tahu tentang semua ini. tapi, apakah kalian tidak ingin melakukan operasi kedua kalinya? Meski, kecil kesempa—“
“Dokter sudah tahu jika, kesempatannya kecil dan masih menawari kami melakukan itu,” sela Maria tiba-tiba dengan meninggikan suaranya penuh dengan nada sinis dan tak tatapan aneh bercampur tidak percaya. “Apa dengan kesempatan kecil itu, Anda bisa yakin jika, putriku tidak akan mati di meja operasi atau lebih bagus dari itu. Dia bisa sembuh dan menikmati kehidupan mudanya?”
Dokter bername tag Freddy itu tampak tercengang tidak bisa balas menjawab dan malah berkeringat dingin tak disangka bisa mendengar jawaban seperti itu dari keluarga pasien. “Maaf, sepertinya saya sudah mengajukan pertanyaan yang salah.”
Kedua orang tua Jovanka tidak terlalu menanggapi pertanyaan tersebut, yang ada wajah keduanya dengan cepat berubah sangat sedih. Tidak tahu harus seperti apalagi untum menyelamatkan putri mereka, sungguh rasanya sangat sedih karena tidak berdaya untuk menyelamatkan Jovanka dari rasa sakit dan kematian yang mengejar waktunya dunia.
“Jo, makan dulu, Sayang. Tidak apa-apa meskipun sedikit asal kamu tetap makan,” ujar Maria yang kini sedang membujuk Jovanka yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah pucat dan tatapan kosong.
“Gak, Ma! Aku gak lapar.”
“Jo, apa kamu seneng banget tinggal di rumah sakit? Sedikit aja dan Mama gak bakal maksa kamu lagi.”
Jovanka melirik Marah, yang dalam sehari saja berubah sangat cepat. Matanya penuh lingkaran hitam yang berarti dia sangat kurang tidur dan sangat kusut tidak seperti Maria yang dia ingat beberapa hari lalu. Rasa bersalah dengan cepat menyerang. “Baiklah, Mah. Aku mau makan,” ucapnya tidak lagi menolak bahkan, disertai senyuman.
Maria juga ikut bahagia dan menyuapinya dengan bangga. Selesai dengan hal itu jiwa keibuannya seorang Maria itu sangat peka. Dia tahu tidak mungkin tiba-tiba kesehatan Jovanka menurun jika, tidak ada pemicunya jadi, dia sangat penansaran sebenarnya apa yang terjadi dengan Jovanka. “Mama, sangat ingin tahu? Penyebab kamu jadi, gini? Mama, mohon kamu gak usah bohong atau menutupi semuanya.”
Jovanka memegang erat tangan Maria, penuh dengan tatapan tidak berdaya. “Mah,” ucapnya sangat lirih bibirnya berkali-kali terbuka dan menutup ingin mengeluarkan suaranya tetapi, begitu sulit semua tertahan di tenggorakan.
“Pelan-pelan saja. Mama bakal di sini buat kamu selamanya, Sayang.”
“Ravin sudah menikah, Ma.” Akhirnya, kata-kata itu lolos juga dari mulutnya. “A-apa yang harus kulakukan? Salah-satu dari sekian banyak alasan yang aku punya. Bersama Ravin adalah prioritas terbesarku.”
Maria terkejut mendengar jawaban Jovanka. Dia tidak menyangka putrinya yang dulu memilih pergi dan meninggalkan orang yang dicintainya hanya karena penyakit yang dideritanya dan hidupnya yang tak akan lama lagi kembali berpikir untuk bisa bersama dengan pria itu lagi. “Jo! Apa yang baru aja kamu katakana?”
“Aku masih sangat cinta Ravin, Mah. Dan, ngerasa kalau aku bisa menikmati hari-hariku bareng dia. Aku gak bakal nyesel kalau mati juga.”
“Jo! Jangan ngomong soal kematian. Kamu bakal hidup lebih panjang lagi.”
Hanya senyum pasrah yang bisa dia berikan untuk ibunya. Tidak ada lainnya karena entah itu ibunya atau dirinya tahu jika, kematiannya begitu dekat dan bisa kapan saja terjadi.
***
“Sayang, aku sangat mengantuk!” Inara sedang bergelayut manja dipangkuan Ravin dengan menyembunyikan kepalanya di ceruk lehernya. Hari ini adalah hari libur mereka, keduanya memilih untuk hanya tinggal di rumah dengan menghabiskan waktu berdua.
“Tidurlah!” Ravin menepuk kepala Inara dan terus mengusap-usapnya seolah jelas sedang menenangkannya tanpa,menyuruhnya pindah dari pangkuannya dan malah membuat Inara lebih nyaman. Dia sendiri hanya sedang menonton televise sambil memeluk Inara dan mengemil cemilan siangnya. Suasana di antara mereka begitu harmonis dan hangat, di mana bahkan, cahaya matahari bersinar hangat setelah beberapa hari ini hanya hujan yang terus mengguyur bumi.
Sampai akhirnya terdengar suara bising dari bel yang ditekan kuat dan berkali-kali membuat acara bersantai mereka sangat terganggu. Tanpa, perlu waktu lama Inara terbangun dengan mata merah, marah pada si pengganggu. “Aishh, siapa sih yang ganggu? Itu mau bunyiin bel, atau ngerusaknya?” gerutu Inara sambil beranjak dari pangkuan Ravin. “Biar, aku yang buka? Aku harus liat orang kurang ajar itu.”
Tiba-tiba saja Inara mengeluarkan taringnya, tergesa berjalan ke pintu keluar. Sebenarnya siapa sangka orang yang terlihat lemah lembut bisa jadi, waita sangat dan tegas dalam sekali waktu. Hal yang baru Ravin ketahui beberapa waktu lalu di saat tanpa sengaja Inara mencium bau rokok dari tubuhnya. Dia sebenarnya bukan perokok berat atau kecanduan tetapi, sesekali dia suka melakukannya saat berada di sekitar pertemannannya dan sepertinya itu merupakan hal biasa.
Namun, berbeda ternyata saat dirimu sudah menjadi suami dari orang lain. Sebelumnya, tidak ada yang mengatur kehidupannya meskipun itu orangtuamu mereka hanya bisa menasehati dan melihat dari jauh dan jika itu, seorang istri yang merupakan belahan jiwamu. Hal itu jadi berbeda seratus delapanpuluh derajat. Tak cukup hanya dengan minta maaf, Inara merajuk sulit luluh dan menyuruhnya berjanji untuk tidak menguulangi hal itu atau terpengaruh teman-temannya yang lain. Marahnya ternyata sangat menyeramkan, daripada diam seribu bahasa dan merajuk tak mau bicara Ravin lebih senang diomeli.
“Berisik! Apa kamu gak punya sopan-santun – “ Kata-kata Inara berhenti begitu saja ketika dia membuka pintu dan melihat siapa yang sedang berdiri di depannya. Harusnya dirinya akan sangat terkejut atau setidaknya marah. Yah, tentu saja dia marah tetapi, alasan kini dia marah karena sifat ketidaksopanannya menggangu acara tidur siangnya dengan memencet bel tanpa perhitungan.
“Nara?!”
Telinga Inara menjadi gatal mendengar panggilan itu tiba-tiba. Dia menatap pria di depannya dengan sedikit kewaspadaan. “Mau apa kamu kemari?” Inara tidak menyambutnya dengan baik sebaliknya, dia ketus dan tatapannya dingin. “Jika tidak ada urusan penting lebih baik pergi saja!”
“Tunggu!” Tahan Elvan sesaat sebelum Inara hendak menutup pintunya. “Gimana bisa kamu ngusir aku?
“Aku bisa karena kamu itu pengganggu?”
“Tapi, aku bukan?” balasnya sangat marah. Tanganya pun bergerak meraih pergelangan tangan Inara, menahanya untuk tetap bersamanya. Sayang, hal itu tidak berhasil wanita itu menampiknya sangat kuat.
Ravin mendengar ada yang tidak beres jadi, bangkit berjalan untuk memeriksa dan cukup terkejut melihat orang yang sudah disangkanya. “Kenapa kalian hanya berdiri di depan pintu?” tegurnya sambil merangkul Inara, yang sebelumnya sedang sangat emosi.
“Mas Ravin,” panggil Elvan dengan suara berat penuh sarat emosi dan dendam. “Jadi, kayak gini kelakuan Mas selama ini?”
Ravin tentu saja langsung mengerutkan kening tidak mengerti. “Tiba-tiba saja kamu datang dan ngomong kayak gitu. Tenanglah, ayo, pergi masuk dulu!”
Ravin tentu saja langsung mengerutkan kening tidak mengerti. “Tiba-tiba saja kamu datang dan ngomong kayak gitu. Tenanglah, ayo, pergi masuk dulu!”
Elvan awalnya tidak mau untuk masuk dan datang ke sana hanya ingin menghajar kakaknya itu lalu menarik Inara keluar tetapi, sepertinya tidak akan berhasil. Dengan langkah kaki yang tegap, Elvan masuk ke apartemen kakaknya seolah tengah memasuki medan perang. Melirik ke sana kemari dia yakin tidak banyak hal yang berubah, hanya dibeberapa hal terdapat sentuhan tangan Inara seperti warna sofa, pajangan artistic miliknya juga foto-foto yang tergantung yang terdapat mereka berdua di sana.
Melihat semua ini membuat diri Elvan cukup bergejolak panas. Ditatapnya, keduanya sambil mengeram dan menggeretakkan gigi terutama pada kakaknya, Ravin yang masih tidak berekspresi dan Inara yang balik menatapnya sinis. Tidak ada tatapannya yang lembut dan hangat ketika lagi melihatnya, sekarang mata itu sudah menjadi busur dan tatapannya yang tajam jadi, panah yang menembus jantungnya jelas penuh kebencian.
“Sudah puas menatapnya?” tanya Ravin segera mengusik lamunan sesaat Elvan. “Sekarang, duduklah!”
Tanpa perintah dua kali, Elvan segera menghempaskan tubuhnya di sofa. Menatap ke depan melihat pasangan baru tersebut. “Apa kalian bahagia?”